Pages

Thursday, 29 September 2011

Skripsi Oh Skripsi

Saat tulisan ini di buat saya lagi dalam masa PUSING dan LIER karena satu kata yang bikin mahasiswa tingkat akhir merinding, yaitu SKRIPSI. Padahal baru aja beberapa bulan yang lalu say goodbye dengan laporan manajerial dan laporan magang, sekarang harus say welcome back to SKRIPSI. Itu artinya, adegan pusing-pusingan, gubrak-gabruk nyari referensi, bolak-balik revisi, ngantri konsul hingga nunggu dosen dan begadang-begadangan akan di mulai lagi. Begini lah nasipnya anak mergeran. Seperti supir mikrolet, kita harus kejar setoran. Anak reguler aja yang nyelesein skripsi tanpa magang, bisa di bilang lumayan keteteran. Nah, gimana dengan yang pake magang dan buat laporan manajerial juga? Waduh.... bener-bener harus di kebut.

Kalo mikir masa-masa itu rasanya pusing duluan. Tapi hidup ini udah sulit, jadi gak perlu di buat sulit. Semua pasti ada jalan. Ini saatnya untuk membuat manajemen waktu yang baik agar semua target terlaksana dan di capailah hasil yang baik. Suatu hal berharga seperti masa depan, tidak dapat di raih dengan santai-santai atau malas-malasan. Perlu harga yang harus di bayar. Dan di masa ini, saya harus 'mencicil' bayaran untuk bisa 'mendapatkan' masa depan yang baik dan itu memang HARUS. Jadi...untuk saya dan temen-temen mahasiswa tingkat akhir lainnya. Mari kita berjuang melawan kemalasan supaya target kuliah yang masing-masing yang kita miliki dapat tercapai serta terlaksana dengan baik.
Akhir kata: SEMOGA SUKSES & SELAMAT BERKENCAN DENGAN SKRIPSIMU :)

Saturday, 24 September 2011

CINTA VISUAL

Belakangan ini tekhnologi berkembang kian cepat. Termasuk perkembangan jejaring pertemanan sosial seperti twitter dan facebook. Dua alat ini seolah menerobos ruang dan waktu. Menerobos masa dan keterbatasan dunia. Dari facebook dan twitter kita bisa berkenalan dengan banyak orang. Bahkan, dari facebook dan twitter juga berkembang sebuah varian cinta yang baru, yaitu CINTA VISUAL. 

Gak bisa di pungkiri bahwa di akun twitter atau facebook, orang cenderung memasang foto dengan wajah terbaiknya. Hal ini di lakukan untuk menarik perhatian orang dan untuk menambah teman. Dari foto-foto itu juga bisa membuat orang 'tertarik' hingga timbul keinginan untuk mengenal secara lebih jauh. Dengan ketertarikan lebih ini, orang-orang pecinta dalam dunia maya akan mulai mengikuti apa saja yang di up date oleh orang yang dia suka. Mengamati foto-fotonya, gaya bicaranya dengan teman-temannya melalui kolom komentar atau twits yang di kirim serta berbagai cara lainnya.

Banyak juga pasangan yang berpacaran bertemul di twitter atau facebook. Pertanyaannya, akankah rasa itu masih sama jika mereka berjumpa dalam dunia nyata? Yang beruntung akan menyatakan jika rasa itu masih sama malah bisa berkembang lebih. Tapi tak sedikit pertemuan itu menjadi yang pertama dan terakhir. Alasannya, ternyata dia tidak seindah dalam akunnya. Kalau sudah begini bisa di sebut: CINTAKU HANYA SEBATAS FOTO DALAM FACEBOOK/TWITTER, hehehe, ngenes pastinya.

Ada juga yang jadian via Facebook atau twitter tapi gak pernah ketemu saat pacaran. Entahlah untuk apa mereka pacaran. Tapi banyak juga pasangan macam ini loh. Beberapa teman saya pernah mengalaminya. Dan menurut pengakuan mereka semua itu cuma untuk main-main aja.

