Pages

Tuesday, 31 August 2010

Sebentar Lagi

Malam ini tepat puasa memasuki hari yang 21. Coba hitung saudara-saudara berapa hari lagi kita akan merayakan kemenangan? Pasti udah pada nggak sabar ya? heheheheeh.

Kalau diperhatiin, menjelang idul fitri kali ini, mushola yang sebelumnya ramai tiba-tiba berubah menjadi sepi. Ya, sepi. Jika diawal puasa mushola bisa penuh sampai ke bagian luar, menjelang akhir seperti ini justru mushola terlihat lowong sekali. Bahkan jika anda mengantuk, tidur sambil telentang pun pasti bisa. Karena memang tempatnya jadi begitu luas. Hohohoho. 

Mari kita bandingkan dengan pasar dan pusat perbelanjaan. Wuih, penuhnya amit-amit deh! Hari minggu kemarin, saya Ibu saya serta adik-adik mengunjungi WTC serpong dan manusia yang datang kesana banyak sekali. Tempatnya penuh banget! Uh, sampe pusing. Tapi wajar aja sih, karena seolah menjadi tradisi bahwa menyambut hari yang fitri ini kita butuh berbagai peralatan untuk merayakannya.

Sepertinya nggak lengkap mungkin ya jika berlebaran tanpa ada kue-kue seperti nastar (fave saya, :P), putri salju, kastengles dll. Juga tanpa opor ayam, rendang dan KETUPAT. Nah, makanan itu tuh yang paling di tunggu biasanya kalau lebaran. Tapi kok, saya kurang doyan yah? hehehehhe.

Nah, buat para blogger sekalian, selamat menyempurnakan puasa dan ibadah kita yang tinggal beberapa minggu ini aja. Cepet banget ya rasanya!!! Perasaan baru kemarin deh puasa pertama, eh.... udah mau lebaran lagi. huhuhuhuhu.

Jangan kotorin bulan yang penuh rahmat ini dengan tindakan-tindakan tercela. Sedih deh rasanya tiap nonton berita masih ada aja orang yang tega merampok, mencuri, membunuh, memperkosa dengan alasan yang tidak masuk akal. Ditambah para pedagang yang selalu berbuat curang. Ngasih formalinlah, daging busuklah, glonggongan dll. Jadi bingung mau makan apa.... hoohohohoho.

Well, selamat beribadah kawan.

:-)

Sunday, 29 August 2010

Nilai


Adik saya yang kelas 3 SD tiba-tiba teriak dari ruang tivi pada Ibu saya yang sedang sibuk di dapur. Tangannya dengan semangat memamerkan sebuah kertas, lalu adik saya itu berlari menuju dapur. Dengan bangganya dia bilang:

Adik Saya (AS): Bu,,,, nilai basa sundaku bagus dong!!!

Ibu Saya (IS): (wajahnya sumringah karena biasanya adik saya jarang dapat nilai bagus di pelajaran itu) dapet berapa dek?

AS (mamerin kertasnya): aku dapet LIMA

Ibuku cuma bisa diem. 

hehehehhee

Saturday, 28 August 2010

Teruskan lah,,teruskan lah....kau begituuuuuu


Selamat bermalam minggu wahai blogger sekalian. Semoga malam kalian menyenangkan yah... hehehehee. Malam ini juga menyenangkan setelah buka bersama dengan teman-teman kampus yang otaknya pada geser itu. Maklumlah, ketemu sih sering tapi jalan bareng sudah jarang banget. Dan, kita juga kedatengan tamu special yaitu bapak dosen kami baik hati dan temannya teman saya (hmmm,,, ribet gak bayanginnya? heheheheh). Yap, singkat kata, all of us enjoyed all the time we had spent together and little bit discuss bout our plan to built an association. What kind of association? Well, I will tell you if that's already fix. Kalau gembar-gembor sekarang takut gagal, wow... mau taro dimana muka imutkuu ini??????( yang mau muntah baca kalimat MUKA IMUTKU, saya persilahkan. haahhah). So, mending saya minta doa restunya aja deh. hehehehheeheh. SEMANGAT.

 Pasti sudah tahu dong kalau hidup ini harus terus berjalan? Apapun yang terjadi. Berat memang, tapi itulah kodrat manusia yang sudah ditentukan oleh Tuhan YME. Kita berusaha dan bekerja untuk menjadi manusia berkualitas di dunia ini. Nggak usah melihat apa yang orang lain kerjakan, tapi lihat apa yang sedang kita kerjakan lalu lakukan dengan kemampuan yang kita miliki secara maksimal sehingga bisa mendapat hasil yang terbaik. Contoh, kalau kita memutuskan untuk menjadi tukang bakso, jadilah tukang bakso yang terbaik sehingga bisa mengalahkan tukang bakso lainnya. Tidak perlu berpikir untuk mengalahkan dokter, insinyur, dll. Sebagai manusia, kita sudah punya tugas masing-masing dalam hidup ini. Hidup terlalu singkat bagi kita untuk memikirkan bagaimana enaknya tugas orang lain dibanding kita. Karena, hal itu hanya akan membuat kita sibuk dengan urusan lain dan membuat urusan yang menjadi kewajiban kita akan berantakan. 

Gimana kalau kita diprotes atau dikritik? Dengarkan dan saring yang baik untuk diri kalian. Ada baiknya, kalau kita menyendiri dan mengintrospeksi apa yang telah kita lakukan. Tanyakan teman apa kita benar seperti itu? Lalu, mulai benahi diri. Nggak perlu kita umumkan pada dunia kalau kita mau berubah, cukup itu menjadi rahasia antara kita dan Tuhan. Toh, Tuhan itu adalah Zat yang benar-benar adil dan bijak, sehingga Dia akan langsung memberika hukuman pada kita jika kita melalaikan tugas. So guys, tetap teruskanlah dan tetap percaya bahwa suatu hari nanti kita akan bisa jadi SIAPA-SIAPA walau hari ini, pukul ini, menit ini, detik ini, kita bukan SIAPA-SIAPA. Lama atau cepatnya, itu tergantung komitmen kita.

Kenapa omongan saya agak 'lempeng'? Mungkin akibat minum free goceng dari KFC itu ya...saya lupa namanya apa. hahahahahaha.

Akhir kata, tetep SEMANGAT kawan dan teruskanlah, teruskanlah . . . . .

Friday, 27 August 2010

Hallo dunia!!!!


Uh..... brapa taun sudah saya tidak mengupdate blog ini?? (histeris). Rasanya sudah lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali, hehehehehe. Maklumlah aktivitas normal akan segera dimulai kembali, it's mean no bangun siang, no internetan pas masih belekan (kaya skrg), dan banyak hal lain dimusim libur yang ga akan bisa di lakuin lagi kalau udah beraktivitas normal seperti kemarin sebelum liburan.

Terasa banget deh, selama liburan ini saya lebih sering mengurus blog tercinta yang sebelumnya kurang terurus hingga tampak kurus (lho?!!). Bisa dilihat dari jumlah postingan yang membengkak di bulan agustus dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Jumlah follower juga lumayan banyak dibanding kemarin dan sekarang saya juga punya teman-teman blogger yang membuat saya bersemangat untuk memposting dan menulis karena melihat blog mereka yang luar biasa. *terdengar suara tepuk-tangan*

Kemarin itu saya berkumpul dengan mahasiswa kesmas dari univ lainnya. Dan waw, I really excited!!! Because, I met with another people from another univ who have much knowledge. That's nice!!! They also kind. Karena pulangnya terlalu malam sekitar jam setengah 8 sedangkan rumah sya di ujung berung dan jarak antara gedung tempat berkumpul ke arah gerbang itu jauhnya amit-amit. Kami meminta tolong pada mahasiswa Uhamka yang bernama deri untuk memesankan taxi buat kita. Nunggu, nunggu, nunggu, kok ga dateng2 juga yaa. Karena kita rada gak sabar juga serta waktu semakin malam, akhirnya saya dan kakak kelas saya pergi ke depan (jalan raya) dengan di bonceng teman saya. Gak lama, kita dapet taxi dan saat kita jalan mau masuk ke kompleks kampus, temen saya yang lain nelpon dan bilang kalau taxi yang di pesan ka Deri juga datang. Waduh!!! sedangkan saya dan kakak kelas saya sudah naik taxi juga. Kacau!!! Setelah agak debat antara saya, kakak kelas dan teman saya serta pak supir taxi yang saya naiki, temen saya akhirnya membayar charge taxi yang di bawa oleh ka deri dkk. Duh... It's make felt so a shame!!! Udah minta tolong, akhirnya malah ga jadi. Bener-bener nyusahin... huhuhuu.

Beruntung kaka-kaka itu baik dan gak marah sama kami (walau saya rasa mereka agak sebel juga, hihihi) yang udah bikin repot. huhuhu, semoga mereka gak kapok!!! :)

Intinya: kita HARUS SABAR!!!! hohohohohohoho

Wednesday, 25 August 2010

Maaf, Saya bukan penculik apalagi pencuri kambing

Dari judul itu sudah keliatan kan apa yang terjadi pada saya. Huhuhu, satu pengalaman menyedihkan tapi juga lucu dan rada memalukan. rrrrr!!!!

