Pages

Saturday, 17 December 2011

Recehan

Salah satu tantangan jadi anak kos adalah MAKAN. Berada di kosan tidak seperti di rumah yang ketika lapar tinggal pergi ke dapur dan bisa menemukan lauk pauk sudah terhidang. Lapar berarti harus berpikir makanan apa yang bisa bersahabat dengan (kantong) kami. Nah untuk masalah makan, gue dan teman-teman punya fase sendiri. Di minggu awal ngekos setiap malam kita rajin banget masak. Meskipun cuma masak seadanya dengan bumbu ala kadarnya. Beruntung, dijaman serba instan ini, bumbu-bumbu instan pun ada. Sehingga lebih memudahkan kita-kita yang kurang canggih dalam mengolah sayur dan bumbu, hohoho. Tapi gara-gara bumbu instan itu, sekarang tiap masuk minimarket secara otomatis gue akan berjalan kearah bumbu-bumbu. Entah itu beli saus tiram sachet, penyedap rasa, garam dll. Gila, naluri ibu-ibu sudah mulai tumbuh di diri gue rupanya! Hehehe. Di minggu kedua, mood untuk masak mulai naik turun. Rasanya udah agak malas untuk masak, kecuali masak nasi. Dan... di minggu ini karena beberapa dari kami gantian tepar (sekarang giliran gue T.T, hohoho) karena kecapean, rutinitas masak benar-benar jarang banget di lakuin.

Kalau lagi malah masak seperti itu, biasanya kami beli makanan di sekitar kosan atau nyeduh makanan instan. Salah satu tempat makan yang teman gue suka adalah rumah makan padang. Dan di sebuah sabtu siang, teman gue yang lagi di kosan nitip lauk untuk makan siang ke gue. Kebetulan saat itu, gue baru aja keluar istirahat dari unit tempat gue magang. Pesenan teman gue adalah ayam panggang di rumah makan padang. Karena itu, gue masuki salah satu rumah makan padang yang pernah gue kunjungi bareng dia di saat awal-awal kita berkelana mencari kosan. Untuk bayar pesanan makanan itu, gue merecehkan uang bergambar gedung DPR dan mantan presiden RI yang pertama beserta mantan wakil presiden RI pertama.Gue sengaja merecehkan uang tersebut karena stok uang kecilnya sudah menipis. Dan, pada saat itulah tragedi terjadi. Gue sedang bengong sambil nunggu uang kembalian ketika tiba-tiba Uda (bapak-bapak yang jualan) ngajak gue ngomong. Tangan kanan gue sedang bergerak untuk nerima uang kembalian yang Uda sodorkan saat tangan kiri gue mengubah posisi dompet dari atas kebawah. Sreting yang lupa gue tutup membuat RECEHAN simpenan gue bertumpahan dan bergemerincingan di lantai. SUMPAH, GUE KAGET SEKAGET-KAGETNYA ORANG. Di posisi kaget itu, gue bisa dengar suara gue melengking menyebut nama si Uda dan menyalahkan dia yang udah ngajak ngobrol gue sehingga recehan itu jatuh. Ya, gak seharusnya gue nyalahin si Uda. Tapi saat itu gue kaget, malu dan gak tau deh mesti gimana lagi. Seandainya hidup ini seperti komputer, gue pasti undah menekan tombol 'delete' saat itu. Jadi, gue bisa hilang dari rumah makan padang itu tanpa berlama-lama memberi kesempatan pada orang-orang disana untuk menatapi tingkah konyol dan tampang cengo gue. Sayang karena gak mungkin, gue sempat berencana untuk pura-pura gila kemudian lari keluar rumah makan dan nabrakin diri ke mobil. MALU TINGKAT PROVINSI BO!

Thursday, 15 December 2011

Andaikan

Andaikan, kata itu sudah tentu sering kita ucapkan. Biasanya, kata 'andaikan' digunakan pada kalimat yang mengandung arti penyesalan. Contohnya, "Andaikan dulu gue lebih bisa pengertian, pasti sekarang gue masih pacaran sama dia", "Andaikan semalem gue belajar aja meski sedikit, sekarang gue pasti gak blank kaya gini", "Andaikan gue berani ngungkapin perasaan gue kedia, sekarang dia pasti udah jadi pacar gue", dan andaikan, andaikan, andaikan lainnya.

