Pages

Sunday, 27 February 2011

Nostalgia: Aku dan acara Perpisahan SMAku

kata orang-orang masa SMA itu masa yang paling indah. Buat saya juga demikian, saat SMA memang masa-masa penuh keceriaan khas remaja. Kedekatan dengan sahabat, naksir-naksiran, berantem-beranteman, saling menunjukkan kualitas diri dan mencari "siapa-aku-sebenarnya". Dan, terkadang fikiran saya sering melang-lang buana ke zaman SMA yang udah sekitar 2 tahun saya tinggalkan. Kangen dengan mereka yang mengerti saya, kangen dengan keadaan persahabatan indah ala abege, kangen ingin memperbaiki kesalahan saat SMA dulu. Well, live is must goon dan gonna move on, and they still live in my heart till now (so sweet deh saya, hahahhaha).

Dan, tiap lagi kangen mereka, saya pasti buka folder foto-foto bersama mereka yang numpuk di kompie. Saya share ah disini.. heheheeee. Kalo kata S07 "Keangkuhan dimasa muda yang indah". hihihihiy. check this out!!!





















besties... :D
teman sebangku, senarsis :)


saat akan study tour ke jogja

LUPA (Lian, Unu, Pranata, Ayu)

ceceuku :D



muda banget sih mukanya, hahaaaa

didepan UGM



abangku :D


sayaa!!! hahahaaaa




Saturday, 26 February 2011

(Hampir) Bertemu


Nina, satu nama yang sukses ngegeser kedudukan Via dihatinya Joe sebagai Oasis. Bukan, Nina bukan geser Via dengan artinya yang sebenarnya, Nina nggak gunain kekerasan ataupun paksaan, tapi Nina gunain caranya sendiri, sebuah cara yang ajaib. Yah, a j a i b. Nina bukan tukang sulap, tukang sihir apalagi mak lampir. Nina ya Nina. Aktif dikampus, bawel, kocak, tapi bisa serius sekaligus ngelawak (loh?). dan, Nina yang belum pernah Joe temui secara nyata, Nina yang hidup dihapenya Joe, Nina yang banyak ngabisin pulsa Joe lewat sms-sms mereka yang hampir tiap hari dari matahari terbit sampai matahari dan bulan berganti shift. Biarpun begitu, Nina bisa lebih menjadi oasis buat Joe, nyegarin pikiran Joe lewat kata-katanya di sms, bikin melek dengan sms kocaknya, bikin geram kalau lagi keluar lemotnya ibarat vitamin, Nina adalah vitamin A buat Joe. Karena Nina yang masih fiktif ternyata bisa lebih membuat otak Joe kebalik dan hati Joe jumping dibanding Via yang tiap hari dengan mudah dia lihat.

***
Tangerang, kota panas semi sumpek yang jadi kampung halaman Joe. Tiap minggu dan tiap duit abis (maklum anak kos), Joe pasti pulang ketemu ibu dan bapak serta adik tercinta yang sebenarnya sama sekali nggak kangen sama Joe (hehehe). Kebetulan, Joe udah dua minggu dirumah dan setengah bulukan. Teman tercinta dan tersetia Joe adalah nokia N73nya. Di N73 itulah, Joe senyam-senyum kaya ayam yang mau di jodohin, di N73 itulah Joe lancar dan semangat ngetik kata-kata dari yang bermutu sampai yang hanya sampah ke teman-temannya dan nina, ya NINA.
Siang itu memang panas, sepertinya matahari lagi ngamuk atau entah kenapa. Joe sedang berpose ala paus laper dikasurnya saat hapenya berbunyi nyaring. Setengah malas, Joe ngeraih hape yang keadaannya udah mengenaskan itu. Joe diam, joe syok dan joe nggak percaya saat lihat layar hapenya. Bukan, layarnya bukan tiba-tiba berubah jadi touch screen, tapi dilayar itu tampil sebuah sms yang isinya menggoda dari Nina. Entah, si Nina sedang kesambet setan apa dan Joe pun tidak peduli karena Joe senang. Yah senang. Sekali ia baca sms itu: “Joe, jalan yuk”.
Joe diam, mulutnya ternganga, persis seperti korban hipnotis yang baru sadar kalau dia udah ngasih KTPnya ke pelaku (ngaruh ga sih? Hehe). Jari-jari Joe mulai ngetik balesan yang menurut survey adalah balasan ter-ENGGA MUTU sedunia karena Joe ngebales, “Lo kesambet Nin?”
“Kaga, yuk.” Balas Nina.
“kemana?”
“Kemana aja yang penting jalan, gue udah setengah ngebuluk dirumah.”
“Gue belom mandi.”
“Gue juga, yaudah sana mandi.”
“Iya gue mandi.”
Dengan sigap dan penuh semangat, Joe menyambar handuknya dan mandi. Nggak sampai dua menit, Joe keluar dari kamar mandi dan kemudian ngubek-ngubek lemarinya nyari kostum bagus selain kolor bunga-bunga favoritnya untuk ketemuan sama Nina.
Udah rapi, Joe duduk sambil melototin Dewi Persik yang punya pacar lagi di tivi. Joe gelisah ngeliatin hapenya.
“Mana sih si Nina? Kok ngga ngabarin yah?” Tanya Joe cemas.
Bolak-balik Joe ngelirik si N73 yang ngga geter-geter walaupun sekilas. Joe gemas. Mau banting si N73 tapi sayang, akhirnya Joe mutusin buat balik ke kamar dan tidur-tiduran.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Masih ngga ada kabar dari Nina, bahkan Nina pun tidak membalas sms Joe yang bertanya jadi atau tidak perginya. Si N73 masih membisu.
Mata Joe hampir terpejam, saat si N73 akhirnya bergetar. Nama Nina muncul sebagai tersangka yang menggetarkan si N73.
“Joe, gue ketiduran… :(
Tulis Nina di smsnya. Joe senyum kecut. Antara kesel, gemas, mau marah, sekaligus ngantuk.
“Iya , Nin, ngga apa-apa” balas Joe.
“Maaf… :(
“Lanjutin aja tidurnya, Nin…..”
“Iya deh, gue tidur lagi” balas Nina polos.
Dan si N73 kembali diam. Joe menepuk jidat. Dirumahnya, Nina benar-benar melanjutkan tidurnya dengan pulas, sangat pulas…..

