Pages

Thursday, 3 February 2011

LIHATLAH LEBIH DEKAT


“Tidak selamanya mata itu benar.” Kata Bunda saat aku bercerita tentang apa yang ku lihat di sekolah tadi. Aku mendengus mendengar kata-kata itu. “Lalu apa itu artinya, Bun?” tanyaku ketus. Wanita yang telah melahirkan ku itu tersenyum . “Cari tahu lah, nak. Baru kamu bisa ambil kesimpulan dari seluruh kejadian yang kamu lihat itu.” Bunda pun pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Hah?! Aku harus cari tahu apa yang sebenarnya anak pembantu itu lakukan? Penting banget apa dia?? Huh!
☺☺☺
Kemarin siang, di ruang kelas XI-IS 3, ku lihat Arista si anak pembantu yang bekerja di rumahku sedang berbicara dengan seseorang. Aku mendekat ke arah ruangan itu agar aku bisa melihat orang yang berbicara dengan Arista secara jelas. Oh, aku tercekat. Aku tak mampu bernafas. Orang yang berbicara berdua dengan Arista adalah Pak Arsan! Guru baru di sekolah kami yang ganteng dan masih single. Mereka tampak begitu akrab satu sama lain. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi aku bisa melihat raut bahagia di wajah Arista setiap guru yang selalu tersenyum itu berbicara sambil menatapnya.  Sesekali wajah Arista tertunduk lalu ia menengadah untuk menatap wajah Pak Arsan yang juga menatapnya. Mereka berdua pun tersenyum. Tangan Pak Arsan membelai rambut Arista dan gadis itu pun tertawa. Cih! Aku muak melihat adegan itu. Bukan, bukannya aku menyukai Pak Arsan. Tetapi lihatlah bagaimana anak pembantu itu menggoda Pak Arsan! Kasihan sekali orang-orang yang selama ini mengira ia adalah gadis baik-baik.
☺☺☺
Masih jelas teringat dalam memoriku saat tiga tahun lalu bel pintu rumahku berbunyi. Bik Sum yang sedang menggosok di ruang belakang tidak mendengar bunyi bel itu. Lalu dengan langkah yang agak malas, aku membuka pintu rumah. Aku terdiam, menatap ‘tamu’ yang kini berdiri di hadapanku. Ia adalah anak perempuan seusiaku, rambutnya hitam dan kusut. Wajahnya manis namun sayang begitu tak terurus. Terbukti dengan beberapa jerawat yang menghiasi wajahnya. Lalu pakaian yang ia kenakan juga tak lebih bagus dari baju-baju bekas milikku yang menumpuk di dalam gudang. Di kakinya pun banyak di hiasi bekas becek-becek yang sudah mau mengering dan ia hanya mengenakan sandal jepit yang bagian karet bawahnya pun sudah menipis. Matanya yang hitam menatapku ragu. Tangannya yang kurus menenteng sebuah tas kain lusuh yang sudah banyak tambal sulamnya. Aku terheran-heran mendapati anak ini memencet bel rumahku dan berdiri di hadapanku.
“Cari siapa?” tanyaku. Aku berusaha untuk menjaga intonasi suaraku agar tak terdengar seolah aku menginterograsi. Anak itu tersenyum lalu berkata, “Ini rumahnya Bapak Handoyo?” logat sundanya terdengar begitu kental. Aku mengernyitkan keningku, “Iya benar. Saya anaknya, kamu siapa ya?” senyumnya semakin lebar seolah-olah ia baru saja mendapatkan lotre. Aku berdiri menunggu jawabannya dengan sikap tak sabar. Sorot matanya lalu menatapku seolah ia telah mengenalku sejak lama. “Kamu pasti non Carissa. Benarkan?” aku hanya menganggukan kepalaku dan mengulangi pertanyaanku. “Kamu siapa?” Anak itu mengulurkan tangannya padaku. Ragu-ragu aku menjabat tangannya yang berdebu. “Aku Arista, anaknya Bik Sum.”
