Pages

Wednesday, 11 August 2010

MANTAN

*cerita ini udah pernah gue post di blog gue yang satunya, tp karena pembaca banyak yang belum tau jadi gue post lagi disini, cekidot*





Musik ringan yang asyik untuk bergoyang, menyapa gendang telinga Dinda saat ia memasuki aula SMA Duren Jaya yang telah di sulap sedemikian rupa hingga menjadi lebih keren dari biasanya. Mata Dinda menyapu seluruh ruang aula yang begitu semarak, dan pandangannya berhenti pada satu spanduk yang bertuliskan;
“MET JUMPA LAGI KAWAN-KAWANKU!!!!!”
Dinda menghirup nafas panjang. Tiga tahun sudah ia tak mendatangi sekolah ini, dan malam ini ia datang kembali.
“Adinda? Adinda Arindita?” sapa sebuah suara.
Dinda mengamati sosok seorang perempuan yang tengah berdiri anggun di hadapannya. Perempuan sabar yang pendiam yang tercatat sebagai teman sebangkunya di kelas 3.
“Riani? Riani Ayuandira??” Dinda tersenyum pada sahabat lamanya yang semakin anggun dengan kerudung yang ia kenakan. “Cantik deh.” Puji Dinda tulus.
Ririn, panggilan Riani, tersenyum mendengar pujian Dinda.
“Elo juga cantik sekali Din, apalagi pakai dress begini. Sampai pangling tadi.” Balas Riri tulus.
Ririn memang benar, malam ini Dinda terlihat sangat cantik dan anggun. Dengan balutan dress terusan di atas lutut berwarna coklat muda. Di memori Ririn masih tersimpan bayangan tentang Dinda yang tomboy. Dinda yang langsung cemberut jika di suruh memakai bando, Dinda yang hampir menangis karena jari – jarinya lecet saat memakai sepatu pantople, Dinda yang lincah dan Dinda yang menjadi sahabat Ririn tersayang.
“Datang sama abang, Rin?” tanya Dinda sambil celingak – celinguk mencari sosok abang ketemu gedenya alias abang angkatnya, Arian Septian Nugraha yang telah lama tak ia jumpai.
“Dia lagi sama anak – anak lain di depan.” Tunjuk Ririn pada segerombolan cowok di luar. Ririn reflek menahan tangan Dinda saat cewek itu hendak menemui abangnyua yang telah resmi menjadi pacarnya Ririn. “Di sana ada…”
Dinda menunggu Ririn menyelesaikan kalimatnya, tapi gadis itu masih saja menggantungkan kalimatnya. Ririn baru saja hendak bersuara lagi namun, “Hei, adikku!!” Arian merangkul Dinda dan mengecup dahi adik angkat kesayangannya itu.
“Asyik banget ngobrolnya, ngomongin apa sih?” tanya Arian.
“Tadi aku mau nyusul abang ke depan, tapi Ririn nahan aku.” Kata Dinda.
Arian menatap Ririn, “Lho, kenapa Rin?”
Ririn sedikit menunduk, “Hmm,,, tadi aku lihat ada Danu, aku pikir Dinda masih…”
“Ahahaaha… Ririn santai saja lah!! Sudah 3 tahun yang lalu ah!”
Arian mengacak – acak rambut Dinda dan menatap Ririn, “Nggak ada Danu, mungkin yang kamu lihat tadi adalah Danang.”
“Danang? Memang sih, aku lihat dia dari belakang. Tapi kok mirip Danu sih?” Ririn heran.
“Danang kan style berpakaiannya mirip Danu di tambah postur mereka nggak jauh beda.” Arian menjelaskan.
Dinda menarik nafas, “Aku nggak pernah lihat Danu lagi, lho.” Kepala Dinda menggeleng perlahan, “Sama sekali enggak, walau sekali.”

                                                     