Friday, 25 February 2011

potrait kami: kaum marginal

kalau kita mau menoleh sebentar, kita pasti dapat dengan mudah melihat mereka, mereka yang tertinggal dipinggiran dengan segala kekurangan. inilah beberapa bentuk dari kehidupan mereka...







next, aku hunting lagii.... :D


Tidak Semua Sama

Good morning, selamat pagi teman! Apa kabar mu hari ini? Baik? Well, saya sendiri agak kurang baik nih. Bukan jasmaninya tapi rohaninya. wih... serem ya kedengerannya? Engga kok, rohani kurang baik bukan berarti saya gila loh. Hanya saja, ada sesuatu yang berputar-putar di otak saya, hm... di pikiran saya tepatnya.Ada apa sih? Terima kasih untuk orang yang peduli dan melempar pertanyaan "ada apa" untuk saya. Sangat terharu (Lap mata),. Kita mulai dari mana ya? hmm.....

Tiap manusia itu punya pendapat yang berbeda, pemikiran yang beda, sikap yang beda, dan hal-hal yang beda lainnya meskipun itu adalah anak kembar. Karena perbedaan inilah yang jika dimanfaatkan dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang baik juga. Dan, jika perbedaan ini tidak dimanfaatkan dengan baik, jangankan sesuatu yang baik, sesuatu yang agak baik saja akan sulit didapat. Ditengah rasa perbedaan itu diperlukan sesuatu yang bisa mengikatnya agar tidak terjadi perdebatan panjang nan tak berujung. Apa sih penyatu-penyatu itu? Menurut saya, jawabannya adalah TOLERANSI.
Mentolerir saat ada yang berbeda dengan kita, mentolerir saat mereka memberi state negatif atas keputusan yang kita ambil. Itu tidak mudah, tidak SEMUDAH saat saya mengetik kata-kata ini, tidak SEMUDAH saat saya garuk-garuk kepala karena gatal (ga nyambung), yah... intinya tidak SEMUDAH TEORI yang saya kemukakan. Ada sisi arogansi pada diri kita yang tanpa disadari atau memang sadar MENOLAK untuk menTOLERIR meski kita sadar bahwa itu diperlukan. Yah, memang tidak ada yang mudah dan tidak ada yang lancar dalam tiap perjalanan hidup kita didunia. Selalu ada lubang, jalan yang berkelok maupun jalanan menikung tajam. Akses jalan tol yang jarang sekali bisa kita dapatkan kalau bukan sedang hoki. 

Lalu? Terima dan yakini saja apa yang telah kita putuskan. Buat pertimbangan atas semua tindakan yang kita lakukan, pikirkan effectnya, dan siapkan peluru saat ada orang yang akan runtuhkan pendirianmu. Kedengarannya memang mudah, tapi butuh kesabaran yang ekstra agar semuanya terlaksana. Dan, ini semua terjadi karena TIDAK SEMUA SAMA. Tidak semua berwarna hitam, tidak semua berwarna putih dan kita semua orang bisa berdiri disamping kita dan menyatakan bahwa mereka "sama" dengan kita. Akan selalu ada PERBEDAAN, PERDEBATAN, dan PERASAAN tersinggung, tapi mari kita leburkan semua dan besarkan hati untuk menerima semuanya. Selain orang-orang yang kontra dengan kita, tentu masih banyak orang yang pro terhadap kita sehingga kita masih punya energi untuk melaju.......


