Pages

Monday, 4 January 2016

HAPPY DAY: Catatan Liburan Singkat Penghilang Penat


“Besok jalan yuk, Un.”
Ajakan Fadilla terdengar seperti aliran air di sebuah gurun, menyenangkan sekaligus menyegarkan. Aku segera menyambutnya dengan semangat, lupa dengan fakta jika dihadapanku ada setumpuk data yang harus diinput.
“Kemana? Kapan?”
“Semangat banget, Non. Besok aja mumpung tanggal merah.” Fadilla berpikir sejenak, “Ada ide gak, lo? Selain ke mall ya...”
Cewek yang sudah kukenal sejak bangku kuliah ini memang gak terlalu suka ke mall seperti lazimnya cewek pada umumnya. Mungkin hal inilah yang membuat kita berdua cocok. Tapi, bukan berarti kita anti nge-mall, sesekali kami juga main kesana jika diperlukan.
“Apa ya, Dil? Buntu nih otak gue.” Aku memindahkan ponsel dari telinga kiri ke telinga kanan, menatap layar PC dengan tatapan menyalahkan telah membuat pikiranku mampet.
“Hm, ke Kebun Raya Bogor aja, Un! Mau gak?” Ide Fadilla. Suaranya terdengar begitu ceria, aku seakan-akan bisa melihat cewek gempal itu melonjak senang.
“Boleh tuh, Dil! Sesekali anak Bogor pinggiran kayak gue main ke Bogor Kota.” Fadilla tergelak mendengar ucapanku. Dia memang kerap menyebutku anak Bogor pinggiran sebab tinggal di wilayah Kabupaten Bogor yang justru lebih dekat dengan Tangerang dibanding ke daerah Bogor.
Sesi telpon kami sudahi setelah menyepakati jam dan lokasi pertemuan. Anehnya, rencana liburan itu membuatku semangat melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya kulakukan dengan sisa tenaga. Mood booster sekali!
**
Jumat siang, aku dan Fadilla telah bertemu di Parung. Kami menaiki bus tujuan Bogor yang masih tampak sepi. Inilah asyiknya pergi bareng Fadilla, cewek ini gak ribet dengan kendaraan apapun yang akan kita naiki. Yang penting, kendaraan tersebut aman dan dapat membawa kita ke tempat tujuan.
Perjalanan kami lancar dan hanya dihadang oleh macet yang gak begitu parah. Obrolan ngalor-ngidul yang seakan tanpa batas membuat perjalanan ini semakin menyenangkan sehingga tidak terasa kami sudah sampai di depan Tugu Kujang. Setelah mengucapkan kata sakti, “Kiri”, aku dan Fadilla turun dari bus.
Berdiri di trotoar Kota Bogor dengan pemandangan Tugu Kujang di sebrang jalan dan gedung Hotel Santika membuatku merasa kecil dan tiba-tiba seperti norak. Iya, seakan-akan aku belum pernah melihat gedung seumur hidup. Padahal, biar pun tinggal di pinggiran Bogor, aku kerap bolak-bolak ke Tangerang untuk urusan pekerjaan. Di sana pun juga banyak gedung-gedung. Namun, entah kenapa rasanya berbeda menatap gedung-gedung di Kota Bogor dengan di Tangerang.
“Lo foto dulu, tuh, Tugu Kujangnya. Buat bukti kalo elo ke sini.” Perintah Fadilla padaku.
Segera kunyalakan ponsel yang diperjalanan tadi sengaja kumatikan untuk menghemat baterai. Setelah itu, beberapa potret Tugu Kujang dengan latar gedung tinggi dan awan putih yang cantik berhasil ku abadikan.
“Udah?” tanya Fadilla. Dia mengamit lenganku, “Kita nyebrang lewat situ, Un.” tunjuknya.
“Tapi orang-orang itu lewat atas, Dil.” Tunjukku pada sekumpulan orang yang menyebrang melintas jalan raya sementara di samping mereka terdapat papan pengumuman bahwa untuk penyebrang jalan lewat penyebrangan underpass.
Tidak sabaran, Fadilla setengah menyeretku, “Biarin aja. Kita lewat situ, lebih aman.”
Nyanyian yang dibawakan oleh sekelompok musisi jalanan menyambutku dan Fadilla. Membuat suasana remang di dalam terowongan lebih bersahabat dan menyenangkan. Sisi kanan-kiri dinding terowongan dihiasi oleh foto-foto yang memajang info mengenai Kota Bogor. Sebelum menuju pintu keluar kita akan melihat sebuah panggung kecil dilapisi karpet hijau, dihiasi oleh ornamen menyerupai Tugu Kujang yang terbuat dari kayu. Diatas panggung diletakkan sebuah papan berisi ucapan selamat tahun baru 2016 lengkap dengan foto Walikota Bogor dan Wakil Walikota Bogor. Tidak afdol rasanya jika tidak mengabadikan diri di belakang hiasan tersebut. Hal itu yang kulakukan bersama Fadilla, setelah memastikan kondisi terowongan agak sepi.
Dari terowongan penyebrangan, aku dan Fadilla berjalan menuju pintu utama Kebun Raya Bogor yang berjarak cukup dekat. Naungan pohon rindang di sisi kanan - kiri, serta lebarnya trotoar membuat nyaman pejalan kaki yang melintas, termasuk kami berdua. Satu hal yang tidak akan ditemukan di daerah pinggiran Bogor seperti, Parungpanjang.
