Pages

Tuesday, 3 November 2009

DOSEN

Sudah setengah jam Vega duduk di bangku lobi kampusnya. Hari ini adalah hari pertama Vega resmi menjadi mahasiswa setelah kemarin ia menghadiri acara perkenalan kampus. Mata Vega sibuk mencari-cari seseorang yang ia kenal dan satu program study dengannya. Lega juga Vega, saat ia melihat sosok Ila dan Zia, dua orang teman satu prodi yang ia kenal saat ujian sedang berjalan memasuki gedung kampus yang sering di juluki kampus biru ini.

” Ila..Zia!!” Panggilnya. ” Lama banget sih lo berdua datengnya. Udah kayak orang gila gue sendirian dari tadi.” cerocos Vega ketika keduanya telah sampai di hadapannya.

“ Macet Ga, kayak gak tau Bogor aja.” Jawab Ila.

Vega nyengir, “ Gue juga di Bogor tapi Bogor Barat, hehehehe.”

“ Kelasnya dimana Ga? Udah mulai belum?” tanya Zia sembari merapikan poninya yang acak-acakan.

“ Ya kalo gue tau, nunggu lo berdua gak di sini gue.” Jawab Vega.

“ Nah lo....gimana nie?” tanya Zia khawatir matanya lalu mencari-cari seseorang yang mungkin bisa untuk di tanya. Zia melihat Mas Roni yang berbadan besar sedang berjalan ke arah mereka. ” Ga, Mas Roni tuh. Lo tanya gih!”

” Lo aja ah! Dari kemarin gue mulu yang nanya.” tolak Vega yang masih rada kesel kalo inget gimana Ila dan Zia memaksanya untuk nanya masalah seragam bagi mahasiswa Kesmas.

Belum sempat mereka bertanya, tiba-tiba sebuah suara menyapa mereka. ” Eh,,elo Kesmas juga kan ya?” tanya cewek itu.

Vega, Ila dan Zia mengangguk.

“ Tau gak ruangannya dimana?” tanya cewek itu lagi.

“ Enggak,,,makanya nih kita lagi bingung.” jawab Vega.

“ Tadi gue nanya ke Bu Tita katanya kita di suruh masuk ke ruangan 101. Tau tempatnya dimana?”

Vega, Ila dan Zia menggeleng lagi membuat cewek di hadapan mereka meresa agak kesal. “ Kita baru ngejelajah kantin doang, kalo ruangan-ruangan di kampus kita belom jelajahin jadi gak tau deh.” Ila menjelaskan sebelum cewek itu naik darah dan melempari mereka dengan kursi-kursi yang ada di lobi.

” Cari bareng aja, yuk.” usul Vega.

Mereka lantas berjalan menuju lift, namun karena lift selalu penuh mereka pun memutuskan untuk naik tangga menuju lantai dua. Sampai di lantai dua, mereka pun jadi bingung sendiri, karena ruangan yang ada di mulai dari angka 2 dan mereka tidak menemukan ruangan 101 yang di bilang oleh bu Tita.

” Eh,,eh,,nama lo siapa?” Vega mencolek cewek yang berjalan di sebelahnya.

“ Giegie.” Jawabnya kalem. “ Nama gue Sagita Dwi Permata tapi temen-temen gue manggil gue Giegie.” Jelasnya saat ia melihat wajah Vega yang mendadak bingung.

“Ohhh...” Vega mengangguk-angguk. “ jangan-jangan ade nya di kasih nama gusi.” kata Vega, dalam hati tentunya..^^,

” Nama lo?”

” Vega. Vega Utami Ramlan, yang ndut itu Meila Bawaka yang di sebelahnya Alzia Imastika.” jawab Vega sekalian menjelaskan nama dua orang yang berjalan duluan.

” Ga, ruangan 101 gak ada di sini.” lapor Ila.

Vega menatap Giegie, ” Gak tau gue...” katanya seolah mengerti arti tatapan mata Vega.

” Mas..Mas.” panggil Vega pada seorang mas-mas cleaning service. “ Ruangan 101 dimana ya?” tanyanya.