Monday, 21 February 2011

Nyawamu-Aset hidupmu

berawal dari keharusan saya pergi ke UI kemarin pagi. Maklum tempat tinggal saya yang di ujung, mengharuskan saya menggunakan kereta untuk sampai ke sana. Yah, naik bus sih bisa, namun kondisi dompet yang ga memungkinkan serta waktu yang dibutuhkan juga jauh lebih lama. bersama seorang adik kelas, kami bertemu di stasiun serpong. kami menunggu di peron 2 dan karena kereta belum juga datang, kami duduk-duduk di tangga sambil ngobrol untuk membunuh waktu. sebagai anak kereta yang hampir tiap hari menggunakan transportasi itu, kehidupan di stasiun bukanlah hal yang asing lagi bagi saya. teriakan para tukang minuman yang kadang bikin saya ketawa maupun tukang tahu yang ga cape bolak balik teriak "beli tahu gratis cabe", sebuah cara promosi yng bagus dari si tukang cabe, eh tukang tahu. Hm, tapi untuk kali lagi yang menjadi fokus tulisan saya bukanlah si tukang tahu yang promosi ataupun bapak-bapak penjual minuman yang kalau jualan terkadang membuat penumpang kesal karena senggol sana senggol sini (maklum,kereta parungpanjang selalu penuh, hehhe :P). tapi ada satu kejadian yang jujur, walau saya telah terbiasa dengan kehidupan di kereta dan stasiun tapi baru kali ini saya saksikan dengan mata saya sendiri. kerennya, I am a witness at that accident. will, a witness for my self :) .

pagi menjelang siang itu sekitar pukul 11.00, suasana yang cukup segar dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi dan orang -orang yang duduk dengan wajah jemu saat menunggu kereta, saya mengedarkan pandangan mata saya berkeliling stasiun. melihat apa yang bisa dilihat, mereasa apa yang bisa di rasa serta membaca apa yang bisa saya baca. yang selalu menarik perhatian saya adalah spanduk besar bertulisan undang-undang yang melarang penumpang untuk naik di atap kereta maupun lokiomotif. oke, kalau kata teman saya saat ini PKD sudah mulai tegas dan penumpang sudah jarang yang duduk di lokomotif ( deket-dedekt si pak masinis :P). lagi asyik-asyiknya ngobrol dengan si adik kelas, tiba-tiba orang--orang yang sedang duduk duduk di peron 3 berdiri dan berteriak histeris. otomatis, saya dan adik kelas saya ikut berdiri dan mencari tahu apa yang terjadi. Voila....... mata kami menangkap sosok anak muda berkaos kuning yang telah tergeletak di jalur rel kereta. kenapa dengan dia? engga, dia bukan seorang aktor yang sedang berakting, dia hanya seorang penumpang yang terjatuh dari gerbong paling belakang kereta itu. entah bagaimana pastinya, tiba-tiba saja dia sudah tergeletak disana, di jalanan kereta yang penuh batu-batu. petugas statsiun dengan sigap membopong orang itu. kami (saya dan adik kelas saya) hanya bisa ternganga ( dalam hal ini, saya ga bisa menggambarkan kalau kami terpesona. hehehe) melihat kejadian itu. bukan tidak mau bantu, tapi otak dan kaki saya sama sekali gak singkron. lemes sekali... petugas membopong orang itu ke ruangan yang entah apa namanya,kami bisa melihat jika orang itu masih bernyawa dan dia patut bersyukur akan hal itu.

dari hal di atas, saya ingin mengajak teman-teman untuk mencintai nyawa kalian. kita hidup di dunia ini hanya dengan satu nyawa, sekali lagi SATU NYAWA SAJA. kita bukan di hidup di dunia MARIO BROSS yang bisa makan jamur hijau lalu nyawa bertambah dan jika jatuh ke lubang akan mendapat kesempatan lagi. dunia ini tidak akan melindungi kita dari kekejaman yang tersimpan di dalamnya. bukan, saya bukan mengajak teman-teman untuk menjadi pengecut yang kemudian tidak melakukan apapun. bukan seperti itu. saya hanya merasa prihatin dengan orang-orang yang salah mengartikan KEBERANIAN. duduk di atap kereta mereka bilang BERANI, bergelantungan di pintu mereka adalah hal KEREN, duduk didepan lokomotif adalah hal MENANTANG yah, itu semua sangat BERANI MENANTANG MAUT namun sekaligus hal TERKONYOL yang gak layak untuk dilakukan. kenapa??

bagi para lelaki (kebanyakan laki-laki yang kaya gitu, jarang dan hampir ga ada perempuan yang duduk diatap kereta) yang bergelantungan, duduk di atap dan di depan lokomotif sudahkan kalian memikirkan keluarga? untuk para bapak-bapak dan yang sudah berkeluarga: jika kalian berpikir itu hal yang KEREN, jika kalian jatuh kemudian terlindas dan meninggal, akankah itu jadi hal KEREN lagi? atau kalau jatuh , tidak meninggal namun masuk rs, masih kah kalian bilang itu hanya APES? saat kalian kalian meninggal dengan cara seperti itu bagaimana dengan keluarga kalian di rumah? anak-anak kalian, istri, bagaimana mereka harus makan serta melanjutkan hidup? meninggal memang takdir manusia tapi bukan berarti kita melakukan hal-hal konyol yang membuat malaikat mau tergiur untuk berkunjung kan? atau kalau tidak meninggal sekalipun, apa kah kalian sudah berpikir ttg biaya rumah sakit dan perawatan yang harus dikeluarkan? jika cacat siapa yang akan keluar untuk mencari nafkah?