Sebelum masuk dan mulai bertualang di dalam Kebun Raya Bogor, kami menikmati makan siang lebih dulu. Tidak perlu jauh-jauh, kami berdua membeli dua porsi Soto Mie yang dijual tepat di muka gerbang utama. Uniknya, meski pun sering menyantap Soto Mie dibanyak dijual di Tangerang, tetapi Soto Mie asli Bogor memiliki rasa yang beda. Lebih segar dan lebih enak. Aku juga membeli satu buah rujak untuk bekal di dalam nanti.
Untuk bisa masuk ke kawasan Kebun Raya Bogor, kami harus membeli tiket terlebih dahulu. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp.14.000/orang dan setelah itu kita bisa mengitari seluruh arel Kebun Raya Bogor yang luasnya mencapai 87 hektar, dan melihat 15.000 jenis pohon yang dikoleksi di sana.
Meski pun aku dan Fadilla memulai perjalanan di dalam areal Kebun Raya Bogor sudah cukup siang, namun karena banyak pohon rindang suasana di dalam pun jadi adem. Nyaman untuk jalan kaki bersama teman-teman, keluarga, hingga pasangan. Jiwa narsisku dan Fadilla pun terusik oleh keindahan suasana di dalamnya. Kami berdua, dengan lumayan tidak tahu malu berpose setiap menemukan spot bagus.
“Cuek aja, Un, di sini gak ada yang kenal sama kita kok!” begitu kilah Fadilla setiap melihat tampangku yang malu-malu tapi mau diajak foto.
Perasaan masygul untuk selfie hadir saat kami hendak melintas jembatan merah. Sebelum naik ke jembatan tersebut, aku melihat sebuah papan pengumuman yang memberi-tahu jumlah maksimal orang yang melintas adalah sepuluh orang. Kenyataannya, ada lebih dari sepuluh orang di atas jembatan tersebut. Sebagian orang memang berniat untuk menyebrang, sebagian lainnya berhenti di tengah jembatan demi potret yang memukau. Aku menelan ludah, menatap pada derasnya arus sungai Cisadane-Ciliwung yang membelah Kebun Raya Bogor dan bebatuan besar di bawahnya. Otakku mulai membayangkan hal-hal yang aneh. Terlebih melihat bagaimana jembatan tersebut bergoyang tiap ada pengunjung yang melintas, semakin meningkatkan perasaan paranoidku.
“Takut ya, Un?” tanya Fadilla.
Aku menoleh padanya dan mendapati bagaimana wajah Fadilla tampak aneh memandangku dengan sungai bergantian. “Ngeri, Un, maksimal kan buat sepuluh orang tapi itu rame banget.” Fadilla melanjutkan kalimatnya yang selaras dengan pikiranku.
“Iya, Dil, arusnya deres loh.”
“Kita gak usah selfie di jembatan, ya. Kasian yang pada mau lewat.” Usul Fadilla yang langsung kusambut dengan baik.
Dengan tekad kuat supaya bisa sampai ke sebrang, kami pun memaksakan keberanian di dalam diri  dan mulai meniti jembatan itu. Tidak terasa, sepanjang kami berjalan di atas jembatan, Fadilla memegang erat lenganku. Sementara aku, menjaga fokus mata agar tidak menatap pada liukan air sungat di bawah kami. Ketika akhirnya kedua kaki kami sampai di sebrang, perasaan lega memenuhi seluruh perasaan kami.
Waktu sudah semakin sore, berpuluh-puluh foto selfie pun telah kami dapatkan. Kedua kaki kami juga telah berteriak-teriak minta diistirahatkan. Maka, dengan es krim ditangan, aku dan Fadilla memutuskan untuk menyelesaikan perjalanan.
Ada hal menarik yang kami temukan disepanjang jalan, yaitu fakta bahwa pepohonan koleksi Kebun Raya Bogor telah tua. Beberapa bahkan telah retak, hingga diberi pengaman oleh pihak manajemen agar tidak ada pengunjung yang mendekat. Pastinya jika bisa bicara, pohon-pohon ini akan mampu menjabarkan peristiwa-peristiwa yang telah mereka saksikan.
**
“Seger Dil mata dan pikiran gue akhirnya.” kataku ketika kami berdua bersantai di Lotteria Botani Square, makan sekaligus mengecharge baterai ponsel yang drop.
“Iya, rutinitas kantor emang nyita waktu. Lumayanlah jalan-jalan gak perlu jauh, yang penting bikin hepi, ya gak?”
Aku mengangguk, “Eh, ini orang-orang sekarang tuh kalo masuk resto gak selalu cari makanan ya? Tapi juga nyari ada tempat buat nge-charge atau gak. Tuh, lo liat deh orang-orang itu.” Menggunakan dagu, kutunjuk sekelompok remaja yang masuk ke dalam resto sambil menunduk, memeriksa colokan yang tersedia disetiap meja.
Fadilla tertawa, “Tren baru nih. Resto dengan banyak colokan kayaknya bakal laku.”
Aku mengangguk setuju. Kami meluruskan kaki yang lelah sesudah mengelilingi Kebun Raya Bogor. Bersantai sejenak menikmati hiruk pikuk di dalam Botani Square sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Pegal, kaki kencang, mulai terasa menjalari tubuh. Maklum, aku tidak terbiasa berjalan sejauh itu. Namun anehnya, semua kelelahan tersebut ampuh mengusir penat dipikiranku. Satu hal yang kusimpulkan hari ini, jalan-jalan menikmati suguhan alam di Indonesia meski tidak terlalu jauh merupakan cara jitu dalam menghabiskan waktu liburan singkat. 