Dua hari yang lalu, teteh saya meminta saya untuk menemani dia ke daerah legok, Tangerang. Sekalian ngabuburit menunggu waktu buka puasa (padahal saya lagi gak puasa, hehe), saya setuju. Berhubung di daerah tempat tinggal saya sedang ada perbaikan jalan sehingga jalan yang memang berdebu semakin nambah debunya. Supaya terlindung dari debu yang tebelnya amit-amit cabang baby, saya memakai kacamata, jaket dan masker yang nutupin hidung. Begitu juga teteh saya, tapi dia gak pakai kacamata padahal yang bawa motor itu dia, bukan saya. Untuk menghindari macet, kita berdua akhirnya lewat jalan pintas yang lubangnya gak kalah banyak dan ternyata memutar lebih jauh di banding kalau lewat jalan utama. Singkat kata, saya pegel-pegel, pantat panas, kesemutan pula di tambah rambut juga jadi gimbal. Dengan bijaknya, kami berhenti di sebuah tempat yang entah namanya apa. Kita berhenti di pinggir tanah lapang, gak jauh dari tempat kami berhenti juga ada satu kompleks kuburan dan itu tempat sepiiiiiii banget. Saat kita berhenti, kebetulan ada segerombolan anak kecil yang lagi di asuh bapak-bapak. Pas ngeliat kami, bapak-bapak itu langsung manggil tuh anak-anak dan menggiring mereka pulang. Kita sih senyam-senyum aja ngeliatnya. Waktu udah nunjukin pukul 5.45, artinya sebentar lagi buka puasa. Kami celingukan, baru sadar kalau tuh tempat semakin sepi. Rada horor juga, karena banyak banget pohon bambu yang tumbuh di sekitar situ.

Tiba-tiba, entah gimana caranya, seorang bapak-bapak yang ganteng di zamannya muncul di dekat kami. Bapak-bapak itu berjalan sambil menenteng satu kardus aqua yang udah kosong. Waktu itu, teteh saya lagi ngetawain poni saya yang gak beraturan. Bapak-bapak itu lalu teriakin kami,
"Neng, ngapain di situ?"
Saya dan teteh saya celingukan, mencari makhluk lain yang di ajak ngomong sama beliau. "Nggak ngapa-ngapain,Pak." jawab teteh saya waktu sadar gak ada orang lain lagi selain kami.
"Nunggu temen." tambahku ngawur.

Kemudian, tuh bapak-bapak celingukan dan bilang, "Di daerah sini tuh lagi sering terjadi penculikan anak. Jangan-jangan neng lagi nyari ya?"
Saya dan teteh saya berpandangan, "Waduh, bukan pak,,, enggak. Kami bukan penculik."jawabku agak KESEL.
"Jangan buat orang curiga neng, kemarin juga kambing warga banyak yang ilang." tuh bapak-bapak natap saya dan teteh saya dengan curiga. WADUHHH. "Neng bukan penculikkan? Kalo emang bukan, cari tempat ramai aja sekalian, jangan berhenti di tempat sepi gini."nasehatnya lagi.

Setelah si bapak-bapak pergi, kita berdua masih bingung, kenapa-kami-disangka-penculik??? Salah kami juga kali yah, yang berhenti di tempat sepi kayak gitu. Huhuhuhuhuhuhuhu,

Tuesday, 24 August 2010

Aku Cinta Kamu


Punya seseorang yang sekarang lagi kamu sayangi tapi bosan kalau harus bilang AKU CINTA KAMU atau I LOVE YOU? Nih, saya dapat beberapa cara untuk I LOVE YOU dalam bahasa lain. Ini dia:

English – I love you
Afrikaans – Ek het jou lief
Albanian – Te dua
Arabic – Ana behibak (to male)
Arabic – Ana behibek (to female)
Armenian – Yes kez sirumen
Bambara – M’bi fea
Bangla – Aamee tuma ke bhalo aashi
Belarusian – Ya tabe kahayu
Bisaya – Nahigugma ako kanimo
Bulgarian – Obicham te
Cambodian – Soro lahn nhee ah
Cantonese Chinese – Ngo oiy ney a
Catalan – T’estimo
Cheyenne – Ne mohotatse
Chichewa – Ndimakukonda
Corsican – Ti tengu caru (to male)
Creol – Mi aime jou
Croatian – Volim te
Czech – Miluji te
Danish – Jeg Elsker Dig
Dutch – Ik hou van jou
Esperanto – Mi amas vin
Estonian – Ma armastan sind
Ethiopian – Afgreki’
Faroese – Eg elski teg
Farsi – Doset daram
Filipino – Mahal kita
Finnish – Mina rakastan sinua
French – Je t’aime, Je t’adore
Gaelic – Ta gra agam ort
Georgian – Mikvarhar
German – Ich liebe dich
Greek – S’agapo
Gujarati – Hoo thunay prem karoo choo
Hiligaynon – Palangga ko ikaw
Hawaiian – Aloha wau ia oi
Hebrew – Ani ohev otah (to female)
Hebrew – Ani ohev et otha (to male)
Hiligaynon – Guina higugma ko ikaw
Hindi – Hum Tumhe Pyar Karte hae
Hmong – Kuv hlub koj
Hopi – Nu’ umi unangwa’ta
Hungarian – Szeretlek
Icelandic – Eg elska tig
Ilonggo – Palangga ko ikaw
Indonesian – Saya cinta padamu
Inuit – Negligevapse
Irish – Taim i’ ngra leat
Italian – Ti amo
Japanese – Ai shi teru
Kannada – Naanu ninna preetisuttene
Kapampangan – Kaluguran daka
Kiswahili – Nakupenda
Konkani – Tu magel moga cho
Korean – Sarang Heyo
Latin – Te amo
Latvian – Es tevi miilu
Lebanese – Bahibak
Lithuanian – Tave myliu
Malay – Saya cintakan mu / Aku cinta padamu
Malayalam – Njan Ninne Premikunnu
Mandarin Chinese – Wo ai ni
Marathi – Me tula prem karto
Mohawk – Kanbhik
Moroccan – Ana moajaba bik
Nahuatl – Ni mits neki
Navaho – Ayor anosh’ni
Norwegian – Jeg Elsker Deg
Pandacan – Syota na kita!!
Pangasinan – Inaru Taka
Papiamento – Mi ta stimabo
Persian – Doo-set daaram
Pig Latin – Iay ovlay ouyay
Polish – Kocham Ciebie
Portuguese – Eu te amo
Romanian – Te iubesc
Russian – Ya tebya liubliu
Scot Gaelic – Tha gra’dh agam ort
Serbian – Volim te
Setswana – Ke a go rata
Sign Language – ,\,,/ (represents position of fingers when signing’I Love You’)
Sindhi – Maa tokhe pyar kendo ahyan
Sioux – Techihhila
Slovak – Lu`bim ta
Slovenian – Ljubim te
Spanish – Te quiero / Te amo
Swahili – Ninapenda wewe
Swedish – Jag alskar dig
Swiss-German – Ich lieb Di
Tagalog – Mahal kita
Taiwanese – Wa ga ei li
Tahitian – Ua Here Vau Ia Oe
Tamil – Nan unnai kathalikaraen
Telugu – Nenu ninnu premistunnanu
Thai – Chan rak khun (to male)
Thai – Phom rak khun (to female)
Turkish – Seni Seviyorum
Ukrainian – Ya tebe kahayu
Urdu – mai aap say pyaar karta hoo
Vietnamese – Anh ye^u em (to female)
Vietnamese – Em ye^u anh (to male)
Welsh – ‘Rwy’n dy garu
Yiddish – Ikh hob dikh
Yoruba – Mo ni fe
 
langsung aja praktekin sama orang yang kamu suka, mudah-mudahan bisa jadi poin plus di mata dia karena ternyata kamu makin pintar. hehehehehehe, ^^. Oia, dari bahasa-bahasa itu mana menurut kamu bahasa yang paling romantis untuk bilang AKU CINTA KAMU selain bahasa inggris??
*for my mom and my dad: Ich lieb di. :)