untuk para mahasiswa dan pelajar sekalian, teman-teman adalah mutiara keluarga, harapan keluarga untuk menganggkat mereka pada hidup yang jauh lebih baik, tega kah kalian membuat keluarga kalian bersedih karena kekonyolan sikap itu? terlalu ironi kawan.....

marilah kita berpikir ulang dan mengkaji kembali apa yang di sebut KEBERANIAN dan KEREN. lalu pikirkan juga TANGGUNG JAWAB kalian pada hidup ini. karena nyawamu adalah satu-satunya aset berharga dalam hidupmu kawan ;)

Sunday, 6 February 2011

Lagu saat ini

Mau sedikit curhat dong... hahahhahaaaa
Lagi ini adalah lagu yang lagi ngegambarin perasaan aku saat ini, dan yaaa...... sangat sangat sangat cocok dengan apa yang ku rasa dan yang terjadi. ckckckckck, silahkan anda tertawa kalau menganggap ku lebay, tapi emank lagi begini keadaannya.
lets check it out!





Thursday, 3 February 2011

LIHATLAH LEBIH DEKAT


“Tidak selamanya mata itu benar.” Kata Bunda saat aku bercerita tentang apa yang ku lihat di sekolah tadi. Aku mendengus mendengar kata-kata itu. “Lalu apa itu artinya, Bun?” tanyaku ketus. Wanita yang telah melahirkan ku itu tersenyum . “Cari tahu lah, nak. Baru kamu bisa ambil kesimpulan dari seluruh kejadian yang kamu lihat itu.” Bunda pun pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Hah?! Aku harus cari tahu apa yang sebenarnya anak pembantu itu lakukan? Penting banget apa dia?? Huh!
☺☺☺
Kemarin siang, di ruang kelas XI-IS 3, ku lihat Arista si anak pembantu yang bekerja di rumahku sedang berbicara dengan seseorang. Aku mendekat ke arah ruangan itu agar aku bisa melihat orang yang berbicara dengan Arista secara jelas. Oh, aku tercekat. Aku tak mampu bernafas. Orang yang berbicara berdua dengan Arista adalah Pak Arsan! Guru baru di sekolah kami yang ganteng dan masih single. Mereka tampak begitu akrab satu sama lain. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi aku bisa melihat raut bahagia di wajah Arista setiap guru yang selalu tersenyum itu berbicara sambil menatapnya.  Sesekali wajah Arista tertunduk lalu ia menengadah untuk menatap wajah Pak Arsan yang juga menatapnya. Mereka berdua pun tersenyum. Tangan Pak Arsan membelai rambut Arista dan gadis itu pun tertawa. Cih! Aku muak melihat adegan itu. Bukan, bukannya aku menyukai Pak Arsan. Tetapi lihatlah bagaimana anak pembantu itu menggoda Pak Arsan! Kasihan sekali orang-orang yang selama ini mengira ia adalah gadis baik-baik.
☺☺☺
Masih jelas teringat dalam memoriku saat tiga tahun lalu bel pintu rumahku berbunyi. Bik Sum yang sedang menggosok di ruang belakang tidak mendengar bunyi bel itu. Lalu dengan langkah yang agak malas, aku membuka pintu rumah. Aku terdiam, menatap ‘tamu’ yang kini berdiri di hadapanku. Ia adalah anak perempuan seusiaku, rambutnya hitam dan kusut. Wajahnya manis namun sayang begitu tak terurus. Terbukti dengan beberapa jerawat yang menghiasi wajahnya. Lalu pakaian yang ia kenakan juga tak lebih bagus dari baju-baju bekas milikku yang menumpuk di dalam gudang. Di kakinya pun banyak di hiasi bekas becek-becek yang sudah mau mengering dan ia hanya mengenakan sandal jepit yang bagian karet bawahnya pun sudah menipis. Matanya yang hitam menatapku ragu. Tangannya yang kurus menenteng sebuah tas kain lusuh yang sudah banyak tambal sulamnya. Aku terheran-heran mendapati anak ini memencet bel rumahku dan berdiri di hadapanku.
“Cari siapa?” tanyaku. Aku berusaha untuk menjaga intonasi suaraku agar tak terdengar seolah aku menginterograsi. Anak itu tersenyum lalu berkata, “Ini rumahnya Bapak Handoyo?” logat sundanya terdengar begitu kental. Aku mengernyitkan keningku, “Iya benar. Saya anaknya, kamu siapa ya?” senyumnya semakin lebar seolah-olah ia baru saja mendapatkan lotre. Aku berdiri menunggu jawabannya dengan sikap tak sabar. Sorot matanya lalu menatapku seolah ia telah mengenalku sejak lama. “Kamu pasti non Carissa. Benarkan?” aku hanya menganggukan kepalaku dan mengulangi pertanyaanku. “Kamu siapa?” Anak itu mengulurkan tangannya padaku. Ragu-ragu aku menjabat tangannya yang berdebu. “Aku Arista, anaknya Bik Sum.”
Dan sejak hari itu, Arista tinggal bersama keluargaku. Aku sangat senang mendapatkan teman perempuan yang sebaya denganku. Karena aku tinggal di kompleks perumahan yang kebanyakan penduduknya sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku jadi tidak memiliki banyak teman. Di sekolah pun karena aku termasuk murid pendiam, teman yang ku miliki tidaklah banyak. Hanya Hanna, sahabat ku sejak aku masuk SMP hingga kelas tiga ini. Tak heran, aku girang bukan main mendapatkan satu lagi teman bermain sehingga aku tidak merasa kesepian di rumah. Maklum saja, aku adalah anak satu-satunya Ayah dan Bundaku. Mereka berdua pun sama-sama sibuk. Walaupun Bunda selalu akan berangkat kerja jika aku sudah berangkat ke sekolah, tapi tetap saja di siang dan malam hari aku hanya berdua dengan Bik Sum di rumah, di tambah Pak Karjo, supir dan tukang kebun rumahku. Tentu saja ini begitu membosankan karena aku tak bisa mengajak Pak Karjo dan Bik Sum untuk main bersamaku. Mereka pun juga akan sibuk mengerjakan tugas mereka.  Dan sejak ada Arista di rumah, hal ini terselesaikan.
Kami berdua selalu bermain bersama. Karena hampir tiap saat kami bersama-sama, banyak orang yang mengira kami adalah anak kembar. Hal itu membuat Bunda bersemangat untuk mendandani kami seperti anak kembar. Bunda membelikanku dan Arista baju yang sama, sepasang sepatu yang sama namun beda warna, jepit rambut yang sama bahkan gelang-gelang yang sama. Dan, aku senang memiliki banyak kesamaan dengan Arista.
Arista adalah sosok anak yang baik. Ia begitu lembut dan perhatian. Ia juga sangat mengerti aku. Bisa ku ingat jika Arista adalah satu-satunya orang selain Bundaku yang mampu membuatku tenang saat aku merasa ketakutan. Arista juga rela memanjat kekamarku di lantai dua untuk mengantarkan makanan untukku saat aku di hukum oleh Ayah dan Bunda. Arista juga rela menemaniku berendam air rebusan daun pandan saat Eyang putri datang ke rumah dan memeriksa kulitku yang tak terurus. Arista juga yang menemaniku tidur jika hujan dan banyak petir saat Ayah maupun Bundaku tak ada di rumah. Ya, aku sangat menyanyangi Arista. Bahkan ia sama sekali tak ku anggap sebagai seorang anak pembantu di rumahku. Hanya saja kejadian itu merubah segalanya …
Siang itu aku masuk kekamarku dengan badan yang begitu pegal setelah hari ini aku berlari mengelilingi lapangan bola sebagai hukuman karena datang terlambat. Aku begitu lelah. Aku sangat ingin cepat-cepat sampai ke rumah dan tidur di kamarku yang nyaman. Namun, keinginan itu buyar seketika saat kaki ku melangkah memasuki kamar. Dengan jelas ku lihat Arista yang sedang berjongkok di sudut kamarku. Ia terlihat sibuk.
“Elo ngapain, Ris?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya. Arista menoleh dan terkejut melihat kedatanganku. Aku juga tak kalah terkejut menatapnya dan menatap sebuah kepala boneka yang ada di genggaman tangannya. Ku percepat laju jalanku. Dan di belakang tubuh Arista, ku temukan boneka keramik Mickey Mouse kesayanganku sudah tergeletak tak berbentuk di lantai. Di sebelah serpihan keramik boneka itu ada sebuah kemoceng. Di sampingku Arista masih berjongkok. Aku bisa merasakan tubuhnya yang gemetar. Arista tahu jika boneka ini adalah benda kesayanganku yang paling ku rawat dan ku jaga. Aku berdiri mematung memandangi serpihan boneka kesayanganku itu.
“Carissa…” suara Arista memanggilku lirih. Aku masih diam tak menghiraukan panggilannya. “Carissa…” panggil Arista lagi.
“Elo tau kan kalo benda yang lo rusak itu adalah benda kesayangan gue?! Elo tau kan itu hadiah dari Ayah gue sebelum dia pergi ke Amerika setelah cerai dengan Bunda?! Elo juga tau kan kalo itu satu-satunya kenangan dari beliau yang gue punya?! Kenapa lo tega ngerusaknya, Ris?!” aku setengah berteriak menyahuti panggilannya. Bik Sum yang tadi sibuk di dapur, datang tergopoh-gopoh ke kamarku. Wanita paruh baya ini menatap kami berdua bergantian.
“Non Caris, ada apa non?” Tanya Bik Sum. Jari telunjukku menunjuk ke serpihan-serpihan boneka keramikku yang tak lagi berbentuk. Wanita yang sudah bekerja selama 20tahun lebih di keluarga ku ini  juga terkejut saat ia menyadari serpihan-serpihan boneka kesayanganku. Ya, satu rumah ini pun tahu jika boneka keramik Mickey Mouse itu adalah benda kesayanganku. “Arista kenapa kamu merusak boneka ini?!” marah Bik Sum.
“Aku ngga sengaja, Bu. Aku tadi bersihin buffet itu, tapi tanganku menyenggol boneka itu dan terjatuh. Non Caris, maaf… aku ngga sengaja.”
“Keluar dari kamar ku… Keluar!!!!” teriakku marah. Arista masih memandangku dan berharap aku mau memandangnya juga. Namun, aku tak peduli, aku tetap membelakanginya dan tetap menyuruhnya keluar.
Sejak kejadian itu, entah kenapa aku selalu merasa benci jika melihat Arista. Aku tak mau lagi mendekatinya. Melihatnya pun aku enggan. Bahkan aku tak mau berangkat sekolah bersama Arista walau Bunda memasukkan kami di SMA yang sama. Ya,,, kami menjauh lebih tepatnya aku yang menjauh dari Arista dan aku masih enggan untuk mendekatinya lagi seperti dulu walau masalah itu telah lewat enam bulan yang lalu.
☺☺☺
Aku terheran-heran melihat setiap orang di sekolah ini memandangku dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat. Oh, bukan aku ternyata yang mereka pandangi tetapi orang yang berjalan pelan di belakangku, Arista. Aku melihat mereka dengan pandangan heran. Hey, apakah sekarang si anak pembantu ini menjadi artis? Pikirku. Ku toleh ke belakang untuk melihat Arista. Gadis itu menunduk. Bisa ku lihat wajahnya yang sedikit memucat karena rasa takut dan perasaan risih akibat pandangan orang-orang itu. Bahkan ada beberapa dari mereka yang berbisik-bisik sambil menatap Arista jijik. Sungguh, sebenarnya aku merasa kasihan pada Arista. Tapi aku tetap enggan untuk mendekatinya.
Dari jauh ku lihat Lona berlari mendekatiku. Saat melihat Arista di belakangku, Lona sontak menarik tanganku untuk menjauh dari Arista. Ku lihat bola mata Arista membesar pertanda ia kaget dan syok melihat Lona yang menarikku menjauhinya karena selama ini Lona orang yang paling dekat dengannya sejak aku menjauh darinya. Pedih, ku lihat tatapannya yang begitu nanar. Namun, tangan Lona yang semakin erat mencengkram tanganku membuatku sulit untuk berhenti melangkah. Kami berhenti di depan kamar mandi perempuan. Aku menatap Lona terheran-heran.
“Ngapain kita ke sini?” tanyaku.
Lona menunjuk sebuah kertas yang tertempel di dinding kamar mandi yang sudah sedikit terkelupas catnya. “Lo liat itu.” Kata Lona.
Aku masih bingung dengan kata-kata Lona. Ku ikuti arah tatapan matanya yang tertuju pada sebuah kertas dengan tulisan tangan yang sangat acak-acakkan. Di kertas itu tertulis:
“Mau lihat pasangan baru di sekolah ini yang bakal bikin heboh? Kita sambut si anak pembantu dan guru baru yang tampan itu: ARISTA dan Pak ARSAN. Selamat ya untuk hubungan kalian.”
Glek!!!
“Tuh pengumuman juga ada di kantin, mading, kamar mandi cowok, kamar mandi guru dan di kelas kita.” Kata Lona.
Ku copot selembaran itu dan ku robek dengan paksa. Pantas saja banyak murid-murid sekolah ini yang menatap Arista dengan pandangan jijik dan jutek seperti tadi. Ternyata ini penyebabnya…
“Siapa yang ngelakuin semua ini?”tanyaku pada Lona.
