Pages

Wednesday, 20 May 2009

Dia

Seraut wajah itu melintas pelan di depan kelasku

Senyum yang merekah membuatku gundah

Bertanya dan terus bertanya tentangnya

Hanya tentangnya..

Menatap lurus ke arah lapangan saat ia berlaga

Menggiring bola di kaki

Berlari tanpa henti

Di selingi tawa yang tersimpan di memori

Walau tak pernah terjalin kisah dan kasih,

Namun dia memang hidup dalam memori dan dalam hati

Terkenang indah bersama seluruh cerita yang tercipta di sana

Dalam sebuah gedung bercat kuning

Yang dulu ku datangi setiap hari

Berjumpa dengan dia,,,

Nuy.nuy.nuy

070409

Aku tersentak oleh gelapnya malam

Menyadari waktu yang semakin jauh berjalan

Detiknya yang merayap pelan

Membuat ku tak sadar akan adanya pergerakan

Hampirku hilang karena tertutup kelam

Yang terbungkus angin penyesalan

Hendak membungkusku dan tenggelamkan ku

Di masa lalu

Masa yang sisakan kisah tragis di hidupku

Hendak ku hapus memori itu

Dan menjadikannya pedoman akan apa yang kan ku perbuat

Hingga waktu dan malam kan kembalikan bayangan ku

Secerah matahari pagi……..

sadar

Aku tersentak oleh gelapnya malam

Menyadari waktu yang semakin jauh berjalan

Detiknya yang merayap pelan

Membuat ku tak sadar akan adanya pergerakan

Hampirku hilang karena tertutup kelam

Yang terbungkus angin penyesalan

Hendak membungkusku dan tenggelamkan ku

Di masa lalu

Masa yang sisakan kisah tragis di hidupku

Hendak ku hapus memori itu

Dan menjadikannya pedoman akan apa yang kan ku perbuat

Hingga waktu dan malam kan kembalikan bayangan ku

Secerah matahari pagi……..

partner Raya

Raya memegang erat sebuah undangan berwarna pink yang baru saja di berikan oleh si pink lady, Wina.

“ Raya dan Partner”. Raya membaca sinis tulisan di undangan tersebut. “ Partner? Siapa lagi partner gue???… huh!!!” omelnya.

“ Lo kenapa sih, Ray? Sibuk sendiri gitu..” tegur Nasha.

Raya melambaikan undangan di tangannya ke wajah Nasha. Cewek itu memandang Raya bingung. “ Apa? Gue juga dapet kok undangan ulang tahunnya si pink lady itu. Nih..” Nasha menunjukkan undangan miliknya.

Raya menepis pelan undangan itu, “ baca nama lu deh.” Perintah Raya.

“ Nasha Amelia?” baca Nasha.

Raya merebut undangan Nasha. “ Kok punya gue di tulis gini ‘Raya dan Partner’.”

Nasha melirik undangan Raya. “ hahaha… itu sih tergantung amal ibadahnya Ray,, lagi pula anggap aja si Wina itu ngedoain lo supaya lo cepet dapet partner..hahahahaha”

“ Sialan.”

Suasana ramai dan bising segera terganti saat Raya sampai di rumahnya yang cukup megah. Di rumah ini Raya hanya tinggal dengan Ayahnya yang telah bercerai dengan Bunda. Ayah yang seorang bisnisman memang sangat sibuk. Biasanya ada mbo Rah yang nemenin Raya di rumah, tapi berhubung mbo Rah sedang pulang kampung, Raya hanya sendirian di rumah. Raya mengambil CD Jason mraz dan memutarnya di CD player yang ada di ruang keluarga. Lagu pertama yang Raya pilih adalah Make It Mine.

“ I’ll make it all mine…” Raya ikut bernyanyi dengan Jason Mraz sambil menyalakan komputernya untuk ber-FB ria.

Hmmm,, ternyata banyak juga permintaan untuk jadi teman yang masuk ke Fbnya. Raya segera mengkonfirm semuanya walau ada beberapa yang sama sekali tidak ia kenal. “ Itu gunanya Fb. Nambah teman. Welcome to my world my new friend…”

Raya mengklik kawan barunya yang bernama VooAlone.

“ Ouch.. Kiudd euy. Hahay!!”

Tak lama kemudian muncul nama VooAlone yang mengajaknya chatting. Dan karena Raya suka chatting, akhirnya waktu 3 jam lewat sudah tanpa terasa. Sampai ia sama sekali tidak menyadari kalau Ayah sudah berdiri di belakangnya.