=================================================================
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #Jalan2INDONESIA yang diselenggarakan Nulisbuku.comStorial.co, dan Walk Indies.

Saturday, 2 January 2016

MENERTAWAKAN HIDUP SEORANG ERNEST PRAKASA

Ernest Prakasa, seorang Komika jebolan ajang Stand Up Comedy Indonesia disebuah stasiun TV swasta, akhirnya melebarkan kemampuannya dibidang entertaiment. Peraih juara ketiga yang tercatat sebagai Komika pertama yang mengadakan tour stand up comedy ke 11 kota di Indonesia ini memang 'haus' akan prestasi dan pencapaian. 

Sebut saja, setelah mengadakan tour, ia pun mengadakan sebuah pertunjukan Stand Up khusus bersama para komedian yang berasal dari campuran etnis Tionghoa-Indonesia dengan tajuk "Ernest Prakasa dan The Oriental Bandits". Setelah itu, ia menggelar Tour Kedua yang berjudul "Illucinati", plesetan dari Illuminati. Seakan tidak puas dengan semua itu, Ernest Prakasa juga menulis buku yaitu: "Dari Merem Ke Melek: Catatan Seorang Komedian", "Ngenest- Ngetawain Hidup Ala Ernest", Ngenest 2- Ngetawain Hidup Ala Ernest", Ngenest 3 - Ngetawain Hidup Ala Ernest." 
Kalau soal buku, mungkin hasil tulisan Ernest menurut saya, gak se-booming karya Raditya Dika (atau saya aja yang kuper, gak tau perkembangan bukunya Koh Ernest Hehehe). Tapi, salutnya orang ini tidak kenal kata "Menyerah", ia terus belajar dan belajar. Hingga akhirnya 'berani' mem-filmkan bukunya sendiri.

