Pages

Sunday, 3 January 2010

TERNYATA (TENTANG DIA) Nunuy_tamiie


“Ingin aku mengenalmu, saat ini…ingin menyapamu tapi aku malu!!!” nyanyi Lusi di hadapan wajah Ingka yang mendadak memerah seperti kepiting rebus. Sedikit cemberut, Ingka menyenggol bahu Lusi yang masih saja berkicau menyanyikan lagu milik ecoutez itu.
“Diem napa, Lus!” omel Ingka.
“Elo sih, muka ampe semerah itu Cuma ngeliat dia. Mending ngeliatnya dalam jarak dekat, lha ini orangnya jauh banget gitu.” Jawab Lusi sambil nyengir dan memandang ke arah cowok yang di maksud.
 “Rese ah!” Ingka kemudian berlalu dari hadapan Lusi.
Memang, setiap melihat Dion walau masih jauh sekalipun wajah Ingka pasti langsung memerah. Entah kenapa. Ingka pun bahkan bingung sekali dengan wajahnya yang mudah sekali memerah.

                                                     

Sudah hampir lima bulan ini Ingka menyukai kakak kelasnya yang bernama Dion. Tapi sampai hari ini Ingka hanya berani memandangnya dari jauh. Just a secret admirer, kata Ingka. Padahal Lusi, sahabatnya, cukup mengenal Dion dengan baik. Pernah Lusi mencoba mengenalkan Ingka pada Dion, tapi baru melihat Dion dari jauh saja tangan Ingka sudah berkeringat dingin. Akhirnya, Ingka pun gagal berkenalan dengan Dion dan selama dua minggu Ingka selalu manyun jika ingat hal itu. Sedikit ‘lebay’ memang. Tapi Ingka gak tau harus meakukan apa untuk menyetopnya.
“Wajarlah Lus, namanya juga Ingka suka banget sama Dion.” Bela Gian saat mereka sedang makan di kantin kampus dan lagi-lagi wajah Ingka memerah saat Dion datang bersama teman-temannya.
“Tapi gak segitunya juga kali, Gi. Dion ada lima meter jauhnya dari tempat kita duduk.” Lusi ngotot pada pendapatnya.
“Masa tiap ada Dion mukanya Ingka mesti kita tutupin pakai karung dulu sih, biar gak memerah.” Kata Billa asal.
“Jahat amat lu, Bil sama gue!” protes Ingka sebal.
Ketiga temannya tertawa melihat Ingka. Sudah sepuluh menit berlalu dan wajah Ingka masih saja memerah.
“Ingka,,Ingka.. apa di muka lu itu ada kebakaran kali yah? Merah padam gitu.” Komentar Gian.
“Iya, kali. Panggil pemadam kebakaran gih” tambah Lusi.
“Parah deh lo semua!!!”omel Ingka yang semakin memerah karena kesal.

                                                     

Sore ini, Ingka berjalan sendiri setelah kelas Pak Dodi selesai. Ingka sengaja berjalan menuruni tangga melewati lantai dua. Karena setahu Ingka, di sanalah biasanya kelas Dion berada. Yah, kalau untung kan bisa aja bertemu dengan Dion. ^^,
Dan, bukan hanya bertemu atau menatap Dion dari jarak jauh. Namun kali ini, Ingka benar-benar berpapasan dengan Dion. Berpapasan! Wah, girang bukan main hati Ingka. Karena itulah, malam harinya Ingka sibuk menelpon Lusi.
“LUSIII..!!!!!!!!!!!!!!” teriak Ingka saat Lusi menerima telepon darinya.
Di rumahnya, Lusi sampai harus menjauhkan telpon gengamnya karena teriakan Ingka membuat telinganya pengang.
Ada apa sih, Ing? Heboh banget deh.” Tanyanya pelan.
“Elo lesu banget, Lus? Sakit ya?” tanya Ingka khawatir.
“Ing, liat jam deh sekarang pukul berapa.” Jawab Lusi.
“Hehehehe…lo lagi tidur ya?”
“Ingka, elo tuh nelpon gue jam 12 malem! Ya jelaslah kalo gue lagi tidur!!!!” kata Lusi gemas.
“Maaf, Lus. Abis saking girangnya gue ampe gak bisa tidur sih…” mulai Ingka.
“Mmmm,,, seneng kenapa?” tanya Lusi mulai penasaran.
Ingka diam sejenak, sengaja untuk membuat Lusi semakin penasaran. “Ing, lo seneng kenapa?” ulang Lusi.
“Tadi gue papasan sama Dion. PAPASAN, lus..!!! PAPASAN!!!” cerita Ingka heboh.
“Ya ampun Ingka Iswarya !!!! Elo ganggu tidur gue Cuma buat cerita begituan doang..!! besok di kampus kan juga bisa!!” omel Lusi.
“Yah,,Lusi…kan gue lagi seneng banget banget banget..”
“Maaf deh, abis gue ngantuk banget Ing. Besok lagi yah di lanjut, gue mau tidur dulu. Oke!”

♫                                 ♫                     ♫
Hari ini entah kenapa Ingka ingin sekali selalu tersenyum. Apa lagi penyebabnya, kalau bukan kejadian kemarin. Ingka gak peduli dengan olok-olok temannya yang bilang bahwa ia mirip sekali dengan anak SMA yang baru pertama kali naksir cowok.
“Biarin,, sirik aja deh kalian.” Katanya santai sambil menyeruput jus alpukat favoritenya.
“Ihh.. gak banget sih ngiri sama lo!!! Kelakuan kalo ketemu gebetan noraknya minta ampun gitu sih…males!” komen Billa pedas.
“Kaya lo dulu engga begitu aja, Bil.” Seloroh Lusi yang membuat teman-temannya tertawa mengingat tingkah Billa yang sama noraknya dengan Ingka bila sedang bertemu dengan gebetannya.
Sedang asyik-asyiknya bercanda, tiba-tiba Dion datang menghampiri. Namun, Dion tidak datang sendiri. Di belakangnya ada sesosok perempuan manis yang mengikutinya, sosok perempuan yang sangat Ingka kenal. Sangat Ingka kenal.
“Ingka!!!!” panggil cewek itu girang sambil berlari ke arah Ingka yang sedang duduk di bawah pohon bersama teman-temannya.
Ingka tersenyum senang melihat cewek itu, walau sedikit heran dan ada perasaan tidak enak yang mendadak menjalari hatinya.
“Elo ngapain di kampus gue, Kak?” tanya Ingka pada Kakaknya, Ineke.
“Maen ke kampus adikku yang cantik dan mengunjungi pacar dong.” Jawab Ineke dengan senyum sumringah di wajahnya.
“Pacar? Sejak kapan lo punya pacar?” tanya Ingka bingung.
Ineke tertawa melihat ekspresi bingung di wajah adik kesayangannya itu. Gemas, Ineke mengacak-acak rambut ikal Ingka. “Masa lo gak ingat waktu gue cerita tentang cowok yang namanya Andoro Rahardian? Cowok yang waktu itu nolong gue pas kecelakaan itu lho. Ternyata dia itu kakak kelas lo di sini.”
          “Emang kita punya kakak kelas yang namanya Andoro Rahardian ya?” Tanya Ingka pada teman-temannya.
          “Itu nama panjang gue, Ing. Nama panggilan gue, Dion.” Jawab Dion langsung. “Dan kemarin, gue resmi jadi pacar Ineke, kakak lo.” Lanjutnya sambil tersenyum dan membuyarkan semua perasaan Ingka.