Dan sejak hari itu, Arista tinggal bersama keluargaku. Aku sangat senang mendapatkan teman perempuan yang sebaya denganku. Karena aku tinggal di kompleks perumahan yang kebanyakan penduduknya sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku jadi tidak memiliki banyak teman. Di sekolah pun karena aku termasuk murid pendiam, teman yang ku miliki tidaklah banyak. Hanya Hanna, sahabat ku sejak aku masuk SMP hingga kelas tiga ini. Tak heran, aku girang bukan main mendapatkan satu lagi teman bermain sehingga aku tidak merasa kesepian di rumah. Maklum saja, aku adalah anak satu-satunya Ayah dan Bundaku. Mereka berdua pun sama-sama sibuk. Walaupun Bunda selalu akan berangkat kerja jika aku sudah berangkat ke sekolah, tapi tetap saja di siang dan malam hari aku hanya berdua dengan Bik Sum di rumah, di tambah Pak Karjo, supir dan tukang kebun rumahku. Tentu saja ini begitu membosankan karena aku tak bisa mengajak Pak Karjo dan Bik Sum untuk main bersamaku. Mereka pun juga akan sibuk mengerjakan tugas mereka.  Dan sejak ada Arista di rumah, hal ini terselesaikan.
Kami berdua selalu bermain bersama. Karena hampir tiap saat kami bersama-sama, banyak orang yang mengira kami adalah anak kembar. Hal itu membuat Bunda bersemangat untuk mendandani kami seperti anak kembar. Bunda membelikanku dan Arista baju yang sama, sepasang sepatu yang sama namun beda warna, jepit rambut yang sama bahkan gelang-gelang yang sama. Dan, aku senang memiliki banyak kesamaan dengan Arista.
Arista adalah sosok anak yang baik. Ia begitu lembut dan perhatian. Ia juga sangat mengerti aku. Bisa ku ingat jika Arista adalah satu-satunya orang selain Bundaku yang mampu membuatku tenang saat aku merasa ketakutan. Arista juga rela memanjat kekamarku di lantai dua untuk mengantarkan makanan untukku saat aku di hukum oleh Ayah dan Bunda. Arista juga rela menemaniku berendam air rebusan daun pandan saat Eyang putri datang ke rumah dan memeriksa kulitku yang tak terurus. Arista juga yang menemaniku tidur jika hujan dan banyak petir saat Ayah maupun Bundaku tak ada di rumah. Ya, aku sangat menyanyangi Arista. Bahkan ia sama sekali tak ku anggap sebagai seorang anak pembantu di rumahku. Hanya saja kejadian itu merubah segalanya …
Siang itu aku masuk kekamarku dengan badan yang begitu pegal setelah hari ini aku berlari mengelilingi lapangan bola sebagai hukuman karena datang terlambat. Aku begitu lelah. Aku sangat ingin cepat-cepat sampai ke rumah dan tidur di kamarku yang nyaman. Namun, keinginan itu buyar seketika saat kaki ku melangkah memasuki kamar. Dengan jelas ku lihat Arista yang sedang berjongkok di sudut kamarku. Ia terlihat sibuk.
“Elo ngapain, Ris?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya. Arista menoleh dan terkejut melihat kedatanganku. Aku juga tak kalah terkejut menatapnya dan menatap sebuah kepala boneka yang ada di genggaman tangannya. Ku percepat laju jalanku. Dan di belakang tubuh Arista, ku temukan boneka keramik Mickey Mouse kesayanganku sudah tergeletak tak berbentuk di lantai. Di sebelah serpihan keramik boneka itu ada sebuah kemoceng. Di sampingku Arista masih berjongkok. Aku bisa merasakan tubuhnya yang gemetar. Arista tahu jika boneka ini adalah benda kesayanganku yang paling ku rawat dan ku jaga. Aku berdiri mematung memandangi serpihan boneka kesayanganku itu.
“Carissa…” suara Arista memanggilku lirih. Aku masih diam tak menghiraukan panggilannya. “Carissa…” panggil Arista lagi.
“Elo tau kan kalo benda yang lo rusak itu adalah benda kesayangan gue?! Elo tau kan itu hadiah dari Ayah gue sebelum dia pergi ke Amerika setelah cerai dengan Bunda?! Elo juga tau kan kalo itu satu-satunya kenangan dari beliau yang gue punya?! Kenapa lo tega ngerusaknya, Ris?!” aku setengah berteriak menyahuti panggilannya. Bik Sum yang tadi sibuk di dapur, datang tergopoh-gopoh ke kamarku. Wanita paruh baya ini menatap kami berdua bergantian.
