Pages

Monday, 24 January 2011

kenapa harus menangis, Bun?

di antara sudut nan gelap itu kau datang hampiriku
matamu sembab,
pertanda kau keluarkan air mata berhargamu

untuk apa kau menangis, bunda?
tanyaku sambil menyeka sisa air mataku
kau hanya tersenyum dan menggenggam jemariku
selembar kertas lusuh itu kini ada di tanganku

tanpa banyak kata, kau perlahan pergi dari hadapku
bahumu yang bergetar menandakan air mata mu meluncur lagi.....
dan ku pandangi punggungmu dengan sorot mataku yang kian kosong

bunda, apa yang kau ingin? tanya hatiku,
mengapa kertas lusuh ini kau beri padaku?
inginkah engkau agar ku mengingat lagi corat-corat impian ku dulu?
impi-impi ku yang ku toreh di kertas lusuh ini
Oh TUhan, kau masih menyimpannya, Bunda?

satu air mata ku menetes

"Saat ku besar nanti Bun, bisa ku pastikan kau tak tinggal di gubuk lusuh ini
saat ku  besar nanti Bun, beras pun tidak akan sulit lagi kau dapat seperti saat ini
Saat ku besar nanti Bun, kakimu yang halus takkan ku biarkan terluka lagi karena kau harus berjalan kaki berkilo-kilo hanya tuk jajakan dagangmu
Saat ku besar nanti Bun, takkan ku mau melihatmu memakai kebaya lusuhmu itu lagi
Bun, tau kah engkau, cinta ini tumbuh begitu banyak untukmu
BUn, mata ini nanar tiap melihat jejak langkahmu di tanah depan gubuk kita
Bun, betapa aku menyukai aroma tubuhmu yang penuh keringat
Bunda.... akan ku cukupkan deritamu , aku berjanji bunda.."

dua tetes air mata ku turun, membaca tiap kalimat itu

tiga tetes air mata ku berderai deras saat di ujung kertas kau menulis:

tapi bukan dengan kau curi uang rakyat hanya untuk bahagiakan aku dan kau buat mereka menderita seperti kita dulu

ah, Bunda, tau kah engkau jujur itu sulit dan bohong itu sangat mudah?
aku mendesah dan merapat ke jeruji yang kini menjadi tempat tinggal ku........

1 comment:

Langit said...

Yaas semoga kelaak kita bisa membahagiakan ayah dan ibu,, AMIN.... :)