Angin yang berhembus pelan, memainkan rambut ikal sebahu Dinda. Di taman itu, Dinda hanya duduk sendiri. Kosong, perasaan Dinda saat ini. Mata bintang kejoranya pun perlahan meneteskan air mata yang mengalir di antara pipi tembamnya. Sekuat tenaga Dinda menggigit bibirnya yang penuh untuk menahan laju air matanya agar tak terlampau deras.
Namun, usahanya gagal. Pertahanan khas karang di tengah lautan yang telah di miliki Dinda sejak dulu, untuk hari ini roboh sudah. Di dalam rangkulan yang perlahan menjadi pelukan itulah semua kesedihan Dinda keluarkan. Semua tumpah dalam pelukan hangat sang abang yang sangat memahami perasaannya.
Sebelumnya, tidak ada tanda – tanda atau firasat yang aneh. Semua berjalan seperti biasa. Tepatnya, baik – baik saja. Gejala yang menunjukkan jika semua telah menjadi tidak baik – baik saja di mulai saat Ayunda bilang bahwa Danu tak ada ketika Dinda datang ke kelasnya.
“Kemana?” tanya Dinda bingung.
Ayunda menggelengkan kepalanya, “Lho, elo kan pacarnya, Nda, masa nggak tahu sih?”
Telak. Dinda hanya diam, “Gue ke sini justru karena dari semalem nggak ada kabar dari Danu.”
Kerutan di kening Ayunda semakin membuat Dinda bingung. “Danu sudah pindah sekolah, Din.” Katanya selambat mungkin, namun tetap saja menghantam hatinya, perih.
“Pindah? Kemana?” suara Dinda tercekat.
“Gue dapat informasi dari Pak Margana…”
Belum sempat Ayunda menyelesaikan kalimatnya, Dinda terlebih dahulu melesat menuju ruang guru. Matanya mencari – cari sosok Pak Margana.
“Bapak!” panggil Dinda.
Pak Margana yang sedang berjalan langsung menghentikan langkahnya saat matanya menangkap sosok Dinda yang berlari ke arahnya. Ia menunggu sosok Dinda hingga sampai tepat di hadapannya.
“Katanya Danu pindah, pak. Benar nggak?” tembak Dinda.
Guru berkumis tebal yang banyak di segani murid – muridnya itu terdiam sebentar. Dinda menunggu jawaban yang akan di berikan oleh Pak Margana. Sungguh, Dinda sangat berharap jika jawaban yang akan ia dengar adalah, “Tidak”.
Pak Margana menghela nafas, sejenak ia menatap mata bintang kejora milik Dinda, “Benar, Din.” Jawabnya singkat.
Dinda membeku di tempatnya berdiri, “Tapi, dia nggak pamit sama aku, Pak.” Katanya lirih.
“Nanti dia akan memberimu kabar, Din.”
Kemudian, Pak Margana berlalu dari hadapan Dinda yang masih membeku.

                                 

Gantungan kunci berwarna orange itu Dinda genggam erat. Pemberian Danu yang paling ia suka. Masih Dinda ingat, bagaimana kemarin malam Danu ke rumahnya. Tak ada tanda Danu ucapkan perpisahan, bahkan Danu bilang ingin menjemputnya untuk pergi bersama ke sekolah esok pagi.
Dinda pun menunggu Danu begitu lama, hingga membuatnya hampir telat datang ke sekolah. Tak ada telepon maupun sms dari Danu. Bahkan teleponnya pun tak juga di jawab oleh Danu. Tak ingin terlambat tiba di sekolah, Dinda pun memutuskan untuk berangkat ke sekolah sendiri dan langsung menuju ke kelas Danu.
Hari berganti hari, minggu pun berganti bulan. Tak ada satu pun kabar dari Danu yang datang padanya. Bahkan Ayunda, Danang dan Aldo pun tak pernah lagi menghampirinya. Dinda tahu jika mereka sengaja untuk menghindar darinya. Padahal ketika Dinda dan Danu masih berpacaran, setiap kali bertemu Ayunda, Danang dan Aldo tak pernah bosan berkata, “Nda, ada salam dari Danu.”
Setelah tiga bulan tak ada kabar, suatu hari Dinda mendapat sms dari Danu.
“Maafin aku yang nggak sempat pamit ke kamu, aku nggak sanggup untuk say “Good bye” ke kamu. Ingat ya nda, sampai kapan pun aku selalu sayang kamu.
Danu”

Itu sms pertama sejak Danu menghilang dan ternyata juga kabar terakhir dari Danu. Karena setelah itu, berkali – kali Dinda mencoba untuk menghubungi nomor itu hanya jawaban monoton dari operator yang ia dapat. Dinda pun putus asa dan merasa lelah. Tangis yang sekuat tenaga ia tahan pun akhirnya meledak. Sebuah tangis yang tak pernah di lihat Danu selama satu tahun mereka berpacaran, sesuatu yang membuat Danu penasaran dan ingin melihatnya.
“Lihat Dan, lihat! Aku menangis sekarang!!” jerit Dinda perlahan.
                                 