Berbicara tentang kata 'andaikan', salah satunya gak lepas dari sebuah penyesalan pahit hingga keubun-ubun. Penyesalan yang membuat kita berharap mendapatkan satu saja kesempatan berupa pengulangan waktu agar dapat memperbaikinya. Sayangnya, waktu selalu bergerak maju. Tidak pernah ada dalam sejarah manapun, waktu berbaik hati untuk bergerak mundur dan memberi kesempatan bagi orang-orang yang menyesal untuk memperbaiki penyesalannya. Lalu bagaimana kita harus menghadapi sang waktu? Waktu memang kejam karena tak punya toleransi untuk kembali ke masa yang ingin diperbaiki. Salah satu korban kekejaman sang waktu adalah saya. Ya, seperti manusia pada umumnya, saya juga memiliki suatu penyesalan karena suatu hal di satu masa perjalanan hidup saya *bahasanya gaya banget, hehehe*. Penyesalan itu rasanya teramat pahit dan benar-benar membuat saya ingin sekali kembali ke masa tersebut untuk memperbaikinya. Tapi kemudian, saya menyadari bahwa menyesal terus menerus hanya membuat saya kehabisan waktu untuk berbuat dan berlaku sebaik mungkin hingga apa yang menjadi kesalahan di waktu dulu bisa setidaknya tertutupi.

Belajar dari pengalaman, setiap manusia pasti akan melakukan kesalahan dalam hidupnya. Karena tanpa kesalahan, kita tidak akan pernah tau bagaimana rasanya sakit, gagal serta menyesal. Perasaan-perasaan tersebut akan membuat kita berhati-hati dalam melangkahkan kaki dan membuat mental kita terbentuk lebih kuat, sehingga nantinya kita bisa menjadi manusia tangguh. Untuk mengatasi penyesalan itu, ada baiknya kita berpikir bahwa semakin lama kita penuhi pikiran kita dengan penyesalan akan semakin banyak pula waktu yang terbuang. Padahal, Tuhan memberikan kita waktu untuk tetap berada di dunia ini karena Dia sedang memberi kesempatan bagi kita untuk berbuat baik serta membuktikan pada dunia jika kita bisa merubah diri menjadi lebih baik. Maka kawan, mari kita bangun dari keterpurukan, rasa sedih serta penyesalan dalam diri. Jadikan itu semua sebagai motivasi serta acuan untuk melangkah lebih baik lagi dan lagi. Yakinilah bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Ada banyak orang dengan permasalahan yang mungkin lebih pelik dari kita namun tetap bersemangat untuk hidup dan berbuat baik, jadi untuk apa kita takut dan ciut?

Oia sebagai penyegar pikiran bagi yang sedang buram, saya sudah menyisipkan satu buah video klip dari BackAlley yang berjudul 'ANDAIKAN'. Enjoy the song and watch the testimony from many artist :D




*PS: karena lagu ini saya jadi terinspirasi untuk menulis tulisan ini :D

Sunday, 11 December 2011

Colek-Colek

Udah seminggu lebih gue jadi anak kos. Rasanya nano-nano banget! Banyak hal yang gak biasa gue lakuin di rumah, justru gue lakuin selama di kosan.Contoh, ketika di rumah ngerasa laper bisa tinggal ambil makanan yang udah disiapin. Sementara kalo di kosan, gue dan teman-teman harus masak dulu. Dan, gue gak bisa minta tolong seseorang untuk melakukan suatu hal ketika gue sedang malas. Ya, seperti urusan cuci mencuci baju. Biasanya, gue hanya tinggal memasukan baju-baju kotor ke mesin cuci kemudian mendapatkan kembali baju-baju itu di lemari. Proses cuci, jemur hingga setrika bukan jadi urusan gue karena udah ada yang mengerjakan. Kalo di kosan??? Bisa sih bayar orang untuk melakukannya tapi rasanya kalau gue begitu hal-hal yang ingin gue rubah dalam hidup gue gak akan terlaksana dengan baik, hehehe. Alhasil, gue pun memaksa diri untuk mencuci, hohoho.

Di luar hal remeh temeh itu, jadi anak kosan lumayan menegangkan juga. Secara kita memasuki satu lingkup yang bukan lingkungan kita. Tempat baru, begitu istilahnya. Seperti anak-anak kucing yang keluar kandang dan masuk ke hutan. Di tempat baru inilah kita menjalani hari-hari serta waktu dengan berkegiatan serta berinteraksi bersama penghuni-penghuni yang sudah menghuni tempat itu lebih dulu. Well, menurut gue jenis penghuni dapat dibagi menjadi dua, yaitu penghuni visible dan penghuni INVISIBLE (ugahari nurul, mahasiswi). Pasti kalian terheran-heran dengan jenis penghuni INSIBLE yang gue ketik. Secara sekarang kita berada dipenghujung tahun 2011 dan hanya tinggal hitungan minggu kita menapaki tahun 2012, lalu hingga detik ini kita masih membicarakan masalah begituan???? Gak modern banget. 

