Pages

Tuesday, 24 August 2010

DI HALTE BUS


Telinga gue rasanya kaku banget ngedengerin ocehan satu makhluk yang sudah gue beri label SAHABAT yang sekarang sedang duduk bersebrangan dengan gue di meja kantin. Mata gue pun rasanya pengen merem setiap lihat senyum menawan serta pandangan memuja ketika mulutnya mengeluarkan kalimat tentang dia, gebetannya. Hati gue menjerit iba pada Tuhan agar menyudahi penyiksaan batin ini. Duh, kalau aja gue tega, pastinya sekarang gue sudah menyambar baso urat segede gaban yang ada di hadapan gue tanpa sempat gue sentuh walau sudah setengah jam makanan favorite gue tersebut sampai di depan muka gue, kemudian gue sumpelin ke mulutnya supaya manusia satu ini berhenti mengoceh. Tapi, hati nurani gue yang sudah tertanam budi pekerti sejak lahir, menahan gue untuk melakukan hal yang kata orang adalah perbuatan kriminal. Tapi ini darurat, apa gak bisa ngasih gue excuse? Kalau gitu, kasih tahu caranya untuk membuat orang ini berhenti bicara!!!
Ok, ok, mungkin semua orang akan melaknat dan menuduh gue sebagai sahabat yang jahat mendengar seluruh kata-kata gue di atas. Tapi tolong, coba bayangin, tahan gak sih harus dengar cerita yang sama secara berulang-ulang? Bosan gak sih, kalau setiap saat membahas kejadian yang saat itu pun elo ada di sana? Kesel gak sih, saat kita sudah pasang tampang melas sampai BT tapi ocehan itu gak berhenti-henti juga? Pasti gak sabar kan? Kenapa gue yakin banget, karena gue sedang mengalaminya sekarang.
Di sebrang gue, di hadapan gue, di meja kantin berwarna coklat yang letaknya di sudut ruangan, di kelilingi pasukan putih abu-abu, di antara para penjual yang sibuk ngurusin pesanan pelanggan bawelnya, di sela-sela teriakan ”Es kopi, es kopi,” milik bang Roni, di batas kesabaran gue yang semakin menipis, dia mulai cerita. Insting gue yang tajam sudah mulai gak enak saat dia mulai buka mulut walau waktu itu ia Cuma mau teriak mesen gado-gado pedes gak pake kol. Gue udah bisa ngerasain gelagat gak enak itu.
”Nih.” sahabat gue yang baik hati itu menjulurkan tangannya. Bukan, dia bukan lagi nyuruh gue untuk mijet tangannya atau mletekin jari-jari lentiknya. Dia nunjukin gue I-phone terbaru miliknya. Sahabat gue ini bukan tipikal orang sombong yang suka pamer, jadi bisa gue pastiin dia bukan lagi mau pamer hape canggih baru masih ngecling ke gue yang masih setia sama nokia gue yang keluaran jaman batu, tapi dia sedang nunjukin something special yang tersimpan di sana. Pada layar flat tersebut bisa gue lihat sederet sms yang sebenarnya biasa tapi jadi gak biasa karena berasal dari Fajar. Well, bukan berarti semua sms dari Fajar itu istimewa ya. Itu sama sekali gak berlaku buat gue tetapi sangat berlaku untuk sahabat gue.
Gue menatap benda di tangan sahabat gue itu dengan malas-malasan. Tapi tampang malas-malasan gue sama sekali gak ngefek bagi sahabat gue sejak SMP ini. Tangannya gak juga di turunin dari hadapan muka gue yang pastinya sudah suntuk abis. Sangat terpaksa akhirnya gue ambil juga tuh hape baru.
”Fajar semalem romantis banget deh.” dia mulai cerita dan gue mulai zikiran dalam hati. Minta kesabaran dan kelapangan hati untuk melewati cobaan batin yang menyiksa ini.
”Kenapa lagi dia?” tanya gue datar namun di telinga dia terdengar sebagai feedback yang bagus. Terlihat dari matanya yang tiba-tiba cerah, secerah orang ketika nemu uang seratus ribuan tergeletak di jalanan sepi.
”Akhirnya ku menemukanmu....” si cangcorang ini mulai ngebacain sms yang isinya adalah lirik lagu Naff, Akhirnya Ku Menemukanmu.
