Pages

Saturday, 14 August 2010

TERABASLAH!


“Aku mau sekolah, Bun.”
Baik aku maupun Bunda sama-sama menghentikan kegiatan makan kami demi menatap seseorang yang telah mengucapkan kata-kata itu. Orang itu duduk persis di sebrangku. Wajah tirusnya yang sedikit angkuh terlihat begitu serius.
Bunda memaksakan senyumnya. “Kamu kan sudah bersekolah, nak.” Katanya.
Dia menghela nafas, ditatapnya Bunda, “Bunda paham benar apa maksudku.” Erangnya.
Tangan Bunda mengepal keras. Jari-jarinya mampu membengkokkan sendok stainless steel yang ia genggam. Setengah mengeram ia berkata, “Tidak untuk sekolah normal. Kamu tetap sekolah, home schooling.” Bunda menarik nafas sejenak. “Itu cukup untuk kamu.”
“Cukup menurut Bunda tapi tidak untuk aku.” Balasnya tajam.
Bunda hendak berkata lagi, namun segera ku dahului, “Tora, benar kata Bunda, sudah cukup bagi kamu untuk mengenyam pendidikan home schooling. Toh, guru yang Bunda pilihkan untuk kamu tidak jelekkan? Kualitasnya tak jauh berbeda dengan guru di sekolah umum lainnya.”
“Kakak nggak pernah tahu rasanya home schooling tuh kayak gimana, karena selama ini kakak sekolah di sekolah umum, tidak seperti aku. Kakak punya banyak teman, sedangkan aku? Paling-paling hanya computer dan online. Bosan aku!” kata Tora setengah berteriak.
Bunda menatapku untuk tetap menutup mulut, lalu ia berkata, “Tora dengan keadaanmu yang seperti itu mana mungkin Bunda bisa melepasmu keluar. Nak, di luar sana tidak semua orang bisa memahami kamu seperti Bunda dan Kakakmu. Mengertilah….”
Tora bergantian menatapku dan Bunda. Tatapannya begitu galak. Belum pernah Tora menatap aku dan Bunda dengan tatapan yang seperti itu.
“Bun, aku tahu kalau aku cacat. Tapi apa seorang yang cacat dan menggunakan kursi roda seperti aku ini di larang untuk bergaul dengan mereka-mereka yang normal?! Apa aku juga di larang untuk mengejar impianku dan melihat dunia luar?! Bun, aku tidak pernah mau terlahir sebagai anak CACAT!!!”
Tersirat guratan rasa bersalah di mata Tora setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Adik lelakiku kemudian meninggalkan meja makan dan mendorong kursi rodanya menuju kamar.
Lengang. Ya, suasana ruang makan menjadi begitu lengang setelah Tora dan kursi rodanya meninggalkan aku dan Bunda. Aku tahu persis bagaimana perasaan adik lelakiku satu-satunya itu. Aku mengerti keinginannya… Dia benar, dia tidak pernah meminta pada Tuhan untuk menjadi cacat dan berkursi roda. Tidak, ia tidak pernah.
☺                    ☺                    ☺
Rasa sakit kepala yang Tora rasakan saat ia berumur 10 tahun, Bunda anggap hanya sakit kepala biasa. Aku dan Bunda bergantian menjaga Tora. Namun, sakit Tora semakin hari semakin parah. Puncaknya adalah saat Tora mulai sesak nafas dan kejang-kejang. Aku dan Bunda membawa Tora ke rumah sakit. Hati kami berdua begitu hancur mendengar vonis dokter jika Tora terserang Polio jenis Paralytic yang akan membuatnya lumpuh. Bunda yang pernah belajar psikologi, berpesan padaku agar tidak menangis setiap kali berhadapan dengan Tora agar adikku itu tidak merasa di kasihani. Aku menurut. Namun, aku tahu jika tiap malam wajah Bunda basah oleh air mata jika menatap wajah damai Tora saat ia tertidur. Mulai hari itu, Bunda memutuskan untuk memberhentikan Tora dari sekolah umum dan mulai memberinya pendidikan home schooling. Saat itu, kami berpikir jika itu adalah yang terbaik untuk Tora.
Namun, setelah malam itu aku mendengar kata-kata Tora, aku yakin bahwa selama ini apa yang Bunda lakukan itu salah.
“Itu Bunda lakukan untuk Tora, Lana!” bentak Bunda saat malam itu aku datang ke kamarnya.
“Aku tahu, Bun. Tapi sepertinya kita salah. Benar kata Tora, kita tidak bisa mengurungnya terus menerus di rumah hanya karena ia cacat dan menggunakan kursi roda. Tidak adil bagi dia, Bun. Tora tidak pernah ingin ia lahir dan cacat.” Bunda menatapku dengan matanya yang masih basah oleh air mata. “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Daftarkan ia di sekolah normal.”
☺                    ☺                    ☺
Sekarang, Tora bersekolah di tempat yang sama denganku. Aku yang meminta hal ini pada Bunda. Agar aku bisa menjaga Tora dan membantunya jika ia kesulitan. Hari pertama itu, wajah Tora terlihat begitu gembira, ia tak peduli akan berpasang-pasang mata yang menatap aneh padanya. Ia tak peduli sama sekali. Ia tersenyum senang di atas kursi rodanya yang ku dorong pelan supaya adikku bisa menikmati segarnya udara pagi. Sesampainya di kelas, Tora memandangku dan tersenyum. Sebelum aku pergi, ia menggenggam tanganku dan berkata, “Terima kasih kak atas bantuannya. Aku nggak akan mengecewakan kakak. Aku janji. Dan, kakak nggak usah khawatir terhadapku, aku akan baik-baik saja.” Aku hanya tersenyum karena jika satu kata saja keluar dari bibirku, bisa di pastikan air mataku akan tumpah ruah di hadapan Tora. Dan, itu tidak boleh terjadi.
☺                    ☺                    ☺
Aku begitu tersentuh atas kegigihan Tora. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendapat banyak teman. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendapat perhatian dari para guru karena kepintaran dan kebaikan hatinya. Tidak butuh waktu lama bagi Tora untuk di cintai dengan hatinya yang memiliki banyak kapasitas untuk mencintai. Dalam sekejap, Tora di kenal dan di cintai teman-temannya. Dengan keuletannya, ia meraih prestasi dan mimpi-mimpinya. Tora sering bilang padaku, “Satu hambatan atau beribu hambatan nggak usah kita pikirin kak, yang penting bagaimana niat kita dan kesungguhan kita. Terabaslah semuanya.”
Hanya senyum yang bisa kuberikan padanya saat itu. Mataku menangkap wajah lelahnya dan setumpuk buku tebal yang bertebaran di mejanya lalu mataku beralih ke jam dinding yang menunjukkan pukul 12.00 malam. “Tora, kamu istirahatlah. Besok itu hari penting dan kamu nggak boleh terlihat kusut. Mengerti.” Si rambut jabrik itu nyengir mendengarku lalu mengangguk-anggukan kepalanya sembari menjauhkan kursi rodanya dari meja belajar.
“Aku sudah jauh dari meja belajar nih, kak. Jadi berhentilah memandangku seperti itu.” Katanya sedikit mengejek.
Rupanya Tora telah hafal, jika aku takkan melepaskan pandanganku darinya jika ia tidak menuruti permintaanku. “Jangan membuat malu kakak dan Bunda besok dengan wajah kusutmu itu.” Kataku lalu keluar dari kamarnya.
Aku menghela nafas, besok hari terpenting bagi Tora dan hari pembuktiannya atas seluruh kata-katanya pada aku dan Bunda dulu. Ku intip Tora, adik lelakiku satu-satunya itu tersenyum menatap foto almarhum ayah kami. Ia cium gambar pria di foto itu yang sedang tersenyum. Lalu, Tora meletakkan bingkai foto ayah di tempat semula. Ia pun tertidur.
 Pagi datang dengan cepat, aku dan Bunda telah duduk dengan manis di kursi beludru merah di dalam aula sekolahku dan Tora. Hatiku berdebar tak karuan sepanjang acara ini berlangsung. Adikku sempat meledek, “Bedakmu luntur kak.” Katanya yang membuatku lari kekamar mandi dan mendapati bahwa ia hanya membohongiku.
“Hampir saja aku ketinggalan acara.”gerutuku pada si jabrik
Aku tahu jika Tora pun begitu gugup dan tegang. Terlihat, sudah berulang kali ia melonggarkan kerah kemejanya yang sama sekali tidak ketat. Wajar saja ia begitu tegang, karena hari ini adalah miliknya. Hari ini adalah hari milik Tora Saputra Ananta.
Hal yang aku, Bunda dan Tora tunggu akhirnya datang juga. Melanie Anggia sang pembawa acara menyebut nama Tora. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Tora menggelingkan kursi rodanya menuju podium. Beberapa orang telah menunggu Tora untuk membantunya naik ke atas podium itu.
Wajah Tora yang begitu haru jelas terpancar saat seseorang berkata, “Selamat kepada saudara Tora Saputra Ananta yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studynya ke Monash University.”