SINOPSIS

Kalau yang sudah baca trilogi Ngenest sampai tamat, pasti sudah tahu cerita dari film ini. Secara konten, cerita pada film ini gak bisa dibilang sederhana. Bukan 'cuma' membahas bagaimana hidup sebagai seorang minoritas di Indonesia, tetapi juga mengangkat hal-hal sederhana yang sering kita anggap sepele. Dan, membahasnya dengan apik sehingga tidak terasa menyindir siapa pun. 

Cerita dimulai dengan apik melalui line yang secara halus mengingatkan kita bahwa manusia lahir tanpa bisa memilih sebagai apa dan di mana. Termasuk jadi seorang anak yang lahir dari orang tua keturunan Cina. Lalu berlanjut dengan kehidupan sehari-hari Ernest kecil di SD yang sering di bully oleh teman-teman pribumi, gimana dia dipalak hingga kenalan dengan sahabatnya Patrick dan akhirnya semua 'trauma-trauma' itu menghasilkan satu kesimpulan yang rada aneh sebenarnya, yaitu: Menikah dengan pribumi agar keturunanya kelak tidak di bully hanya karena ia bermata sipit.


JALAN CERITA

Alur dibuat maju menggunakan point of view dari orang pertama, yaitu Ernest Prakasa sendiri. Selama perjalanan, film ini sungguh memiliki komitmen komedi di dalamnya yang ampuh membuat penonton terpingkal hingga perut kram. Hal-hal sederhana seperti ketika Ernest datang ke rumah Meira, berantemnya Ernest dengan Franda,  ketika Ayah Meira sempat gak suka dengan Ernest, hingga lagi ribut besar sama Meira pun bisa-bisanya ngebikin penonton tergelak. Terlihat sekali bagaimana Ernest dengan team-nya jeli menyelipkan unsur-unsur komedi yang sulit ditebak. Gila banget komedinya di sini!

Tapi, meski konten utamanya adalah komedi, Ernest sebagai sutradara tidak lupa menyelipkan 'kuote' tentang hidup melalui tokoh Patrick. Ada banyak pemikiran yang dikemukakan oleh Patrick yang diperankan oleh Morgan Oey, bikin saya sebagai penonton ber'Oh iya' dan membuka pikiran tanpa merasa diceramahi. Salah satu kuote dari Patrick yang menjadi favorit saya adalah: 'Waktu yang ditunda hari ini, kita pinjam dari waktu dimasa depan kita sendiri' (kurang lebih begitu, agak lupa, maap heheh). 

Sosok Meira juga dimainkan secara apik oleh Lala Karmela yang lebih dikenal sebagai penyanyi. Chemistry yang dibangunnya bersama Ernest benar-benar hidup. Gak sia-sia dia sampai nginep di kediaman Ernest dan istri demi bisa mengenal lebih dekat sosok Meira asli.

Unsur drama pada film ini terasa kuat ketika Ernest yang belum siap menjadi orang tua terus menunda punya anak, meski sang istri telah siap. Ketakutan Ernest sebenarnya memiliki dasar yang kuat, yaitu tidak ingin anaknya mengalami bully seperti yang kerap ia alami ketika kecil. Namun, Ernest akhirnya luluh setelah Meira pergi ninggalin dia dan pulang ke rumah duluan naik bajaj. Di adegan ini, kalau yang nontonnya seorang jomblo akut, pasti bakalan envy. Sebab, meski wajahnya agak konyol, tapi Ernest berhasil membuat penonton ikut merasakan bagaimana rasa sayangnya terhadap sang istri, Meira, hingga akhirnya ia setuju untuk memiliki anak. 

Tim produksi film Ngenest sepertinya juga telah belajar banyak dari film-film Indonesia lain dalam penempatan sponsor. Di film ini, produk sponsor disisipi dengan cara halus dan tidak mencolok hingga terlihat seperti 'property' biasa yang digunakan untuk keperluan film.