So, cinta yang berawal dari tatapan facebook atau twitter bisa bertahan lama gak sih? How bout you guys? :)

"HAPPY SATURDAY" :D

Thursday, 22 September 2011

DUA QUEEN

Malam itu di pantai anyer, bintang bersinar begitu cemerlang. Di bawah naungan langit hitam bertabur bintang dan di antara debur suara ombak, duduklah dua sahabat di sana. Gita dan Tari. Mereka duduk bersisian. Tak peduli akan pasir-pasir yang mengotori celana pendek yang mereka pakai. Mata mereka menatap lurus ke arah siluet lautan di hadapan mereka. Kaki-kaki mereka basah oleh air laut yang menyapa bibir pantai. Sudah 30 menit mereka duduk. Kebisuan tercipta setelah sebelumnya mereka berlari-lari di sepanjang bibir pantai dan berteriak melepaskan seluruh beban di hati mereka. Berteriak lepas, sangat lepas. Beruntung, pantai sunyi malam itu.

"Kita harus bisa move on." Gita memecah keheningan.
"Iya, kita harus bisa melangkah melupakan masa lalu kita." Suara Tari terdengar bergetar.
"Masa lalu yang suram harus kita tinggalkan."
"Kita gak bisa begini terus. Kita pantas mendapatkan yang kita inginkan."
"Lo tau gak?"
"Apa?"
"Gue selalu pengen jadi seorang marketing yang hebat." Senyum tersungging di bibir Gita untuk pertama kalinya di 30 menit terakhir.
"Cocok buat lo. Dan, lo tau gak?"
"Apa?"
"Gue selalu pengen jadi PR meski sekarang gue nyasar." Tari bersuara, lagi-lagi bergetar.
"Lo tau, bahwa lo pasti bisa menggapainya." Gita tersenyum untuk Tari. "Kalau di ibaratkan kartu, kartu kita sama-sama QUEEN. Lo yang rada manja tapi tetap gak gampang nyerah adalah sosok WHITE QUEEN."
"Dan, lo yang keras kepala, punya sejuta semangat adalah BLACK QUEEN. Iya kan?"
"Cocok!" Mereka tertawa bersama.
"Gue boleh minta tolong." Tari menatap Gita.
"Selama gue mampu, akan gue tolong." Gita menjawab mantap.
"Lo mau gak jadi tongkat untuk gue? Sebuah tongkat kokoh yang jadi pegangan ketika gue hampir terjatuh seperti sekarang. Tongkat yang akan membantu gue sebagai penopang saat kekuatan gue untuk melangkah jadi melemah. Gimana?
"Tentu gue siap. Dan, lo juga jadi bantal buat gue ya. Bantal yang akan menangkap dan berada di bawah jika gue terjatuh dari tempat gue berdiri. Bantal yang membantu gue untuk kembali ke atas sehingga gue gak terjerembab lagi ke dasar jurang seperti sekarang."
"Lalu, di sebuah ujung hari entah kapan, kita akan menjadi QUEEN di bidang kita masing-masing. QUEEN yang baik, selalu siap membantu dan saling menopang satu sama lain. Setuju?"
"Setuju."
Malam itu, langit diam-diam mencatat janji dua sahabat yang kini sedang tersenyum lepas...

Tuesday, 20 September 2011

Bu Dosen dan Prinsip Hidupnya

Hari ini berjalan cukup menyenangkan meski awalnya bikin suntuk dan kesal habis. Perkuliahan semester 7 sudah di mulai dari minggu lalu. Dan sejak hari pertama kuliah hingga sekarang, saya bisa datang on time tanpa harus lari-lari karena kesiangan atau ketinggalan kereta. Tumben? Ya, saya juga heran, heheheh. Ajaibnya lagi, kebiasaan saya tidur setelah sholat subuh sudah tidak saya lakukan dalam beberapa hari ini. Wuih...seneng deh rasanya.