DI HALTE BUS


Telinga gue rasanya kaku banget ngedengerin ocehan satu makhluk yang sudah gue beri label SAHABAT yang sekarang sedang duduk bersebrangan dengan gue di meja kantin. Mata gue pun rasanya pengen merem setiap lihat senyum menawan serta pandangan memuja ketika mulutnya mengeluarkan kalimat tentang dia, gebetannya. Hati gue menjerit iba pada Tuhan agar menyudahi penyiksaan batin ini. Duh, kalau aja gue tega, pastinya sekarang gue sudah menyambar baso urat segede gaban yang ada di hadapan gue tanpa sempat gue sentuh walau sudah setengah jam makanan favorite gue tersebut sampai di depan muka gue, kemudian gue sumpelin ke mulutnya supaya manusia satu ini berhenti mengoceh. Tapi, hati nurani gue yang sudah tertanam budi pekerti sejak lahir, menahan gue untuk melakukan hal yang kata orang adalah perbuatan kriminal. Tapi ini darurat, apa gak bisa ngasih gue excuse? Kalau gitu, kasih tahu caranya untuk membuat orang ini berhenti bicara!!!
Ok, ok, mungkin semua orang akan melaknat dan menuduh gue sebagai sahabat yang jahat mendengar seluruh kata-kata gue di atas. Tapi tolong, coba bayangin, tahan gak sih harus dengar cerita yang sama secara berulang-ulang? Bosan gak sih, kalau setiap saat membahas kejadian yang saat itu pun elo ada di sana? Kesel gak sih, saat kita sudah pasang tampang melas sampai BT tapi ocehan itu gak berhenti-henti juga? Pasti gak sabar kan? Kenapa gue yakin banget, karena gue sedang mengalaminya sekarang.
Di sebrang gue, di hadapan gue, di meja kantin berwarna coklat yang letaknya di sudut ruangan, di kelilingi pasukan putih abu-abu, di antara para penjual yang sibuk ngurusin pesanan pelanggan bawelnya, di sela-sela teriakan ”Es kopi, es kopi,” milik bang Roni, di batas kesabaran gue yang semakin menipis, dia mulai cerita. Insting gue yang tajam sudah mulai gak enak saat dia mulai buka mulut walau waktu itu ia Cuma mau teriak mesen gado-gado pedes gak pake kol. Gue udah bisa ngerasain gelagat gak enak itu.
”Nih.” sahabat gue yang baik hati itu menjulurkan tangannya. Bukan, dia bukan lagi nyuruh gue untuk mijet tangannya atau mletekin jari-jari lentiknya. Dia nunjukin gue I-phone terbaru miliknya. Sahabat gue ini bukan tipikal orang sombong yang suka pamer, jadi bisa gue pastiin dia bukan lagi mau pamer hape canggih baru masih ngecling ke gue yang masih setia sama nokia gue yang keluaran jaman batu, tapi dia sedang nunjukin something special yang tersimpan di sana. Pada layar flat tersebut bisa gue lihat sederet sms yang sebenarnya biasa tapi jadi gak biasa karena berasal dari Fajar. Well, bukan berarti semua sms dari Fajar itu istimewa ya. Itu sama sekali gak berlaku buat gue tetapi sangat berlaku untuk sahabat gue.
Gue menatap benda di tangan sahabat gue itu dengan malas-malasan. Tapi tampang malas-malasan gue sama sekali gak ngefek bagi sahabat gue sejak SMP ini. Tangannya gak juga di turunin dari hadapan muka gue yang pastinya sudah suntuk abis. Sangat terpaksa akhirnya gue ambil juga tuh hape baru.
”Fajar semalem romantis banget deh.” dia mulai cerita dan gue mulai zikiran dalam hati. Minta kesabaran dan kelapangan hati untuk melewati cobaan batin yang menyiksa ini.
”Kenapa lagi dia?” tanya gue datar namun di telinga dia terdengar sebagai feedback yang bagus. Terlihat dari matanya yang tiba-tiba cerah, secerah orang ketika nemu uang seratus ribuan tergeletak di jalanan sepi.
”Akhirnya ku menemukanmu....” si cangcorang ini mulai ngebacain sms yang isinya adalah lirik lagu Naff, Akhirnya Ku Menemukanmu.
”Gak kreatif amat sih si Fajar.” komen gue datar. ”Masa ngerayu cewek pake lagu orang. Buat lagu sendiri dong, kan lebih ngena tuh.” lanjut gue saat mata sipit sahabat gue tiba-tiba jadi belo karena gak terima Fajar-nya dibilang gak kreatif sama gue.
”Tetap aja, Ta, ini tuh romantis banget. Semaleman gue jadi dengerin tuh lagu berulang-ulang.”
O...o...owwww... Bakal dapat cobaan baru nih gue yaitu rela dengerin tuh lagunya Naff jadi fave song di hapenya si cangcorang ini. Gue nepuk jidat gue. Satu tepukan ajaib yang ngebuat si cangcorang jadi perhatian sama gue dan nanya, ”Lo kenapa, Ta?”
Gue Cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bilang, ”Gak apa-apa kok.” Pasang senyum manis dan ngomong, ”Terus gimana lagi?”. Well, pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut gue, mulut seorang Savita Maharani sehingga ngebuat sahabatnya si cangcorang bernama Tyas Annabella, semakin bersemangat bercerita tentang Fajar yang diberi nama Cahayaku (norak gak sih?! :P) di phone booknya.
Ϋϋϋ
Masih segar di ingatan kepala gue gimana juteknya si cangcorang, Tyas I mean, waktu dua orang cowok dengan mengendarai motor satria berhenti dihadapan kami yang saat itu sedang sibuk merutuki abang-abang angkot yang gak juga datang. Salah satu dari dua cowok itu turun sambil melepaskan helmnya. Awalnya, gue dan Tyas sama sekali gak mempedulikan kehadiran dua cowok itu karena fokus kami hanya tertuju pada abang angkot seorang (ceilaahh!!! Hehehe). Begitu pun setelah helm yang menutupi kepalanya itu terbuka semua, kita berdua masih cuek bebek. Kecuekan kami gak berubah sedikit pun meski saat itu kami berdua telah sadar dan menyadari jika cowok itu adalah Fajar. So what?! Fajar doang gitu loh. Lain ceritanya kalau yang turun dari motor itu adalah Kim Bum atau Robert Pattinson, gak usah nunggu lama pasti kami berdua akan langsung nyerbu mereka. Secara, dua aktor itu adalah aktor kesayangan kami yang ngebuat kami rela gak mandi walau sudah bau keringat hanya untuk melihat akting mereka, juga ngebuat kami ngutuk Kristen Steward habis-habisan saat ia berciuman dengan Rob di film Twilight.
Kami baru memberi sedikit perhatian pada Fajar saat cowok itu ternyata berjalan ke arah kami berdua. Dari matanya, gue bisa nebak kalau yang dia tuju adalah sahabat gue yang punya rambut hitam lebat seperti bintang shampoo, Tyas. Tangan Tyas secara perlahan namun pasti mulai menjalari pinggang gue dan nyubit-nyubit pakai kukunya yang rada panjang. Gue mencicit kesakitan. Itu tanda kalau Tyas mulai merasa terancam jiwa raganya (lebay, heheh).
”Tyas.” panggil Fajar. Gue natap sekeliling gue, kening gue berkerut heran melihat banyak orang yang mendadak nengok semua ketika Fajar memanggil nama Tyas. Apa semua orang di sini namanya Tyas ya? Pikir gue iseng.
Tyas gak jawab, dia Cuma nengok dan menatap Fajar dengan tatapan bingung karena dia merasa gak pernah mengenal makhluk ini. Well, mengenal secara dekat maksudnya. Karena, siapa sih yang gak mengenal Fajar di SMA Harum Mewangi?
Sebagai kapten dari tim basket inti di sekolah, wajar kalau Fajar di kenal. Walau dia gak bisa di bilang ganteng-ganteng amat di banding dengan anggota basket yang lain, tapi dengan kulitnya yang hitam manis tetap saja rasanya akan mubazir jika Fajar dilewatkan. Deretan cewek yang ngebet banget pengin dapat stempel pacar darinya pun gak bisa di bilang sedikit. Buktinya, dengan Fajar memanggil Tyas siang ini, cewek-cewek yang satu sekolahan sama gue dan Tyas yang saat itu juga ada di halte yang sama untuk nunggu angkot jadi bisik-bisik sambil lirik-lirik. Di otak mereka ada satu pertanyaan yang sama walau mereka tidak saling kenal, yaitu: Kenapa Fajar memanggil Tyas?
Jelas kalau mereka heran. Masalahnya, Tyas dan Fajar itu berasal dari strata sosial yang berbeda. Mungkin di sekolah lain pun terjadi perbedaan kasta antar murid, terlepas dari sengaja atau tidak sengajanya, namun hal itu pasti ada.
Kalau Fajar itu terkenal dan punya banyak fans cewek, beda dengan Tyas. Cewek ini memang gak jelek-jelek banget walau juga gak secantik Vannesa, Ressa, serta Iva yang rajin banget nyamperin Fajar ke kelasnya hanya untuk say hi doang. Tyas juga gak semodis Tasya, Alya, Indah yang dandanannya gak jauh beda sama orang yang mau pergi kondangan tiap ke sekolah. Tyas juga gak suka gabung di ekskul dance, cheers, atau seni yang notabene merupakan ekskul fave di sekolah ini. Tyas lebih milih untuk menghabiskan waktunya dengan berada di labolatorium biologi bersama botol-botol beraneka jenis atau ngadepin mayat kodok yang badannya abis di belah-belah dan ngebuat gue gak nafsu makan selama tiga minggu. Tyas suka banget biologi. Gak heran kalau dia masuk IPA sedangkan gue ngacir ke IPS.
”Tyas.” panggil Fajar lagi.
Tyas tengak-tengok dengan muka polosnya sambil nunjuk dirinya untuk memastikan bahwa Fajar gak salah manggil. ”Gue?”
Fajar nyengir lalu ngangguk. ”Iya elo, siapa lagi coba?”
Tyas menaikkan bahunya dengan cuek, ”Mungkin ada Tyas lain yang lo cari.” jawab si ratu cangcorang sambil masih aja lirik sana lirik sini. Gue Cuma diem dengan manis di sebelah Tyas.