Kemudian, tepuk tangan riuh pun terdengar. Aku dan Bunda memandang sosok anak itu dengan bangga. Ya, Tora dan kursi rodanya akan segera terbang ke Australia setelah ia berhasil menerabas seluruh keterbatasannya.



* cerpen ini di buat untuk di ikut sertakan dalam lomba menulis cerpen yang di selenggarakan oleh Sang cerpenis dan VIXXIO, semoga cerpen ini dapat memenangkan novel Magnificent karya aL Dhimas, terima kasih*

12 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

ok dicatat dulu ya. novel yg dipilih apa nih?

Sang Cerpenis bercerita said...

link Cerpenis dan Vixxio harap dicantumkan juga ya. Tks.

Sang Cerpenis bercerita said...

ok deh,link dah dipasang. tks ya.

Nuylicious said...

hehehe,,,maaf ka tadi khilaf jadi lupa...hohohohoo

kurniawan.q said...

semoga menang ya mba saya sudah menambahkan link nya terimakasih

Ayi said...

kunjungan pertama niy... sekalian numpang baca.
salam kenal, tukeran link yuk, link kamu udh aku pasang d blog aku.

Nuylicious said...

linknya mba ayi juga udah aku pasang di blog aku kok, salam kenal juga...

@mas kurniawan: makasih juga ya.. :)

Vixxio said...

Mampir baca cerpen sambil menjuri ya...

Nuylicious said...

silahkan, maaf ya ngga nyuguhin makanan apa2.hehe

Muhammad Taqi said...

lomba cerpen online yah ?

rahad2six said...

keren banget cerpennya...
sangat menginspirasi untuk terus berjuang mengatasi hambatan demi hambatan..
lanjutin terus!

Nuylicious said...

@MT: iya . . .hehe

@Rahad2six: makasih ya,,doakan saja.. :)