Seperti biasa, karena kuliah hari ini di mulai jam setengah 9, maka saya berangkat jam setengah 8 dari rumah. Dengan menggunakan kereta, jarak tempuh dari rumah ke kampus hanya butuh waktu 30-35 menit (itu kalo silang2nya gak terlalu lama, heheh). Jam 8 kurang lima menit, kereta baru saja landas dari stasiun dan itu hal jarang banget terjadi. Karena saya tidak ada teman, jadi saya memilih mendengarkan musik di hape saya dari pada bengong sendirian. Saat lagu SO7-Bertahan Di sana, sedang berkumandang di hape, tiba-tiba lagu terputus. Sebagai gantinya lagu David ARchulleta-Something Bout Love terdengar. Nama dosen saya muncul di LCD hape begitu saya melihat ke hape saya. Agak bingung sebenarnya menerima telpon dari dosen apalagi di waktu sepagi ini. Benar saja, bu dosen langsung bertanya dimana saya dan teman-teman saya. Ternyata oh ternyata, bu dosen anggun bermata tajam ini sudah sampai di kampus. di ulang ya biar dramatis, SUDAH SAMPAI DI KAMPUS! JEDEERRRRRR.... Saya bengong, tukang baso bengong, tukang tahu bengong, semua bengong (HOAKS, heheh).

Terkaget-kaget saya pun berkata, "Jadwalnya kan jam setengah 9, Bu."
"Tapi saya maunya jam 8 karena jam 11 saya ada rapat."
Glek! Pait banget....
Setelah telpon di tutup, saya kemudian meng-sms temen2 sekelas untuk segera datang ke kampus. Saya pun rasanya ingin membajak kereta itu agar hanya berhenti di stasiun rawa buntu saja jadi saya gak telat-telat banget nyampe kampusnya. Apa daya, saya gak bisa berbuat apa-apa selain menyabarkan diri untuk gak berbuat anarkis, heheheu.

Bersyukurnya saat tiba di kampus, sudah ada beberapa orang teman saya hadir di sana. Saya segera meminta maaf kepada si bu dosen. Untungnya beliau berkata, "Hari ini kita miss komunikasi ya." Ternyata beliau telah memberi tahu ke prodi tentang jam masuk hari ini, namun entah karena apa, berita tersebut tidak sampai ke kami.

Hyuh, rasanya lega sekali. Dosen ini memang rada strick dan beda dari yang lain selama saya kuliah. Tapi...rasanya saya suka dengan dia. Hus, bukan suka yang aneh ya...tapi suka atas sikap dan prinsip hidup yang beliau miliki. Oiya, dosen saya ini adalah seorang wanita jadi gak mungkin saya suka secara menyimpang ke beliau, hehehhhe.

Yap, dosen matkul K3 ini selalu berkata "Bertanggung jawablah kamu dengan keilmuan yang kamu punya." Beliau juga selalu berpesan agar kami melakukan yang terbaik untuk diri dan yakin atas apa yang kita yakini benar. Tidak membiarkan diri tergerus dalam kehidupan yang mulai terdegradasi moralnya dan berbuat hal yang memiliki manfaat untuk orang lain. Bu dosen tidak hanya sekedar berdogeng ria, karena nyatanya apa yang beliau katakan itulah yang beliau lakukan. Beliau menjadi relawan tanpa bayaran dan bekerja sebagai staf ahli menteri lingkungan. Beliau yakin bahwa Tuhan tidak tidur dan membayar kebaikan kita meski pun sedikit dengan balasan yang besar.