“ Ternyata posisi Ayah udah di gantiin sama si VooAlone. Sampai pintu pager aja gak di bukain.”

“ Iyah nih mba Raya, Pak Udin klaksonin daritadi sampai tetangga pada keluar gak di buka-bukain juga.”

Raya menoleh ke arah suara itu, dan ia melihat Ayah serta Pak Udin, supir Ayah dengan baju basah telah ada di belakangnya.

“ Eh, Ayah.. kok bajunya basah yah?” Tanya Raya sambil mendekati Ayahnya yang sedang minum. “ Ayah mau the?”

“ Mau nyogok Ayah tuhhh…”

Raya Cuma nyengir. Akhirnya dia mutusin untuk memasak makan malam.

Nasha udah bosan banget dengan cerita Raya yang itu-itu aja. Udah 4 hari ini yang keluar dari mulut Raya Cuma tentang Alan, Alan dan Alan. Cowok yang dia kenal dari FB dengan nick name VooAlone.

“ Ya ampun Sha, sumpah Alan asyik banget.. dia juga suka sama Jason Mraz. Kaya gue, Sha. Lagu yang paling dia suka juga Make it Mine ka…”

“ Kayak lo…” sela Nasha bt.

“ Iya kayak gue. Waaahhhh,,, banyak banget yah kesamaan antara gue sama Alan… jangan-jangan kita jodoh lagi… duhhh….”

Nasha menaikkan ujung bibirnya yang artinya dia kesel and jijay abis sama apa yang di omongin Raya. Cuma karena sama-sama suka Jason Mraz dan sama-sama suka lagu Make It Mine langsung bilang jodoh??? Oh mi god…

“ Lo mank udah ketemuan sama dia?”

“ He-eh, udah. Tinggi banget lo orangnya.”

“ Masa?”

“ Iya.”

“ Kapan ketemu lagi?”

“ Pas ulang tahunnya Wina.”

“ Partner lo dong?”

“ Yupz.”

Siang itu Raya sedang tidur saat bel pintu rumahnya berdentang. Raya membuka matanya sesaat dan menutupnya lagi saat ia tau udah ada yang membukakan pintu. Tapi, tidur Raya terganggu lagi saat pintu kamarnya di ketuk oleh Ayah.

“ Raya..”

“ Apa, Yah?? Aku ngantuk nih..”

“ Ada Bunda, nak.”

Raya segera lompat dari tempat tidurnya saat Ayah berkata demikian.

“ Mana Bundanya?” Tanya Raya antusias.

“ Di bawah.” Raya sudah hendak berlari ke bawah saat Ayah menahan lengannya. “ Kamu yakin mau ketemu Bunda dengan tampang kucel dan masih bau iler gitu?”

Raya menatap wajahnya yang terpantul di cermin di dekat kamarnya.

“ Hah? Raya cuci muka dulu deh, Yah.”

Setelah sibuk membersihkan diri ala kadarnya, Raya langsung berlari menuju ruang keluarga untuk bertemu Bunda.

“ Raya!!” sambut Bunda.

“ Raya kangen Bundaaaa….” Raya memeluk Bunda dan bergelayutan manja.

“ Duh,, anak Bunda… kenalin nih kakak Tiri kamu,,,”

Bunda memperkenalkan cowok tinggi, berkulit kuning langsat, yang sedari tadi memandangi Raya dengan matanya yang coklat dan terbelalak. Cowok itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Raya yang gak kalah bengongnya dari cowok itu.

“ Alan?!”

PROMISE

Ruang drama di SMA Melati, telah 10 menit lalu hening. Sepi. Karena, para di tinggal para anggotanya yang kini sedang me-recharge tenaga mereka di warung gado-gado mpok Halimah.

Hmmm,,, nampaknya tidak semua anggota drama yang jumlahnya sekitar 20 orang lebih itu ada di warung gado-gado yang biasa di pakai tempat ngumet siswa yang mau bolos ini. Buktinya, di pojokan ruangan nan lengang itu ada seorang gadis berkaus komprang warna hijau yang tengah diam membisu.

Ia mendesah, matanya berputar menyapu seluruh ruangan kosong yang berantakan itu. Kakinya menopang tubuh dengan berat 47 kg itu, untuk bergerak menuju tempat radio tape yang di gunakan untuk mendubbing suara mereka di letakkan.

Iseng, ia mengganti kaset kosong di dalamnya dengan kaset Ada Band album Romantic Rhapsody yang entah milik siapa.

Sayang, berikanlah satu kesempatan wujudkan mimipi bersama mu…” lirik lagu milik ada Band yang berjudul Sayang itu, tiba-tiba berhenti.

