Pages

Friday, 6 August 2010

SEPATU


Bukan, ini bukan cerita tentang cinderella yang kehilangan sepatu kacanya atau juga tentang pangeran yang mencari putri dengan keliling membawa sepatu. Ini hanyalah kisah tentang remaja SMA bernama Tatia yang pagi ini sedang menatap kalendernya sambil memanyunkan bibirnya. "Huuuu,,, hari senin." keluhnya. Matanya yang bulat melirik rak sepatu yang tepat ada di sampingnya, kemudian ia tatap sepatu-sepatu yang terjajar rapi di sana. Jarinya yang lentik menggaruk rambut hitamnya yang tak gatal ataupun berkutu. Setelah ber'tang-ting-tung' ia dengan setengah yakin mengambil sepatu ketsnya yang berwarna hitam dengan motif polkadot warna-warni. Tatia menahan nafas saat menenteng sepatu ini keluar rumah. Tentunya bukan karena sepatu ini bau, Tatia hanya berdoa semoga ia selamat selama memakai sepatu ini ke sekolah. Tenang, sepatu itu bukanlah sepatu yang membawa sial bagi pemakainya hanya saja sepatu itu memiliki potensi membuat sial pemakainya dalam keadaan tertentu. Dan Tatia berdoa semoga kesialan itu tidak datang padanya di hari ini. Setelah berpamitan dengan maminya, Tatia pun berjalan menuju ke markas tempat sahabat-sahabatnya berkumpul untuk berangkat sekolah bersama. Adalah Vina yang pertama menyadari benda berbahaya yang di pakai Tatia saat cewek itu datang. Dengan mata yang masih menatap ke kedua kaki Tatia, Vina berkata, "Elo tau hari ini hari apa?" Tatia yang masih ngos-ngosan menatap heran Vina yang bicara sambil menunduk. DI ikutinya arah pandangan Vina, Tatia langsung salah tingkah. "Iya, hari ini hari senin." jawab Tatia simple. "Dan elo pake sepatu kayak gitu?" Nila memandang Tatia jutek. Tatia hanya bisa tersenyum-senyum bingung sambil menganggukkan kepalanya. "Gue nggak ada sepatu lagi."jawabnya pelan. "Semoga elo 'selamat'." tutup Vina yang langsung menyetop bus menuju ke sekolah mereka. Di sepanjang jalan, Tatia mencari-cari murid sekolahnya yang memakai sepatu 'berbahaya' seperti dirinya. Satu, dua, tiga... total ada empat orang yang ia dapatkan juga memakai sepatu 'berbahaya'. Tatia sedikit bernafas lega. Di sekolahnya yaitu SMA Pasti Jaya mengeluarkan sebuah peraturan yang menurut murid-murid sekolah itu aneh dan meyebalkan. Ya, mereka di larang memakai sepatu berwarna-warna, hanya warna hitam, HITAM. Banyak dari murid-murid itu yang kesal dan salah satunya Tatia serta Vina dan Nila. Wah, gimana nggak kesal. Saat peraturan itu di umumkan, mereka bertiga baru saja membeli sepatu seharga Rp. 300.00 atau TIGA RATUS RIBU RUPIAH. Itu murni uang mereka yang dapatkan dari hasil penjualan pulsa elektrik yang iseng-iseng mereka lakoni untuk menambah uang jajan mereka. Dan mereka kesal sekali saat tahu jika sepatu mereka yang keren dan mahal itu tidak bisa mereka pakai. Parahnya lagi, mereka bertiga tidak punya sepatu yang benar-benar berwarna hitam. Itu artinya, mereka harus beli lagi. Huh, menyebalkan kan?!Apalagi guru-guru di sekolah mereka mendadak peduli dengan warna sepatu yang mereka pakai dengan rajin-rajin menatap kaki mereka dari langkah pertama yang mereka pijakkan di gerbang sekolah dan bila warna sepatu yang di pakai bukan hitam, guru-guru 'baik' itu akan mengambil sepatu dan menyimpannya hingga kegiatan sekolah berakhir. Tak heran jika sudah tiga minggu ini di SMA Pasti Jaya mendadak banyak murid yang datang kesekolah dengan 'nyeker' alias tanpa sepatu. Biasanya razia seperti itu akan getol di lakukan di hari senin, ya SENIN. Makanya dari tadi Tatia tak pernah berhenti berdoa agar guru-gurunya yang 'baik' itu terkena amnesia akut sehingga tidak melakukan razia. Upacara akan segera di mulai. Belum apa-apa, hati Tatia sudah berdegup kencang. Anis, sahabatnya, yang tahu jika Tatia gelisah menyuruhnya baris di belakangnya sehingga badan Tatia yang