Pages

Wednesday, 5 October 2011

Bagaimana Piramidamu?

Punya banyak hobi, minat dan keahlian memang menyenangkan. Kalau lagi bosen dan punya waktu banyak, bisa melakukan hobi-hobi serta minat yang berbeda-beda. Punya banyak teman dan juga nambah wawasan karena dari tiap hobi ada teman-teman baru serta kegiatan yang berbeda dari sebelumnya. Tapi, giliran harus menentukan cita-cita kadang kelabakan sendiri. Ingin jadi ini, ingin jadi itu, ingin ini, ingin itu banyak sekali *loh?*

Hal ini pernah terjadi pada diri saya. Cita-cita saya gampang sekali berubah. Saat SD ingin sekali menjadi astronot karena Ayah sering membelikan sebuah majalah yang banyak mengulas tentang tata surya. Ketika SMP, pindah haluan ingin jadi jurnalis karena menurut saya bisa jalan-jalan gratis. SMA agak berbelok ingin jadi pengacara dan jubir. Karena sering berdebat dengan teman-teman. Tapi, masuk kuliah justru nyasar di jurusan kesehatan. Nah, saat menentukan hati untuk memilih profesi, rasanya berat sekali. Saya masih suka tentang tata surya. Mimpi jadi jurnalis pun kadang menyambangi saya. Keinginan menjadi jubir atau PR terlalu kuat melekat. Harapan untuk bisa jadi penulis juga menyusup-nyusup di relung hati. Wah, banyak sekali bukan? Kalau sudah begini rasanya tidak bisa disebut DIlema tapi MANYma kali ya. Habis, bingungnya banyak, heheheh. Akhirnya saya ceritakan keresahan hati ini pada mentor saya. Beliau bilang, cara untuk menyelesaikannya mudah. Hanya membuat piramida.

Piramida? Iya, P I R A M I D A. Suatu bentuk bangunan terkenal yang dapat kita temukan di Mesir. Tempat menyimpan jasad-jasad raja Mesir ini, punya sebuah filosofi unik tentang hidup dan jalan yang kita miliki. Mari kita analogikan bangunan Piramida yang berundak-undak sebagai kesukaan kita atau kemampuan yang kita miliki. Isi undakan undakan itu dengan keinginan terbesar yang ada di diri kita. Misal: 50% menjadi pengacara, 30% menjadi pelukis, 20% menjadi ahli desain web. Coba perhatikan Piramida buatan kita. Di sana sudah tergambar harapan dan cita-cita yang kita inginkan. Maka, berjalan dan berlakulah sesuai dengan prioritas yang sudah kita buat. Sudah jelas bahwa contoh tadi menggambarkan cita-cita utama adalah menjadi pengacara. Jadi, gali kemampuan kita untuk jadi pengacara semaksimal mungkin. Sedang sisanya, berjalan beriringan dengan cita-cita utama namun jangan sampai mengganggu hal utama yang ingin kita raih. Manfaatnya untuk di masa depan adalah saat kita selesai menjadi pengacara, kita masih memiliki skill di bidang lain sehingga kita terhindar dari potensi 'mati karya'. Well, saya memang baru mencobanya tapi contoh nyata telah hadir di depan kedua mata saya sehingga saya tak ragu mencoba. Saya pun sudah membuat piramida, seperti ini:
 *ini contoh piramid buatan saya, maaf berantakan ga bisa gambar sih :p

Nah, sekarang giliran kamu dan mari kita sama-sama merealisasikan piramida-piramida itu :)

"Jangan bangun mercusuar di hidup kamu tapi bangunlah Piramida yang kokoh. Mercusuar memang terlihat megah, tapi saat jatuh dan hancur, maka habislah semua..."

7 comments:

al kahfi said...

piramida saya topnya ingin menjadi arsitek yg handal dan terkenal,,tapi sepertinya,,masih jauh dari top,,tapi aka terus berupaya,,salam sahabat met pagi,, oh ya,, media follownya kok gak ada ya,,

al kahfi said...

ok sudah ketemu follownya td loadingnya tdk sempurna,,follw balik ya sobat..

Sang Cerpenis bercerita said...

hmm...saya mau jadi apa lagi ya? hehee

Topu said...

For me, i just want to do this people think normally ..... that's linier but for me it's wonderful....

Topu said...

For me, i just want to do this people think normally ..... that's linier but for me it's wonderful....

k[A]z said...

saya ingin jadi, yang terbaik aja we ^^

Muhammad A Vip said...

piramida gak indonesia, saya gunung aja deh