Kedua mata indah yang sering di juluki bola pingpong itu, segera menemukan pelaku yang telah mengganggu keasyikkannya.

Iseng banget, deh! omelnya.

Si pelaku itu memamerkan deretan giginya yang sesungguhnya gak bagus itu. Hehehe Lagian dengerin lagu serius amat! Amat aja gak serius. Seloroh bang Arby sama sekali gak membuat gadis manis di hadapannya itu tertawa.

Terserah gue! sahut Ullie, cewek berkaus komprang warna hijau, galak.

Duh,,, Lagi BT ya, non? tanya Bang Arby. Ullie menggeleng. Terus napa dong diri lo manyun gitu? tanya nya lagi.

Ullie menatap Bang Arby sebal. Sariawan! jawabnya jutek, lalu ngeloyaor pergi membiarkan Bang Arby dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.

Ullie! seorang cewek bertubuh mungil berlar-lari menghampiri Ullie.

Kaset dubbing yang kemaren di pegang di siapa? tanyanya setelah ia sudah berdiri di depan Ullie.

Gak tau. Jawab Ullie polos.

Ih Elo kan ketuanya masa elo gak tau sih?!! protes Wulan kesal. Sebab cewek ini daritadi udah nanya ke anggota drama yang lain tapi jawaban mereka sama kayak Ullie. Gak tau!

Gue kan ketua drama bukan tukang kaset! Jadi gue gak tau! tandas Ullie kesal.

Di Adiet kali ya? kata Wulan.

Kali. Ullie ngeloyor pergi ngelanjutin perjalanannya ke kantin yang tadi sempat di stop oleh Wulan.

Sementara Wulan dengan terheran-heran menatap punggung Uliie yang udah menjauh darinya.

Napa sih tuh orang??? gerutunya sendirian.

Wajar saja kalau banyak orang yang terheran-heran dengan sikap Ullie belakangan ini. Cewek yang biasanya ramah pada semua orang dan doyang banget bikin orang ketawa, mendadak jadi lebih diem dan kalem. Plus, juga jadi doyan ngomel juga. Harusnya sih mereka bersyukur kalau Ullie jadi kebih diem dan alim, karena suasana jadi lebih tenang dari biasanya. Tapi, ternyata justru banyak orang yang kangen sama banyolan-banyolan yang biasanya terlontar dari bibir munggilnya Ullie. Terutama, tiga sahabat Ullie. Yaitu Levi, Pras dan Anita.

Ullie kenapa ya? tanya Anita saat mereka bertiga nongkrong di kantin, tanpa Ullie tentunya. Dan, para penjual makanan di kantin jadi banyak yang heran. Sebab, mereka selalu berempat gak pernah misah kecuali kalau ke kamar mandi tentunya.

Mereka akhirnya terpaksa bohong, bilang sama semua orang yang nanyain Ullie kalau Ullie lagi ngerjain pr bahasa inggris di kelas. Hal yang gak mungkin banget di lakuin sama seorang Ullie.

Mendengar pertanyaan Anita, Pras dan Levi cuma bisa ngelengin kepala. Karena, mereka juga bingung.

Ullie lagi dapet kali, makanya dia begitu. Kata Pras asal.

Heh, Ullie itu kalau lagi dapet nafsu makannya jadi banyak, tau! sergah Anita.

Tapi, bukannya tuh anak mau hepi, sebel, kesal atau senang makannya emang banyak, ya? levi bersuara.

Iya, kecil-kecil gitu Ullie kan gembul. Pras setuju.

Anita menopangkan kepalanya di meja kantin. He-eh juga sih tapi kenapa ya biar makannya banyak badannya Ullie gak gemuk-gemuk?

Pras dan Levi diem nanggepin kalimat retorisnya Anita yang ngelantur abis!

Mau gak mau, Ullie akhirnya nengok juga. Cewek dengan tinggi 157 cm itu, ngerasa risih di liatin dengan teman sebangkunya yang juga sahabatnya, Anita.

Napa sih, Nit? tanya Ullie. Ia alihkan pandangannya dari white board di depan kelas kepada Anita yang duduk di sampingnya.

Lo lagi kenapa sih, Ul? tanya Anita to the point.

Kenapa gimana? Ullie malah balik nanya lengkap dengan kedua alisnya yang bertaut, tanda ia bingung.

Anita menghembuskan nafasnya. Sadar gak sih, kalau lo itu udah lebih dari 3 hari ini beda banget?

Apanya yang beda?

Diri lo.

Diri gue?

Iya. Diri lo itu sekarang beda, gak kayak Ullie yang biasanya gue kenal.