“Non Caris, ada apa non?” Tanya Bik Sum. Jari telunjukku menunjuk ke serpihan-serpihan boneka keramikku yang tak lagi berbentuk. Wanita yang sudah bekerja selama 20tahun lebih di keluarga ku ini  juga terkejut saat ia menyadari serpihan-serpihan boneka kesayanganku. Ya, satu rumah ini pun tahu jika boneka keramik Mickey Mouse itu adalah benda kesayanganku. “Arista kenapa kamu merusak boneka ini?!” marah Bik Sum.
“Aku ngga sengaja, Bu. Aku tadi bersihin buffet itu, tapi tanganku menyenggol boneka itu dan terjatuh. Non Caris, maaf… aku ngga sengaja.”
“Keluar dari kamar ku… Keluar!!!!” teriakku marah. Arista masih memandangku dan berharap aku mau memandangnya juga. Namun, aku tak peduli, aku tetap membelakanginya dan tetap menyuruhnya keluar.
Sejak kejadian itu, entah kenapa aku selalu merasa benci jika melihat Arista. Aku tak mau lagi mendekatinya. Melihatnya pun aku enggan. Bahkan aku tak mau berangkat sekolah bersama Arista walau Bunda memasukkan kami di SMA yang sama. Ya,,, kami menjauh lebih tepatnya aku yang menjauh dari Arista dan aku masih enggan untuk mendekatinya lagi seperti dulu walau masalah itu telah lewat enam bulan yang lalu.
☺☺☺
Aku terheran-heran melihat setiap orang di sekolah ini memandangku dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat. Oh, bukan aku ternyata yang mereka pandangi tetapi orang yang berjalan pelan di belakangku, Arista. Aku melihat mereka dengan pandangan heran. Hey, apakah sekarang si anak pembantu ini menjadi artis? Pikirku. Ku toleh ke belakang untuk melihat Arista. Gadis itu menunduk. Bisa ku lihat wajahnya yang sedikit memucat karena rasa takut dan perasaan risih akibat pandangan orang-orang itu. Bahkan ada beberapa dari mereka yang berbisik-bisik sambil menatap Arista jijik. Sungguh, sebenarnya aku merasa kasihan pada Arista. Tapi aku tetap enggan untuk mendekatinya.
Dari jauh ku lihat Lona berlari mendekatiku. Saat melihat Arista di belakangku, Lona sontak menarik tanganku untuk menjauh dari Arista. Ku lihat bola mata Arista membesar pertanda ia kaget dan syok melihat Lona yang menarikku menjauhinya karena selama ini Lona orang yang paling dekat dengannya sejak aku menjauh darinya. Pedih, ku lihat tatapannya yang begitu nanar. Namun, tangan Lona yang semakin erat mencengkram tanganku membuatku sulit untuk berhenti melangkah. Kami berhenti di depan kamar mandi perempuan. Aku menatap Lona terheran-heran.
“Ngapain kita ke sini?” tanyaku.
Lona menunjuk sebuah kertas yang tertempel di dinding kamar mandi yang sudah sedikit terkelupas catnya. “Lo liat itu.” Kata Lona.
Aku masih bingung dengan kata-kata Lona. Ku ikuti arah tatapan matanya yang tertuju pada sebuah kertas dengan tulisan tangan yang sangat acak-acakkan. Di kertas itu tertulis:
“Mau lihat pasangan baru di sekolah ini yang bakal bikin heboh? Kita sambut si anak pembantu dan guru baru yang tampan itu: ARISTA dan Pak ARSAN. Selamat ya untuk hubungan kalian.”
Glek!!!
“Tuh pengumuman juga ada di kantin, mading, kamar mandi cowok, kamar mandi guru dan di kelas kita.” Kata Lona.
Ku copot selembaran itu dan ku robek dengan paksa. Pantas saja banyak murid-murid sekolah ini yang menatap Arista dengan pandangan jijik dan jutek seperti tadi. Ternyata ini penyebabnya…
“Siapa yang ngelakuin semua ini?”tanyaku pada Lona.
Lona menatapku, “Ngga usah sok innocent lo. Siapa lagi di sekolah ini yang benci sama Arista kalo bukan elo. Car, Arista emang pernah ngerusakin boneka lo dan itu pun Arista udah nyari kemana-mana buat ngegantinya, apa segitu gedenya rasa benci lo sama Arista sampe lo tega berbuat begini ke dia, hah?!”
Aku memandang Lona bingung. “Elo nyalahin gue, Lon?” ku buang nafas kesalku. “Gue emang sebal sama Arista, tapi gue ngga ngelakuin ini semua!!!” jeritku.