Lona menatapku, “Ngga usah sok innocent lo. Siapa lagi di sekolah ini yang benci sama Arista kalo bukan elo. Car, Arista emang pernah ngerusakin boneka lo dan itu pun Arista udah nyari kemana-mana buat ngegantinya, apa segitu gedenya rasa benci lo sama Arista sampe lo tega berbuat begini ke dia, hah?!”
Aku memandang Lona bingung. “Elo nyalahin gue, Lon?” ku buang nafas kesalku. “Gue emang sebal sama Arista, tapi gue ngga ngelakuin ini semua!!!” jeritku.
Aku berlari meninggalkan Lona. Ku telusuri semua tempat yang Lona bilang menjadi tempat di tempelkannya selembaran-selembaran itu. Ku copot semua kertas-kertas sialan itu dan ku robek semuanya menjadi tinggal serpihan-serpihan kecil. Aku tak tahan, semua orang pasti menuduhku yang melakukan ini semua. Ku sandarkan tubuhku ke tembok dan tanpa sadar aku menangis kencang. Aku tak peduli saat sepasang lengan yang cukup kekar membawaku ke pelukannya. Dan di dalam pelukan itu aku menangis sejadi-jadinya.
Perlahan, kedua lengan itu membawa wajahku untuk menatapnya. Dan aku terkejut saat mendapatkan jika orang tersebut adalah, “Pak Arsan.”
“Saya tau itu bukan perbuatanmu, saya tau sebenci apapun kamu pada Arista, kamu tidak akan pernah berbuat hal itu padanya. Saya tau itu.”
“Maafin saya pak… kemarin saya lihat bapak dan Arista berdua di kelas. Aku cerita sama Hanna apa yang ku lihat. Aku memang berpikir kalau kalian berpacaran, tapi aku ngga pernah punya niatan untuk membuat berita bohong seperti itu…” kataku takut-takut pada Pak Arsan. Aku tak mau ia juga mengira jika aku orang yang membuat berita bohong tentang ia dan Arista.
“Kamu bilang kamu cerita sama siapa tadi?”
“Hanna.”
“Hanna.”
“HANNA!!!”
☺☺☺
Gadis berkulit putih itu dengan tangan gemetar sibuk memainkan kancing baju seragam sekolahnya. Gadis itu bernama Hanna. Ya, sahabatku Hanna atau lebih tepatnya akan menjadi mantan sahabat.
“Aku pikir Carissa benar-benar benci pada Arista, jadi aku buat saja berita seperti itu.” Aku Hanna.
Pandanganku sedikit kabur karena air mata saat aku memandang Hanna. “Tega banget lo, Han.” Suaraku tercekat.
Mata Hanna memandangku tajam, bibirnya gemetar seraya berkata, “Lo yang tega sama gue! Sejak Arista sialan itu ada di rumah lo, elo lebih asyik main sama dia. Sebentar-sebentar lo cari Arista. Lo selalu mentingin Arista daripada gue!!! Makanya, buat bikin elo jadi benci sama Arista, gue sengaja main ke rumah lo waktu elo ngga ada. Jadi gue bisa nyuruh si anak pembantu sialan itu buat bersihin boneka keramik lo, supaya gue bisa pura-pura nyenggol dia sampe boneka itu jatuh. Dan benarkan dugaan gue. Akhirnya elo ngebenci dia sampe hari ini.”Hanna tertawa kemudian melirik Arista, “Gue benci sama elo! Elo Cuma anak pembantu tapi kenapa Carrisa bisa care sama lo? Anak pembantu kayak elo ngga pantes temenan sama Carrisa, dia itu majikan lo!!!”
Plak!!!
Sebuah tamparan keras ku berikan pada Hanna. Aku sama sekali tak menyangka jika orang yang selama ini aku anggap sebagai sahabat ternyata bisa berbuat setega itu kepadaku. “Han, lo tau kan kalo gue kesepian? Lo tau kan gimana senengnya gue waktu gue tau bahwa gue punya temen main di rumah? Lo tega ya ngancurin semua itu… keterlaluan ya diri lo itu. Jangan lo heran kalo lo ngga punya banyak temen. Karena lo nggak layak!!!”
Aku berlari keluar dari ruang kepala sekolah yang ‘mengadili’ aku, Arista, Hanna, Lona dan Pak Arsan tentang selembaran yang menggosipkan hubungan antara guru dan murid di sekolah ini. Aku tak tahan lagi melihat wajah Hanna. Wajah seorang sahabat yang ternyata tak sebaik yang ku kira, sahabat yang selama ini ku percaya. Tiba-tiba perkataan Bunda terngiang lagi di telingaku, “Tidak selamanya mata itu benar.”
Ya, aku baru percaya jika mata itu tak selalu benar…
kekecewaan gue mengalir deras........