Ah, rasanya saya malu dengan ibu ini. Karena meski usianya sudah tak muda lagi namun semangatnya tetap menyala. Beliau tetap bersemangat untuk beraktivitas dan memberikan warna baru dalam kehidupan mahasiswanya. Ya, beliau menggampar-gampar saya dengan pengalaman hidupnya :)

Sunday, 18 September 2011

Ciptakan Tujuan

Siang blogger, gimana hari minggunya?
Sering kita dengar kata-kata, "Biarin aja semuanya ngalir seperti air." Pernahkah terpikir oleh kita seperti apa air itu?
Air selalu mengalir ke hilir bukan ke hulu. Artinya, air selalu mengalir ke bawah dan berakhir di comberan. Apakah kita mau jika hidup yang berharga ini berjalan mengikuti air yang mengalir? Berjalan tanpa perlawanan, bernafas tanpa harapan, memandang tanpa isi dan berlaku tanpa arti? Hidup yang singkat ini amat sayang rasanya jika di habiskan begitu saja dengan perjalanan kosong yang tak ada isi. Perlu ada rencana dan tujuan agar mata kita tetap mau memandang dengan positif dan penuh semangat terhadap hidup.
Kita tak bisa begitu saja berlaku pasrah terhadap apa yang terjadi. Di perlukan perjuangan, perlawanan terhadap sebuah takdir yang masih mampu kita ubah. Bukan hal yang muluk apabila kita menggoreskan mimpi dan tujuan. Ini di sebut sebagai semangat hidup. Semangat untuk berjuang, untuk meraih dan untuk berbuat lebih serta untuk bertahan.
Well, seperti sebelumnya, mari kita bersama-sama ciptakan tujuan. Ingin seperti apakah hidup kita ini, ingin seperti apakah kelanjutan hidup kita nanti?
Tujuan, mimpi dan cita-cita adalah komponen yang di perlukan untuk menjaga bara api semangat dalam hidup ini. Sehingga, apapun yang terjadi kita tetap memiliki hasrat untuk berjuang.....
Then, let's we strive for our dreams........ :)

Tuesday, 13 September 2011

Ucapan

Pernah dengar peribahasa "Mulutmu Harimaumu"? Pasti pernah karena peribahasa itu juga di pakai dalam tagline sebuah iklan. Arti dari peribahasa itu kalau gak salah sih berhati-berhati dengan ucapan karena bisa jadi mencelakai diri kita sendiri. Seperti, saat kita terlalu sering mengomentari atau membicarakan kekurangan orang maka itu sama saja dengan mendoakan itu menjadi lebih baik dan membuat kita perlahan menjadi seperti mereka. Kenapa bisa begitu? Ucapan yang sering di ucapkan oleh mulut akan terekam dalam hati, kemudian secara perlahan dan tanpa bisa disadari akan meresap di otak serta memori. Kalau sudah mengendap dalam memori, alam bawah sadar mulai membawa diri kita seperti apa yang selama ini sering di ucapkan. Itu semua terjadi tanpa di sadari. Sehingga secara perlahan justru diri kita sendiri yang menjelma menjadi sosok yang sebelumnya sibuk di bicarakan / di jelekkan. Orang yang jadi objek karena sering mendengar hal negatif tentang dirinya mulai berjalan untuk memperbaiki diri sehingga menjadi lebih positif. Dahsyat kan akibat bicara? Heheheh.
Kedahsyatan bicara dapat digunakan sebagai hal yang positif untuk diri kita. Misalnya sebagai sugesti diri. Bicarakan apa yang ingin kita lakukan agar alam bawah mulai menyetir langkah sesuai dengan sugestinya. Contoh, kita mempunyai impian sebagai PR atau Penulis. Diskusi dengan otak bahwa di masa depan kita ingin menjelma sebagai PR yang profesional dan penulis handal. Cari beberapa orang untuk 'menitipkan' mimpi tersebut sehingga mereka dapat menjadi motivator serta supervisi. Tujuannya, agar semangat kita tetap terbakar untuk membuktikan jika itu semua bukan 'dream on dream'. Biarkan mereka koreksi serta mengkritisi langkah yang kita ambil. Bagaimana pun, ada kalanya kita membutuhkan seseorang sebagai "lampu sign" yang dapat menyinari jalanan di hadapan kita dengan sinarnya.
Jangan terlalu sering memberi ucapan yang buruk untuk diri sendiri. Semaksimal mungking hindari kata "Ah, ga bisa!" "Males ah!" atau bahkan "Gue nyerah!"
Sikap seperti itu sama dengan memberi 'label' untuk diri. Label tersebut nantinya akan melekat dan membuat kita bertingkah seperti itu. Buruk bukan? Bagaimana bisa melangkah mencapai impian yang ada di angan-angan jika melangkah pun rasanya berat? Relakah menjadi kan mimpi dan angan selamanya hanya sebagai mimpi dan angan saja? Kalau tidak, mari kita sama-sama berhenti memberi label buruk untuk diri kita sendiri. Mulai untuk memotivasi diri sendiri. Karena, sehebat apa pun motivatornya kalau jiwa sendiri tidak mau memberi motivasi maka akan percuma. Motivator terhebat tetaplah diri sendiri.
Jadi, mari kita bersemangat menjaga ucapan untuk diri sendiri. Karena ucapan positif akan membawa kita padahal yang positif juga. SEMANGAT!

Sunday, 11 September 2011

Lagu-Lagu

Lagu-lagu ini bisa banget bikin galau, hehehehhe. Lirik yang berbobot dan punya arti yang dalem. Belum lagi musiknya, pas deh buat menggalau ria.... :D

1.  Ne-Yo ft Cassandra Steen: Never Knew I needed.
Saya suka banget dengan lagu romantis ini. Liriknya nyentuh, apalagi di bagian: You're something that I never choose but at the same time something I don't wanna loose. Argh, keren banget deh!
Emang sih, vidklip cuma gitu-gitu aja. Tapi suasana di dalam vidklip, dimana Ne-yo dan Cassandra tidak pada satu scene dan seolah terpisah seakan menggambarkan suasana lagu ini yang sedikit ada rasa-rasa kangen dan menerawang ke pasangan masing-masing. Hyuh, bikin 'nyes' deh di hati, hehehhehhe.



 2.B.O.B ft Bruno Mars: Nothing On You
Lagu keren favorit saya, hahahha. lagu yang intinya menenangkan pasangan supaya gak cemburu di kemas apik, cukup ngebeat dan gak 'menye-menye'. Bisa bikin cengar-cengir... Apalagi Bruno juga tampil gemesin, hihihi.

3. OWL City: Vanilla Twilight
Lagu ini pernah bener2 bikin saya ngerasa sedih dan kesepian. hahahahah lebay emang. Tapi coba deh dengerin lagu ini saat suasana sepi, pasti kerasa banget :)

4. Abdul And The Coffee Theory: Happy Ending
Siapa yang udah punya pasangan??? Hayoo...Lagu ini cocok loh dipersembahin untuk pacarnya terlebih kalo udah 'yakin' sama pasangannya itu.


5. Maliq & D'Essential -Pilihanku.
Mau ngelamar pasangan? Lagu ini mewakili loh :D :D :D. "Jadilah yang terakhir untuk jadi yang pertama untuk selamanya", sweet :)
 


Well, segini dulu deh lagu-lagu untuk galaunya. Kalau ada yang mau nambahin sok kasih tau ya biar bisa ngegalau bareng. :D