”Gak kreatif amat sih si Fajar.” komen gue datar. ”Masa ngerayu cewek pake lagu orang. Buat lagu sendiri dong, kan lebih ngena tuh.” lanjut gue saat mata sipit sahabat gue tiba-tiba jadi belo karena gak terima Fajar-nya dibilang gak kreatif sama gue.
”Tetap aja, Ta, ini tuh romantis banget. Semaleman gue jadi dengerin tuh lagu berulang-ulang.”
O...o...owwww... Bakal dapat cobaan baru nih gue yaitu rela dengerin tuh lagunya Naff jadi fave song di hapenya si cangcorang ini. Gue nepuk jidat gue. Satu tepukan ajaib yang ngebuat si cangcorang jadi perhatian sama gue dan nanya, ”Lo kenapa, Ta?”
Gue Cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bilang, ”Gak apa-apa kok.” Pasang senyum manis dan ngomong, ”Terus gimana lagi?”. Well, pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut gue, mulut seorang Savita Maharani sehingga ngebuat sahabatnya si cangcorang bernama Tyas Annabella, semakin bersemangat bercerita tentang Fajar yang diberi nama Cahayaku (norak gak sih?! :P) di phone booknya.
Ϋϋϋ
Masih segar di ingatan kepala gue gimana juteknya si cangcorang, Tyas I mean, waktu dua orang cowok dengan mengendarai motor satria berhenti dihadapan kami yang saat itu sedang sibuk merutuki abang-abang angkot yang gak juga datang. Salah satu dari dua cowok itu turun sambil melepaskan helmnya. Awalnya, gue dan Tyas sama sekali gak mempedulikan kehadiran dua cowok itu karena fokus kami hanya tertuju pada abang angkot seorang (ceilaahh!!! Hehehe). Begitu pun setelah helm yang menutupi kepalanya itu terbuka semua, kita berdua masih cuek bebek. Kecuekan kami gak berubah sedikit pun meski saat itu kami berdua telah sadar dan menyadari jika cowok itu adalah Fajar. So what?! Fajar doang gitu loh. Lain ceritanya kalau yang turun dari motor itu adalah Kim Bum atau Robert Pattinson, gak usah nunggu lama pasti kami berdua akan langsung nyerbu mereka. Secara, dua aktor itu adalah aktor kesayangan kami yang ngebuat kami rela gak mandi walau sudah bau keringat hanya untuk melihat akting mereka, juga ngebuat kami ngutuk Kristen Steward habis-habisan saat ia berciuman dengan Rob di film Twilight.
Kami baru memberi sedikit perhatian pada Fajar saat cowok itu ternyata berjalan ke arah kami berdua. Dari matanya, gue bisa nebak kalau yang dia tuju adalah sahabat gue yang punya rambut hitam lebat seperti bintang shampoo, Tyas. Tangan Tyas secara perlahan namun pasti mulai menjalari pinggang gue dan nyubit-nyubit pakai kukunya yang rada panjang. Gue mencicit kesakitan. Itu tanda kalau Tyas mulai merasa terancam jiwa raganya (lebay, heheh).
”Tyas.” panggil Fajar. Gue natap sekeliling gue, kening gue berkerut heran melihat banyak orang yang mendadak nengok semua ketika Fajar memanggil nama Tyas. Apa semua orang di sini namanya Tyas ya? Pikir gue iseng.
Tyas gak jawab, dia Cuma nengok dan menatap Fajar dengan tatapan bingung karena dia merasa gak pernah mengenal makhluk ini. Well, mengenal secara dekat maksudnya. Karena, siapa sih yang gak mengenal Fajar di SMA Harum Mewangi?
Sebagai kapten dari tim basket inti di sekolah, wajar kalau Fajar di kenal. Walau dia gak bisa di bilang ganteng-ganteng amat di banding dengan anggota basket yang lain, tapi dengan kulitnya yang hitam manis tetap saja rasanya akan mubazir jika Fajar dilewatkan. Deretan cewek yang ngebet banget pengin dapat stempel pacar darinya pun gak bisa di bilang sedikit. Buktinya, dengan Fajar memanggil Tyas siang ini, cewek-cewek yang satu sekolahan sama gue dan Tyas yang saat itu juga ada di halte yang sama untuk nunggu angkot jadi bisik-bisik sambil lirik-lirik. Di otak mereka ada satu pertanyaan yang sama walau mereka tidak saling kenal, yaitu: Kenapa Fajar memanggil Tyas?
