Pages

Friday, 23 July 2010

Kisah Secarik Kertas


Ugahari nurul
Aku memandang sekelilingku, sebuah ruang kamar bercat coklat dengan lima bingkai foto yang menghiasi dinding. Di sudut kanan, ku temukan si cookie jam dinding yang berbunyi nyaring setiap jam lima pagi. Kemudian, tepat di sampingku di sebuah kursi berwarna abu-abu duduklah seorang gadis manis nan pintar, Ami si pemilik kamar. Dari raut wajahnya, bisa ku nilai jika Ami sedang bingung. Lama, ia hanya menatap layar monitor yang menunjukkan program Microsoft word. Jari-jari Ami sudah hampir mendarat di keyboard untuk mulai mengetik namun jari-jarinya berhenti di udara, ia urung mengetikkan imajinasinya yang kian membludak di otaknya yang cemerlang. Ami menarik nafas dan menghembuskan nafas dengan keras. Ia mengepalkan tangan kanannya dan mengetuk-ngetuk kepalanya dan berkata, “Tok,,tok,,tok,, pak otak tolong beri saya inspirasi.”
Ami menghentakkan punggungnya ke sandaran kursi dengan keras. Matanya yang lancip sempat memandangku lama namun ia berpaling. Andai aku bisa bergerak dan mendekati Ami ingin rasanya aku berkata kalau aku merindukan setiap gerakan halus yang Ami buat di tubuhku. Aku ingin Ami melihatku yang kini sudah hampir berdebu menunggunya untuk memasukkan ku kedalam mesin printer yang mencetak berbagai huruf di tubuh putihku.
Aku ingat bagaimana dulu Ami sering menggunakanku untuk menulis cerpen-cerpennya dengan menggunakan pulpen ‘pilot’ seharga seribu rupiah. Rasanya masih bisa ku rasakan saat goresan tipe-x mengotori tubuhku saat cerita yang Ami buat tidak sesuai dengan imajinasinya. Dan aku masih bisa merasakan bagaimana gemetarnya tangan Ami saat deadline sudah dekat namun ia belum juga menyelesaikan tulisannya. Oh, aku sangat rindu momen-momen itu. Oh ya, selain untuk menulis cerpen Ami juga menggunakanku sebagai ‘teman curhat’nya saat ia sedang ada masalah atau hanya merasa kesal. Ami memang pendiam dan hanya aku yang ia gunakan untuk melepas setiap kegelisahan hatinya. Sering, tetesan air mata Ami jatuh membasahi tubuhku saat Ami bercerita tentang pertengkaran antara ia dan ibunya atau saat Ami tahu Armand sudah punya pacar baru. Ami menangis begitu kencang, setelah semua ‘unek-unek’nya hilang, Ami akan melipatku dan menyimpanku dengan sangat hati-hati di sebuah kotak dan menguncinya. Tidak hanya momen-momen itu yang Ami berikan padaku, kadang aku harus sudah payah menahan tawa karena berhadapan dengan ekspresi Ami yang begitu lucu. Aku ingat, saat itu adalah kali pertama Ami ingin menuliskan surat cinta pada Armand atas usul Chica, sahabatnya. Berkali-kali Ami mengucel-ngucelkan kertas yang telah ia tuliskan bahkan saat itu mata Ami memerah karena sudah putus asa. Dua jam kemudian, Ami berhasil membuat surat cinta itu walau akhirnya surat  cinta yang di beri amplop pink tersebut hanya di simpan oleh Ami di ‘kotak harta karun’nya tanpa pernah sampai di tangan penerimanya.
Pasti kalian bingung dan bertanya – Tanya, “Siapa sih aku?”. Hahahaha, aku hanyalah secarik kertas yang merasa rindu dengan goresan-goresan pena di tubuhku. Saat ini dengan hadirnya perangkat ajaib  yang bernama computer dan laptop, tubuhku sudah jarang merasakan goresan tinta pena. Kini, aku hanya sering merasakan bagaimana mesin printer menggilas tubuhku dan menjejalkan bermacam-macam tulisan di tubuh putihku. Kalian tahu mengapa aku rindu goresan tinta pena kalian?
Andai kalian tahu bahwa pena-pena yang  kalian gunakan sering membawakan perasaan kalian yang membuat getaran dan goresan yang kalian buat di tubuh secarik kertas akan terasa khas dan mengasyikkan. Seperti Ami, aku bisa mengetahui apa yang ia rasakan setiap penanya menari-nari dan melukis tubuhku. Hal itu membuatku luruh dan ikut merasakan kebahagiaan dan kesedihan yang kalian miliki. Membuatku ikut terbayang-bayang denga tiap-tiap kalimat yang kalian buat dan karena  memang itulah tugasku sebagai secarik kertas.
Oh, aku merasakan desiran hembusan nafas Ami yang segar, tangan halusnya perlahan menggapaiku. Ami membawa tubuhku yang ringan ke meja belajarnya lalu tangan kirinya menggapai sebuah kaleng bekas susu yang Ami sulap menjadi tempat alat tulisnya. Di genggamnya sebuah pulpen ‘pilot’ seharga seribu rupiah. Perlahan, Ami membuka tutup pulpen itu dan mengarahkannya ke tubuhku. Dengan tegang aku menunggunya dan aku merasa begitu lega dan bahagia saat tangan Ami mulai menuntun pulpen itu untuk menghiasi tubuh.
Terima kasih Tuhan, ini semua yang ku rindukan!

No comments: