Pages

Wednesday, 11 August 2010

THE TEACU


Noya langsung bangun dari posisinya yang semula tiduran menjadi duduk tegak-tegak.
” Lo bilang apa barusan?!” teriak Noya.
” Dio sama bang Dodo berantem, si Alil juga...”
“ Kok bisa gitu jadinya??!!! Kan gue udah bilang, hari ini gue gak bisa dateng soalnya gue ada ujian di tempat les gue jadi gue minta lo buat ngurusin sementara gue gak ada!!!!” cerocos Noya.
“ Noya,, gue tau. Bang Haris juga sampe kaget banget. Gak ngerti deh gue gimana ceritanya.”
“ Terus keadaannya Dio sama Alil gimana?”
“ Dio sama Alil baik-baik aja kok, tapi Dio katanya mau keluar.”
” Alil?”
” Dia juga....”
” Anjrit!”
☻                    ♫                     ♪

Noya melangkah gontai mendekati anggota Teater yang lain. Noya memandangi mereka satu per satu.
” Gue udah nyoba,,,tapi Dio tetep gak mau gabung sama kita lagi. Alil juga.” kata Noya memecah keheningan di antara mereka.
” Waktu tampil kita tinggal dua minggu lagi, Noy. Gak mungkin kita ngeaudisi lagi untuk ngegantiin posisinya Dio sama Alil.” Terry buka suara.
” Apa kita batal tampil?” Ann mulai pesimis.
Noya mengusap wajahnya. Ia begitu lelah dengan kejadian ini. ” Bego, gak malu apa lo sama semua orang? Satu sekolahan juga udah tau kita bakal mau tampil. Mereka tiap ketemu gue bahkan nanya kapan kita latihan, mereka penasaran sama apa yang bakal kita tampilin. Mau lo di ketawain sama mereka?” kata Noya sambil menatap Ann tajam.
” Terus gimana lagi, Noy?” desak Dira.
” Gak ngerti gue juga.”
Noya lalu bangkit dari duduknya dan dengan langkah gontai cewek itu melangkah menuju kelasnya. Teman-temannya menatap punggung Noya yang mulai menjauh.
” Gak mungkin kita batal tampil.” Kata Tian mencoba optimis. Walau dalam hatinya ia ragu,,,

`                       ~                      `

Dari kelasnya di XI-IS 3 dengan mudah Noya memandang ruang yang tepat berada di sebrangnya. Ruang kelas yang dulu kosong, ruang kelas yang hampir 3 bulan ini menjadi tempat yang sering di datanginya. Tidak, bukan hanya dia yang sering datang ke tempat itu. Ann, Teryy, Dira, Tian, Ditho, Andre, Fajar, Edo, Dio, Alil dan teman-temannya yang lain pun sering mendatangi tempat itu. Ruang teater mereka,,,
Noya masih ingat, saat-saat bagaimana sulitnya menggabungkan mereka semua, juga Wajah lelah bang Haris saat mereka sulit di atur,  dan tarian-tarian gokil yang mereka tambahkan di adegan mereka.
” Apa semuanya bakal jadi kenangan?” batin Noya.

♫         ☻        ♫

Noya sedang makan di kantin bersama Tian, Ann, Terry, Dira, Ditho dan Andre saat Bu Valen datang dan menawarkan kepada mereka untuk tampil di acara reunian angkatan tahun 2000 yang akan di gelar di sekolah mereka. Sinopsis skenario yang di berikan oleh Bu Valen di kembangkan oleh Noya, setelah itu mereka berenam sibuk mengajak teman-teman mereka untuk bergabung. Tidak hanya anak kelas XI saja yang berhasil mereka pengaruhi hingga bergabung dengan mereka, tapi juga anak kelas X yang memang ingin sekali tampil di acara itu. Namun, mereka terancam batal karena kejadian kemaren siang yang tidak pernah sekali pun terlintas di benak Noya.
Siang saat kejadian itu, Noya menghubungi bang Haris karena ia tidak bisa ikut latihan. Bukannya malas, tapi Noya akan pergi ke tempat lesnya yang sedang mengadakan ujian. Noya pergi bersama Citra yang satu tempat les dengannya. Wajah sumringah Noya yang berhasil melewati ujian dengan sempurna mendadak tegang, saat ia menerima kabar yang di sampaikan oleh Terry melalui telepon.
” Noy, lo dimana?”
” Di rumah.” Jawab Noya
“ Udahan ujiannya?”
“ Iya. Kenapa?”
“ Noy,,, kayanya...”
“ Kayanya????”
“ Kayanya....kita batal tampil deh...”
Bagai tertimpa batu kali, Noya syok mendengarnya. ” Elo mau keluar, Ter?!”
Terdengar di sebrang sana Terry menghela nafas panjang. ” Bukan Noy... Gua gak mau keluar dari teater kita.. Enggak..”
” Terus maksud lo tadi apa?”
” Itu,,, Dio dan Alil berantem sama Bang Dodo.”
“ Berantem,,, Berantem gimana?”
“ Ya berantem Noya.... bang Dodo hampir nonjok Dio dan Alil.”
“ Hah?!!!!”
“ Iya, Noy....”
“ Kok bisa gitu, Ter?!!!”
Penjelasan Terry yang panjang juga lebar sama sekali tidak  bisa di terima Noya. Otak Noya tidak sanggup menerima apa yang terjadi saat itu. Hancur sudah semuanya.....

