Pages

Monday, 21 February 2011

Nyawamu-Aset hidupmu

berawal dari keharusan saya pergi ke UI kemarin pagi. Maklum tempat tinggal saya yang di ujung, mengharuskan saya menggunakan kereta untuk sampai ke sana. Yah, naik bus sih bisa, namun kondisi dompet yang ga memungkinkan serta waktu yang dibutuhkan juga jauh lebih lama. bersama seorang adik kelas, kami bertemu di stasiun serpong. kami menunggu di peron 2 dan karena kereta belum juga datang, kami duduk-duduk di tangga sambil ngobrol untuk membunuh waktu. sebagai anak kereta yang hampir tiap hari menggunakan transportasi itu, kehidupan di stasiun bukanlah hal yang asing lagi bagi saya. teriakan para tukang minuman yang kadang bikin saya ketawa maupun tukang tahu yang ga cape bolak balik teriak "beli tahu gratis cabe", sebuah cara promosi yng bagus dari si tukang cabe, eh tukang tahu. Hm, tapi untuk kali lagi yang menjadi fokus tulisan saya bukanlah si tukang tahu yang promosi ataupun bapak-bapak penjual minuman yang kalau jualan terkadang membuat penumpang kesal karena senggol sana senggol sini (maklum,kereta parungpanjang selalu penuh, hehhe :P). tapi ada satu kejadian yang jujur, walau saya telah terbiasa dengan kehidupan di kereta dan stasiun tapi baru kali ini saya saksikan dengan mata saya sendiri. kerennya, I am a witness at that accident. will, a witness for my self :) .

pagi menjelang siang itu sekitar pukul 11.00, suasana yang cukup segar dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi dan orang -orang yang duduk dengan wajah jemu saat menunggu kereta, saya mengedarkan pandangan mata saya berkeliling stasiun. melihat apa yang bisa dilihat, mereasa apa yang bisa di rasa serta membaca apa yang bisa saya baca. yang selalu menarik perhatian saya adalah spanduk besar bertulisan undang-undang yang melarang penumpang untuk naik di atap kereta maupun lokiomotif. oke, kalau kata teman saya saat ini PKD sudah mulai tegas dan penumpang sudah jarang yang duduk di lokomotif ( deket-dedekt si pak masinis :P). lagi asyik-asyiknya ngobrol dengan si adik kelas, tiba-tiba orang--orang yang sedang duduk duduk di peron 3 berdiri dan berteriak histeris. otomatis, saya dan adik kelas saya ikut berdiri dan mencari tahu apa yang terjadi. Voila....... mata kami menangkap sosok anak muda berkaos kuning yang telah tergeletak di jalur rel kereta. kenapa dengan dia? engga, dia bukan seorang aktor yang sedang berakting, dia hanya seorang penumpang yang terjatuh dari gerbong paling belakang kereta itu. entah bagaimana pastinya, tiba-tiba saja dia sudah tergeletak disana, di jalanan kereta yang penuh batu-batu. petugas statsiun dengan sigap membopong orang itu. kami (saya dan adik kelas saya) hanya bisa ternganga ( dalam hal ini, saya ga bisa menggambarkan kalau kami terpesona. hehehe) melihat kejadian itu. bukan tidak mau bantu, tapi otak dan kaki saya sama sekali gak singkron. lemes sekali... petugas membopong orang itu ke ruangan yang entah apa namanya,kami bisa melihat jika orang itu masih bernyawa dan dia patut bersyukur akan hal itu.

dari hal di atas, saya ingin mengajak teman-teman untuk mencintai nyawa kalian. kita hidup di dunia ini hanya dengan satu nyawa, sekali lagi SATU NYAWA SAJA. kita bukan di hidup di dunia MARIO BROSS yang bisa makan jamur hijau lalu nyawa bertambah dan jika jatuh ke lubang akan mendapat kesempatan lagi. dunia ini tidak akan melindungi kita dari kekejaman yang tersimpan di dalamnya. bukan, saya bukan mengajak teman-teman untuk menjadi pengecut yang kemudian tidak melakukan apapun. bukan seperti itu. saya hanya merasa prihatin dengan orang-orang yang salah mengartikan KEBERANIAN. duduk di atap kereta mereka bilang BERANI, bergelantungan di pintu mereka adalah hal KEREN, duduk didepan lokomotif adalah hal MENANTANG yah, itu semua sangat BERANI MENANTANG MAUT namun sekaligus hal TERKONYOL yang gak layak untuk dilakukan. kenapa??

bagi para lelaki (kebanyakan laki-laki yang kaya gitu, jarang dan hampir ga ada perempuan yang duduk diatap kereta) yang bergelantungan, duduk di atap dan di depan lokomotif sudahkan kalian memikirkan keluarga? untuk para bapak-bapak dan yang sudah berkeluarga: jika kalian berpikir itu hal yang KEREN, jika kalian jatuh kemudian terlindas dan meninggal, akankah itu jadi hal KEREN lagi? atau kalau jatuh , tidak meninggal namun masuk rs, masih kah kalian bilang itu hanya APES? saat kalian kalian meninggal dengan cara seperti itu bagaimana dengan keluarga kalian di rumah? anak-anak kalian, istri, bagaimana mereka harus makan serta melanjutkan hidup? meninggal memang takdir manusia tapi bukan berarti kita melakukan hal-hal konyol yang membuat malaikat mau tergiur untuk berkunjung kan? atau kalau tidak meninggal sekalipun, apa kah kalian sudah berpikir ttg biaya rumah sakit dan perawatan yang harus dikeluarkan? jika cacat siapa yang akan keluar untuk mencari nafkah?

untuk para mahasiswa dan pelajar sekalian, teman-teman adalah mutiara keluarga, harapan keluarga untuk menganggkat mereka pada hidup yang jauh lebih baik, tega kah kalian membuat keluarga kalian bersedih karena kekonyolan sikap itu? terlalu ironi kawan.....

marilah kita berpikir ulang dan mengkaji kembali apa yang di sebut KEBERANIAN dan KEREN. lalu pikirkan juga TANGGUNG JAWAB kalian pada hidup ini. karena nyawamu adalah satu-satunya aset berharga dalam hidupmu kawan ;)

1 comment:

Sang Cerpenis bercerita said...

hehe..mestinya beli tahu gratis cabe dan kecap ya..pasti laku deh.