Tiga tahun berlalu sudah, namun tidak dengan seluruh kenangan tentang Danu bagi Dinda. Arian dan Ririn pun tahu jika di balik keceriaan Dinda, ada badai yang bergejolak di dalam dirinya. Ya, sampai saat ini Dinda masih belum bisa untuk melupakan Danu, sedetik pun. Hati Dinda memang lelah, ingin sekali ia bisa menghapus memori tentang Danu. Namun, cinta pertamanya itu tak pernah bisa hilang dari ingatannya.
Sebenarnya, alasan utama Dinda untuk datang ke reuni ini selain untuk bertemu Arian dan Ririn adalah untuk bertemu Danu. Sejujurnya, Dinda enggan bertemu Danu. Dinda sangat tahu jika tak ada sedikit pun perasaannya yang berubah pada Danu. Tapi, Dinda khawatir jika pertemuannya dengan Danu nanti justru akan semakin membuatnya sulit melupakan Danu. Namun, selama ada Arian dan Ririn, Dinda tidak terlalu khawatir.
Hingga malam semakin larut dan jam menunjukkan pukul 12 malam, Danu tak juga terlihat. Hanya Ayunda dan Danang saja yang sempat ia lihat. Kecewa, Dinda pun melangkahkan kakinya menuju danau buatan di belakang sekolahnya. Tentu, setelah ia pamit pada Arian dan Ririn yang akhirnya memutuskan untuk pulang duluan.
Danau itu masih sama dengan saat terakhir Dinda datang ke tempat itu. Danau yang menjadi tempat pelariannya jika ia rindu pada Danu saat masih sekolah dulu. Karena, danau itu merupakan tempat favorit Danu dan Dinda untuk menghabiskan waktu berdua.
Angin berhembus menyapa kulit wajahnya. Dingin, namun di tempat ini Dinda merasa begitu tenang.
“Kuat bangetNda, dingin – dingin begini duduk di dekat danau.”
Dinda tersentak kaget, ia tolehkan kepalanya demi melihat orang yang mengusik kegiatan bengongnya.
“Danang…” katanya pelan. “Sekarang sudah nggak kabur lagi kalau lihat gue?” tanya Dinda sinis mengingat bagaimana dulu Danang, Ayunda dan Aldo menghindarinya.
“Maafin gue dan teman – teman gue ya, Nda. Enggak ada maksud untuk menghindar dari elo. Kami Cuma bingung harus jawab apa kalau elo nanya tentang…” Danang melirik Dinda yang lurus terpaku memandangi danau yang beriak – riak kecil. “Danu.” Lanjutnya pelan.
Senyum terbentuk dari bibir penuh Dinda yang cukup sensual. “Danu, Danu, Danu.” Ujarnya.
Sensasi aneh menjalari hati Dinda saat menyebut nama itu. Rindu sekali Dinda pada Danu. “Tiga tahun sudah berlalu, Nang. Tapi kenangan tentang Danu nggak pernah hilang dari ingatan gue. Gue kangen Danu, Nang. Seperti apa ya dia sekarang?”
Danang menatap wajah cantik Dinda, cowok itu tersenyum kelu. “ELo mau ketemu Danu, Nda?” tawarnya.
Dinda menoleh cepat, “Elo masih sering ketemu Danu?” tanyanya. Jelas sekali ada nada riang dan terkejut di suara Dinda.
Ragu, Danang hanya mengangguk pelan. Senyum sedih terkembang di bibir Danang. Sayang, Dinda sama sekali tak menyadarinya.
“Danu yang sekarang seperti apa, Nang? Sibuk apa dia sekarang?”
“Kalau elo mau, gue bisa antar elo ketemu Danu.” Tawar Danang tanpa menggubris pertanyaan Dinda.
Dinda diam mendengar ajakan Danang. Ia ingin sekali bertemu Danu walau hanya sekali, bahkan dari jauh sekali pun. Namun, Dinda takut… Dinda ragu…
“Apa Danu masih mau ketemu gue? Pindah saja nggak kasih kabar, menghilang begitu saja. Kalau nanti dia marah waktu ngelihat gue dan ngusir gue gimana?”
“Percaya deh sama gue, Danu nggak akan begitu. Dia kangen elo, Nda.”
“Kalau dia kangen gue, kenapa dia nggak hubungin gue? Danu tahu rumah gue, nomor Hp gue juga nggak ganti…”
“Dia nggak bisa, Nda.” Potong Danang cepat. “Maaf, dia nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Besok gue jemput elo jam 9 pagi. Elo akan dapat semua jawaban atas pertanyaan elo itu. Oke? Gue pamit sekarang.”
Danang lalu berdiri, di tatapnya air danau yang tenang lalu pandangannya menerawang ke langit malam yang kelam.
“Besok gue datang, Dan. Maaf, kali ini gue bawa Dinda untuk ketemu elo, boleh ya? Dia kangen elo dan gue yakin elo juga kangen banget sama dia. iya kan?”
Ujar Danang dalam hati, lalu pergi meninggalkan Dinda yang menatapnya tak mengerti.
                                                                   