Mendadak muka Fajar tegang, kaya orang nahan pipis. Mukanya yang hitam jadi sedikit memerah. Tangannya ngerogoh ke kantung celananya. Dan sekarang di tangan Fajar ada sebuah hape. Dia pandangin hapenya, lalu mandang Tyas yang juga mandangin Fajar dengan bingung. Fajar senyum ke arah Tyas dan ke arah gue. Gue bales seadanya.
”Minta nomor hape kamu dong.” kata Fajar to the point.
Gue nahan tawa. Gak salah tuh? Si Fajar berAKU-KAMUan sama Tyas. Si ratu cangcorang senyam-senyum nahan geli. Well, pikiran dia dan gue sama ternyata.
Fajar gemas natap muka Tyas yang harus gue akui walau dengan berat hati kalau dia imut. ”Boleh ya.” pintanya lagi.
Tyas tersenyum. Dia berjalan mendekat ke arah Fajar. Tepat di hadapan Fajar, Tyas berhenti. Nengok ke belakang, natap gue, tanpa suara dia bilang, ”Ayo.”
Gue ngedeket ke arah Tyas walau gue gak ngerti apa maksud dia dan berhenti tepat di samping Tyas yang masih berdiri tepat di hadapan Fajar. Sambil ngasih senyum yang mencurigakan namun tetap terlihat manis, Tyas berkata, ”Lain kali aja, ya.” Lalu narik gue dan naik ke angkot yang tanpa gue sadari sudah berhenti di halte itu. Sebelum naik, gue bisa lihat muka kesel Fajar yang GAGAL  mendapatkan nomor hape sahabat gue, si ratu cangcorang.
Gue gak paham apa ini yang di namakan ketulusan atau penasaran. Yang jelas, setelah tiga kali Tyas menolak memberikan nomor hapenya pada Fajar, cowok ini lantas gak nyerah juga untuk mendapat nomor hape Tyas. Akhirnya Fajar mengutus sang adik yang kelasnya bersebelahan dengan Tyas untuk meminta nomor hapenya. Walau Tyas curiga, tapi apa daya, dia gak mau di bilang GR mesti hatinya keukeuh bilang kalau itu nomor untuk sang abang. Dengan setengah hati Tyas nyebutin nomor hape miliknya ke Dessy, adiknya Fajar.
Dan, sejak hari itu, perlahan demi perlahan mereka pun menjadi dekat. Fajar terkadang mengunjungi Tyas ke kelasnya atau mengajaknya ke kantin bareng dan membuat gue mendadak jadi ’janda’ tiap jam istirahat. Oke, ada bagusnya juga sih gue di tinggal pacaran sama si ratu cangcorang itu, jadi gue lebih punya banyak waktu di ruang jurnalistik untuk numpang on line. Hehehehe.
Kalau di hitung-hitung sih, sudah enam bulan ini mereka semakin dekat dan dekat. Itu berarti semakin banyak orang pula yang bertanya sama gue, ”Si Tyas sama Fajar pacaran ya?”
Gue Cuma bisa jawab, ”Gak kok belum, tanya Tyas aja ya.” ke setiap orang yang ngajuin pertanyaan-pertanyaan itu. Rasanya, gue harus minta Tyas ngegaji gue sebagai juru bicaranya. Hohohoho.
Gak jarang juga, waktu lagi duduk sendirian di kantin sambil baca majalah, gue dengar obrolan geng-geng centil yang ngejadiin Tyas sebagai Hot Issue mereka. Seperti dua hari yang lalu. Tepat di meja sebelah gue, salah satu geng centil yang menamai diri mereka sebagi Geng-gong lagi serius ngegosipin Fajar-Tyas.
”Beneran gak sih si Fajar itu deketin Tyas?” tanya anggota geng yang adalah kakak kelas gue. Mukanya nunjukin jika ia sangat berharap bahwa Fajar Cuma bohong-bohongan deketin Tyas.
Temennya yang lain, si kakak kelas berambut bonding ikutan komentar, ”Iya tuh si Fajar, seleranya nurun banget. Tyas gitu loh?! Masih cakepan gue juga kali.”
Gue hampir kesedak dengarnya. Rasanya gue mau banget nyeret tuh kakak kelas berambut bonding untuk ke kamar mandi dan nyuruh dia ngaca. Tyas yang gak pernah bedakan masih jauh lebih manis dari dia.
Cewek satunya yang pakai lens contact biru seperti mau nangis, ”Dunia gue akan terasa gelap kalau Tyas beneran jadian sama Fajar.”
Gue baru tahu kalau ternyata Fajar punya sampingan jadi tukang lampu. Ckckckckc.
Satu cewek yang dari tadi cuma asyik ngaduk-ngaduk jus melon sekarang mulai ngelus-ngelus punggung si mata biru. Dengan suara bijak dia bilang, ”Menurut kabar yang gue dengar nih, mereka belum jadian kok. Lagian si Indah, mantannya Fajar juga belum nyerah buat ngedeketin Fajar lagi.”
Tiga orang cewek yang ngedenger hal itu mendadak wajahnya berubah jadi lebih cerah. ”Masa sih? Lo kata siapa?” si mata biru yang tadi hampir nangis kini lebih bersemangat lagi.
”Sumbernya terpercaya gak?” cecar si bonding.
“Iya, bisa di percaya gak sumber lo itu?”cewek yang duduk di sebelah si bonding nambahin.
Si pemberi kabar itu tersenyum, senyum yang ampuh langsung bikin gue mules. “Tenang guys, dia orang terdekat Tyas kok.”
“Siapa?” tanya sobat-sobatnya serempak.
”Gue denger dari Vita.”
Glek! Gue kaget, dia nyebut nama gue. Kok bisa? Pelan, gue ngangkat muka gue yang dari tadi gue sembunyiin di balik majalah favorit gue. Ow,,, muka tuh orang memang gak asing buat gue.
”Kok lo bisa kenal?” tanya si mata biru atau lebih tepatnya, intrograsi bukan bertanya.
”Dia kan junior gue di klub jurnalis. Dia memang gak ngomong langsung sama gue, waktu itu gue gak sengaja dengar dia jawab begitu pas ada anak kelas dua yang nanya sama dia. Baru kemaren kok.”
Ketiga temannya tersenyum sambil ngurut dada tanda mereka lega. Sedangkan otak gue berpikir keras, apa iya gue punya senior di klub jurnalistik yang mukanya kayak dia? Kok gue lupa ya???
Ϋϋϋ
Bel tanda usai belajar berbunyi di saat yang gak tepat. Ya, itu bel berbunyi saat cuaca lagi panas-panasnya. Langkah gue malas-malasan untuk berjalan ke kelas Tyas karena itu berarti gue harus ngelewatin lapangan basket yang artinya gue harus panas-panasan. Gue natap ke arah matahari. Uhg, silau!
Sambil jalan, gue rajin banget ngomel-ngomelin matahari yang bersinar garang banget  hari ini. Saking sibuknya ngomel-ngomelin matahari yang gue tahu persis gak akan bisa mengerti apa yang gue omongin, gue sampai gak sadar kalau sedari tadi ada orang yang manggil-manggil nama gue. Hingga akhirnya kepala gue kebentur sesuatu yang keras walau dengan sangat pelan.
Mata gue melotot galak ke orang yang dengan sengaja sudah ngelemparin bola basket ke arah gue. Manusia rese itu jalan ke arah gue sambil ngedrible bola dan cengengesan.
”Galak amat, non.” kata tuh orang simpel.
Mata gue makin membesar ngeliat makhluk yang kini sudah ada di hadapan gue. ”Sakit tau!” kata gue sengaja menekankan kata SAKIT dan ngelus-ngelus kepala gue berharap semoga gue gak benjol gara-gara orang ini.
”Cewek gue mana?”tanyanya.
Alis gue bertaut, gue natap dia dengan mata jutek gue. ”Sudah enam bulan memang, Jar, lo deket sama sahabat gue, tapi dia bukan cewek elo. Nembak dia pun elo belum pernah.” jawab gue judes.
Fajar tersenyum salting, ”Ah, Vita... kita kan sudah deket tapinya.”
Gue tatap mata Fajar, ”Tapi dia bukan cewek lo.” kata gue tegas.
”Tyas mana sekarang?”
”Baru mau ke kelasnya.”
”Gue tunggu di depan ya.”
Gue ninggalin Fajar saat ia menyelesaikan kalimatnya. Berjalan cepat ke kompleks kelas anak-anak IPA bersarang. Gue gak tahan sama panasnya matahari.
Mata Tyas ngebuka lebar dan berseri-seri waktu gue cerita kalau Fajar nyebut dia dengan kata CEWEK yang di artiin sebagai PACAR oleh Tyas. Si cangcorang ini juga langsung jingkrak-jingkak senang saat gue bilang kalau Fajar nunggu dia di depan, di halte bus tempat Fajar pertama kali nyamperin Tyas  waktu dulu.
”Dia mau nembak gue kali ya? Memastikan kalau gue adalah pacarnya dan dia adalah pacar gue.” kata Tyas senyam-senyum.
Gue cuma mesam-mesem ngedengerin ocehannya si Tyas. Gak di butuhin waktu yang lama bagi kami untuk sampai di tempat yang Fajar maksudkan. Apalagi kalau melihat jalannya Tyas yang gak jauh beda dengan orang yang hendak ngungsi, buru-buru banget.
Wajah Tyas yang cerah terlihat semakin cerah saat matanya menangkap sosok Fajar yang berdiri membelakangi kami. Dia mempercepat laju jalannya. Kami semakin dekat, dan semakin jelas kami lihat jika Fajar tidak sendiri. Anak-anak kelas tiga yang kebanyakan adalah anggota basket berkumpul di sana. Tyas memperlambat laju jalannya. Selama dekat dengan Fajar, Tyas memang jarang sekali bergaul dengan teman-temannya Fajar itu. Raut wajah Tyas yang sebelumnya cerah mendadak berubah mendung. Gue yang heran dengan perubahan drastis itu akhirnya mengikuti arah tatapan Tyas. Di tempat gue dan Tyas berdiri sekarang, jelas terlihat jika di samping Fajar ada seorang cewek yang menggelayut manja di lengan Fajar. Cewek itu tersenyum kepada Fajar, wajahnya begitu bahagia. Fajar juga tak keberatan jika cewek itu mendekap pinggangnya. Tyas diam, ia membeku. Dengan gayanya yang cuek dan santai, Fajar mendaratkan ciuman di dahi cewek itu. Tyas mematung menyaksikan pemandangan tersebut. Wajah Fajar pun sontak berubah pucat saat ia menoleh kebelakang dan mendapati Tyas tengah berdiri menyaksikan ia dan seorang cewek yang bergelayut manja di lengannya. Cewek itu menoleh. Tyas tersentak. Cewek itu adalah Indah. Mantan pacar Fajar. Tangan Tyas gemetar menahan marah sementara cewek itu tersenyum penuh kemenangan di samping Fajar yang kini membeku menatap Tyas yang juga menatapnya dengan penuh kebencian.