kecil bisa tersembunyi di baliknya. Setengah jam berlalu dan upacara sudah selesai. Tatia bersorak, "Horreee" tapi hanya di dalam hati. Namun, baru saja hendak balik badan menuju kelas, wujud Pak Marsana yang besar tiba-tiba menaiki podium dan berkata, "Untuk anak-anak mohon sabar dulu jangan kembali ke kelas sekarang dan buat bapak serta ibu guru saya persilahkan untuk mengecek kerapihan anak didik kita." DEG!!! keringat dingin secara otomatis menjalari tubuhnya, mulutnya semakin kencang berkomat-kamit membaca doa. Lalu tubuhnya seketika mengejang saat sebuah tangan menyentuh bahunya. "Sepatu kamu kok warnanya begitu?" tanya suara milik Pak Syakir, gueu bahasa indonesianya. "Kan ini hitam, pak." jawab Tatia dengan suara memelas. "Tetap saja ada warna-warninya. Ya udah, ikut bapak yuk." "Kemana pak?" "Ke depan." Dengan wajah bingung dan hampir malu Tatia mengikuti langkah Pak Syakir yang berhenti berjalan ia tepat berada di bawah tiang bendera. Pak Syakir memutar hingga beliau berhadap-hadapan dengan Tatia. "Berdiri di sini." katanya singkat lalu pergi. Susah payah Tatia menelan ludah lalu membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah peserta upacara lainnya. Tatia bisa melihat di sebelahnya berdiri seorang cowok yang merupakan kakak kelasnya. Empat orang lainnya yang juga sedang 'di giring' ke depan lapangan upacara juga makhluk-makhluk berjenis kelamin cowok. Oh my,,, Tatia menyadari jika ia satu-satunya perempuan yang 'terjaring' razia hari ini dan berakhir di bawah tiang bendera seperti ini. "SIAL!!!" jeritnya dalam hati. Tatia semakin menundukkan kepalanya saat di sudut kanan lapangan sudah berkumpul dengan lengkap juara-juara taekwondo dari sekolahnya. "Oh ya, bagus sekali!"rutuk Tatia hanya dalam hati. Di kepalanya ia membayangkan jika kepala sekolahnya berkata, "Anak-anak hari ini kita mendapat contoh nyata dari anak-anak yang brandalan dan tidak disiplin yang ada di sebelah kiri saya juga kita mendapat contoh anak-anak berprestasi serta memiliki masa depan cerah seperti yang kita liat bersama ada di sebelah kanan saya." Tatia tersenyum miris membayangkan hal itu. Belum reda rasa syok Tatia bahkan belum reda juga nafas Tatia yang masih ngos-ngosan, di hadapannya tiba-tiba sudah berdiri Pak Rudi, satpam sekolah yang berbadan besar serta gendut. "Copot neng sepatunya." katanya cepat. "Hah?" "Copotin sepatu kamu cepat." ulang Pak Rudi tak sabar. "Mau di apain??" "Udah copot aja buruan." Dengan hatinya yang ngga rela, Tatia mencopot sepatunya dan menyerahkannya kepada Pak Rudi. Setelah di izinkan, Tatia berjalan kembali ke kelasnya dengan 'nyeker'. Ia tertunduk lesu. Sampai di kelas ia di berondong oleh teman-temannya yang khawatir. Tatia hanya bisa menggeleng pasrah dan menjawab, "Ngga tauu..." kepada setiap temannya yang bertanya, "Sepatu lo gimana, Ta?" Bersama Nila dan Vina, Tatia mendatangi pos satpam untuk mencari Pak Rudi dan menanyakan keadaan sepatunya. Mereka bertiga mendapati Pak Rudi yang jongkok di dekat ruangannya. "Pak Rudi." panggil Tatia. "Hmmm..." jawab Pak Rudi tanpa menoleh sedikit pun. "Saya boleh lihat sepatu saya nggak pak?" "Tuh di samping, lihat aja." jawab Pak Rudi sambil menunjukkan tempat yang ia maksud dengan dagunya. Dengan wajah yang terheran-heran Tatia serta Nila dan Vina berjalan ke tempat yang di maksud Pak Rudi. Seketika, wajah Tatia memucat ketika ia menemukan sepatunya serta melihat keadaan sepatunya yang ternyata DI CAT HITAM dengan menggunakan cat tembok!!! Oh my.... Lemas, Tatia memangdangi sepatu mahalnya itu dan sambil berjongkok, Pak Rudi tersenyum senang melihat 'korbannya' bersedih.

2 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

hehehe..kasihan dhe lu Tatia

Nuylicious said...

hehee..emank bandel tuh tatia..kritiknya dong,,
:)