Ullie diam. Sebenarnya ia sadar dan menyadari maksud Anita.

Gue gak tau, Nit. Kata Ullie datar.

Elo pasti tau, Ul. Semua elo yang ngerasain.

Ullie menunduk, Gue juga gak ngerti, Nit, gue lagi kenapa. Ullie tersenyum pada Anita lalu kembali mencatat materi pelajaran sosiologi di white board.

Anita ingin bertanya lebih lanjut lagi, tapi sikap Ullie barusan membuat Anita mengurungkan niatnya. Karena ia hafal betul, kalau Ullie sudah seperti itu, berarti ia gak mau di khawatirkan lebih jauh lagi pada orang lain. Ya, Ullie gak mau Anita terlalu khawatir terhadap dirinya.

Adalah suara Dennis di telinganya, wajah Dennis di matanya, dan senyum Dennis di pikirannya, yang membuat system kerja otak Ullie terganggu. Wajah yang penuh harap, tanya yang menyimpan kecewa, suara bergetar perih menahan sakit dan tangan yang mencengkram pundaknya erat. Masih dapat Ullie rasakan dan Ullie bayangkan. Seolah telah melekat dan tak bisa hilang dari memori otak milik Keyko Naullie Winsa, atau Ullie.

Kasih gue alasan, Lie! pinta Dennis Aditya Yudha, satu-satunya cowok yang menyingkat namanya menjadi Lie bukan Ul seperti kebanyakan teman-teman menyingkat namanya.

Gak ada alasan, Den. Jawab Ullie kala itu. Yang membuat Dennis kecewa.

Gue tau elo bohong, Lie. Elo pasti punya alasan, kan?! Iya kan, Lie?!! cecar Dennis. Namun, Ullie tak bergeming. Gadis keturunan arab itu tetap membungkam mulutnya. Ullie pliss,, kasih gue penjelasan gue terima, gue gak marah kalau elo nolak gue. Tapi, gue minta elo kasih tau alasannya biar gue bisa lebih tenang. Tolong, Lie…” suara Dennis melunak. Tapi tetap, Ullie diam. Ia takut jika ia bicara satu kata lagi saja, air matanya akan tumph ruah di hadapan Dennis. Dan Ullie gak mau hal itu sampai terjadi. Elo gak suka sama gue? tanya Dennis akhirnya. Ketika sadar dengan apa yang ia ucapkan, hati Dennis jadi kecut untuk mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Ullie.

Enggak. Jawab Ullie pelan. Namun, bagi Dennis itu udah cukup membuat hatinya hancur.

Ullie berbalik pergi dan berlari meninggalkan Dennis yang menatap kepergiannya. Tanpa sepengetahuan Dennis, Ullie menangis tersedu-sedu.

Sesungguhnya Ullie ingin Dennis tau, kalau Ullie juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi, Ullie merasa tidak mampu untuk mengatakannya. Ullie gak mampu mengkhianati sahabat-sahabatnya. Mengingkari janji antara ia, Levi, Pras dan Anita. Janji, yang hanya di ketahui mereka.

Levi, Pras dan Anita memasuki Ddeliciate café. Mata mereka sibuk mencari-cari sosok yang sudah mengundang mereka bertiga ke sana.

Gue ada di pojok sebelah kiri. Lo kemari, ya. Anita membacakan sms yang ia terima dari Dennis pada Levi dan Pras. Segera mereka bertiga berjalan menuju tempat yang di maksud oleh Dennis.

Hey! sapa cowok berkulit kuning langsat itu.

Sori lama. Elo udah lama nunggu ya, Den? tanya Anita.

Dennis tersenyum. Enggak kok. Gue juga baru datang 15 menit yang lalu. Kata Dennis.

Hehehe sori sangat nih kita ngaret. Abis, si Anit dandannya lama banget. Kata Levi.

Anita mendelik sambil memonyongkan bibirnya pada Levi. Biarin! Namanya juga cewek. Anita membela diri.

Tapi ngomong-ngomong ada apa nih Den, elo nyuruh kita datang kemari? Pake nyuruh-nyuruh gak usah ajak Ullie segala. Kan gawat kalo tuh anak tau kita jalan gak ngajak-ngajak dia. Bisa di amuk entar. Kata Pras.

Dennis nyengir. Mencoba untuk menenangkan hatinya yang langsung ajeb-ajeb tiap denger nama Ullie. Santai napa. Elo-elo juga pada belom mesan minum. Udah pesan aja dulu, gih.

