Pages

Friday, 29 July 2011

Sebuah Kehadiran

Kau bilang rasamu perih
cerita dulu kau hadirkan kembali dimasa kini
aku tak pahami apa yang kau ingini
yang ku tau, kau inginkan tempatmu dulu

disini tak ada yang curi posisimu
kekosongan itu hadir karena kau pilih tuk menjauh
jangan salahkan aku yang kian dekat dengan mereka
sementara kau tak mampu berikan sayang tulusmu

tak pernah ku pinta mereka agar jadi sahabatku
aku hanya buka diriku tuk mereka
aku adalah aku, bukan aku menjadi kamu
tak ada yang diganti
yang ada hanyalah bahwa kami jalani sebuah hidup
bersama-sama cipta kan bahagia
ketika kau putuskan untuk tinggalkan kami tanpa senyuman.

Tuesday, 19 July 2011

Saat Sebuah Gambar Berbicara


Gue nggak pernah nyangka, nggak pernah minta untuk merasakan dan mendapatkan episode serta perasaan itu.....

Saat SMA gue punya abang yang suka banget nge-edit foto. Banyak foto-foto gue dan temen-temen serta objek lainnya yang dia edit. Hasilnya? Bagus banget. Waktu gue ultah pun, dia ngasih hadiah berupa foto-foto gue yang di edit dan benda itu masih mejeng di kamar gue hingga saat ini :D
Abang gue ini adalah tempat curhat gue, dari cowok yang gue taksir, putusan atau masalah keluarga. Begitu juga dia, saat lagi suka sama cewek atau ada masalah lain, biasanya dia cari gue dan kita curhat bareng. Untuk masalah cewek, dia ini paling mudah ditebak. Tinggal liat hapenya dan cari foto cewek mana yang paling banyak di edit dengan suka rela, itu adalah cewek yang lagi dia suka.
Dari hal itu, bisa diambil kesimpulan,bahwa banyak cara yang bisa di lakukan untuk menceritakan perasaan kita saat itu. Sayang, marah, kesel, atau gembira. Jujur, gue dulu iri sama cewek-cewek yang di taksir abang gue. Bukan gue jealous, tapi gue pengen foto gue di edit juga. hahahahahahaa.
Seperti yang gue bilang di atas, bahwa banyak cara yang bisa dilakukan untuk menceritakan perasaan kita saat itu. Banyak cara, kayak abang gue yang suka edit foto yang dia suka, gue yang suka buat cerpen dengan tokoh utama si taksiran gue, dan....... Joe dengan gambar-gambarnya.
Siapa Joe?
Cowok itu adalah temen lama gue yang udah lama nggak gue temuin. Sosok kocak, rese, musuh saat debat, asyik saat curhat, sparing partner untuk buat cerita, komentator untuk tulisan-tulisan gue. Mungkin pada heran kali ya, kenapa orang yang jarang banget gue temuin ini malah gue hafal kelakuannya. Itu karena kita sering smsan untuk tetep keep contack. Sms apa aja kita kirim, dari yang penting, gak penting sampe yang sekedar nyampah, seperti: 'sial gue kecipratan air comberan' atau 'gue lagi sakit gigi donggg'. Nggak penting banget kan?
Ya, dari hal itu kita bisa sama-sama tau siapa diri kita. Siapa dia dan siapa gue.
Belakangan ini, Joe suka banget ngegambar. Nggak jarang dia sms cuma buat minta pendapat gue tentang gambar yang lagi mau dia buat. Kadang kita diskusi-diskusi sembari cela-celaan (bingung ya?ahhahaha), meski gue nggak tau banyak tentang dunia gambar-gambaran. Tapi, dari diskusi-diskusi itu kita berkesimpulan <span class=" fbUnderline">kalau apapun yang kita buat entah itu tulisan atau gambar semua harus punya soul, nyawa, dan pake perasaan saat membuatnya</span>. Percaya atau tidak, sebuah karya akan lebih bagus saat dibuat dengan full soul, full perasaan, mood yang sesuai dengan apa yang ingin kita buat. Lihat saja Anang, dia bisa melejit dengan lagu "Separuh Jiwaku" karena lagu itu dia buat dengan full soul atau full pake hati. Tulisan Raditya Dika di buku MMJ apalagi part terakhir, juga mampu menyentuh perasaan karena ada hati yang ikut menuntun Radit saat nulis kalimat-kalimat itu. Adenita dengan buku 9 Matahari-nya juga mampu membuat pembaca ngerasain emosi si tokoh utama, Matari, karena Adenita ngeluarin seluruh perasaannya di segmen yang tepat. Di buku itu, ada kecewa, marah, minder, semangat dan perjuangan yang bisa kita rasain. Semua itu karena ada "nyawa" dan perasaan. Gambar juga begitu...
Dari gambar bahkan perasaan si penggambar bisa terlihat dengan jelas, saat lagi marah, sedih, bahkan jatuh cinta... bisa terasa dari aura si gambar itu.
Hal yang gak pernah gue minta dan gak pernah (berani) gue bayangin adalah menjadi salah satu subjek  seorang penggambar, Joe. Saat eksperesi gue yang ada difoto dipindah ke gambar, ditambahin perasaan-perasaan dan ngebuat gue cuma bisa senyum serta ngerasa surprise. Nggak pernah gue memperkirakan bisa merasakan menjadi 'subjek' yang di bekukan dalam bentuk gambar. Pertama kali, sketsa wajah gue muncul di blog pribadi milik dia. Gue inget banget gimana gambar itu, masih berantakan, muka gue bahkan mencong-mencong, ehhehehee. Saat gue kasih komentar, dia bilang itu kali pertama dia gambar lagi setelah beberapa tahun dia vakum. Errr.. is that so sweet, huh? 
Kemudian, dia jadi sering membuat sketsa dari notes-notes yang gue buat, dan sekarang gue akui gambarnya jauh lebih bagus daripada gambar wajah gue yang menyon-menyon dulu. hahahaahah. Tapi, dia tetep belum bisa gambar hidung gue dengan baik, masih bengkok-bengkok. Haahhahaa.
Dari gambar-gambar itu, dia seolah bercerita tentang apa yang dia rasa, dia lihat, dia pendam dan yang dia bayangkan atas sosok yang ia bekukan dalam gambar.........
ini salah satu adalah sketsa wajah gue yang dia buat :)