Sepanjang film berlangsung, sulit menemukan hal-hal absurb yang membuat kita dengan mudahnya menemukan kekurangan di film ini. Penonton akan selalu disibukkan dengan tawa, dan keingintahuan terhadap kelanjutan cerita. Sayangnya, karena belum membaca buku Ngenest satupun (berharap dapat gratisan dari Koh Ernest + TTDnya ahahaha), saya jadi gak bisa membandingkan cerita dibuku dengan yang di film. Mungkin teman-teman yang sudah baca, bisa memberi tahu saya apakah ada perbedaan di film dengan dibuku.

PEMERAN

Film ini melibatkan banyak Komika yang telah memiliki fans tersendiri. Sebut saja, Ernest Prakasa yang memerankan dirinya sendiri, Ardit Erwandha yang sampai saat ini memegang predikat sebagai Komika muda terganteng versi saya *peace*, Fico Fachriza jebolan SUCI Season 3, Ge Pamungkas, Bakriyadi, Adjis Doaibu, Awwe, Lolox, Muhadkly, Arrie Kriting yang sekaligus menjadi Comedy Coach, juga Bene Dion. Keberadaan mereka didampingi oleh aktor dan aktris kawakan yang namanya lebih terkenal dari mereka, seperti: Lala Karmela, Brandon Salim, Ferry Salim, Olga Lidya, Morgan Oey, Amel Carla, Ade Sechan, Budi Dalton, Angie Ang. Selain mereka, juga ada Kevin Anggara yang merupakan seorang Youtubers. Perpaduan akting mereka yang saling melengkapi patut diacungi jempol. Bikin film ini terasa lebih kaya dan tidak seperti autobiografi yang membosankan. 

KESIMPULAN

Pada akhirnya, saya harus mengakui bahwa sebagai sutradara baru, Ernest Prakasa benar-benar mempersiapkan segalanya secara matang. Mungkin, ditambah masukan-masukan dari rekan-rekannya yang lebih dulu membuat film, Ernest punya kesempatan lebih untuk tidak melakukan kesalahan seperti yang rekannya lakukan. Dan, dia berhasil membuktikan bahwa semangat, kerja keras dan kemauan untuk belajar akan membuahkan sesuatu yang manis. 

Walau pun film ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi, namun disepanjang film kita tidak akan sempat memikirkan kebenarannya. Semua mengalir alami, wajar, tidak mengada-ada atau lebay.

Bagi kalian yang butuh hiburan sebelum kembali pada rutinitas kerja yang membosankan, film ini menjadi salah satu yang direkomendasikan. Dijamin keluar dari bioskop tidak membuat anda menyesal telah menonton film yang satu ini. Lima bintang deh buat Ngenest The Movie!

MENGAWALI TAHUN 2016

Selamat pagi di hari kedua bulan januari 2016.

Apa yang kamu lakukan diawal tahun 2016? Tidur sampai siang karena lelah berpesta semalaman? Hehehehe. Oke, oke, saya gak mau ngejudge orang. Masih terlalu pagi buat bikin orang bete baca postingan saya ✌.

Awal tahun ini saya ngerasa lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2014 yang penuh drama kolosal bak Angling Dharma. Saya bisa bilang lebih baik karena kemarin pagi, saya kembali melakukan ritual yang dulu kerap dilakukan tiap pergantian tahun tapi saya lupakan. Bukan pesta kembang api, bakar-bakaran, apalagi balapan, melainkan membuat resolusi.

Yes, di tahun 2015 saya gak buat resolusi satu pun. Prinsipnya hanya, di tahun itu saya berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Klise. Tidak ada target pencapaian, rencana-rencana juga motivasi. Cuman, go with the flow aja. Dan, rasanya gak banget, penuh kebingungan, labil. Baiknya, dari tidak melakukan tradisi tersebut, saya jadi tahu bahwa hal itu ternyata penting bagi saya pribadi. Sebab, dari situ, meski pada akhirnya setelah dievaluasi tidak semua tercapai, namun kita punya tujuan pasti mengenai apa yang akan dilakukan dan diinginkan. Tanpa target dan tujuan yang jelas bikin kita ngejalanin hari seperti mengambang, ngapung gak jelas arah, tergantung kepada angin maunya apa.