Tuesday, 1 February 2011

End I say . . . I love you

Hilmi,
Gue nggak tau semalam gue mimpi apa, tanpa ada wangsit atau firasat tiba-tiba aja otak butek gue menjadi cerah. Semua berawal disana, dari sebuah taman dikampus gue yang isinya mahasiswa semua. Mahasiswa dengan berjuta alasan yang beda-beda untuk nyicipin bangku kuliah. Ada yang pengen Cuma jadi sarjana, disuruh orang tua atau Cuma iseng-iseng belaka. Well, gue sama sekali nggak peduli sama mereka semua. Nggak untuk sekarang, sosok itu mendadak membuat otak gue nggak berjalan seperti biasa. Mendadak lemot.
Gue nggak tau mau ngetik apa, untuk cerita terbaru yang diminta oleh redaksi majalah kampus gue. Redaksi yang cerewet itu minta gue buru-buru untuk nulis cerita. Tapi, gimana mau buat cerita lagi, sedangkan selama 2 jam gue duduk dan natap Layar LCD, otak gue sangat mampet untuk ngetik meski hanya satu huruf saja. Buntu, sebuah fenomena langka yang jarang di alami oleh otak gue.
“Gah, padahal deadlinenya lusa!” rutuk gue dalam hati sambil garuk-garuk kepala pelontos gue.
Gue teguk lagi secangkir teh anget untuk ke empat kalinya. Hal yang biasanya ampuh membuat otak gue fresh. Mata gue berkeliaran ke arah seluruh penjuru kantin kampus yang sudah mulai sepi. Gue pun memutuskan untuk berjalan-jalan, berharap mendapat sesuatu untuk gue tulis.
Dan, tanpa gue pernah minta sama Tuhan, tiba-tiba sosok itu hadir dimata gue. Sekejap, tapi effect –nya nggak kalah dengan gempa jogja tahun 2004 lalu, sama-sama membuat runtuh walau dalam kasus ini, yang runtuh adalah hati gue. Oke, mungkin kalian nilai gue lebay. Tapi, silahkan kalian pikir, gimana hati gue yang kosong ini nggak runtuh saat mata gue berpandangan dengan sosok gadis manis, berambut panjang yang saat itu mengenakan dress dengan motif bunga-bunga, sangat anggun. Detik itu juga, otak gue langsung menciptakan seribu kata yang tanpa ragu gue jadikan tema cerpen gue minggu ini di majalah kampus.
***
Gue Cuma bisa bengong menyadari kebodohan gue, setelah temen kosan gue nanya “siapa namanya?” saat gue selesai cerita tentang ‘oasis’ yang baru gue temui sore tadi. Kenapa dia gue namain oasis? Karena dia seperti oasis di gurun yang gersang, mampu menyejukkan dan membuat otak buram gue menjadi jernih.
cewek dikampus banyak, bro.” kata Deri sembari senyum-senyum ngeledek.
“ Iya gue tau.” Jawab gue mangkel.
***
Ini nih yang gue benci dari diri gue. Seluruh tubuh gue mendadak beku setiap berhadapan dengan cewek yang gue suka. Seperti pagi ini, dia hanya berjarak beberapa meter dari gue, dekat sekali. Dan gue Cuma bisa mandangin dia yang sedang ngambil buku-buku kuliahnya di loker yang letaknya Cuma beda satu loker dari loker gue. Dalam jarak sedekat itu, mulut gue terkunci rapat walau Cuma untuk berkata “hai”.
***
Langkah buru-buru gue terhenti saat diujung lorong itu gue lihat dia, sang oasis yang mencuri seluruh focus dan pandangan gue sedang berusaha untuk mengambil bukunya yang jatuh. Ajaibnya, entah ada keberanian darimana, kaki gue mulai melangkah, mendekat dan tangan gue bergerak otomatis untuk mengambil buku milik cewek yang gue beri nama oasis karena gue nggak tau nama aslinya dia siapa.
Rasanya jantung gue mau keluar dari tempatnya ketika senyuman itu hadir dari bibirnya untuk gue dan seluruh tubuh gue seperti tersengat listrik saat telinga gue menerima gelombang suara dari bibirnya yang berkata, “putri”.
Putri, ya putri…. Nama gadis itu adalah putri. Sesuai dengan namanya, putri memang seperti putri, terbukti dengan banyaknya cowok yang punya keinginan untuk mendekatinya. Seperti sekarang, beberapa cowok terlihat mengelilingi putri dan gue disini hanya bisa memandangnya. Dia sepertinya terlalu jauh dari genggaman cowok seperti gue……
Andai dia tau, gue sayang dia banget….

Putri
“Stop!”
Dandi menginjak rem dan mandang aku heran, “Kenapa, Put?”
Aku tidak menghiraukan pertanyaan Dandi dan matanya yang lekat menatapku. Mataku menatap lekat pada kaca spion mobil Dandi. Terfokus pada refleksi sesosok cowok bertubuh gempal dan berkaca mata hadir tepat dibelakang mobil yang ku naiki bersama Dandi. Cowok yang sanggup membuat hatiku bergetar dan bersorak-sorai setelah sekian tahun merasa hampa dan mati.
Matanya memandang ke arahku, atau lebih tepatnya kepada mobil Dandi yang aku tumpangi. Apakah yang kulihat itu benar? Sorot matanya tampak seperti seseorang yang tersakiti, tapi karena apa? Apa karena aku? Aku yang berada dalam satu mobil bersama Dandi, sahabatku?
“Put.” Panggil Dandi.
Tanganku bergerak membuka pintu mobil, kakiku melangkah turun, telingaku mendengar Dandi memanggil namaku namun tidak ku pedulikan. Yang ku inginkan hanya satu, berlari ke arahnya. Pada dia yang hampir berlalu dari hadapanku.



Hilmi dan Putri
Kami tidak akan pernah lupa pada hari itu, hari saat kami bertemu. Sekilas tatapan yang mampu merubah hampir semua aspek dalam hidup kami. Kami juga tidak akan pernah lupa pada tempat parkir kampus dan tatapan mata Dandi yang sarat akan iri ketika kami saling berujar “I love you…..”