Friday, 9 September 2011

Kenangan Kami

Setiap pulang ke Magelang rasanya seperti berwisata mengenang kembali masa kecil. Saya memang pernah tinggal beberapa tahun di sana dan di rawat oleh nenek, kakek, tante, om dan banyak orang di sana. Bahkan, "ibu" saya pun banyak, hehehehe. Berada di Magelang memang moment yang menyenangkan. Buktinya saya sempat gak mau ketika di jemput oleh orang tua saya (menurut cerita Ibu saya). Nenek saya bahkan sampai jatuh sakit.
Banyak sekali kenangan yang tercipta di sana. Salah satunya adalah bersama Om saya. Bersama Adik bungsu Ibu, saya di ajak jalan-jalan menggunakan sepeda ontel sampai saya terkantuk dan tertidur di atas sepeda. Lalu saat saya nakal dan tidak mau tidur siang, dia akan menakuti saya dengan tokok MOMO TING-TING rekaannya. Tokoh hantu menakutkan yang membuat saya berhenti lari kemudian berbalik ke arahnya dan mau tidur siang. Kami juga pernah nonton pertunjukan topeng monyet. Kata Om, saya gemas banget dengan monyet itu sehingga saya memberinya cabai rawit. Gak lama, si monyet kemudian mati, hehehheehe. Ternyata dari kecil bakat iseng saya sudah kuat sekali. ahahahhaha. Yang paling istimewa buat saya adalah kegiatan berteriak-teriak kami di pagi hari. Bukan sembarang teriakan. Kami berteriak memanggil seekor sapi. Ya...SAPI. Kami berdiri di depan jendela, menatap jalanan luas yang terbentang hingga ke kandang sapi nan jauh di sana, kemudian menghela nafas dan berteriak: SAPIIII NGOLEEEETTTTTT!!!! Lalu ajaib, sapi itu akan melenguh seolah menjawab teriakan kami. Kalau sudah begitu, saya akan sangat kegirangan. Tetangga di sekitar rumah nenek saya pasti mendengar teriakan kami. Sehingga sampai beberapa tahun lalu, jika saya datang ke Magelang dan berjumpa dengan mereka pasti akan di tanya, "Gak teriak 'Sapi Ngolet' lagi?"
Tapi...itu semua tinggal kenangan. Sudah tidak ada lagi teriakan-teriakan itu. Sudah tidak ada lagi dongeng Momo Ting-Ting. Sudah tidak ada lagi sapaan UNYIL yang kerap Om saya gunakan untuk memanggil saya. Tidak ada lagi kegiatan menyewa DVD, jalan-jalan berdua sama Om. Semua berubah karena benda brengsek yang merusak otaknya. Yap...Om saya a junkie. Dia pengguna narkoba dan minuman keras. Saat terakhir kemarin saya lihat kondisinya sungguh menyedihkan. Dia seperti punya dunia sendiri, alam lain yang tak terjamah oleh saya atau siapa pun. Dia berubah menjadi pribadi yang begitu sulit untuk di mengerti. Padahal, jiwa seni yang ia miliki sungguh kental. Dia sosok berbakat yang terlihat begitu keren bersama petikan gitar dan suaranya. Saya sangat suka menontonnya bermain gitar sambil bernyanyi. Dia juga suka menulis lirik lagu. Sayang... Obat-obatan itu justru membawanya terperosok jauh...jauh....jauh....hingga sukar untuk menariknya ke atas lagi.
Seandainya saja ia tahu betapa Nenek, Kakek, Semua Kakak-kakaknya, keponakan dan terutama saya begitu menyayanginya....Kami berharap ia kembali. Kemudian kami akan mulai merajut kembali kenangan seperti dulu. Seandainya......
Miss u om :(