Eh Den, kalau makanannya sekalian boleh gak? Gue laper nih. Pinta Pras yang langsung di hadiahi jitakan oleh Levi dan Anita.

Pesan aja, gak apa-apa kok. Gue yang traktir kalian. Kata Dennis yang langsung di sambut baik oleh Pras tentunya. Dennis memang kagum atas persahabatan antara Levi, Ullie, Pras dan Anita yang sering mereka sebut LUPA. Berasal dari huruf awal nama panggilan mereka sekaligus merupakan satu sifat yang sama-sama mereka punya, PELUPA!^..^

seorang pelayan bernama Ilham, menhampiri mereka setelah Dennis memanggilnya.

Ada yang bisa di bantu? tanya nya ramah.

Aku pesan spaghetti saus bologness sama jus alpuket ya. Pesan Anita.

Perasaan tadi gue deh yang bilang laper. Tapi kok malah elo ya Nit, yang pesan makanan. Cibir Pras mengingat jitakan Anita tadi. Anita menanggapi cibiran Pras dengan senyum ala kuda miliknya.

Sejenak mereka terlupa akan tujuan mereka datang ke café ini sebelumnya. Setelah dua piring spaghetti, seloyang pizza dan sepiring kentang goreng ada di hadapan mereka. Anita, yang pertama kali kembali ingat akan tujuan mereka ada di sini.

Eh iyya..!!! Elo kok malah asyik makan gitu sih??? tegurnya pada Levi dan Pras. Elo minta kita ke sini ada apa ya, Den? tanya Anita yang hampir membuat Dennis tersedak.

Jantung Dennis langsung berdegup kencang dan perutnya mendadak mules saat ia teringat tujuan awalnya ia meminta Levi, Pras dan Anita untuk datang ke restoran milik pamannya ini.

Anu Mmm,,, ada yang mau gue tanyain ke lo semua. Buka Dennis.

Lama Dennis terdiam dengan wajah tertunduk memandangi meja yang di penuhi piring-piring yang sudah kosong.

Mau nanya apa sih elo, Den? Tegang amat muka lo. Kata Pras yang sebetulnya ingin tertawa melihat wajah Dennis yang seperti itu.

Gue nervous begggo!!! Gak peka banget sih lo!! Rutuk Dennis dalam hati.

Den? gantian Levi yang bertanya. Lo mau nanya apa sama kita?

Mmmm,,, anu Itu.. Adduh!!! Dennis mengacak-acak rambutnya yang di cukur ala Ryan, vokalis band Dmasiv.

Hampir aja tawa Anita meledak kalau gak kaki Levi menginjak sepatunya di bawah.

Susah banget sih Den ngomongnya! kata Anita.

Mmmm Elo pada kan deket sama Ullie, jadi…”

Oooh jadi elo mau nanyain Ullie, toh!!! potong Levi, Pras dan Anita berbarengan.

Sekejap saja wajah Dennis langsung memerah padam. Cowok yang wajahnya mirip Darius Sinatrya itu jadi salting sendiri mengahadapi tatapan Levi, Pras dan Anita yang cengar-cengir menatapnya.

Hehehe Abis, gue penasaran banget sama Ullie. Aku Dennis. Semburat merah menghiasi pipinya.

Ooh,,, jadi elo uma penasaran doang sama adek gue?! tanya Levi galak.

Cowok berdarah batak yang satu ini, emang udah benar-benar menganggap Ullie sebagai adiknya dan ia telah berjanji untuk selalu menjaga Ullie. Jadi, gak heran kalau sikap Levi agak protektif terhadap Ullie. Terlebih, saat Levi berjanji pada mendiang, Irvan, kakak kandung Ullie yang telah meninggal setahun silam. Levi semakin berusaha untuk melindungi Ullie.

Janji adalah utang. Prinsip cowok yang bernama lengkap Leviandra Sudibyo.

Bukan gitu juga, Lev.. Gue penasaran kenapa Ullie sampe nolak gue. Kata Dennis. Padahal gue sayang banget sama dia…”

Anita, Pras dan Levi saling berpandangan. Apa hal ini yang membuat Ullie uring-uringan dan lebih sering diam? Batin mereka.

Emang elo udah nembak Ullie, Den? tanya Anita hati-hati.

Dennis mengangguk.

Kapan? tanya Levi.

Seminggu yang lalu deh kira-kira.

Benar kalau gitu…” ujar Levi pelan.

Apanya yang benar, Lev? tanya Dennis heran. Emang Ullie gak cerita ke kalian?

Anita, Pras dan Levi menggelengkan kepala mereka.

Terus, kata Ullie apa? tanya Pras.