♥                      ♥                      ♥

Noya berpikir mungkin ia bisa membujuk Dio untuk kembali bergabung bersama mereka. Jika Dio mau untuk bergabung lagi, pasti Alil pun mudah untuk di bujuk. Maka, saat istirahat datang Noya langsung melesat menuju kelas Dio di XI-IA 2. Dio tersenyum melihat Noya.
” Maaf  Noy, gue udah gak bisa.”
”....”
” Lo gak ngerti gimana sakit hatinya gue waktu itu.”
” Gue memang gak ngerti, karena gue gak tau kejadiannya gimana. Tapi, apa lo tega sama yang lain?”
” Kan posisi gue bisa di ganti, Noy.”
” Siapa yang mau ngeganti? 2 minggu lagi kita tampil. Gak akan sempet untuk cari orang baru buat ngegantiin lo sama Alil. Enggak!”
” Apa perlu gue yang cariin?” tawar Dio yang kontan saja membuat Noya emosi.
” Elo ngerti gak sih, kalo tokoh lo itu udah nempel sama lo. Di gantiin sama pemeran lain, jadinya BEDA lagi!” katanya dengan nada tinggi.
Noya pun pergi meninggal Dio. “ Anjritttttt!!!!!!!!!!!” umpat Noya.

☻                                ☻                                ☻

Fajar telah lama berdiri di hadapan Noya. Namun, cewek itu sama sekali gak menyadarinya. Terry yang menemaninya pun bingung dengan Noya, cewek yang biasanya bawel ini mendadak diam.
“ Napa, Jar?” tanya Terry.
“ Udah liat mading?” kata Fajar.
” Ada apa di mading?”
” Udah lo liat aja. Sekalian ajak Noya...” Fajar pun berlalu dari hadapan mereka.
Terry menarik lengan Noya. Kontan saja, cewek itu kaget.
” Apa sih?!” tanyanya sewot.
” Kita ke mading dulu ada yang mau gue liat dan gue yakin lo juga mau liat.” Noya masih memandang Teryy dengan tatapan bingung, tapi cewek itu tetap mengikuti langkah sahabatnya yang sering di sangka kembarannya.
Komik itu menceritakan tentang kejadian di hari selasa lalu.
” THE FUCKING THINGS OF DODO”
Judul komik itu. Di sudut kanan bawah komik itu, tertera nama Dio-Alil.
“ Curhat mereka,,,” gumam Terry.
“ Orang gila.” desis Noya.

♪                                  ♪                                  ♪

Noya gak berharap banyak terhadap anggota teaternya. Namun, Ia tetap menyuarakan pengumuman untuk berkumpul bagi anggota teater siang ini di ruang teater mereka. Bang Haris meremas pundaknya lembut.
” Percaya, Noy mereka pasti datang.” ucapnya lirih.” Kalau enggak pun, kita udah nyoba semaximal mungkin.”
Noya tak menjawab. Bersama bang Haris, Noya memaksakan kakinya untuk melangkah menuju ruang teater.
Ruangan itu masih kosong. Belum ada satu pun anggota teater selain dirinya dan bang Haris yang datang. Noya menatap Bang Haris khawatir. Bang Haris tersenyum.
” Kita tunggu mereka aja dulu.”
Bagi Noya, waktu terasa melaju amat lambat.
” Mereka gak dateng kali bang,,,” kata Noya sambil melongok keluar melalui jendela.
” Dateng.” jawab Bang Haris datar.
Tak lama suara cempreng mmlik Ulan, Terry, Ann, Dira Ayu, Nisa, Citra dan Ceuceu memecah kesunyian di ruang teater itu.
” Woooooooooooooooyyyyyyyy........” koor mereka.
Noya dan Bang Haris menengok. Senyum mengembang di bibir mereka berdua.
” Gue bilang juga apa, datengkan?” kata bang Haris sambil memainkan alisnya.
” Iya.” kata Noya sambil tertawa.
” Dateng juga lo pada.” Sambut Bang Haris.
“ Kita kan cinta Teacu, Bang...” jawab Ulan asal.
Noya senyam-senyum mendengar jawaban cewek itu. Hatinya masih deg-degan gak karuan menunggu kedatangan anggota Teacu yang lain. Dari balik pintu, dengan gaya gokilnya Sammy, Tian, Ditho, Andre, Ezha, Udeng dan komplotan mereka yang lain datang.
” Kaya jalangkung lo pada!” Ledek bang Haris.
” Kita mah kan di undang, bang.” sahut Tian.
Noya mendekati mereka. ” Udah?”
” Udah apanya?” tanya Fajar bingung.
” Udah lengkap yang dateng?”
Mereka semua mengarti maksud Noya. Tidak ada yang menjawab. Noya pun menatap Bang Haris.
” Di mulai, Bang.” katanya.
Bang Haris baru akan membuka mulutnya untuk berbicara, tapi...
” Kok gak nungguin kita sih?”
Semua anggota teater lalu menatap ke arah pintu.
” Dio,,,Alil....” desis Noya.
” DIO!!!! ALIL!!!!!!!!” koor semua anggota Teacu.
“ Masih bisa gabung lagi kan?” tanya Alil.
” Posisi kita belom di ganti, kan?” Tanya Dio bergantian melihat ke arah Noya  dan Bang Haris.
Noya gak peduli tentang apa yang membuat Dio dan Alil kembali ke markas Teacu ini, yang Noya tau hari itu perasaannya bahagia sekali. Dan tentunya begitu pula yang di rasa oleh bang Haris, sang sutradara dan anggota Teacu lainnya.
” Kita tetep jadi tampil boooo......” celetuk Fajar dengan gaya lenjeh ala bences yang abis bonding bulu ketek.
Dan, hari itu mereka sibuk mempersiapkan penampilan mereka yang tinggal seminggu lagi. Panasnya siang yang cukup menyengat, tidak mempengaruhi mereka. Karena mereka ingin menampilkan yang terbaik dari Teacu untuk sekolah mereka tercinta.

~ Dedicated for all members of Teacu SMAN 1 Curug Tangerang, keep in your spirit guys...

No comments: