Pages

Tuesday, 26 April 2011

Hal Yang Indah Perlu Pengorbanan

Holla dunia maya, apa kabarnya? Udah bertaun-taun kayanya gak gue jamah blog ini, hehehhe #lebay#. Yap, apa kabar kalian? Gue? Oh,,, masih tetap bernafas dan suka nyumpel kuping pake dengan headset sambil tidur tentunya, hohohoh. Dan... Kemana sajakah gue selama ini?

Magang. *backsound: suara tanjidor*

Setelah resmi menjadi seorang mahasiswi semester 6 dikampus biru kawasan serpong, gue harus melakukan magang untuk melangkah ke step selanjutnya, yakni semester 7. Temen-temen pasti taukan Magang itu apa? Intinya, magang itu latihan kerja. Jadi, gue "berpura-pura" bekerja di sebuah Rumah sakit dan belajar mengerjakan kegiatan sehari-hari disana. Meski sebelumnya gue udah sering aktif disebuah lembaga les, tapi  sewaktu terjun langsung dan mendarat bebas di sebuah RS di Tangerang, hal yang gue rasain adalah BEDA. Yep, beda banget antara kuliah dan kerja. Teori yang ada saat sekolah terasa banget manfaatnya ketika waktu magang. Jadi nyesel, inget suka bolos dan kadang malah asyik ngobrol dengan teman pas dosen lagi ngomong *nangisdarah*.

Jadwal magang yang sepenuhnya ngikutin jam kerja karyawan di RS, lumayan buat gue rada pengap. Untung aja sih, udah pernah merasakan gimana rasanya berjadwal padat, jadi ga aneh. Cuma harus nyesuain waktu bangun tidurnya saja.Waktu bangun tidur yang biasanya jam 5.15, sekarang jam 4.30 harus udah melek kemudian mandi dan solat shubuh. Alhasil, dateng ke RS pun dengan sedikit-dikit nguap sehingga hampir selalu harus diganjel dengan susu (kalau minum kopi, perut gue bisa bergejolak). ahahahaaa. 

Otak merasa penat saat harus lomba dengan waktu untuk menyusun laporan. Eh, rasanya tuh pikiran senut-senut gitu loh. Laporan yang ini belum selesai, disusul laporan yang lain. Hwalah... ditambah sampe rumah sekitar jam setengah 5 rasanya capekkkk banget dan malas untuk ngapa-ngapain *sigh*.

Tapi... rasa lelah, capek, bosan, penat dan segala hal negative itu rasanya tidak perlu terlalu dirasa. Tidak perlu sering diungkapkan sehingga mengesankan sebuah keluhan. Setiap proses hidup itu pasti butuh pengorbanan. Seperti yang gue alami saat ini dan bulan-bulan kemarin. Semua adalah perjuangan untuk mencapai sesuatu yang gue cita-citakan, harapkan, dambakan. Yang menjadi motivasi disaat kaki letih untuk berlari, terucap dalam hati disetiap langkah ketika meniti tali temali kehidupan, yang menjadi nyawa atas sprint-sprint untuk suatu cita-cita. Ingat sekali ada seseorang yang pernah bilang, "Sesuatu yang berharga butuh pengorbanan untuk meraihnya".

Cita-cita adalah sesuatu yang berharga mahal, sakral dan salah satu nyawa serta alasan seorang manusia kenapa harus hidup. Untuk itu, gue merasa begitu naif ketika harus mengeluh capek, pusing, bosan, penat meski hal itu wajar jika sesekali dilakukan. Kenapa naif?

1. Ibu gue tersayang menempuh jarak yang sama seperti gue, (kantor Ibu gue ga jauh dengan tempat gue magang) dan beliau masih sempat nanyain keadaan gue saat dirumah bahkan sms cuma untuk tau putri cantiknya yang nakal ini udah makan siang atau belum, buat makanan untuk suaminya alias bapak gue, gue sendiri dan adik-adik gue. Masih sempat beres-beres rumah sementara gue selonjorin kaki karena pegal padahal GUE LEBIH MUDA BERPULUH TAHUN dari ibu gue sendiri yang mulai ditumbuhi uban dikepalanya. Jadi, malu rasanya kalau mengeluh...

2. Bapak gue yang sering ngeselin tapi ngangenin juga kerja ditempat yang jaraknya cukup lumayan jauh dari rumah. Mesti naik kereta yang gue sangat tau sumpeknya seperti apa. Tapi, masih sempet ngomel kalo gue nakal atau adek gue berulah tanda beliau masih sangat perhatian, masih sempet nyapuin kamarnya yang gue berantakin, masih sempet tanya gue udah makan atau belum. Sedangkan gue? Udah dalam keadaan "hangover" dan sering eror. Dan, buat gue malu lagi untuk bilang BOSAN

3. Karyawan yang satu atap, satu gedung, satu ruangan setiap harinya sama gue. Kalau gue bisa bilang CAPEK, PUSING, BOSAN, gimana dengan mereka? Gue baru satu bulan bolak-balik dan "nyaru" jadi mahasiswi magang di RS itu. Sedangkan mereka? BERTAHUN-TAHUN BEKERJA DISANA, setidaknya kalau mau mengeluh, mereka yang lebih layak mengeluh daripada gue.

4. Ini yang terpenting: MASA DEPAN GUE SENDIRI. Gue punya cita-cita untuk masa depan gue, begitu juga dengan kalian. Masa depan yang kita inginkan, tidak mungkin dicapai dengan ongkang-ongkang kaki saja. Perlu keringat, air mata, otak jenuh, tubuh lelah, sebagai harga mendapatkan keindahan dimasanya. Nah, kalau sekarang saja sudah nyerah, akankah sang masa depan sudi untuk mendekat?

Hal-hal itu yang sering sekali diputar oleh otak gue. Sebagai pengingat dan penyemangat, agar gue dan diri gue sebagai satu kesatuan tim, tidak kehilangan semangat dan kekompakan untuk menggapai visi kami. Dan, agar gue gak tumbang diperjalanan yang berat ini.

Bismillah, kita teruskan perjuangan kita teman. Karena, Hal Yang Indah Perlu Pengorbanan :)