Dinda baru mengetahui jika Danang merupakan tipe cowok on time. Saat Dinda baru saja selesai mandi, Danang sudah sampai di rumahnya. Seperti yang dia katakan kemarin, jam 9 pagi. Sangat tepat waktu, seperti Danu. Ah,,, Danu!!! Jantung Dinda kembali berdegup saat menyebut nama itu.
“Aku akan ketemu Danu lagi, uh… seperti apa ya Danu sekarang?” pikir Dinda.
Danang sedang asyik dengan HPnya saat Dinda mendekat. Cowok itu tersenyum, manis.
“Maaf, Nang, kelamaan ya? Gue bangun kesiangan tadi.” Sapa Dinda. “Tehnya di minum dong, nanti keburu dingin.” Lanjut Dinda.
Danang mengangguk, “Ayunda mau ikut, barusan dia sms gue.” Kata Danang.
“Aldo juga?”
“Aldo enggak, dia lagi di Aussie sekarang. Betah dia di sana.”Jawab Danang.
Setelah pamit ke Ayah dan Bunda, mereka pun berangkat. Tak lupa, mereka menjemput Ayunda terlebih dulu di rumahnya.
“Hai, Nda!!!” sapa Ayunda riang.
“Hai.” Balas Dinda.
Mobil Danang mulai memasuki daerah bogor, Danang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Danang.” Panggil Dinda.
“Ya?” jawab Danang tanpa menoleh. Jalanan yang begitu padat membuatnya harus ekstra berkonsentrasi.
“Danu tahu kita mau datang?mmm,,, Danu pasti nggak akan kaget kalau kalian yang datang, tapi kalau gue yang datang gimana?”
“Dia kangen lo, Nda. Dia pasti senang elo datang.” Jawab Ayunda cepat.
“Elo yakin banget, yu…” kata Dinda lirih.
“Gue bisa ngerasainnya…” jawab Ayunda.
                                                                   
dinda diam, ia terpaku dan membeku. Di pandangnya Danang dan Ayunda bergantian.
“Kenapa ke sini?” tanyanya lirih.
Danang hanya memandang lurus ke depan, sedangkan Ayunda membuang pandangannya kea rah jendela. Satu dari mereka tidak ada yang mampu memandang tatapan Dinda yang terlihat begitu kaget dan sedih.
“Kita turun, Nda.” Ayunda membuka pintu mobil dan hanya diam saat Danang dan Dinda melakukan hal yang sama.
Raut bingung terpancar jelas di wajah Dinda. Danang dengan jelas bisa melihatnya, namun dia memilih diam. Hening, hanya diam yang melewati perjalanan mereka.
Mata Dinda nanar menatap gundukan tanah di hadapannya. Air matanya mulai terkumpul di sudut – sudut matanya.
“Apa maksud ini semua?” tanya Dinda dengan suata tercekat. Perlahan mata kejora itu mulai menitikkan air mata. “Elo semua tahu tentang ini semua sudah lama?!! Kenapa kalian nggak pernah bilang?!!!!”
Danang memeluk Adinda dan membiarkannya melepaskan semua kesedihan yang kian memuncak setelah tiga tahun lamanya Dinda pendam sendirian.
“Maaf, Nda, ini semua Danu yang minta…”
“Tapi…”
“Danu nggak mau lihat elo nangis, Nda. Dia rela elo benci sama dia, daripada elo nangis begini.” Potong Ayunda. “Waktu pulang dari rumah elo, Danu kecelakaan parah banget. Lukanya sulit buat nutup karena Danu mengidap leukemia. Mamanya Danu pengen ngasih kabar  ke elo, tapi Danu ngelarang. Dia nggak mau elo lihat dia dengan keadaan yang kaya gitu.” Ayunda kemudian menyodorkan sesuatu pada Dinda.
“APa ini?” tanya Dinda bingung.
“Dari Danu sebelum dia meninggal, gue nggak pernah buka.”
Perlahan – lahan, Dinda membukanya. Di dalam kotak berbentuk hati itu, Dinda menemukan sebuah kalung berbandul bintang yang Dinda ingat sebagai kalung kesayangannya yang selalu di bawa Danu jika ia bertanding karate. Kalung keberuntungan, kata Danu kala itu.
“Maafin aku yang nggak bisa jagain kamu lagi…
Sayang kamu…
Danu”
Dan Dinda pun menangis lagi sambil memeluk batu nisan yang bertuliskan nama 

Danu…

2 comments:

catatan seorang JUDHA said...

kok ada nama guru gw ya ? haha
sedih baca cerita ini :(
real story kah ?

Nuylicious said...

bukann......khayalan gue..moga2 aja ga pernah jadi kenyataan..
:D