Monday, 23 August 2010

Telpon-telponan


Tina: Kamu tuh bener-bener deh yang, bisa gak sih kamu ngerti aku sedikiiiiiiiiitttttttttt aja.!!!!

Nando: Kapan sih aku gak ngerti kamu?!!

TIna: Emank kapan kamu ngerasa pernah ngerti aku?!??

Nando: Sayang, kamu masa gak pernah lihat sih pengorbanan aku untuk kamu?

Tina: Pengorbanan apa?!!! Selama kita pacaran kamu cuma pernah traktir aku sekali doang. Itu pun cuma sebungkus KUACI. Terus,kapan kamu pernah jemput aku? Bilangnya jemput, tau2nya kamu malah nungguin aku di depan gerbang rumahku. 

Nando: Kemarin aku beli kaos untuk kamu! 

Tina: Beli?! Aku tau kalo tuh kaos punya ADIK KAMU. sama dia gak muat makanya kamu ambil dan kamu kasih ke aku!!

Tiba-tiba telpon terputus. Mata Tina memerah. Ia pandangi layar hapenya yang menunjukkan fotonya yang sedang tersenyum mesra dengan Nando. Tina sebenarnya bukan cewek manja ataupun matre. Kalau dia matre, mana mungkin dia mau pacaran dengan Nando yang pengangguran dan cuma mampu ntraktir dia sebungkus Kuaci doang?

Tina gak pernah berharap banyak mengenai materi pada Nando. Ia menyukai cowok itu yang sederhana dan apa adanya. Tapi, Tina merasa akhir2 ini Nando banyak berubah. Tina menjadi sangat kesal. Bahkan, sejak sambungan telponnya terputus, Nando sama sekali tak mencoba untuk menghubunginya lagi. Tina semakin kesal.

Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu rumahnya. Setengah terpaksa, Tina beranjak dari ranjangnya untuk membuka pintu. Tina terkejut, Tina melongo melihat Nando yang sudah berdiri di hadapannya. Buru-buru Tina menubruk tubuh Nando dan memeluknya erat. Ups, namun Nando melepaskan tangan Tina yang melingkari pinggang Nando. Heran, Tina memandang mata Nando meminta penjelasan. Nando pun memandang Tina. Tanpa perasaan, Nando berkata:

"Yang, gantiin pulsa ku. Gara-gara nelpon kamu pulsa ku langsung habis."

Tina langsung menangis .....

Sunday, 22 August 2010

The Express Love


Dia datang bersama angin
membawa asa beserta bahagia
Merengkuh tubuhku dalam peluknya
Menghangatkan hati yang telah membeku

Namun sayang,
Di saat ku terbuai dan luluh
Angin menerbangkannya hingga menjauhiku
Ia membumbung ke angkasa senja
Lantas menghilang tanpa jejak
Juga, takkan pernah kembali...

Dan, di sini ku terjatuh
terjerembab menukik ke tanah bumi
Mengasihi diri yang tak berdaya

Ku beri nama kisah ini sebagai
The express love,
Karena sepintas ia datang
Namun setelah menoreh satu rasa
Yang tak hilang sepanjang masa

Tugas-tugas Pas Puasa


Ingetkan waktu sekolah dulu, walau judulnya LIBUR, tapi tetap saja guru-guru di sekolah yang baik hati itu gak akan ngebiarin muridnya libur dengan tenang. Pastinya mereka akan ngasih oleh-oleh liburan (baca: tugas) untuk kita, para muridnya yang polos dan tak berdosa. He he he.

Hal itu juga berlaku di bulan puasa. Sebelum libur (cuma satu minggu doang awal puasa) kita pasti di bagiin buku WAJIB yang HARUS di isi selama bulan ramadhan. Biasanya tuh buku judulnya, KEGIATAN BULAN RAMADHAN. Jadi kita harus nulis, kita puasa ato gak, solat ato gak, teraweh ato gak, dan bla-bla-bla. Bagus sih manfaatnya, karena mau ga mau akan memacu kita untuk melakukan puasa, solat, dan hal-hal positif lainnya di bulan puasa.
Makanya gak heran, kalo selesai taraweh yang jadi imam dan penceramah akan kebanjiran order tanda tangan dan di kerubutin para fans (baca: sejenis anak sekolah, :P). Mereka sih oke-oke aja, lha wong kadang tuh anak-anak pake acara berebut sampe bikin si bapak imam dan penceramah ngerasa seperti artis beneran. He he he.
Tapi, semenjak saya resmi di pecat dari SMA saya karena LULUS UN, buku tugas itu udah gak saya dapetin lagi. Bersyukur juga, karena setelah jadi mahasiswi saya gak perlu berdesak-desak untuk berebut tanda tangan mahal nan penting. Ho ho ho.
Sebagai gantinya, dua tuyul (adik saya maksudnya, heheheh, red) piaraan di rumah yang kena getahnya. Secara, dua bocah itu masih pada SD jadi mereka kebagian deh buku tugas kegiatan ramadhan itu. Kadang saya ngerasa lucu sendiri kalau ngeliat mereka gak langsung pulang dulu karena harus antri tanda tangan itu. Jadi inget masa-masa sekolah dulu (duh, serasa udah tua banget deh... heheheh, ^^,).

Tadinya saya mau meng-upload foto buku itu, tapi gak tau kenapa kok loading lama banget ya...ckckckckc. Nanti deh, lain kali saya upload foto-foto itu. Huhuhu, :(

Well, keep fight to give the best things in your life, GBU.

Saturday, 21 August 2010

Nasib Bubur SUm-Sum


Sudah bisa di pastiin kalo jam menunjukkan jam 3 sore, walau masih agak jauh ke jam 6, di jalan-jalan banyak penjual takjil dan makanan untuk buka puasa yang udah stand by. Kemarin, saya dan seorang teman jalan ke depan komplek perumahannya dia yang ternyata eh ternyata kalau sore mendadak jadi pasar. Kanan-kiri banyak yang jualan (ya iyalah,,,, masa demo!!!huhuhu). Sebenarnya sih, kemarin saya lagi gak puasa karena lagi jadi wanita sejati (halah...apa hubungannya??!!). Tapi, karena kelaperan dan perut saya gak mempan kalau cuma di ganjel biskuat coklat sebungkus kecil, akhirnya saya setuju waktu teman saya ngajak jalan. Sampai di sana, saya lumayan cengo. Well, sebenarnya sih udah biasa, tapi tetep aja rada heran dan pusing tiap ngeliat orang yang segitu banyaknya berdesak-desakkan cuma untuk beli makanan. Kok, jadi kayak pada mau hibernasi gitu ya..... hohoho. Mata saya yang laper di dukung perut bawel yang gak bisa diem dan terus-menerus ngeluarin bunyi krucuk-krucuk, memaksa saya masang tampang waspada (baca: MUPENG) tiap liat makanan. Huuu,,, rasanya kalo ga inget umur pengen banget nyomot satu makanan, terus saya caplok di situ. Tapi, karena sudah tak muda lagi, saya tahan hasrat yang menggebu itu.

Di stand makanan pertama (penjualnya kenal saya dan saya gak kenal penjualnya), mba-mba pedagang (MMP), nawari saya bubur sumsum yang emank menarik banget buat di icip-icip. Dengan tiga uang kertas seribuan, tuh bubur jatuh ke tangan saya. Saya emank ga mikir panjang lagi, karena sindroma laperea yang saya idap bikin otak ga mau mikir lama-lama. Di tambah dua lontong yang di buntel-buntel gede saya akhirnya pergi dari situ. Di sebrang MMP yang pertama, ada MMP juga yang ternyata lagi-lagi ternyata mengenal saya. OH....apakah saya begitu terkenal???*meratap*. Dia nawarin saya risol basah yang katanya, KATANYA isinya daging, DAGING. Untuk ke dua kalinya, saya beli walau cuma satu biji doang dan si mba yang baik hati itu ngasih bonus satu biji cabe rawit untuk saya.

Sampai rumah temen saya, dengan sikap gragas dan semangat yang  gak jauh beda sama pejuang veteran waktu ngelawan belanda, saya mulai buka satu lontong dengan ukuran gede. Hmm,,, ternyata tuh lontong enak juga. Satu abis, kawannya yang masih hidup menyusul untuk di cacah-cacah sama gigi saya. Ok, enak juga *secara lontong yg satu produksian!!adoh...*. Tiba saatnya giliran si risol basah yang KATANYA berisi DAGING. Awal rasanya agak aneh, tapi kok, lama-lama enak ya..... tanpa saya sadari risolnya habis. Dan tinggal satu cup bubur sumsum. Perut saya ternyata kenyang dan nolak untuk dimasukin makanan lagi. Akhirnya, saya bawa pulang tuh bubur.

Di rumah saya, demi keamanan satu cup bubur sumsum itu, saya simpan di lemari es. Ternyata, itu bubur bukan jodoh saya. Ibuku yang pintar menemukan bubur itu dan sambil cengar-cengir pamer sama saya dia makan tuh bubur. Saya yang lagi cuci piring, senyum-senyum sakit hati. Ok, saya ikhlas. huhuhuhu.

Saat mereka semua shalat taraweh, saya nemuin kenyataanm kalau bubur itu masih tersisa dan di taro di meja. Demi tahu jawabannya kenapa-tuh-bubur-masih-nyisa, saya coba cicipi. Ow.....uweee rasanya aneh!!!