“ 101 mbak?”

“ Iya. Tau gak?”

“ Ruangan 101 mah di bawah mbak, di lantai 1 deket sama ruang dosen.” Jawab si mas kalem yang kemudian pergi setelah Vega mengucapkan terima kasih.

“ Tadi kan kita di lantai 1.”

” Napa kita malah ke lantai 2 ya?”

” Turun lagi dong??”

” Iya. Pake tangga lagi,,lift nya penuh terus.”

Mereka berempat berpandangan, lalu berjalan lemas menuju tangga. Ila berjalan sambil mengeja seluruh ruangan yang mereka lewati.

” 104,,103,,102,,101. woyyy!!!! 101 nieee...” teriaknya pada Vega, Zia dan Giegie yang berjalan pelan di belakangnya. Ila sudah hampir masuk ke dalam ruangan, namun Ila mengurungkan niatnya.

” Napa gak jadi masuk lo?” tanya Vega pada Ila yang menjawabnya dengan gerakan kepalanya. Vega pun melongok ke dalam kelas. ” Giillleee.... tuh dosen apa asdos?? Rajin amat udah nongkrongin kelas.” komentar Vega ketika ia melihat seorang cewek yang sedang duduk di dalam.

” Mana?” Giegie maju dan ikut melongok ke dalam kelas. ” Iya...kayanya asdos deh, masih agak muda gitu.”

” Masuk gak nie?” tanya Ila.

” Masuk aja lah...kasian dosennya udah nunggu gitu.” jawab Zia.

” Apa?” tuntut Vega saat ia melihat tatapan mata Ila dan Zia yang mengarah padanya.

” Lo duluan, Ga..” koor mereka berdua.

Ragu-ragu Vega membuka pintu ruangan di ikuti Ila, Zia dan Giegie di belakangnya. Saat sang dosen menatapnya, Vega reflek langsung menutup pintu itu kembali.

” Kenapa sih, Ga?” tanya Ila.

” Malu gue.”

” Gitu aja malu.”

” Lo deh Zi, yang masuk duluan.”

” Enggak mau.”

Vega mengatur nafasnya, lalu ia kembali membuka pintu dan perlahan memasukinya. Ia tersenyum dan mengangguk hormat pada dosen yang sedang asyik memainkan handphonenya. Vega memilih duduk di barisan ke 3 dari tempat dosen itu duduk di susul oleh Ila, Zia dan Giegie. Tak lama mereka duduk, masuk lagi sekitar lima orang ke dalam ruangan. Sudah setengah jam mereka duduk di ruangan itu, namun sang dosen masih aja duduk dan belum memulai kelas di hari pertama itu.

” Kok gak mulai-mulai sih?” tanya Giegie.

” Masih nunggu yang dateng lagi kali.” jawab Zia.

Tiba-tiba pintu ruangan di buka dan masuklah seorang wanita muda dengan baju seragam berwarna ungu dan kerudung ungu muda ke dalam ruangan.

” Kalian udah nunggu lama ya?”

“ Iya.” Jawab yang lain. Sedangkan Vega, Ila, Zia dan Giegie menatap wanita muda itu dengan tatapan bingung.

“ Baik, perkenalkan saya Soraya Lusianti, saya dan bu Mieta akan menjadi Kaprodi kalian selama kalian menuntut ilmu di sini.” kata wanita itu.

Mendengar itu Vega, Ila, Zia dan Giegie langsung menatap cewek yang duduk di barisan paling depan. Setelah bengong sekitar 5 menit, mereka pun tersadar pada kenyataan yang rada pahit bahwa cewek itu adalah teman sekelas mereka bukan asdos apalagi dosen!!!

>setori@setikes<

Ugaharii

1 comment:

dhikagemezz said...

Keereeennnnn....!!!!

jadi inget pas masuk pertama.hee..

jangan2 nie pengalaman pribadi?hee

di tunggu cerita berikut'a y..

Oea, ada cerita pas SMP atw SMA g??
atw cerita anak parung yg skul d negara orang?hee