Pages

Thursday, 22 September 2011

DUA QUEEN

Malam itu di pantai anyer, bintang bersinar begitu cemerlang. Di bawah naungan langit hitam bertabur bintang dan di antara debur suara ombak, duduklah dua sahabat di sana. Gita dan Tari. Mereka duduk bersisian. Tak peduli akan pasir-pasir yang mengotori celana pendek yang mereka pakai. Mata mereka menatap lurus ke arah siluet lautan di hadapan mereka. Kaki-kaki mereka basah oleh air laut yang menyapa bibir pantai. Sudah 30 menit mereka duduk. Kebisuan tercipta setelah sebelumnya mereka berlari-lari di sepanjang bibir pantai dan berteriak melepaskan seluruh beban di hati mereka. Berteriak lepas, sangat lepas. Beruntung, pantai sunyi malam itu.

"Kita harus bisa move on." Gita memecah keheningan.
"Iya, kita harus bisa melangkah melupakan masa lalu kita." Suara Tari terdengar bergetar.
"Masa lalu yang suram harus kita tinggalkan."
"Kita gak bisa begini terus. Kita pantas mendapatkan yang kita inginkan."
"Lo tau gak?"
"Apa?"
"Gue selalu pengen jadi seorang marketing yang hebat." Senyum tersungging di bibir Gita untuk pertama kalinya di 30 menit terakhir.
"Cocok buat lo. Dan, lo tau gak?"
"Apa?"
"Gue selalu pengen jadi PR meski sekarang gue nyasar." Tari bersuara, lagi-lagi bergetar.
"Lo tau, bahwa lo pasti bisa menggapainya." Gita tersenyum untuk Tari. "Kalau di ibaratkan kartu, kartu kita sama-sama QUEEN. Lo yang rada manja tapi tetap gak gampang nyerah adalah sosok WHITE QUEEN."
"Dan, lo yang keras kepala, punya sejuta semangat adalah BLACK QUEEN. Iya kan?"
"Cocok!" Mereka tertawa bersama.
"Gue boleh minta tolong." Tari menatap Gita.
"Selama gue mampu, akan gue tolong." Gita menjawab mantap.
"Lo mau gak jadi tongkat untuk gue? Sebuah tongkat kokoh yang jadi pegangan ketika gue hampir terjatuh seperti sekarang. Tongkat yang akan membantu gue sebagai penopang saat kekuatan gue untuk melangkah jadi melemah. Gimana?
"Tentu gue siap. Dan, lo juga jadi bantal buat gue ya. Bantal yang akan menangkap dan berada di bawah jika gue terjatuh dari tempat gue berdiri. Bantal yang membantu gue untuk kembali ke atas sehingga gue gak terjerembab lagi ke dasar jurang seperti sekarang."
"Lalu, di sebuah ujung hari entah kapan, kita akan menjadi QUEEN di bidang kita masing-masing. QUEEN yang baik, selalu siap membantu dan saling menopang satu sama lain. Setuju?"
"Setuju."
Malam itu, langit diam-diam mencatat janji dua sahabat yang kini sedang tersenyum lepas...

4 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

semoga niat para queen ini tercapai ya....

Mood said...

Janji sahabat, semoga terwujud pada saatnya nanti.

eh, aku sekalian izin follow blognya ya.

Salam.. .

Merliza said...

cerita berikut penggunaan serta pilihan katanya bagus :)

Merliza said...

terimakasih juga udah mampir di tempat saya :)