Pages

Tuesday, 13 September 2011

Ucapan

Pernah dengar peribahasa "Mulutmu Harimaumu"? Pasti pernah karena peribahasa itu juga di pakai dalam tagline sebuah iklan. Arti dari peribahasa itu kalau gak salah sih berhati-berhati dengan ucapan karena bisa jadi mencelakai diri kita sendiri. Seperti, saat kita terlalu sering mengomentari atau membicarakan kekurangan orang maka itu sama saja dengan mendoakan itu menjadi lebih baik dan membuat kita perlahan menjadi seperti mereka. Kenapa bisa begitu? Ucapan yang sering di ucapkan oleh mulut akan terekam dalam hati, kemudian secara perlahan dan tanpa bisa disadari akan meresap di otak serta memori. Kalau sudah mengendap dalam memori, alam bawah sadar mulai membawa diri kita seperti apa yang selama ini sering di ucapkan. Itu semua terjadi tanpa di sadari. Sehingga secara perlahan justru diri kita sendiri yang menjelma menjadi sosok yang sebelumnya sibuk di bicarakan / di jelekkan. Orang yang jadi objek karena sering mendengar hal negatif tentang dirinya mulai berjalan untuk memperbaiki diri sehingga menjadi lebih positif. Dahsyat kan akibat bicara? Heheheh.
Kedahsyatan bicara dapat digunakan sebagai hal yang positif untuk diri kita. Misalnya sebagai sugesti diri. Bicarakan apa yang ingin kita lakukan agar alam bawah mulai menyetir langkah sesuai dengan sugestinya. Contoh, kita mempunyai impian sebagai PR atau Penulis. Diskusi dengan otak bahwa di masa depan kita ingin menjelma sebagai PR yang profesional dan penulis handal. Cari beberapa orang untuk 'menitipkan' mimpi tersebut sehingga mereka dapat menjadi motivator serta supervisi. Tujuannya, agar semangat kita tetap terbakar untuk membuktikan jika itu semua bukan 'dream on dream'. Biarkan mereka koreksi serta mengkritisi langkah yang kita ambil. Bagaimana pun, ada kalanya kita membutuhkan seseorang sebagai "lampu sign" yang dapat menyinari jalanan di hadapan kita dengan sinarnya.
Jangan terlalu sering memberi ucapan yang buruk untuk diri sendiri. Semaksimal mungking hindari kata "Ah, ga bisa!" "Males ah!" atau bahkan "Gue nyerah!"
Sikap seperti itu sama dengan memberi 'label' untuk diri. Label tersebut nantinya akan melekat dan membuat kita bertingkah seperti itu. Buruk bukan? Bagaimana bisa melangkah mencapai impian yang ada di angan-angan jika melangkah pun rasanya berat? Relakah menjadi kan mimpi dan angan selamanya hanya sebagai mimpi dan angan saja? Kalau tidak, mari kita sama-sama berhenti memberi label buruk untuk diri kita sendiri. Mulai untuk memotivasi diri sendiri. Karena, sehebat apa pun motivatornya kalau jiwa sendiri tidak mau memberi motivasi maka akan percuma. Motivator terhebat tetaplah diri sendiri.
Jadi, mari kita bersemangat menjaga ucapan untuk diri sendiri. Karena ucapan positif akan membawa kita padahal yang positif juga. SEMANGAT!

4 comments:

Bekti said...

Paling senang dengan kalimat ini :

"....Sehingga secara perlahan justru diri kita sendiri yang menjelma menjadi sosok yang sebelumnya sibuk di bicarakan / di jelekkan...."

Betul juga ya, itulah upahnya orang yang suka ngegosip, hihi... (padahal masih suka gosip juga, haha :D)

sip said...

memang kita selalu lepas kontrol dalam menjaga lidah kita terimakasi mba unu

Muhammad A Vip said...

aku hebat! aku ganteng! aku banyak duit! (bener enggak ya?)

Fahrizal said...

Subhanallah ... ternyata inilah dibalik segala yang telah dilarangoleh Allah... semua pasti ada sisi negatifnya... betapa MahaPengasihnya Allah... saya dapat tarik kesimpulan... apa pun yang menjadi kebiasaan yang kita ucapkan, akan menjadi refleksi diri kita... hm. Jadi kalo baik-ya Baik. Kalo jelek-ya jelek