Dia…” Dennis menarik nafas panjang. Masih sulit baginya untuk mengingat apa yang di katakan oleh Ullie.

Dia apa? desak Levi.

Dia nolak gue. Dennis menatap tiga orang yang paling dekat dengan Ullie begitu heran. Sebab, tanpa di sadari mereka bertiga telah menatap Dennis dengan penuh rasa bersalah.

Elo pada kenapa, sih? tanya Dennis.

Ooo gak apa-apa kok! elak Pras.

Kira-kira lo pada tau gak alasan Ullie nolak gue?

Mereka semua menggeleng, membuat Dennis kecewa. Gue kira lo semua tau, kenapa Ullie sampe nolak gue. Abis, Cuma elo bertiga yang bener-bener dekat sama Ullie. Gue Cuma pengen tau aja alasannya dia. Ullie mau nolak gue, itu haknya dia, terserah yang penting hal itu gakkan mudah buat ngehapus semua perasaan gue yang udah ada buat dia. Cuma alasannya dia aja yang gue butuh. Biar gue tenang…”

Sebenarnya sih, Ullie pernah bilang ke gue, kalau dia suka sama elo. Tapi…” Anita mengantungkan kalimatnya.

Tapi apa, Nit? kejar Dennis.

Anita menggeleng. Dennis ingin bertanya lagi namun ia urungkan niatnya. Karena ia tau, Anita gak bisa melanjutkan kalimatnya karena dua pasang mata milik pras dan Levi menatapnya tajam.

Dennis menatap langit malam dengan sendu. Masih ia ingat bagaimana cara Pras dan Levi menatap Anita. Hingga membuat gadis anggun itu mengurungkan niatnya untuk memberi tau alasan Ullie menolaknya.

Ada apa sih, di antara mereka? Tanya hati kecil Dennis.

Cowok yang hobi berolahraga basket itu mencoba menerka-nerka apa yang di sembunyikan oleh mereka. Apa mereka semua diam-diam sudah jadian semua?Ah, gak mungkin. Di hapusnya pikiran yang terbentuk dari otaknya sendiri. Dennis terlalu mengenal sosok Ullie. Mengenal akan sikapnya, cara berpikirnya, keinginannya, makanan serta minuman favoritnya, kebiasaannya, semuanya Semua tentang Keyko Naullie Winsa, telah mengelotok di kepalanya.

Masih segar dalam ingatan Dennis bagaimana hujan telah membasahi jalanan Tangerang. Membuat udara dingin dan jalanan becek, hingga banyak orang begitu terbuai untuk tetap berada di tempat tidurnya. Malas untuk segera bangun dan beraktivitas. Begitu pula dengan Dennis Aditya Yudha.

Hari ini merupakan hari pertama Dennis mengenakan seragam putih abu-abu. Bye-bye putih biru. Ucap Dennis di hadapan seragam SMPnya dulu. Mata Dennis memang masih mengantuk. Sedikit gak rela juga, Dennis meninggalkan kasur, selimut, bantal dan gulingya. Tapi, Dennis lebih gak rela lagi kalau ia mesti datang terlambat di hari pertama SMAnya.

Dan, satu jam kemudian Dennis telah berdiri di depan pintu gerbang SMA Melati. Perlahan Dennis memasuki pelataran parkir sekolah yang bertingkat dua itu. Dennis bersyukur dalam hati bahwa kelasnya di X.4 terletak di lantai satu bukan di lantai dua.

Namun langkah Dennis berhenti saat matanya menangkap sesosok cewek yang sedang berdiri dengan wajah bingung(baca; manis =) )

Hei,, ada yang bisa di bantu gak? cewek itu menoleh kaget. Ia menatap wajah asing di hadapannya itu dengan bingung. Sori,, gue tadi gak sengaja liat elo berdiri di sini. Gue pikir elo butuh bantuan, gitu. Kata Dennis yang mengerti arti pandangan cewek itu.

Mmmm elo tau gak komplek kelas X di mana? tanya cewek itu.

Lo kelas X berapa? Gue juga kelas X kok. Kata Dennis.

Gue X.3. jawab cewek itu.

Gue di X.4. Jadi kelas gue pasti sebelahan sama kelas elo, mendingan kesananya barengan aja. Gimana, mau gak?

Dennis tersenyum saat cewek itu mengangguk tanda setuju.

Eh, nama lo siapa? tanya Dennis.

Gue Keyko Naullie Winsa. Tapi lo manggil gue Ullie aja ya!

Haa? Dennis terkejut. Nama sebagus itu di singkat Ullie??!! kayak tape…”

Enak ajja!! Elo siapa namanya?

