Pages

Friday, 9 September 2011

Kenangan Kami

Setiap pulang ke Magelang rasanya seperti berwisata mengenang kembali masa kecil. Saya memang pernah tinggal beberapa tahun di sana dan di rawat oleh nenek, kakek, tante, om dan banyak orang di sana. Bahkan, "ibu" saya pun banyak, hehehehe. Berada di Magelang memang moment yang menyenangkan. Buktinya saya sempat gak mau ketika di jemput oleh orang tua saya (menurut cerita Ibu saya). Nenek saya bahkan sampai jatuh sakit.
Banyak sekali kenangan yang tercipta di sana. Salah satunya adalah bersama Om saya. Bersama Adik bungsu Ibu, saya di ajak jalan-jalan menggunakan sepeda ontel sampai saya terkantuk dan tertidur di atas sepeda. Lalu saat saya nakal dan tidak mau tidur siang, dia akan menakuti saya dengan tokok MOMO TING-TING rekaannya. Tokoh hantu menakutkan yang membuat saya berhenti lari kemudian berbalik ke arahnya dan mau tidur siang. Kami juga pernah nonton pertunjukan topeng monyet. Kata Om, saya gemas banget dengan monyet itu sehingga saya memberinya cabai rawit. Gak lama, si monyet kemudian mati, hehehheehe. Ternyata dari kecil bakat iseng saya sudah kuat sekali. ahahahhaha. Yang paling istimewa buat saya adalah kegiatan berteriak-teriak kami di pagi hari. Bukan sembarang teriakan. Kami berteriak memanggil seekor sapi. Ya...SAPI. Kami berdiri di depan jendela, menatap jalanan luas yang terbentang hingga ke kandang sapi nan jauh di sana, kemudian menghela nafas dan berteriak: SAPIIII NGOLEEEETTTTTT!!!! Lalu ajaib, sapi itu akan melenguh seolah menjawab teriakan kami. Kalau sudah begitu, saya akan sangat kegirangan. Tetangga di sekitar rumah nenek saya pasti mendengar teriakan kami. Sehingga sampai beberapa tahun lalu, jika saya datang ke Magelang dan berjumpa dengan mereka pasti akan di tanya, "Gak teriak 'Sapi Ngolet' lagi?"
Tapi...itu semua tinggal kenangan. Sudah tidak ada lagi teriakan-teriakan itu. Sudah tidak ada lagi dongeng Momo Ting-Ting. Sudah tidak ada lagi sapaan UNYIL yang kerap Om saya gunakan untuk memanggil saya. Tidak ada lagi kegiatan menyewa DVD, jalan-jalan berdua sama Om. Semua berubah karena benda brengsek yang merusak otaknya. Yap...Om saya a junkie. Dia pengguna narkoba dan minuman keras. Saat terakhir kemarin saya lihat kondisinya sungguh menyedihkan. Dia seperti punya dunia sendiri, alam lain yang tak terjamah oleh saya atau siapa pun. Dia berubah menjadi pribadi yang begitu sulit untuk di mengerti. Padahal, jiwa seni yang ia miliki sungguh kental. Dia sosok berbakat yang terlihat begitu keren bersama petikan gitar dan suaranya. Saya sangat suka menontonnya bermain gitar sambil bernyanyi. Dia juga suka menulis lirik lagu. Sayang... Obat-obatan itu justru membawanya terperosok jauh...jauh....jauh....hingga sukar untuk menariknya ke atas lagi.
Seandainya saja ia tahu betapa Nenek, Kakek, Semua Kakak-kakaknya, keponakan dan terutama saya begitu menyayanginya....Kami berharap ia kembali. Kemudian kami akan mulai merajut kembali kenangan seperti dulu. Seandainya......
Miss u om :(

1 comment:

Bekti said...

Hiks... ceritanya mengharukan...
Tapi bener kok, kalo seseorang sudah terkena narkoba, seolah dia punya dunia tersendiri ya? Mesti dipisahkan dari kelompoknya tuh. Karena meskipun sudah lepas dari panti rehabilitasi tapi selama masih berhubungan intens dengan temen2 pemakai ya sulit banget lepasnya...