Jelas kalau mereka heran. Masalahnya, Tyas dan Fajar itu berasal dari strata sosial yang berbeda. Mungkin di sekolah lain pun terjadi perbedaan kasta antar murid, terlepas dari sengaja atau tidak sengajanya, namun hal itu pasti ada.
Kalau Fajar itu terkenal dan punya banyak fans cewek, beda dengan Tyas. Cewek ini memang gak jelek-jelek banget walau juga gak secantik Vannesa, Ressa, serta Iva yang rajin banget nyamperin Fajar ke kelasnya hanya untuk say hi doang. Tyas juga gak semodis Tasya, Alya, Indah yang dandanannya gak jauh beda sama orang yang mau pergi kondangan tiap ke sekolah. Tyas juga gak suka gabung di ekskul dance, cheers, atau seni yang notabene merupakan ekskul fave di sekolah ini. Tyas lebih milih untuk menghabiskan waktunya dengan berada di labolatorium biologi bersama botol-botol beraneka jenis atau ngadepin mayat kodok yang badannya abis di belah-belah dan ngebuat gue gak nafsu makan selama tiga minggu. Tyas suka banget biologi. Gak heran kalau dia masuk IPA sedangkan gue ngacir ke IPS.
”Tyas.” panggil Fajar lagi.
Tyas tengak-tengok dengan muka polosnya sambil nunjuk dirinya untuk memastikan bahwa Fajar gak salah manggil. ”Gue?”
Fajar nyengir lalu ngangguk. ”Iya elo, siapa lagi coba?”
Tyas menaikkan bahunya dengan cuek, ”Mungkin ada Tyas lain yang lo cari.” jawab si ratu cangcorang sambil masih aja lirik sana lirik sini. Gue Cuma diem dengan manis di sebelah Tyas.
Mendadak muka Fajar tegang, kaya orang nahan pipis. Mukanya yang hitam jadi sedikit memerah. Tangannya ngerogoh ke kantung celananya. Dan sekarang di tangan Fajar ada sebuah hape. Dia pandangin hapenya, lalu mandang Tyas yang juga mandangin Fajar dengan bingung. Fajar senyum ke arah Tyas dan ke arah gue. Gue bales seadanya.
”Minta nomor hape kamu dong.” kata Fajar to the point.
Gue nahan tawa. Gak salah tuh? Si Fajar berAKU-KAMUan sama Tyas. Si ratu cangcorang senyam-senyum nahan geli. Well, pikiran dia dan gue sama ternyata.
Fajar gemas natap muka Tyas yang harus gue akui walau dengan berat hati kalau dia imut. ”Boleh ya.” pintanya lagi.
Tyas tersenyum. Dia berjalan mendekat ke arah Fajar. Tepat di hadapan Fajar, Tyas berhenti. Nengok ke belakang, natap gue, tanpa suara dia bilang, ”Ayo.”
Gue ngedeket ke arah Tyas walau gue gak ngerti apa maksud dia dan berhenti tepat di samping Tyas yang masih berdiri tepat di hadapan Fajar. Sambil ngasih senyum yang mencurigakan namun tetap terlihat manis, Tyas berkata, ”Lain kali aja, ya.” Lalu narik gue dan naik ke angkot yang tanpa gue sadari sudah berhenti di halte itu. Sebelum naik, gue bisa lihat muka kesel Fajar yang GAGAL  mendapatkan nomor hape sahabat gue, si ratu cangcorang.
Gue gak paham apa ini yang di namakan ketulusan atau penasaran. Yang jelas, setelah tiga kali Tyas menolak memberikan nomor hapenya pada Fajar, cowok ini lantas gak nyerah juga untuk mendapat nomor hape Tyas. Akhirnya Fajar mengutus sang adik yang kelasnya bersebelahan dengan Tyas untuk meminta nomor hapenya. Walau Tyas curiga, tapi apa daya, dia gak mau di bilang GR mesti hatinya keukeuh bilang kalau itu nomor untuk sang abang. Dengan setengah hati Tyas nyebutin nomor hape miliknya ke Dessy, adiknya Fajar.
Dan, sejak hari itu, perlahan demi perlahan mereka pun menjadi dekat. Fajar terkadang mengunjungi Tyas ke kelasnya atau mengajaknya ke kantin bareng dan membuat gue mendadak jadi ’janda’ tiap jam istirahat. Oke, ada bagusnya juga sih gue di tinggal pacaran sama si ratu cangcorang itu, jadi gue lebih punya banyak waktu di ruang jurnalistik untuk numpang on line. Hehehehe.
