Pages

Tuesday, 1 February 2011

End I say . . . I love you

Hilmi,
Gue nggak tau semalam gue mimpi apa, tanpa ada wangsit atau firasat tiba-tiba aja otak butek gue menjadi cerah. Semua berawal disana, dari sebuah taman dikampus gue yang isinya mahasiswa semua. Mahasiswa dengan berjuta alasan yang beda-beda untuk nyicipin bangku kuliah. Ada yang pengen Cuma jadi sarjana, disuruh orang tua atau Cuma iseng-iseng belaka. Well, gue sama sekali nggak peduli sama mereka semua. Nggak untuk sekarang, sosok itu mendadak membuat otak gue nggak berjalan seperti biasa. Mendadak lemot.
Gue nggak tau mau ngetik apa, untuk cerita terbaru yang diminta oleh redaksi majalah kampus gue. Redaksi yang cerewet itu minta gue buru-buru untuk nulis cerita. Tapi, gimana mau buat cerita lagi, sedangkan selama 2 jam gue duduk dan natap Layar LCD, otak gue sangat mampet untuk ngetik meski hanya satu huruf saja. Buntu, sebuah fenomena langka yang jarang di alami oleh otak gue.
“Gah, padahal deadlinenya lusa!” rutuk gue dalam hati sambil garuk-garuk kepala pelontos gue.
Gue teguk lagi secangkir teh anget untuk ke empat kalinya. Hal yang biasanya ampuh membuat otak gue fresh. Mata gue berkeliaran ke arah seluruh penjuru kantin kampus yang sudah mulai sepi. Gue pun memutuskan untuk berjalan-jalan, berharap mendapat sesuatu untuk gue tulis.
Dan, tanpa gue pernah minta sama Tuhan, tiba-tiba sosok itu hadir dimata gue. Sekejap, tapi effect –nya nggak kalah dengan gempa jogja tahun 2004 lalu, sama-sama membuat runtuh walau dalam kasus ini, yang runtuh adalah hati gue. Oke, mungkin kalian nilai gue lebay. Tapi, silahkan kalian pikir, gimana hati gue yang kosong ini nggak runtuh saat mata gue berpandangan dengan sosok gadis manis, berambut panjang yang saat itu mengenakan dress dengan motif bunga-bunga, sangat anggun. Detik itu juga, otak gue langsung menciptakan seribu kata yang tanpa ragu gue jadikan tema cerpen gue minggu ini di majalah kampus.
***
Gue Cuma bisa bengong menyadari kebodohan gue, setelah temen kosan gue nanya “siapa namanya?” saat gue selesai cerita tentang ‘oasis’ yang baru gue temui sore tadi. Kenapa dia gue namain oasis? Karena dia seperti oasis di gurun yang gersang, mampu menyejukkan dan membuat otak buram gue menjadi jernih.
cewek dikampus banyak, bro.” kata Deri sembari senyum-senyum ngeledek.
“ Iya gue tau.” Jawab gue mangkel.
***
Ini nih yang gue benci dari diri gue. Seluruh tubuh gue mendadak beku setiap berhadapan dengan cewek yang gue suka. Seperti pagi ini, dia hanya berjarak beberapa meter dari gue, dekat sekali. Dan gue Cuma bisa mandangin dia yang sedang ngambil buku-buku kuliahnya di loker yang letaknya Cuma beda satu loker dari loker gue. Dalam jarak sedekat itu, mulut gue terkunci rapat walau Cuma untuk berkata “hai”.
***
Langkah buru-buru gue terhenti saat diujung lorong itu gue lihat dia, sang oasis yang mencuri seluruh focus dan pandangan gue sedang berusaha untuk mengambil bukunya yang jatuh. Ajaibnya, entah ada keberanian darimana, kaki gue mulai melangkah, mendekat dan tangan gue bergerak otomatis untuk mengambil buku milik cewek yang gue beri nama oasis karena gue nggak tau nama aslinya dia siapa.
Rasanya jantung gue mau keluar dari tempatnya ketika senyuman itu hadir dari bibirnya untuk gue dan seluruh tubuh gue seperti tersengat listrik saat telinga gue menerima gelombang suara dari bibirnya yang berkata, “putri”.
Putri, ya putri…. Nama gadis itu adalah putri. Sesuai dengan namanya, putri memang seperti putri, terbukti dengan banyaknya cowok yang punya keinginan untuk mendekatinya. Seperti sekarang, beberapa cowok terlihat mengelilingi putri dan gue disini hanya bisa memandangnya. Dia sepertinya terlalu jauh dari genggaman cowok seperti gue……
Andai dia tau, gue sayang dia banget….

Putri
“Stop!”
Dandi menginjak rem dan mandang aku heran, “Kenapa, Put?”
Aku tidak menghiraukan pertanyaan Dandi dan matanya yang lekat menatapku. Mataku menatap lekat pada kaca spion mobil Dandi. Terfokus pada refleksi sesosok cowok bertubuh gempal dan berkaca mata hadir tepat dibelakang mobil yang ku naiki bersama Dandi. Cowok yang sanggup membuat hatiku bergetar dan bersorak-sorai setelah sekian tahun merasa hampa dan mati.
Matanya memandang ke arahku, atau lebih tepatnya kepada mobil Dandi yang aku tumpangi. Apakah yang kulihat itu benar? Sorot matanya tampak seperti seseorang yang tersakiti, tapi karena apa? Apa karena aku? Aku yang berada dalam satu mobil bersama Dandi, sahabatku?
“Put.” Panggil Dandi.
Tanganku bergerak membuka pintu mobil, kakiku melangkah turun, telingaku mendengar Dandi memanggil namaku namun tidak ku pedulikan. Yang ku inginkan hanya satu, berlari ke arahnya. Pada dia yang hampir berlalu dari hadapanku.



Hilmi dan Putri
Kami tidak akan pernah lupa pada hari itu, hari saat kami bertemu. Sekilas tatapan yang mampu merubah hampir semua aspek dalam hidup kami. Kami juga tidak akan pernah lupa pada tempat parkir kampus dan tatapan mata Dandi yang sarat akan iri ketika kami saling berujar “I love you…..”

3 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

lho ini cerpen toh...menarik juga

Rians said...

ini fiksi apa asli? :)

unu_utamee said...

@mba fanny: makasih mba :)

@rian: fiksi