Dennis. Dennis Aditya Yudha

Oh, berarti elo teman pertama gue di sini.

Lho?

Gue baru pindah dari Jakarta ke Tangerang kemarin, jadi belom punya temen deh. Cerita Ullie. Dennis hanya manggut-manggut mendengarnya.

Ullie menghentikan langkahnya tiba-tiba saat lengan Dennis menghalangi jalannya.

Apaan sih? tanya Ullie jengkel.

Dennis tersenyum, Ullie mengikuti arah pandang Dennis.

Kenapa sih, Den? Ullie masih tetap bingung melihat Dennis memandangi sebuah ruang kelas yang berdiri di samping kanan mereka. Di dalamnya sudah ada beberapa siswa berseragam putih abu-abu.

Ini kelas lo, Ullie... X.3 kan? jelas Dennis penuh kesabaran. Di tunjuknya sebuah plang yang mengantung tepat di atas pintu yang bertuliskan X.3.

Ullie meringis malu. Hehehe... maap yah! Gue lupa...

Dennis menahan senyumnya melihat kelakuan Ullie. Yaudah, sukses ya buat hari ini. Bye! Dennis pun meninggalkan Ullie dan berjalan menuju kelasnya yang tepat berada di sebelah kelas Ullie.

Dan sejak pertamuan pertama mereka di hari pertama mereka resmi memakai seragam putih abu-abu, di hari pertama itu pula Ullie resmi menjadi pusat perhatian di hidup Dennis hingga kini mereka berada di ujung semester II kelas XII.

Dengan di gelayuti sejuta rasa malas, Ullie beranjak dari tidurnya. Berkali-kali pintu kamar Ullie di ketok-ketok oleh Bundanya.

Apa sih, Bun? Ullie udah bangun, kok! cerocos Ullie saat wajah Bunda nongol di hadapannya.

Bunda tersenyum menghadapi tingkah anak gadisnya itu yang hobi bangun siang.

Levi udah nunggu kamu tuh di bawah. kata Bunda yang langsung membuat sepasang alis milik Ullie yang hitam itu bertaut.

Levi? Ngapain, Bun dia ke sini pagi-pagi pula?! tanya Ullie bingung.

Bunda tertawa mendengar pertanyaan Ullie. Ya Bunda gak tau lah! Udah ah mending langsung ke bawah terus tanya langsung deh sama orangnya gih! perintah Bunda lalu pergi dari kamar Ullie.

Setelah Bunda pergi, Ullie masuk ke kamarnya sebentar untuk menyisir rambutnya yang awut-awutan gak jelas. Lalu, ia turun menemui Levi.

Tumben lo ke sini? Sendiri dan pagi-pagi pula? Ada apa nieh,,, patut di curigai.. berondong Ullie saat di lihatnya Levi yang sedang asyik menggoda kircha, kucing piaraan Ullie yang sedang bermalas-malasan.

Gak boleh nieh gue ke sini? jawab Levi pura-pura pasang tampang kecewa.

Ya boleh sih.. tapi gue curiga deh!!goda Ullie yang membuat Levi jadi kesal dan menjambak rambutnya.

Lalu, seperti yang sudah-sudah jika sudah ada Levi dan Ullie semua pasti berani bertaruh bahwa dua anak ini akan berakhir dengan cela-celaan, ledek-ledekan sampe beranten-beranteman gak jelas. Dan sekarang, sudah hampir satu jam mereka perang dan bercanda-bercanda tanpa makna.

Eh, Ul emank Dennis suka ya sama lo? tanya Levi mendadak .

Sepotong brownies coklat kesukaan Ullie yang hampir masuk ke mulutnya, harus rela untuk berhenti. Karena Ullie terlalu kaget terserang pertanyaan Levi. Ullie diam menatap Levi dengan sorot matanya yang sarat akan kebimbangan. Bimbang harus jawab apa.

Karena perjanjian itu lo nolak dia? tambah Levi semakin membuat Ullie terdiam. Ullie.. panggil Levi saat tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut cewek yang punya tampang bayi ini.

Ullie menatap Levi tepat di manik matanya. Iya. Semua yang elo bilang itu bener. Karena perjanjian itu gue nolak D-E-N-N-I-S.. jawab Ullie yang dengan sengaja memberi penekanan pada nama Dennis.

Maaf, atas perjanjian itu. Kalo lo mau, gue bisa bakar itu semua dan anggep semuanya gak ada dan gak pernah ada.