Kalau di hitung-hitung sih, sudah enam bulan ini mereka semakin dekat dan dekat. Itu berarti semakin banyak orang pula yang bertanya sama gue, ”Si Tyas sama Fajar pacaran ya?”
Gue Cuma bisa jawab, ”Gak kok belum, tanya Tyas aja ya.” ke setiap orang yang ngajuin pertanyaan-pertanyaan itu. Rasanya, gue harus minta Tyas ngegaji gue sebagai juru bicaranya. Hohohoho.
Gak jarang juga, waktu lagi duduk sendirian di kantin sambil baca majalah, gue dengar obrolan geng-geng centil yang ngejadiin Tyas sebagai Hot Issue mereka. Seperti dua hari yang lalu. Tepat di meja sebelah gue, salah satu geng centil yang menamai diri mereka sebagi Geng-gong lagi serius ngegosipin Fajar-Tyas.
”Beneran gak sih si Fajar itu deketin Tyas?” tanya anggota geng yang adalah kakak kelas gue. Mukanya nunjukin jika ia sangat berharap bahwa Fajar Cuma bohong-bohongan deketin Tyas.
Temennya yang lain, si kakak kelas berambut bonding ikutan komentar, ”Iya tuh si Fajar, seleranya nurun banget. Tyas gitu loh?! Masih cakepan gue juga kali.”
Gue hampir kesedak dengarnya. Rasanya gue mau banget nyeret tuh kakak kelas berambut bonding untuk ke kamar mandi dan nyuruh dia ngaca. Tyas yang gak pernah bedakan masih jauh lebih manis dari dia.
Cewek satunya yang pakai lens contact biru seperti mau nangis, ”Dunia gue akan terasa gelap kalau Tyas beneran jadian sama Fajar.”
Gue baru tahu kalau ternyata Fajar punya sampingan jadi tukang lampu. Ckckckckc.
Satu cewek yang dari tadi cuma asyik ngaduk-ngaduk jus melon sekarang mulai ngelus-ngelus punggung si mata biru. Dengan suara bijak dia bilang, ”Menurut kabar yang gue dengar nih, mereka belum jadian kok. Lagian si Indah, mantannya Fajar juga belum nyerah buat ngedeketin Fajar lagi.”
Tiga orang cewek yang ngedenger hal itu mendadak wajahnya berubah jadi lebih cerah. ”Masa sih? Lo kata siapa?” si mata biru yang tadi hampir nangis kini lebih bersemangat lagi.
”Sumbernya terpercaya gak?” cecar si bonding.
“Iya, bisa di percaya gak sumber lo itu?”cewek yang duduk di sebelah si bonding nambahin.
Si pemberi kabar itu tersenyum, senyum yang ampuh langsung bikin gue mules. “Tenang guys, dia orang terdekat Tyas kok.”
“Siapa?” tanya sobat-sobatnya serempak.
”Gue denger dari Vita.”
Glek! Gue kaget, dia nyebut nama gue. Kok bisa? Pelan, gue ngangkat muka gue yang dari tadi gue sembunyiin di balik majalah favorit gue. Ow,,, muka tuh orang memang gak asing buat gue.
”Kok lo bisa kenal?” tanya si mata biru atau lebih tepatnya, intrograsi bukan bertanya.
”Dia kan junior gue di klub jurnalis. Dia memang gak ngomong langsung sama gue, waktu itu gue gak sengaja dengar dia jawab begitu pas ada anak kelas dua yang nanya sama dia. Baru kemaren kok.”
Ketiga temannya tersenyum sambil ngurut dada tanda mereka lega. Sedangkan otak gue berpikir keras, apa iya gue punya senior di klub jurnalistik yang mukanya kayak dia? Kok gue lupa ya???
Ϋϋϋ
Bel tanda usai belajar berbunyi di saat yang gak tepat. Ya, itu bel berbunyi saat cuaca lagi panas-panasnya. Langkah gue malas-malasan untuk berjalan ke kelas Tyas karena itu berarti gue harus ngelewatin lapangan basket yang artinya gue harus panas-panasan. Gue natap ke arah matahari. Uhg, silau!
