Pages

Wednesday, 7 September 2011

Berbuat Baik Sangat Mudah

Mohon maaf lahir batin ya blogger....maaf juga kalo lumayan telat baru ngungsi ke kampung halaman nih alias mudik. Sepertinya mudik itu sudah jadi sesuatu yang 'wajib' dilakukan bagi para perantau di indonesia. Ya...momen lebaran atau idul fitri memang dianggap cocok untuk kumpul dengan sanak keluarga yang saling mencar-mencar. Sangat menyenangkan loh kumpul bersama keluarga besar setelah sekian lama sibuk dengan kehidupan masing-masing.Serta ngungsi sejenak ke kampung halaman dan menghirup udara segar rasanya diperlukan bagi orang-orang yang sudah banyak bekerja keras di perantauan.Nah... siapa yang mudik? Minta oleh-olehnya dong ya...hehheehheh.
Perjalanan mudik kali ini benar-benar punya segudang cerita yang kocak, seru, nyebelin hingga nyentuh hati. Salah satunya adalah pertemuan keluarga saya dengan orang-orang baik di sebuah perempatan di Sumedang. Berawal dari mobil yang mogok dan gak bisa di gas. Kami panik secara saat itu hari sudah sore dan perjalanan kita masih sangat jauh. Bengkel yang ada didekat kami saat itu hanyalah bengkel motor dan gak mungkin bisa menangani mobil kami. Setelah Ayah bertanya ke pak polisi yang sedang bertugas kami diperkenalkan dengan seorang supir angkot. Hm, bukan supir angkot itu yang membenahi mobil tapi beliau membawa Ayah saya untuk bertemu dengan kawannya yang adalah seorang montir. Sambil menunggu mobil yang sedang dibenahi saya, ibu dan adik-adik duduk menunggu di sebuah warung tahu sumedang sambil sekalian menunggu waktu buka puasa. Untuk buka puasa sendiri, Ibu meminta saya untuk membeli roti bakar dan tahu sumedang. Saya pun memesan 20 buah tahu sumedang, tapi si Bapak yang jualan malah ngasih 25 buah itu pun saya tahunya setelah semua tahu pesanan saya masuk plastik. Bapak ini juga meminta saya membayar untuk 20 buah tahu saja. Selanjutnya saat saya meminta 10 tahu, si Bapak memberi 15. Rada gak enak sih, tapi si Bapak yang ramah ini justru bilang gak apa-apa dengan tampang yang begitu iklas.
Sementara saya lagi bingung dengan bonus tahu setiap beli, Ibu saya terus bicara tentang kemungkinan biaya pembetulan mobil yang harus kami keluarkan.
"Bisa sampai 200 ribu lebih nih, Kak." Ibu saya mengambil dompetnya.
Nggak lama kemudian, Ayah saya menghampiri Ibu dan pergi lagi dengan selembar uang lima puluh ribuan dan dua puluh lima ribu. Karena penasaran dan takut salah, saya pun memastikan ke Ibu.
"Abis berapa bu?"
"Lima puluh buat montir, dua lima buat supirnya." jawab Ibu.
"Ih...yang bener?"
"Tanya aja sama Ayah kalo gak percaya."
Saat kita melanjutkan perjalanan yang tertunda, saya tanya ke Ayah. Masih tentang biaya bayar montir tadi.
"Lima puluh ribu tadi mintanya. Ya dikasih segitu." jawab Ayah.
"Kok murah ya, Yah... padahal kalo dia mau bisa getok harga kan." kata saya.
"Alhamdulillahnya kita ketemu dengan orang-orang jujur yang bantu tanpa ambil kesempatan dalam kesempitan kayak gitu."
***
Dari cerita di atas, kita sama-sama bisa ambil kesimpulan bahwa BERBUAT BAIK ITU SANGAT MUDAH. Kadang, pikiran kita terlalu di sibukkan dengan berbagai macam pikiran tentang cara berbuat baik. Nyatanya, kita mampu berbuat baik dengan cara kita sendiri. Seperti si kakek yang merasa simpati dengan kami, beliau tidak bisa membantu kami membetulkan mobil. Namun beliau tetap membantu dengan mempersilahkan kami istirahat di warungnya dan memberi bonus berupa tahu sumedang yang gak seberapa. Tapi, hal -hal sesederhana itu jika dilakukan dengan ketulusan akan memberikan efek yang tidak sederhana serta berbekas untuk orang lain. Supir angkot dan Si montir pun begitu. Alangkah banyaknya orang-orang yang 'memanfaatkan' suatu momen demi mendapatkan banyak keuntungan. Dua orang itu padahal punya kesempatan untuk mengeruk keuntungan dengan mematok harga yang tidak biasa dengan dalih harus mencari dan membawa montir diluar jam kerja. Tapi...mereka lebih memilih untuk tidak melakukannya. Semua itu sangat sederhana, begitu sederhana. Tidak membutuhkan modal hingga berjuta-juta, tidak pakai kamera, wartawan, hanya ketulusan, iklas dan setangkup senyuman. Namun, semuanya mampu terasa hingga ke hati.


2 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

wah, jarang lho ketemu orang2 yg jujur spt itu...

unu_utamee said...

iya mba..bersyukur banget aku :)