Gak kan semudah dan sesimpel yang lo bayangin, Lev. Gak semudah kalo kita mau ngebalikin telapak tangan. Ini Cuma satu dari sekian godaan atas diri kita yang nanti juga bakalan dateng cobaan lain yang mau nguji seberapa besar keinginan kita buat konsisten sama janji yang udah kita buat. Kalo kita mau perjanjian itu berakhir seperti yang kita inginkan.

Tapi gue tau Ul, lo tuh kesiksa banget.

Iya, gue akui kalo gue kesiksa banget harus nolak Dennis. Tapi apa elo bisa ngejamin gue bisa bahagia kalo kita ngeakhirin semua perjanjian ini? Gue bisa tenang kalo gue bisa nepatin janji gue,,, terlalu banyak janji yang udah gue ingkarin. Gue gak mau kali ini gue harus ingkar lagi,, gue gak mau...

Terus gimana?

Kita lanjutin perjanjian ini. Ullie bangun dari duduknya. Gue masih ngantuk Lev, pengen lanjutin tidur dulu.

Tanpa sempat Levi mencegah Ullie sudah lebih dulu menaiki tangga menuju kamarnya. Dan tanpa sepengetahuan Levi, Ullie tumpahkan air matanya di kamanya.

Dennis terdiam di tempat duduknya. Matanya lekat memandangi kertas yang di hiasi empat buah materai senilai Rp. 6000. Terpampang begitu jelas empat tanda tangan yang ada di sana. Tanda tangan milik Levi, Pras, Anita dan Ullie bahwa meraka berjanji untuk tidak pacaran dulu sampai mereka lulus UAN.

Jadi karena ini? tanya Dennis pada Levi, Pras, dan Anita yang tiba-tiba menghubungi Dennis untuk datang ke MC D di kawasan BSD City, Serpong.

Iya. Kita buat itu di pertengahan semester dua, gue yang ngusulin. Awalnya sih, Ullie sama sekali gak mau. Dia yang paling nentang perjanjian ini, tapi setelah kita bujuk akhirnya dia mau juga. cerita Levi. Tadi juga sebelum ke sini gue ke rumahnya Ullie dulu. Gue ngusulin ke dia supaya perjanjian ini di batalin aja...

Tapi Ullie pasti nolak kan? tebak Dennis.

Kok lo tau? tanya Levi, Pras dan Anita hampir berbarengan. Kaget juga mereka mendengar tebakan Dennis yang tepat.

Keyko Naullie Winsa. Cewek tegas, berkomitmen tinggi, dan selalu berusaha untuk nepatin janji. Mana mau dia begitu? kata Dennis menjawab keheranan yang tergambar jelas di wajah tiga sahabat itu.

Hafal banget lo sama sifatnya dia.? Tanya Anita bingung.

Hehehe,,, iyalah! Dari awal masuk gue udah ngincer dia kali. Anak manja yang keras kepala banget, isengnya gak ketulungan, bawel pula. Huuuh,,, suka puyeng sendiri gue kalo liat kelakuannya dia.

Kok tetap suka, Den? selidik Pras.

Dennis menaikkan bahunya. Entahlah. Gue juga gak tau, yang jelas di mata gue dia special banget. jawab Dennis yang membuat Anita, satu-satunya cewek di situ jadi ngerasa iri sama Ullie.

Terus, selanjutnya elo gimana sama Ullie? tanya Levi.

Gue bakalan dukung dia buat nepatin janjinya itu.

Ini pertama kalinya untuk Dennis bisa kembali berjalan ringan seolah tanpa beban setelah peristiwa penolakan Ullie yang tanpa alasan. Hati Dennis merasa lega setelah tau penyebab Ullie menolaknya. Dan rasa sayangnya pada Ullie tumbuh semakin besar di sertai dengan kekagumannya pada cewek itu yang tetap berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjinya. Apa pun dan gimana pun kondisinya.

Ullie sedang menikmati suara kicauan burung di balkon di depan kelasnya. Kini, ia pun sudah bisa menjadi Ullie yang seperti dulu dan sudah tidak uring-uringan lagi. Apalagi saat ia menerima sebuah pesan di handphonenya pagi tadi.

gue bakal tetap nungguin elo sampai UAN selesai. Dan setelah itu, diri lo bakalan utuh jadi milik gue. Karena sayang gue ke elo terlalu gede untuk di buang apalagi di hapus gitu aja.

Dennis

Untuk kesekian kalinya Ullie membaca pesan itu. Dan untuk yang kesekian kalinya pula, senyum Ullie merekah indah. Namun kali ini Ullie tersenyum pada satu subyek yang tepat berdiri di sebrangnya, Dennis.