Sambil jalan, gue rajin banget ngomel-ngomelin matahari yang bersinar garang banget  hari ini. Saking sibuknya ngomel-ngomelin matahari yang gue tahu persis gak akan bisa mengerti apa yang gue omongin, gue sampai gak sadar kalau sedari tadi ada orang yang manggil-manggil nama gue. Hingga akhirnya kepala gue kebentur sesuatu yang keras walau dengan sangat pelan.
Mata gue melotot galak ke orang yang dengan sengaja sudah ngelemparin bola basket ke arah gue. Manusia rese itu jalan ke arah gue sambil ngedrible bola dan cengengesan.
”Galak amat, non.” kata tuh orang simpel.
Mata gue makin membesar ngeliat makhluk yang kini sudah ada di hadapan gue. ”Sakit tau!” kata gue sengaja menekankan kata SAKIT dan ngelus-ngelus kepala gue berharap semoga gue gak benjol gara-gara orang ini.
”Cewek gue mana?”tanyanya.
Alis gue bertaut, gue natap dia dengan mata jutek gue. ”Sudah enam bulan memang, Jar, lo deket sama sahabat gue, tapi dia bukan cewek elo. Nembak dia pun elo belum pernah.” jawab gue judes.
Fajar tersenyum salting, ”Ah, Vita... kita kan sudah deket tapinya.”
Gue tatap mata Fajar, ”Tapi dia bukan cewek lo.” kata gue tegas.
”Tyas mana sekarang?”
”Baru mau ke kelasnya.”
”Gue tunggu di depan ya.”
Gue ninggalin Fajar saat ia menyelesaikan kalimatnya. Berjalan cepat ke kompleks kelas anak-anak IPA bersarang. Gue gak tahan sama panasnya matahari.
Mata Tyas ngebuka lebar dan berseri-seri waktu gue cerita kalau Fajar nyebut dia dengan kata CEWEK yang di artiin sebagai PACAR oleh Tyas. Si cangcorang ini juga langsung jingkrak-jingkak senang saat gue bilang kalau Fajar nunggu dia di depan, di halte bus tempat Fajar pertama kali nyamperin Tyas  waktu dulu.
”Dia mau nembak gue kali ya? Memastikan kalau gue adalah pacarnya dan dia adalah pacar gue.” kata Tyas senyam-senyum.
Gue cuma mesam-mesem ngedengerin ocehannya si Tyas. Gak di butuhin waktu yang lama bagi kami untuk sampai di tempat yang Fajar maksudkan. Apalagi kalau melihat jalannya Tyas yang gak jauh beda dengan orang yang hendak ngungsi, buru-buru banget.
Wajah Tyas yang cerah terlihat semakin cerah saat matanya menangkap sosok Fajar yang berdiri membelakangi kami. Dia mempercepat laju jalannya. Kami semakin dekat, dan semakin jelas kami lihat jika Fajar tidak sendiri. Anak-anak kelas tiga yang kebanyakan adalah anggota basket berkumpul di sana. Tyas memperlambat laju jalannya. Selama dekat dengan Fajar, Tyas memang jarang sekali bergaul dengan teman-temannya Fajar itu. Raut wajah Tyas yang sebelumnya cerah mendadak berubah mendung. Gue yang heran dengan perubahan drastis itu akhirnya mengikuti arah tatapan Tyas. Di tempat gue dan Tyas berdiri sekarang, jelas terlihat jika di samping Fajar ada seorang cewek yang menggelayut manja di lengan Fajar. Cewek itu tersenyum kepada Fajar, wajahnya begitu bahagia. Fajar juga tak keberatan jika cewek itu mendekap pinggangnya. Tyas diam, ia membeku. Dengan gayanya yang cuek dan santai, Fajar mendaratkan ciuman di dahi cewek itu. Tyas mematung menyaksikan pemandangan tersebut. Wajah Fajar pun sontak berubah pucat saat ia menoleh kebelakang dan mendapati Tyas tengah berdiri menyaksikan ia dan seorang cewek yang bergelayut manja di lengannya. Cewek itu menoleh. Tyas tersentak. Cewek itu adalah Indah. Mantan pacar Fajar. Tangan Tyas gemetar menahan marah sementara cewek itu tersenyum penuh kemenangan di samping Fajar yang kini membeku menatap Tyas yang juga menatapnya dengan penuh kebencian.

2 comments:

catatan seorang JUDHA said...

terus berantem ga si tyas sama indahnya ?

Nuylicious said...

engga, Tyasnya lagi puasa... ihigihiih