Waktu ibu saya pulang, dia langsung protes, "Kak, buburnya beli dimana sih?" yang saya jawab dengan entengnya, "perum 2, kenapa?"
"Nggak enak tau."
Saya nyengir, "Maklumin ajalah,,, bikinnya kan pas puasa jadi ngga sempet dicobain enak ato enggaknya."
Ibu saya ngeloyor pergi dengan tampang kesel.

Mau tahu rasanya tuh bubur kaya apa?

HAMBAR.

Friday, 20 August 2010

SEBUAH MENTAL


2008, tahun yang suram banget di hidup gue. Tahun itu adalah tahun gue lulus SMA, lepas dari seragam putih-abu-abu, lepas dari label ABG LABIL dan lepas dari baju olahraga 'norak' berwarna kuning. Pas acara perpisahan, gue happy-happy sedih. Happy, karena itu artinya gue selangkah lebih dewasa dan sedihnya gue harus pisah sama temen2 gue yang selalu ada buat gue. Saat gue telat, lupa ngerjain peer, gak belajar waktu ulangan, de-el-el.

Seperti yang dosen gue bilang, kita lulus kuliah senengnya cuma sebulan, dua bulan, mandangin foto2 waktu wisuda yang waktu itu tampangnya lagi 'lebih cantik atatu lebih ganteng' daripada biasanya karena di dempul abis2an. Tapi di bulan ke tiga udah bingung harus apa. Nah, karena waktu itu gue lulus SMA, jadi gue bingung harus ngelangkah kemana lagi buat ngelanjutin study gue.

Dan, gue punya seorang bapak yang ke pengen banget anaknya masuk univ negeri. Keinginan yang lumrah bagi orang tua yang punya anak baru lulus SMA. Jujur, waktu denger 2 univ terkenal yang bapak gue bilang dan minta gue buat daftar, gue udah ciut duluan. Payah emank, otak gue langsung bayangin hal-hal yang kalo sekarang gue inget adlh hal yang bodoh.

Suatu hari, gue dan bapak gue pergi bareng, kita boncengan naek motor. Lalu, topik hangat yang kita omongin adalah SNPTN, PENMABA dll. Dibelakang bapak gue, gue manyun satu meter (ok, terlalu lebay). Paling gue inget dan gue notice sampe sekrang adlh kata2 bokap gue, dia bilang, "kamu jadi manusia jangan bermental tempe dong.!"

Awalnya gue ngga ngerti, tapi akhirnya gue sadar sekarang. Kalo kalian tau dan pernah liat tempe, kalian juga pasti tau kalo makanan itu gampang banget untuk di ancurin. Nah, hubungannya sama mental adl saat diri lo bermental tempe, itu artinya diri lo gampang nyerah saat lo dapet suatu kesusahan lo akan menolak untuk mencoba lagi karena ngga kuat untuk susah.

Lalu gue bertanya, "mental apa yang seharusnya gue punya?" waktu itu gue tanya ke seorang sahabat, karena gue ngga berani nanya ke bapak gue yang waktu itu lagi galak2nya ama gue (sekarang udah bae loh,, :) )
Sahabat gue jawab, "elo harus punya mental kayak daging yang makin kuat saat mereka di banting-banting, itu mental yang elo perluin untuk berjuang demi keinginan untuk masa depan lo."

Dan thanks to them, sekarang walau belom bener2 bermental daging , gue masih punya keberanian untuk menerobos sesuatu yang harus gue terobos walau kadang gue berkeringat dingin dan gemeteran.

Untuk kalian, jangan pernah lelah dan mudah menyerah saat mengalami kesulitan, kita berjuang sama2 untuk jadi seseorang dengan mental daging dan bukan bermental tempe.


*waktu perpisahan tahun 2008* (tebak.....saya yang mana??)hahaaa


Thursday, 19 August 2010

Bisa Bikin Sehat Loh....


Saat sedang 'berjalan-jalan' di dunia ma' ya, saya tiba-tiba tertarik dengan satu judul yang lumayan centil karena ngedip-ngedipin matanya supaya saya tertarik untuk baca. Judulnya:  

8 Rahasia Sehat Dr.Oz

anda pasti bertanya-tanya, siapa sih Dr. Oz itu?

well, bagi yang belum kenal, yah kita kenalan dulu yuk. Kan orang-orang keluaran jaman dulu bilang kalo tak kenal maka tak sayang. Hehehehe.

*setuju kan kalo saya bilang dokter ini ganteng?hehehhe*

Ok, dokter ini mulai menyapa dunia pada tanggal 11 juni 1960 dengan nama lengkap Mehmet Cengiz Oz. Dokter yang lahir di Cleveland, Ohio ini adalah seorang keturunan Turki. Nggak heran deh kalau hidung mancungnya nggak terlalu berlebihan seperti orang-orang barat kebanyakan *celingak-celinguk nyari bule* hehehe. 

Dokter ini sering banget nongkrong di acaranya Oprah Winfrey dan si dokter ini juga jago banget kalau harus menjelaskan suatu penjelasan medis yang ngejelimet menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami dan nggak bikin pusing. 

Di KOMPAS.com, Dokter ini berbagi tips rahasia kesehatan untuk kita. Apa aja sih?? Nih, saya berbaik hati mengcopy-paste-kan untuk anda sekalian. Here we go!!!

1. Tertawa
Tertawa bukan cuma mengurangi stres tapi juga membuat hubungan sosial lebih erat. Manfaat lainnya? Menurunkan tekanan darah dan juga meningkatkan daya tahan tubuh. Karena itu, jadikan humor sebagai bagian dari hari-hari Anda.

2. Sarapan
Penuhi piring nasi Anda dengan bahan makanan mengandung serat. Kandungan serat yang terdapat dalam menu sarapan akan membuat Anda tidak mudah merasa lapar di siang hari. Sarapan di pagi hari juga akan membuat metabolisme tubuh lebih aktif sepanjang hari. Ini sebabnya orang yang rutin sarapan memiliki tubuh lebih langsing dibanding mereka yang merapelnya pada menu makan siang.

3. Rebahkan kepala
Memang banyak tayangan menarik di malam hari, tapi rasanya sayang jika Anda harus mengorbankan waktu untuk beristirahat. Tidur 7 jam setiap malam bukan hanya membuat panjang umur, tapi juga menurunkan kadar stres, mempertajam ingatan dan mengurangi keinginan untuk ngemil.

4. Tengoklah ke bawah
Jangan terburu-buru menekan tombol flush di kloset Anda. Sesekali tengoklah bentuk tinja karena bisa mencerminkan kesehatan pencernaan Anda. Menurut dr.Oz, tinja seharusnya lunak dan berbentuk mirip huruf S, seperti bentuk usus. Bila terlalu padat dan keras, berarti Anda menderita konstipasi atau sembelit. Perbanyak serat dan penuhi kebutuhan cairan Anda.

5. Variasi warna
Makanan berwarna cerah dan kaya warna bukan cuma enak dilihat tapi juga mengandung banyak flavonoid dan karotenoids, jenis antioksidan yang mampu melawan radikal bebas dalam tubuh. Makanlah minimal lima jenis sayur dan buah dengan warna bervariasi setiap hari.

6. Bergabunglah dengan kelas yoga
Ada banyak manfaat dari melakukan yoga setiap hari, mulai dari mengurangi stres, menurunkan tekanan darah, memperlambat detak jantung dan meningkatkan fleksibilitas. Memang beberapa pose atau gerakan yoga terlihat aneh dan sulit dilakukan, tetapi sebenarnya tak sulit mempelajarinya. Bagi Anda pecinta olahraga, yoga akan mengurangi risiko cedera akibat latihan.

7. Carilah teman
Ingin tahu mengapa wanita hidup lebih lama daripada pria? Alasan utamanya adalah wanita lebih suka berteman dan sering berbagi masalahnya. Karena itu, bila Anda suka menyimpan stres dan masalah, Anda akan lebih cepat menua. Dengan perhatian, dukungan dan cinta dari orang lain, penuaan bisa diperlambat.

8. Hindari diet
Rahasia untuk mengurangi berat badan bukanlah dengan menghindari karbohidrat, lemak, atau protein. Hal paling nyata yang bisa dilakukan untuk mengurangi jarum timbangan adalah dengan mengurangi asupan kalori sekitar 100 kalori setiap hari. Memang kecil, tapi jika konsisten dilakukan Anda bisa mengurangi berat badan hingga 5 kilogram dalam satu tahun.

Gimana, Ok nggak tips yang Dr. Oz kasih??? Semoga bermanfaat bagi anda sekalian.

 

Takdir


"Apa yang kita pikirkan, maka itu yang akan kita rasakan sehingga akan kita lakukan, dan itulah takdir kita."

Itu adalah kalimat yang pernah diucapkan oleh salah satu orang terdekat saya. Saya agak lupa persisnya saat itu apa yang kami bicarakan sehingga ia bicara demikian kepada saya. Awalnya saya sedikit kurang mengerti apa yang ia maksudkan. Tapi perlahan namun pasti akhirnya saya mengerti.

Otak adalah pusat sistem pengaturan tubuh kita. Di dalam otak terdapat berjuta-juta cells yang akan memerintahkan pada kita untuk berbuat sesuatu seperti, bergerak, berjalan, makan, dll. Namun, bukan hanya itu, otak juga mampu menanamkan suatu pikiran atau doktrin kepada tubuh kita. Saat kita berkata bahwa "Aku tidak bisa" atau "Ah, aku nggak mampu", itu akan tertanam di alam bawah sadar kita. Jika demikian, alam bawah sadar akan membawa semua pemikiran-pemikiran itu ke perasaan kita yang membuat kita tanpa tanpa sadar benar-benar jadi orang yang TIDAK BISA berbuat sesuatu atau NGGAK MAMPU. Nah, hal itulah yang nanti akan kita lakukan. Setiap ada hal yang harus kita kerjakan, kita akan selalu berpikir jika kita TIDAK BISA atau bahkan NGGAK MAMPU. Jika itu terjadi, maka takdir yang kita tulis untuk diri kita sendiri adalah selalu menjadi orang yang KALAH sebelum berperang dan menjadi begitu pesimis.

