Pages

Monday, 11 July 2011

Filosofi Ular Tangga

Fyuh.... Hari-hari melelahkan dan menyenangkan itu terlewat sudah. Yehaa... akhirnya, magangku berakhir. Tapi, masih belum tenang nih karena belum sidang *musikhoror*. Doakan aku yaaa blogger!!! :D

Kenapa judulnya postingan ini "FILOSOFI ULAR TANGGA"? Ini bukan karena gue lagi suka main ular tangga, jual ular tangga atau hal-hal yang berhubungan dengan ular tangga lainnya. Pikiran gue terusik oleh ular tangga, setelah kemarin gue membeli sebuah majalah. Disalah satu rubrik majalah tersebut, ditulis singkat tentang filosofi yang terkandung dalam permainan ular tangga. Dirubrik itu tertulis bahwa permainan ini didasari pada ajaran karma yang terdapat dalam agama hindu. Tangga menunjukkan perbuatan baik akan membuahkan hasil baik pula, sementara ular melambangkan perbuatan jahat akan menghasilkan bencana.

Sewaktu kecil, pasti kita pernah bermain dengan permainan ini kan? Permainan yang diciptakan pada tahun 1870 (sumber: wikipedia), biasanya mengharuskan kita  mengocok dadu untuk menentukan berapa langkah yang harus kita ambil. Apabila beruntung dan berhenti didekat tangga, maka kita bisa langsung 'memanjat' ke poin berikutnya. Tetapi, kalau apes dan menginjak buntuk ular, mau nggak mau, kita akan 'meluncur' ke poin dibawah sesuai dimana ular itu berhenti.

Sama seperti kehidupan ini, saat kita berbuat baik ---meski itu kecil--- tetap akan meninggalkan jejak. Jejak-jejak itu kemudian akan membantu kita dikemudian hari dan disaat yang tepat. Begitu pula dengan keburukan. Ia akan meninggalkan bekas ditempat keburukan itu kita tinggalkan. Ia tidak akan hilang, tetap bersemayam ditempat itu dan akan menyergap kita disuatu waktu tanpa kita pernah tau serta sadari. Seperti yang gue alami....

Awalnya, gue cuma mau curhat sama temen gue tentang seorang dosen gue. Tanpa maksud lain. Yeah... namanya curhat pasti ngetiknya pake perasaanlah. Ditengah cerita, temen gue tanya: "Emank lo tanya apa?"
Demi menjawab pertanyaan itu, gue bermaksud memforward sms yang gue maksud. Setelah gue sent, hape langsung gue tinggal dan gue pergi ke nyokap yang udah siap dengan minyak tawon untuk mijet gue yang saat itu lagi kurang enak badan. Then, tanpa gue duga, hape gue bunyi. Gue baca si penelpon, dan buat gue terheran-heran. 'Kok dosen gue nelpon malem2 gini?
Ehm,,, dialog selanjutnya adalah sang dosen ngamuk sedangkan gue masih dalam tahap "ada-apa-sih?" okei, keterlaluan emang (gue-nya). Pas telpon ditutup, gue langsung cek outbox gue. Dan.... mata gue melotot sejadi-jadinya. Oh EM JI. Tuh SMS YANG BUAT SAHABAT GUE KENAPA NYAMPE KE DOSEN GUE?????????? ASTAGAAAAA......

Kaki gue lemes seketika, lutut gue gemeter. Ya... THE ENDING OF MY LIFE IS BEGIN! Gue mencet nomor hape dosen gue dengan kalap. Namun, sang dosen enggan ngangkat telpon gue. belum give up, gue pun nge-sms sang dosen dengan isi tentang permintaan maaf gue. Tapi, malam itu engga berakhir gitu aja. Gue gak bisa tidur membayangkan hari esok.

Besoknya, setelah semedi semaleman ditelpon sama temen yang gue ajak curhat. Gue kumpulin keberanian untuk minta maaf ke sang dosen itu. Yea... say apologize of my mistake. Obrolan panjang terjadi antara gue sama dia. Bersyukur beliau bilang bahwa tidak akan mempermasalahkan hal ini. Hm... Tapi... any somehing here in my heart who still feel worry. I don't know what and why...

Then, gue bisa tarik kesimpulan, adakalanya Tuhan ingin kita STOP GoSSIPING someone by Him way and sometimes His way also could make us a shame.... :)


Nb: I just wanna say a lots sorry for that mirs.... that a terrible incident.....

2 comments:

Bekti said...

Aih... ga enak banget kejadiannya ya? Tapi sms yang ke forward tidak sengaja itu, kalau sang dosen bisa menyikapi dengan bijak, bisa jadi koreksi buat dirinya untuk masukannya dia lho...

Setuju banget, gosip itu emang ga baik, dan harus dihentikan.

Anonymous said...

good ....nice....