Pages

Saturday, 14 November 2009

Sebuah Akhir

Kruuukkk,,,,!!!

Suara itu begitu keras mengisi gendang telingaku. Perlahan, ku raba perutku yang telah memberi sinyal untuk segera di isi makanan. Aku terdiam, menyadari tak ada serupiah pun yang ku dapat hari ini.

Kruuuukkk,,,!!!

Terdengar lagi suara dari perutku. Kali ini lebih panjang dari yang pertama dan di iringi dengan rasa perih yang perlahan menjalari perutku. Ku gigit kencang bibir bawahku, mencoba untuk menghilangkan hasrat untuk makan yang begitu menggebu. Dengan berat, ku paksakan kaki ku untuk tetap berjalan di tengah debu dan asap yang menari-nari di kota metropolitan ini. Mata ku nanar memandangi sosok manusia-manusia yang mengenakan pakaian indah yang berwarna-warni keluar masuk sebuah restoran. Dari tempatku berdiri ini, dengan jelas aku bisa melihat mereka sedang menyantap makanan dengan begitu lahapnya. Pedih, ku telan air liurku. Berkhayal itu adalah makanan yang begitu lezat.

Kruuuuuukkkkk!!!

Perut ku kembali melakukan protes terhadapku yang selama 3 hari ini tidak memberinya jatah makanan. Mau bagaimana lagi? Uang hasilku mengamen selalu di rampas oleh preman-preman malas yang kerjanya hanya bisa mengertak, mencaci dan memaki hingga memukul seolah tak pernah sekali pun mereka memiliki nurani. Tak heran jika tidak sepeser pun mereka sisakan untukku.

“ Ris,, aku laper..” bisik sebuah suara.

“ Aku tau…tapi mau makan apa? Aku gak punya uang..sama sekali.” Jawabku lirih..

“ Di depan sana ada restoran, Ris.. makanannya pasti enak banget.” Terdengar lagi satu suara dari kepalaku.

“ Iya.” Ku telan air liurku lagi. Otakku dengan liarnya berkhayal jika aku menjadi salah satu orang yang ada di dalam restoran mewah itu.

Ku palingkan wajahku dari tempat itu. Lalu bergegas pergi dari halaman restoran mewah ini sebelum petugas keamanan menyeret-nyeretku.

“ Ris,,makann…” perutku kembali meronta.

“ Makan apa?” tanyaku tanpa meminta jawaban, karena sudah pasti aku tak mampu untuk membeli apapun.

Kaki ku kini berhenti di depan sebuah swalayan, setelah sebelumnya mataku memandang dengan semangat berbagai macam rumah makan yang berjajar di pinggir jalan. Bagi mataku, rumah makan-rumah makan itu seolah menggodanya untuk masuk, kemudian mulutku terasa gatal ingin mencicipi makanan itu. Oh Tuhan, bisakah engkau menolongku??

“ Masuk aja Ris, ke dalem.” Suara di hatiku memberi usul.

“ Ngapain?” jawabku bingung.

“ Siapa tau ada yang bisa di ambil tanpa ketauan gitu.”

“ Jangan, Ris. Itu namanya mencuri.”

“ Duh, perut… katanya kamu lapar?? Risma kan gak punya uang, ambil aja dari dalem sedikit. Gak akan ketauan kok, penjaganya lagi asyik telponan.”

“ Tetap aja aku gak mau. Aku emang lapar banget, tapi aku gak mau makan makanan yang haram kayak gitu.” Tolak perutku.

“ Sok suci kamu.” Kata suara yang berasal dari kepalaku.

“ Aku gak mau Risma jadi pencuri!”

“ Tapi Risma juga butuh makan.”

Aku terdiam mendengar pertengkaran di batinku. Benar aku lapar, benar juga aku gak mau jadi pencuri, lalu bagaimana?

Suara perutku dan suara di kepalaku masih saja berdebat, namun tanpa sadar kaki ku melangkah memasuki swalayan kecil itu. Petugas yang berjaga sedang asyik dengan telpon genggamnya sehingga tak menggubrisku saat aku masuk.

“ Hahahah… Bagus Ris, bagus!! Hati-hati jangan sampai ketauan, Ris.” Suara di kepalaku bersorak ramai mendukungku.

Aku terdiam di hadapan berbagai macam makanan yang ada. Tanganku meraba sebungkus biscuit coklat, perlahan tanganku memasukkan biscuit itu ke dalam kaos komprangku yang lusuh. Kemudian aku asyik dengan kegiatan ku memilih-milih makanan tanpa ku perhatikan lagi sekelilingku.

“ Mau ngapain kamu?!” sebuah suara yang sama sekali tidak bersahabat mengisi gendang telingaku. Tengkukku meremang, perlahan ku putar kepalaku ke arah suara itu. Dan, sesosok pria berbadan tegap dengan mata sangar memandangku galak. “ Gembel, pencuri! Keluar kamu sekarang!!” hardiknya sambil menyeretku keluar. Bagai binatang, dia mendorongku hingga aku terjatuh ke aspal jalanan yang sangat panas di terik siang ini.

“ Ampun pak, ,,” kataku pelan.

“ Ampun,,,ampun! Pergi sana!!” Usirnya.

Aku mencoba bangun dan tertatih-tatih berjalan menjauh dari swalayan itu, di iringi dengan caci-maki yang di lontarkan oleh orang-orang yang mengetahui peristiwa itu. Semakin lama aku berjalan, langkahku terasa semakin berat dan akhirnya tubuhku tak kuat lagi untuk menopang bobot badanku. Tubuhku pun terjatuh di jalanan, bisa ku rasakan orang-orang menatapku jijik dan mempercepat jalannya untuk menghindar dari tubuh seorang pengemis yang penuh luka, bau dan menjijikkan.

Ri’n tamie

2 comments:

Andhika said...

gela...
good story, nyentuh banget.
klu d liad dr sisi yg laen yg salah bukan si pencuri'a, tapi orang2 yg pnya uang n gx mau berbagi ama sesama. klu g salah guru ngaji w bilang sebagian dr harta kita ntu punya orang lain. so sepantesnya qt saling berbagi.
betul ta??

ky ustd g w??hee

atw yg salah ntu pemerintah nye..
kg perhatiin rakyat'a.
cuma bisa janji duank..!!

bagus lul, semangat..

w dukung tulisan lw salu.
i-Allah

the imagine island of nuy said...

waww...........tengzzz yahhh,,,,,