Dari pada kita selalu bunuh diri  dengan cara seperti itu, kenapa kita tidak racuni diri kita sendiri saja dengan kata-kata yang lain? seperti, "Ah, aku pasti bisa" atau "Yakin, kalau setelah ini aku akan mengerti" dan kata-kata bermanfaat lainnya yang akan tertanam ke diri kita sehingga perilaku positif itu yang akan kita lakukan dan akhirnya menjadi takdir hidup yang baik bagi kita. So, kawan berhati-hatilah terhadap ucapanmu sendiri jangan sampai hal itu bisa membuat kita terjatuh kepada hal-hal yang tidak baik.

SEMANGAT!!!

Wednesday, 18 August 2010

ohh..Hampir Sajaaa


Mungkin ini yang di namakan BUNUH DIRI atau NYELAKAIN DIRI. Well, kedengerannya ekstrim memang. Tapi nggak usah khawatir maupun risau pembaca sekalian, ini bukan terjadi pada diri saya tetapi pada blog saya. Ya,,, sekali lagi pada BLOG SAYA *terdengar suara tepuk tangan*.

Kemarin malam, saya diem sambil liatin blog milik saya. Setelah saya liat dengan seksama tiba-tiba ada bisikan-bisikan halus yang bilang, "Kok templatenya ga ok ya...". Awalnya, saya  sama sekali nggak terpengaruh karena diri saya bilang, "Ga kok, ok. Lembut banget." Saya adem lagi, terus ganti twitteran dengan teman2 saya. Nggak lama, otak saya mulai bicara lagi, kali ini dia setuju sama bisikan-bisikan halus yang tadi baru aja pergi. Otak ternyata lebih kejam, karena dia nambah-nambahin bumbu untuk memprovokasi *bahasanya keren,hehe*. Dia bilang, "Jelek ah templatenya... terlalu kalem, nggak asyik. Ganti-ganti."

Ngedenger omongan si otak, hati gue mulai gelisah. Dia udah nggak bisa diem lagi di tempat. Gerak sana, gerak sini, dorong-dorong tangan buat pindah dari twitter kehalaman Blog yang masih kedip-kedip genit. Dasar tangan rese, dia akhirnya termakan rayuan gombal si otak, hati dan kawan-kawannya. Dan ..... malapetaka itu pun terjadi.

Tangan saya yang iseng bin penasaran malah ngeklik satu option yang saya lupa namanya ( Eh, kalo ga salah kembali ke tampilan klasik atao sejenis itu). Dan, foila...... sekali klik ternyata ampuh untuk mengacak-acak blog semata golek milik saya ini. Yang menyedihkan lagi, keadaan blog saya kacau itu baru saya ketahui malam ini. hellooo,, kemana aja gueee??????*geleng-geleng kepala*

Setengah kalap, saya akhirnya bertanya pada Mas Gugel yang ganteng. Syukur, akhirnya saya menemukan satu blog yang membahas cara merubah tampilan blog Classic ke XML yang ternyata oh ternyata, caranya begitu mudah. Ini blognya: 

Blog Flak

Ternyata, hanya tinggal klik TEMPLATE pilih CUSTOMIZE DESIGN  dan pilih Template yang tersedia di sana. Setelah menjalani proses itu, akhirnya blog saya bisa sembuh kembali. Oh,,,,terimakasih Tuhan. hahahha

Sekarang, tetep saja saya nggak kapok untuk gonta-ganti template, banyak yang bagus sih.... hehehehheheh

Monday, 16 August 2010

Shampo dan Facial Foam


Beberapa hari yang lalu adek laki2 gue yang pertama dengan PD-nya berdiri di depan gue. Tiba-tiba di hidung gue mulai ada bau2 yang aneh gitu. Setelah sumbernya di cari-cari ternyata oh ternyata asalnya dari rambut adek gue itu. Mulai deh gue tanya dia, emm.... mungkin lebih cocok di bilang intrograsi kali yah... hahaha

*ket:
AG: ADE GUE
G : Gue

G: "Lo kalo mandi keramas ngga sih?" (Kepala adek gue udah mulai sengaja di jeduk2in ke kepala gue, haha)

AG: "Kaga"

G: "kenapa?"

AG: "Ga ada shamponya."

Sampe di situ gue diem dan mikir, 'Kok kasian amat yak adek gue sampe ngga punya shampo buat keramas?? ckckckc' *nahan nangis karena sedih* (hahahahha)

Dari dapur, nyokap gue teriak, "Kan di kamar mandi itu ada mass!!!"
Ade gue bales teriak: "Yang mana bu?? Yang item itu ya?"
Ibu gue teriak lagi: "Biru, kan ibu udah beli. Gimana sih kamu."
Ade gue lagi-lagi teriak:"Item buuu adanya!!!" terus dia nengok ke gue, "Iya kan kak?"
Gue mikir dulu, nginget2 warna benda yang lagi di ributin itu. "Bukan ah dek, biru tau shamponya." kata gue setelah yakin.
Ade gue diam. Ok, gue pikir masalah shampo udah sampe di situ doang. Gue pun bermain dengan laptop tua yang layarnya habis gara2 gue kletekin dengan perasaan riang gembira.
Tau2 hari udah sore dan gue belum beranjak dari depan layar laptop yang bopak itu. Dua ade gue dengan segala keterpaksaannya akhirnya setuju buat mandi setelah di 'nyanyiin' sana-sini sama Ibu gue. Tiba-tiba pas gue lagi asyik ngetik, adek gue yang kecil nongol dengan badan basah dan masih t-e-l-a-n-j-a-n-g sambil bawa-bawa satu benda yang gue kenal banget dari kamar mandi.

"Ehhh,,,, itu kan punya kakak, kalian cowo ngga boleh pake2 itu." kata gue histeris kaget setengah hidup.

Tapi ade gue malah cengar-cengir sambil ngangkat tuh benda berbotol hitam tinggi2, terus dia nanya dengan suaranya yang cempereng bin nyaring: "Kakak, ini shampo kan??"

Gue bengong, mulut gua nganga, mata gue melotot, oh my God...
"Elo ga make tuh benda kan?" tanya gue curiga.
"Emank ini apa kak?? Aku pake buat keramas." jawab adek gue polos.

Oh no,,,, T-I-D-A-K

setengah teriak gue jawab: "De,,,,, itu P**Nds Facial Foam punya kakak, buat cuci muka itu bukan buat shampoann!!!!!!"

Ade gue dua-duanya langsung bengong sambil ngeliatin tuh botol. Ade gue yang gede dengan santai nya bilang:
"Pantesan kentel banget ngga caaiir-cair..."

Astaga......

The sound of my heart


Those for you, you're someone who already enter my life and painting your color in my day and make it bright . .
I need you to stay in my life,,,,

Please, don't go even though just one step behind, it's gonna hurt me so bad...

I beg to you, please.....

Sesusah Sholat Shubuh (SSS)

Ok, sebelumnya tolong jangan anggap saya adalah orang paling alim saat membaca judul postingan saya. Jujur, saya masih jauh dari alim ( #pengakuan, hohohoho).

Kalau sekarang-sekarang ini selama puasa gue lebih milih untuk sholat subuh di rumah dengan alasan N.G.A.T.U.K, lain dengan zaman ketika gue masih ESDE (Baca: SD). Inget banget, gue selalu janjian sama temen SD gue, Sita buat sholat subuh di mushola yang letaknya persis di depan rumah. Setelah sholat shubuh sambil ngantuk-ngantuk dan nguap-nguap kita ngedengerin kultum. Tapi, karena ngantuk-ngantuk dan nguap-nguap kita jadi sama sekali nggak konsen ngedengerin ceramahnya. He he he. Yang aneh, kalau ceramah selesai kita ngerasa energi kita tuh dateng lagi dan jadi semangat. HA ha ha, ok-ok kita adalah contoh buruk untuk di tiru, hehehehe. Nah, nah selesai ceramah itu, gue, Sita dan beberapa anak rajin lainnya, tetap tinggal di mushola. Setelah keadaan kondusif dan aman, kita langsung mulai. Yap, kita langsung ngeluarin bola bekel dan biji-bijinya. Kita bikin pertandingan bola bekel pertim atau individu. Ho ho ho.

Pertama-tama kita pasti tentuin dulu timnya, tapi jangan bayangin ya penentuan tim itu berdasarkan pemilihan yang adil. Kita-kita nentuin tim dengan sesuka hati dan ngeliat siapa orang yang paling dekat sama kita. So, nggak heran kalo gue sekelompok sama Sita. Selain karena gue deket sama dia, Sita itu jago main bekelnya sedangkan gue cupu banget mainnya. Ha ha ha. Gue masih inget waktu gue sama dia ngelawan genk yang kita anggap musuh. Dan, kita pun menang. Mereka sama sekali nggak terima, akhirnya kita adu mulut. he he he.

Kalau udah tanding bekel kaya gitu kita semua pasti anteng main di mushola dan kita semua bubar kalo udah ada bapak-bapak yang ngusir kita dari mushola. kalau enggak ada yang ngusir kita bisa main sampe jam 10an. ckckckckc.

Kalau sekarang, alhamdulilah anak-anaknya lebih 'teratur' di banding zaman gue dulu. Makanya, udah hampir nggak ada anak-anak yang nerusin kegiatan pertandingan bola bekel itu. Kalau masih ada, rasanya gue pengen ikutan! hahahahhaa

Saturday, 14 August 2010

TERABASLAH!