Monday, 11 July 2011

Filosofi Ular Tangga

Fyuh.... Hari-hari melelahkan dan menyenangkan itu terlewat sudah. Yehaa... akhirnya, magangku berakhir. Tapi, masih belum tenang nih karena belum sidang *musikhoror*. Doakan aku yaaa blogger!!! :D

Kenapa judulnya postingan ini "FILOSOFI ULAR TANGGA"? Ini bukan karena gue lagi suka main ular tangga, jual ular tangga atau hal-hal yang berhubungan dengan ular tangga lainnya. Pikiran gue terusik oleh ular tangga, setelah kemarin gue membeli sebuah majalah. Disalah satu rubrik majalah tersebut, ditulis singkat tentang filosofi yang terkandung dalam permainan ular tangga. Dirubrik itu tertulis bahwa permainan ini didasari pada ajaran karma yang terdapat dalam agama hindu. Tangga menunjukkan perbuatan baik akan membuahkan hasil baik pula, sementara ular melambangkan perbuatan jahat akan menghasilkan bencana.

Sewaktu kecil, pasti kita pernah bermain dengan permainan ini kan? Permainan yang diciptakan pada tahun 1870 (sumber: wikipedia), biasanya mengharuskan kita  mengocok dadu untuk menentukan berapa langkah yang harus kita ambil. Apabila beruntung dan berhenti didekat tangga, maka kita bisa langsung 'memanjat' ke poin berikutnya. Tetapi, kalau apes dan menginjak buntuk ular, mau nggak mau, kita akan 'meluncur' ke poin dibawah sesuai dimana ular itu berhenti.

Sama seperti kehidupan ini, saat kita berbuat baik ---meski itu kecil--- tetap akan meninggalkan jejak. Jejak-jejak itu kemudian akan membantu kita dikemudian hari dan disaat yang tepat. Begitu pula dengan keburukan. Ia akan meninggalkan bekas ditempat keburukan itu kita tinggalkan. Ia tidak akan hilang, tetap bersemayam ditempat itu dan akan menyergap kita disuatu waktu tanpa kita pernah tau serta sadari. Seperti yang gue alami....

Awalnya, gue cuma mau curhat sama temen gue tentang seorang dosen gue. Tanpa maksud lain. Yeah... namanya curhat pasti ngetiknya pake perasaanlah. Ditengah cerita, temen gue tanya: "Emank lo tanya apa?"
Demi menjawab pertanyaan itu, gue bermaksud memforward sms yang gue maksud. Setelah gue sent, hape langsung gue tinggal dan gue pergi ke nyokap yang udah siap dengan minyak tawon untuk mijet gue yang saat itu lagi kurang enak badan. Then, tanpa gue duga, hape gue bunyi. Gue baca si penelpon, dan buat gue terheran-heran. 'Kok dosen gue nelpon malem2 gini?
Ehm,,, dialog selanjutnya adalah sang dosen ngamuk sedangkan gue masih dalam tahap "ada-apa-sih?" okei, keterlaluan emang (gue-nya). Pas telpon ditutup, gue langsung cek outbox gue. Dan.... mata gue melotot sejadi-jadinya. Oh EM JI. Tuh SMS YANG BUAT SAHABAT GUE KENAPA NYAMPE KE DOSEN GUE?????????? ASTAGAAAAA......

Kaki gue lemes seketika, lutut gue gemeter. Ya... THE ENDING OF MY LIFE IS BEGIN! Gue mencet nomor hape dosen gue dengan kalap. Namun, sang dosen enggan ngangkat telpon gue. belum give up, gue pun nge-sms sang dosen dengan isi tentang permintaan maaf gue. Tapi, malam itu engga berakhir gitu aja. Gue gak bisa tidur membayangkan hari esok.

Besoknya, setelah semedi semaleman ditelpon sama temen yang gue ajak curhat. Gue kumpulin keberanian untuk minta maaf ke sang dosen itu. Yea... say apologize of my mistake. Obrolan panjang terjadi antara gue sama dia. Bersyukur beliau bilang bahwa tidak akan mempermasalahkan hal ini. Hm... Tapi... any somehing here in my heart who still feel worry. I don't know what and why...

Then, gue bisa tarik kesimpulan, adakalanya Tuhan ingin kita STOP GoSSIPING someone by Him way and sometimes His way also could make us a shame.... :)


Nb: I just wanna say a lots sorry for that mirs.... that a terrible incident.....