So, akan lebih baik jika kita setiap tahun membuat resolusi, target, pencapaian atau apapun itu namanya sebagai motivasi diri. Gak perlu banyak-banyak yang penting spesifik. Hindari resolusi klise seperti:

1. Menjadi orang yang lebih baik.
Bukannya gak boleh. Tapi menurut saya, kalimat diatas masih terlalu general. Banyak orang yang ingin jadi lebih baik, tapi tidak tahu harus bagaimana. Buatlah spesifik, seperti: Datang tepat waktu ketika janjian, rutin tahajud tiap malam, khatam alquran. Hal-hal tersebut merupakan target atau resolusi yang dapat membentuk kita sebagai sosok yang lebih baik.

2. Berguna untuk lingkungan.
Alangkah lebih baik jika ditulis: Tidak lagi membuang sampah sembarangan, membentuk karang taruna, membuat koperasi, dll. Sebutkan kegiatan atau langkah spesifik yang bisa menjadikanmu sebagai orang yang berguna untuk lingkungan.

Kenapa perlu kalimat spesifik?
Melalui kalimat spesifisik itu akan memudahkan kita dalam menentukan langkah. Jadi, gak lakuin semua hal namun hasilnya nihil.

Nah, teman-teman mari kita buat resolusi untuk tahun 2016. Semoga semua dapat tercapai dengan baik.

Selamat pagi!

Saturday, 19 December 2015

SEBUAH WADAH BAGI PARA KREATIF!

Lama tidak bersua dengan semua hal mengenai tulis menulis entah itu cerpen, puisi, sajak-sajak singkat, bahkan quote yang dulu sering sekali saya buat. Bikin saya cukup kagok ketika memutuskan untuk kembali bersentuhan dengan dunia yang dulunya saya geluti setengah mati. Ya, menulis sama dengan bersepeda. Akan sangat lancar jika kita rajin berlatih, atau sering jalan-jalan, tapi bisa membuat kagok bahkan jatuh bila lama tidak digunakan. Seperti itulah, rasanya frustasi sekali. Biasanya, kursos pada Microsoft Office tidak perlu waktu berjam-jam hanya untuk saya pandangi, sebab ide-ide mudah sekali mengalir. Tapi... kala saya mencoba menulis setelah sekian lama tidak melakukannya sungguh kaku. Benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk sekedar memulai awal, tidak tahu bagaimana membuat alur yang baik dan bagus dalam sebuah cerita. Ini bikin saya mau nangis, banting buku, banting laptop, dan hampir menyerah. Namun, suatu hari saya menemukan sebuah kata-kata bijak, yaitu: Jika kamu ingin menjadi pribadi kreatif, bergaullah dengan orang-orang kreatif.

Dari situlah, saya mulai kasak kusuk mencari-cari sebuah media terutama online yang isinya benar-benar orang kreatif dan menyukai dunia menulis. Mencari wadah seperti ini tidaklah mudah, sebab perkembangan internet yang semakin canggih juga harus membuat kita meningkatkan kehati-hatian, sebab jika tidak, kita akan terjerumus pada hal-hal negatif yang menggunakan hobi kita sebagai cara untuk membuat kita tertarik. Dulu, saat saya masih kuliah, saya pernah ikut sebuah grup kepenulisan minor yang ada di facebook. Mereka menyelenggarakan sebuah event antologi cerpen, demi untuk meningkatkan jam terbang saya ikutan acara tersebut. Dan, ternyata karya saya berhasil lolos seleksi dan akan dibukukan dengan sesama rekan penulis lainnya. Kami diminta patungan dengan dalih sebagai uang untuk proses pencetakan buku tersebut dan dijanjikan uang royalti dari hasil penjualan. Seiring berjalannya waktu, buku tersebut akhirnya berhasil tercetak dan dikirim kepada kami para penulisnya. Namun, hingga saya menulis postingan ini, tidak sepeser pun saya menerima royalti yang dijanjikan. Di akun facebooknya, salah satu panitia berkeluh kesah mengenai penjualan yang jeblok dan hasil yang tidak seberapa sehingga mereka bingung bagaimana untuk membagikan royalti pada para penulis. Saya menyadari, jika buku tersebut memang terdiri dari para penulis amatir yang wajar rasanya jika kalah dalam penjualan bila dibandingkan dengan buku-buku para profesional. Mengenai royalti, saya pun tidak mempersalahkan, sebab pikir saya saat itu memperbanyak jam terbang ialah hal yang lebih penting. Namun, saya menggaris bawahi manajemen kepanitiaan buku minor yang bagi saya patut diacungi jempol secara terbalik. Ya, saya kecewa sekali... Kenapa? Sebab, meski pun kita berposisi sebagai penulis minor, namun dalam membuat karya kita tetap menggunakan otak untuk berpikir, Saya merasa sudah seharusnya kami dihargai dengan cara melaporkan progress penjualan setiap bulan. Ada tidak ada pembeli, itu masalah bersama, yang penting laporkan. Komunikasi itu penting. Sehingga kami tidak menjadi salah paham. Berkaca dari hal tersebut, saya jadi tidak mau asal-asalan dalam ikut serta lomba atau event menulis.