Thursday, 8 September 2011

Akreditasi Untuk Saya

Saya adalah salah satu orang pecicilan, petakilan yang hobi nulis. Kayaknya gak cocok ya. Secara umumnya mereka yang anteng di depan komputer dan menulis cerita di dominasi oleh orang-orang pendiam. Tapi, itulah anehnya. Meski pecicilan, petakilan, bawel dan lumayan aktif, tapi di sisi sudut hati saya terdapat kediaman yang sewaktu-waktu muncul. Buktinya saya akan diam, anteng, betah jika sudah berada di depan komputer. Nge-Blog, nge-notes, baca-baca artikel, sampai nulis cerpen.
Banyak sekali cerpen-cerpen yang saya tulis. Meski kadang jika sudah setengah cerita, saya akan berhenti karena merasa buntu dan memulai cerita baru. Kalau lagi iseng dan bosan, saya bisa mencorat-coret halaman buku bagian belakang. Gak heran, buku tulis saya jarang ada yang bersih bagian belakangnya.
Walau banyak stok cerpen, namun sekalipun saya belum pernah mengikut sertakan ke lomba atau mengirimnya ke majalah. Saya lebih suka menampilkannya di blog ini atau di notes FB. Entah kenapa. Tapi belakangan ini saya mulai berpikir. Untuk saya apakan kemampuan saya ini? Saya ingin mendapat 'akreditasi', pengakuan sebagai penulis selazimnya. Seperti seorang koki yang baru di akui jika telah menghasilkan makanan yang enak. Demikian pun saya. Beberapa teman menjuluki saya sebagai penulis. Ah, apa benar begitu? Saya hanya menghasilkan tulisan yang saya nikmati sendiri bersama segelintir orang. Tak tahu kualitas tulisan milik saya karena tidak di koreksi secara profesional dengan ahlinya.
Di landasi dengan pemikiran seperti itu, saya pun memutuskan untuk meng-Go Publickan tulisan-tulisan saya. Mencoba ikut lomba meski belum tentu menjadi juara. Mencoba mengirimkan tulisan saya ke majalah meski belum tentu di terbitkan. Tetap nge-blog dan nge-notes walau entah tulisan saya bagus atau tidak. Saya hanya mencari pengalaman, kritikan pedas untuk membenahi tulisan-tulisan saya, mencari celah untuk ke-eksisan diri.
Seseorang yang saya kenal di FB pernah mengucapkan "semoga menang" untuk saya. Ketika saya memposting pengumuman sebuah lomba.Saya bilang bahwa saya masih mengincar pengalaman karena history saya masil NOL untuk menjadi pemenang. Namun, mengejutkan ketika dia justru membuka wawasan saya tentang 'konsep menang' yang sesungguhnya. Dia bilang "salah satunya ya itu, menang mendapatkan pengalaman, menang mendapatkan kepuasan, menang mendapatkan kesempatan, dan menang mendapatkan keputusan."
Dan, dari kata-kata itu saya merasa bahwa untuk saat ini memang itu yang sedang saya cari dan saya butuhkan. Memenangkan pengalaman, kesempatan, kepuasan, dapat memutuskan sampai akhirnya Tuhan yakin bahwa saya layak mendapatkan "akreditasi".