“Aku mau sekolah, Bun.”
Baik aku maupun Bunda sama-sama menghentikan kegiatan makan kami demi menatap seseorang yang telah mengucapkan kata-kata itu. Orang itu duduk persis di sebrangku. Wajah tirusnya yang sedikit angkuh terlihat begitu serius.
Bunda memaksakan senyumnya. “Kamu kan sudah bersekolah, nak.” Katanya.
Dia menghela nafas, ditatapnya Bunda, “Bunda paham benar apa maksudku.” Erangnya.
Tangan Bunda mengepal keras. Jari-jarinya mampu membengkokkan sendok stainless steel yang ia genggam. Setengah mengeram ia berkata, “Tidak untuk sekolah normal. Kamu tetap sekolah, home schooling.” Bunda menarik nafas sejenak. “Itu cukup untuk kamu.”
“Cukup menurut Bunda tapi tidak untuk aku.” Balasnya tajam.
Bunda hendak berkata lagi, namun segera ku dahului, “Tora, benar kata Bunda, sudah cukup bagi kamu untuk mengenyam pendidikan home schooling. Toh, guru yang Bunda pilihkan untuk kamu tidak jelekkan? Kualitasnya tak jauh berbeda dengan guru di sekolah umum lainnya.”
“Kakak nggak pernah tahu rasanya home schooling tuh kayak gimana, karena selama ini kakak sekolah di sekolah umum, tidak seperti aku. Kakak punya banyak teman, sedangkan aku? Paling-paling hanya computer dan online. Bosan aku!” kata Tora setengah berteriak.
Bunda menatapku untuk tetap menutup mulut, lalu ia berkata, “Tora dengan keadaanmu yang seperti itu mana mungkin Bunda bisa melepasmu keluar. Nak, di luar sana tidak semua orang bisa memahami kamu seperti Bunda dan Kakakmu. Mengertilah….”
Tora bergantian menatapku dan Bunda. Tatapannya begitu galak. Belum pernah Tora menatap aku dan Bunda dengan tatapan yang seperti itu.
“Bun, aku tahu kalau aku cacat. Tapi apa seorang yang cacat dan menggunakan kursi roda seperti aku ini di larang untuk bergaul dengan mereka-mereka yang normal?! Apa aku juga di larang untuk mengejar impianku dan melihat dunia luar?! Bun, aku tidak pernah mau terlahir sebagai anak CACAT!!!”
Tersirat guratan rasa bersalah di mata Tora setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Adik lelakiku kemudian meninggalkan meja makan dan mendorong kursi rodanya menuju kamar.
Lengang. Ya, suasana ruang makan menjadi begitu lengang setelah Tora dan kursi rodanya meninggalkan aku dan Bunda. Aku tahu persis bagaimana perasaan adik lelakiku satu-satunya itu. Aku mengerti keinginannya… Dia benar, dia tidak pernah meminta pada Tuhan untuk menjadi cacat dan berkursi roda. Tidak, ia tidak pernah.
☺                    ☺                    ☺
Rasa sakit kepala yang Tora rasakan saat ia berumur 10 tahun, Bunda anggap hanya sakit kepala biasa. Aku dan Bunda bergantian menjaga Tora. Namun, sakit Tora semakin hari semakin parah. Puncaknya adalah saat Tora mulai sesak nafas dan kejang-kejang. Aku dan Bunda membawa Tora ke rumah sakit. Hati kami berdua begitu hancur mendengar vonis dokter jika Tora terserang Polio jenis Paralytic yang akan membuatnya lumpuh. Bunda yang pernah belajar psikologi, berpesan padaku agar tidak menangis setiap kali berhadapan dengan Tora agar adikku itu tidak merasa di kasihani. Aku menurut. Namun, aku tahu jika tiap malam wajah Bunda basah oleh air mata jika menatap wajah damai Tora saat ia tertidur. Mulai hari itu, Bunda memutuskan untuk memberhentikan Tora dari sekolah umum dan mulai memberinya pendidikan home schooling. Saat itu, kami berpikir jika itu adalah yang terbaik untuk Tora.
Namun, setelah malam itu aku mendengar kata-kata Tora, aku yakin bahwa selama ini apa yang Bunda lakukan itu salah.
“Itu Bunda lakukan untuk Tora, Lana!” bentak Bunda saat malam itu aku datang ke kamarnya.
“Aku tahu, Bun. Tapi sepertinya kita salah. Benar kata Tora, kita tidak bisa mengurungnya terus menerus di rumah hanya karena ia cacat dan menggunakan kursi roda. Tidak adil bagi dia, Bun. Tora tidak pernah ingin ia lahir dan cacat.” Bunda menatapku dengan matanya yang masih basah oleh air mata. “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Daftarkan ia di sekolah normal.”
☺                    ☺                    ☺
Sekarang, Tora bersekolah di tempat yang sama denganku. Aku yang meminta hal ini pada Bunda. Agar aku bisa menjaga Tora dan membantunya jika ia kesulitan. Hari pertama itu, wajah Tora terlihat begitu gembira, ia tak peduli akan berpasang-pasang mata yang menatap aneh padanya. Ia tak peduli sama sekali. Ia tersenyum senang di atas kursi rodanya yang ku dorong pelan supaya adikku bisa menikmati segarnya udara pagi. Sesampainya di kelas, Tora memandangku dan tersenyum. Sebelum aku pergi, ia menggenggam tanganku dan berkata, “Terima kasih kak atas bantuannya. Aku nggak akan mengecewakan kakak. Aku janji. Dan, kakak nggak usah khawatir terhadapku, aku akan baik-baik saja.” Aku hanya tersenyum karena jika satu kata saja keluar dari bibirku, bisa di pastikan air mataku akan tumpah ruah di hadapan Tora. Dan, itu tidak boleh terjadi.
☺                    ☺                    ☺
Aku begitu tersentuh atas kegigihan Tora. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendapat banyak teman. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendapat perhatian dari para guru karena kepintaran dan kebaikan hatinya. Tidak butuh waktu lama bagi Tora untuk di cintai dengan hatinya yang memiliki banyak kapasitas untuk mencintai. Dalam sekejap, Tora di kenal dan di cintai teman-temannya. Dengan keuletannya, ia meraih prestasi dan mimpi-mimpinya. Tora sering bilang padaku, “Satu hambatan atau beribu hambatan nggak usah kita pikirin kak, yang penting bagaimana niat kita dan kesungguhan kita. Terabaslah semuanya.”
Hanya senyum yang bisa kuberikan padanya saat itu. Mataku menangkap wajah lelahnya dan setumpuk buku tebal yang bertebaran di mejanya lalu mataku beralih ke jam dinding yang menunjukkan pukul 12.00 malam. “Tora, kamu istirahatlah. Besok itu hari penting dan kamu nggak boleh terlihat kusut. Mengerti.” Si rambut jabrik itu nyengir mendengarku lalu mengangguk-anggukan kepalanya sembari menjauhkan kursi rodanya dari meja belajar.
“Aku sudah jauh dari meja belajar nih, kak. Jadi berhentilah memandangku seperti itu.” Katanya sedikit mengejek.
Rupanya Tora telah hafal, jika aku takkan melepaskan pandanganku darinya jika ia tidak menuruti permintaanku. “Jangan membuat malu kakak dan Bunda besok dengan wajah kusutmu itu.” Kataku lalu keluar dari kamarnya.
Aku menghela nafas, besok hari terpenting bagi Tora dan hari pembuktiannya atas seluruh kata-katanya pada aku dan Bunda dulu. Ku intip Tora, adik lelakiku satu-satunya itu tersenyum menatap foto almarhum ayah kami. Ia cium gambar pria di foto itu yang sedang tersenyum. Lalu, Tora meletakkan bingkai foto ayah di tempat semula. Ia pun tertidur.
 Pagi datang dengan cepat, aku dan Bunda telah duduk dengan manis di kursi beludru merah di dalam aula sekolahku dan Tora. Hatiku berdebar tak karuan sepanjang acara ini berlangsung. Adikku sempat meledek, “Bedakmu luntur kak.” Katanya yang membuatku lari kekamar mandi dan mendapati bahwa ia hanya membohongiku.
“Hampir saja aku ketinggalan acara.”gerutuku pada si jabrik
Aku tahu jika Tora pun begitu gugup dan tegang. Terlihat, sudah berulang kali ia melonggarkan kerah kemejanya yang sama sekali tidak ketat. Wajar saja ia begitu tegang, karena hari ini adalah miliknya. Hari ini adalah hari milik Tora Saputra Ananta.
Hal yang aku, Bunda dan Tora tunggu akhirnya datang juga. Melanie Anggia sang pembawa acara menyebut nama Tora. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Tora menggelingkan kursi rodanya menuju podium. Beberapa orang telah menunggu Tora untuk membantunya naik ke atas podium itu.
Wajah Tora yang begitu haru jelas terpancar saat seseorang berkata, “Selamat kepada saudara Tora Saputra Ananta yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studynya ke Monash University.”


Kemudian, tepuk tangan riuh pun terdengar. Aku dan Bunda memandang sosok anak itu dengan bangga. Ya, Tora dan kursi rodanya akan segera terbang ke Australia setelah ia berhasil menerabas seluruh keterbatasannya.



* cerpen ini di buat untuk di ikut sertakan dalam lomba menulis cerpen yang di selenggarakan oleh Sang cerpenis dan VIXXIO, semoga cerpen ini dapat memenangkan novel Magnificent karya aL Dhimas, terima kasih*