Aku berlari meninggalkan Lona. Ku telusuri semua tempat yang Lona bilang menjadi tempat di tempelkannya selembaran-selembaran itu. Ku copot semua kertas-kertas sialan itu dan ku robek semuanya menjadi tinggal serpihan-serpihan kecil. Aku tak tahan, semua orang pasti menuduhku yang melakukan ini semua. Ku sandarkan tubuhku ke tembok dan tanpa sadar aku menangis kencang. Aku tak peduli saat sepasang lengan yang cukup kekar membawaku ke pelukannya. Dan di dalam pelukan itu aku menangis sejadi-jadinya.
Perlahan, kedua lengan itu membawa wajahku untuk menatapnya. Dan aku terkejut saat mendapatkan jika orang tersebut adalah, “Pak Arsan.”
“Saya tau itu bukan perbuatanmu, saya tau sebenci apapun kamu pada Arista, kamu tidak akan pernah berbuat hal itu padanya. Saya tau itu.”
“Maafin saya pak… kemarin saya lihat bapak dan Arista berdua di kelas. Aku cerita sama Hanna apa yang ku lihat. Aku memang berpikir kalau kalian berpacaran, tapi aku ngga pernah punya niatan untuk membuat berita bohong seperti itu…” kataku takut-takut pada Pak Arsan. Aku tak mau ia juga mengira jika aku orang yang membuat berita bohong tentang ia dan Arista.
“Kamu bilang kamu cerita sama siapa tadi?”
“Hanna.”
“Hanna.”
“HANNA!!!”
☺☺☺
Gadis berkulit putih itu dengan tangan gemetar sibuk memainkan kancing baju seragam sekolahnya. Gadis itu bernama Hanna. Ya, sahabatku Hanna atau lebih tepatnya akan menjadi mantan sahabat.
“Aku pikir Carissa benar-benar benci pada Arista, jadi aku buat saja berita seperti itu.” Aku Hanna.
Pandanganku sedikit kabur karena air mata saat aku memandang Hanna. “Tega banget lo, Han.” Suaraku tercekat.
Mata Hanna memandangku tajam, bibirnya gemetar seraya berkata, “Lo yang tega sama gue! Sejak Arista sialan itu ada di rumah lo, elo lebih asyik main sama dia. Sebentar-sebentar lo cari Arista. Lo selalu mentingin Arista daripada gue!!! Makanya, buat bikin elo jadi benci sama Arista, gue sengaja main ke rumah lo waktu elo ngga ada. Jadi gue bisa nyuruh si anak pembantu sialan itu buat bersihin boneka keramik lo, supaya gue bisa pura-pura nyenggol dia sampe boneka itu jatuh. Dan benarkan dugaan gue. Akhirnya elo ngebenci dia sampe hari ini.”Hanna tertawa kemudian melirik Arista, “Gue benci sama elo! Elo Cuma anak pembantu tapi kenapa Carrisa bisa care sama lo? Anak pembantu kayak elo ngga pantes temenan sama Carrisa, dia itu majikan lo!!!”
Plak!!!
Sebuah tamparan keras ku berikan pada Hanna. Aku sama sekali tak menyangka jika orang yang selama ini aku anggap sebagai sahabat ternyata bisa berbuat setega itu kepadaku. “Han, lo tau kan kalo gue kesepian? Lo tau kan gimana senengnya gue waktu gue tau bahwa gue punya temen main di rumah? Lo tega ya ngancurin semua itu… keterlaluan ya diri lo itu. Jangan lo heran kalo lo ngga punya banyak temen. Karena lo nggak layak!!!”
Aku berlari keluar dari ruang kepala sekolah yang ‘mengadili’ aku, Arista, Hanna, Lona dan Pak Arsan tentang selembaran yang menggosipkan hubungan antara guru dan murid di sekolah ini. Aku tak tahan lagi melihat wajah Hanna. Wajah seorang sahabat yang ternyata tak sebaik yang ku kira, sahabat yang selama ini ku percaya. Tiba-tiba perkataan Bunda terngiang lagi di telingaku, “Tidak selamanya mata itu benar.”
Ya, aku baru percaya jika mata itu tak selalu benar…

3 comments:

siroel said...

wuih, cerpen sapa nih uga??
keren2... sukses yah...trs brkrya...

unu_utamee said...

aku yg buat dong heheee
alhamdulillah kalo keren :)

Madinger said...

iya, saya juga punya prinsip: hal yang paling kelihatan adlah hal yang paling menipu. makanya jangan buru-buru menyimpulkan hanya dari yang terlihat :)