Pages

Friday, 29 October 2010

Ketika Banjir

Hari senin itu hujan turun dengan lebat, membuat jalanan tiba-tiba berevolusi menjadi lautan coklat. Banjir disana-sini. Eko dan Mila menatap jalanan didepannya dengan putus asa. Sudah berkali-kali mereka mencari jalanan yang bisa mereka lewati, namun hasilnya nihil. Semua jalanan tikus yang mereka lewati, ujung-ujungnya hanya mengantar mereka ke jalanan banjir juga. Eko mendesah, Mila meremas jemarinya dengan gundah.

"Gimana, Mil?" tanya Eko.
"Puter balik aja yuk, kita cari jalan lain..." jawab Mila dengan wajah putus asa.

Eko memandang Mila dengan wajahnya yang memelas. Sudah tujuh jam mereka berputar-putar mencari jalan yang tidak tergenang air, namun tak ada hasil. Dan sekarang harus memutar lagi? O,o,ow.... Tenaga Eko sudah terkuras habis dan ia lelah sekali.

"Kenapa sih, Mil. Lo liat dah yang lain, pada ngedorong motor. Gak apa-apa kok, yuukk. Kalo muter lagi ntar kita gak pulang-pulang." ujar Eko.

Mila diam menatap genangan air dan orang-orang yang berbondong-bondong menerobos air butek itu. Mila bergidik jijik.
"Airnya kotorr, Ekkooo." jawab Mila kesal.

"Yaelah Mil, namanya juga air banjir." balas Eko gusar.

"Gue takut..."

Eko mengernyitkan keningnya, "Takut apa?"

"Ntar pas kita nyebrang, trus ada Hiu gimana??"

"Hah?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!



3 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

hehehe..emang di laut..gak pernah rasain banjir sih si Mila.

Ivan Kavalera said...

Awas lho ada hiu..hehehe...

siroel said...

huwahahahahahaa...
dasar dudut....


nuyy,, gmn kbrnya??
maf lama gk berkunjung,, hehehe...
:p