Wednesday, 7 September 2011

Berbuat Baik Sangat Mudah

Mohon maaf lahir batin ya blogger....maaf juga kalo lumayan telat baru ngungsi ke kampung halaman nih alias mudik. Sepertinya mudik itu sudah jadi sesuatu yang 'wajib' dilakukan bagi para perantau di indonesia. Ya...momen lebaran atau idul fitri memang dianggap cocok untuk kumpul dengan sanak keluarga yang saling mencar-mencar. Sangat menyenangkan loh kumpul bersama keluarga besar setelah sekian lama sibuk dengan kehidupan masing-masing.Serta ngungsi sejenak ke kampung halaman dan menghirup udara segar rasanya diperlukan bagi orang-orang yang sudah banyak bekerja keras di perantauan.Nah... siapa yang mudik? Minta oleh-olehnya dong ya...hehheehheh.
Perjalanan mudik kali ini benar-benar punya segudang cerita yang kocak, seru, nyebelin hingga nyentuh hati. Salah satunya adalah pertemuan keluarga saya dengan orang-orang baik di sebuah perempatan di Sumedang. Berawal dari mobil yang mogok dan gak bisa di gas. Kami panik secara saat itu hari sudah sore dan perjalanan kita masih sangat jauh. Bengkel yang ada didekat kami saat itu hanyalah bengkel motor dan gak mungkin bisa menangani mobil kami. Setelah Ayah bertanya ke pak polisi yang sedang bertugas kami diperkenalkan dengan seorang supir angkot. Hm, bukan supir angkot itu yang membenahi mobil tapi beliau membawa Ayah saya untuk bertemu dengan kawannya yang adalah seorang montir. Sambil menunggu mobil yang sedang dibenahi saya, ibu dan adik-adik duduk menunggu di sebuah warung tahu sumedang sambil sekalian menunggu waktu buka puasa. Untuk buka puasa sendiri, Ibu meminta saya untuk membeli roti bakar dan tahu sumedang. Saya pun memesan 20 buah tahu sumedang, tapi si Bapak yang jualan malah ngasih 25 buah itu pun saya tahunya setelah semua tahu pesanan saya masuk plastik. Bapak ini juga meminta saya membayar untuk 20 buah tahu saja. Selanjutnya saat saya meminta 10 tahu, si Bapak memberi 15. Rada gak enak sih, tapi si Bapak yang ramah ini justru bilang gak apa-apa dengan tampang yang begitu iklas.
Sementara saya lagi bingung dengan bonus tahu setiap beli, Ibu saya terus bicara tentang kemungkinan biaya pembetulan mobil yang harus kami keluarkan.
"Bisa sampai 200 ribu lebih nih, Kak." Ibu saya mengambil dompetnya.
Nggak lama kemudian, Ayah saya menghampiri Ibu dan pergi lagi dengan selembar uang lima puluh ribuan dan dua puluh lima ribu. Karena penasaran dan takut salah, saya pun memastikan ke Ibu.
"Abis berapa bu?"
"Lima puluh buat montir, dua lima buat supirnya." jawab Ibu.
"Ih...yang bener?"
"Tanya aja sama Ayah kalo gak percaya."
Saat kita melanjutkan perjalanan yang tertunda, saya tanya ke Ayah. Masih tentang biaya bayar montir tadi.
"Lima puluh ribu tadi mintanya. Ya dikasih segitu." jawab Ayah.
"Kok murah ya, Yah... padahal kalo dia mau bisa getok harga kan." kata saya.
"Alhamdulillahnya kita ketemu dengan orang-orang jujur yang bantu tanpa ambil kesempatan dalam kesempitan kayak gitu."
***
Dari cerita di atas, kita sama-sama bisa ambil kesimpulan bahwa BERBUAT BAIK ITU SANGAT MUDAH. Kadang, pikiran kita terlalu di sibukkan dengan berbagai macam pikiran tentang cara berbuat baik. Nyatanya, kita mampu berbuat baik dengan cara kita sendiri. Seperti si kakek yang merasa simpati dengan kami, beliau tidak bisa membantu kami membetulkan mobil. Namun beliau tetap membantu dengan mempersilahkan kami istirahat di warungnya dan memberi bonus berupa tahu sumedang yang gak seberapa. Tapi, hal -hal sesederhana itu jika dilakukan dengan ketulusan akan memberikan efek yang tidak sederhana serta berbekas untuk orang lain. Supir angkot dan Si montir pun begitu. Alangkah banyaknya orang-orang yang 'memanfaatkan' suatu momen demi mendapatkan banyak keuntungan. Dua orang itu padahal punya kesempatan untuk mengeruk keuntungan dengan mematok harga yang tidak biasa dengan dalih harus mencari dan membawa montir diluar jam kerja. Tapi...mereka lebih memilih untuk tidak melakukannya. Semua itu sangat sederhana, begitu sederhana. Tidak membutuhkan modal hingga berjuta-juta, tidak pakai kamera, wartawan, hanya ketulusan, iklas dan setangkup senyuman. Namun, semuanya mampu terasa hingga ke hati.