Beruntung, karena pada akhirnya saya menemukan sebuah platform yang isinya benar-benar penulis, baik yang sedang belajar maupun sudah profesional. Nama platform tersebut ialah Storial.Co.

Storial.Co merupakan perusahaan dari Nulisbuku.com yang merupakan wadah untuk para penulis yang ingin menerbitkan bukunya sendiri, istilahnya Self Publisher. Gabung dengan Storial.Co pun mudah sekali. kita hanya perlu membuat akun di sana dan GRATIS! Meski pun begitu, platfom ini menawarkan banyak keuntungan dari kita, para pekuter alis Penulis Kurang Terkenal, yaitu:


  1. Kita dapat menulis cerita dan dibaca oleh kurang lebih 1800 anggota di Storial.Co. Ingat ya, sebagai sebuah media, para anggota Storial.Co tidak hanya kumpulan penulis amatir, namun juga ada yang sudah Pro, dan tidak menutup kemungkinan para pemilik usaha percetakan buku yang dapat membaca karyamu. Ya, anggap saja Storial.Co adalah portofolio online milikmu.
  2. Ini nih yang asyik, regitrasi GRATIS... TIS... cukup kamu bayar saja pulsa untuk biaya kamu internetan, he...he...he...
  3. Koleksi di Storial.Co lengkap loh. Ada kumcer cinta-cintaan, novel, kumpulan puisi, buku travelling, dan kamu pun punya kesempatan untuk ciptakan sendiri genre-mu.
  4. Storial.Co mudah sekali diakses melalui gadjetmu dan ramah untuk pandangan mata (gak bikin siwer).
Ini adalah halaman petama dari Storial.Co

Nama Storial.Co yang mudah diingat dan gak pasaran, memudahkan kita untuk menemukan media tersebut. Design Web-nya pun gak norak. Eye catchy dengan pemandangan seseorang tengah menulis dihadapan pantai dan buku-buku yang telah di Up Load di Storial.Co. Dari depannya aja, sudah membuat penasaran tentang isi di dalamnya. Iya kan?


Untuk kamu-kamu yang belum punya akun di Storial.Co hanya tinggal login saja. Isi data diri kamu, upload foto yang keren, voilla... kamu siap untuk membuat buku-buku di Storial.Co!





































Seperti toko buku offline yang memiliki etalase untuk memajang buku-buku koleksinya, begitu pula dengan media Online Storial.Co. Mereka memiliki semacam etalase yang memajang buku mulai dari buku terpopuler, hingga buku terbaru lengkap dengan jumlah bintang sebagai peringkat yang dimiliki oleh masing-masing buku.

Pihak editor dari Storial.Co rajin memperbaharui buku terpopuler menurut pilihan editor. Sebuah stimulus yang baik demi membuat para penulis termotivasi untuk semakin memperbaiki tulisannya.

Dan, untuk buku atau bab baru yang diunggah, akan ditampilkan dihalaman Storial.Co jadi para penulis maun pun pembaca dapat mampir untuk membaca sehingga gak kelewatan.

Saya pun sudah bergabung dengan Storial.Co dan telah membuat buku dengan tajuk Mengenai Waktu yang berisi cerpen-cerpen. Baru tiga bab, dan belum masuk sebagai buku pilihan editor (curhat colongan hahaha). Tidak apa-apa, yang penting saya melakukannya, dan semakin sering kita berlatih semoga akan semakin memperbaiki kualitas tulisan sehingga dengan begitu para pembaca akan semakin percaya pada karya-karya kita. 

Nah, tunggu apalagi? Mari segera gabung dan sama-sama kita warnai dunia menulis dengan karya-karya kita.

Happy writing pals!