Pemikiran seperti inilah yang membuat kita tidak awas dan tidak peka terhadap kemungkinan-kemungkinan itu. Padahal jenis makhluk invisible memiliki kemampuan mengisi ruang serta waktu yang tak mampu diisi oleh kita, manusia. Artinya, dia ada dimana-dimana. DIA ADA DIMANA-DIMANA *jengjengjeng*. Jarang memang ada orang yang percaya hal-hal berbau jauh dari logika seperti ini, salah satunya gue. Bukan gue gak percaya, tapi lebih tepatnya tidak menyangkut pautkan kejadian dihidup gue dengan hal-hal seperti itu. Termasuk tentang 'penghuni' di kamar kosan yang gue tempatin bersama dua orang teman gue.

Orang pertama yang 'disapa' oleh si dia yang tidak terlihat adalah teman sekamar gue, Mami. Di suatu pagi yang cerah saat mata kami masih penuh oleh belek-belek nan indah dengan pose gak banget khas bangun tidur. Mami dengan tampang cengo celingak-celinguk. Gue ngeliatin tapi cuek aja karena nyawa gue sendiri saat itu masih belum juga kumpul. Setelah si Mami mandi, dia pun bertanya pada Agy. Katanya, "Gy, lo tadi iseng naro bantal tepat di depan muka gue ya?"
Agy ngeliatin Mami heran. Ekspresi mukanya ketara banget gak ngerti maksud omongan mami. Cewek ini memperlakukan Mami seperti dia baru saja menenggak 1000 heroin, mabok. "Maksud lo gimana sih Mami?" Agy balik bertanya.
"Tadi pas kita masih tidur-tiduran, dimuka gue tuh rasanya kayak ada angin yang dingin gitu. Rasanya kayak ada orang yang naro bantal di depan muka gue." Mami menjelaskan.
"Lho, kan tadi lo liat sendiri gue ngebelakangin lo sambil BBM-an." Jawab Agy polos.
Mendengar jawaban Agy, Mami lebih milih diam dan menyeduh Energen daripada melanjutkan pembahasan ini. "Perasaan gue aja kali, Gy." kata Mami sembari menghibur diri sendiri.

Kejadian itu cepat-cepat kami lupakan dengan rajin menanamkan kalimat, "itu cuma perasaan aja," di kepala kami masing-masing. Gue yang rada parnoan gak ketinggalan ngulang-ngulang kalimat itu sambil juga berdoa. Simple sih, biar gak takut aja masuk kamar sendiri, hehehe. Tapi di hari jumat kemarin, si dia yang tidak terlihat ternyata mulai tertarik untuk berinteraksi sama gue. Buktinya, pagi-pagi banget ketika kesadaran gue masih di bawah nilai ambang batas normal, si dia yang tidak terlihat mencolek kaki kanan gue. Wah, dia centil banget ya! Sebelum menuduh si dia yang tidak terlihat, gue terlebih dulu menjadikan Mami sebagai tersangka. Secara, malam itu gue cuma tidur berdua bersama Mami karena Agy harus bedrest akibat gejala typus yang dia derita. Seperti sebelumnya, Mami pun tidak mengakui kalau dia mencolek kaki gue karena saat kejadian dia sedang membelakangi gue sambil sms-an sama pacarnya. Gue pun memang melihat punggung Mami di samping gue. Sambil tersenyum, Mami menatap gue dan dengan santainya berkata, "Udah Nu, biarin aja. Anggep aja lo di suruh bangun sama dia."

Gue ngelirik Mami, ngerasa sedikit takut dan juga kesal jadi satu. Gue pikir, apa yang dibilang Mami ada benarnya juga. Maka, dengan tampang kusut khas gue bangun tidur, sambil liat langit-langit kamar gue pun berkata, " Makasih ya udah bangunin." Kemudian lompat dari tempat tidur dan mandi.

Dalam hati gue berdoa semoga setelah ini si dia yang tidak terlihat gak tertarik untuk minta nomer hape gue atau akun jejarin sosial gue karena bisa repot ntar gue smsan atau bahkan telponan sama dia. Nelpon ke lain daerah aja ada roaming interlokalnya, kalau ke lain alam gimana? Gue belum pernah dengar ada roaming interalam sih, hehehe.

Sunday, 4 December 2011

Ceritanya Anak Kos: Jalan-Jalan Sore A La Anak GAOL

Tanggal 30 november kemarin gue resmi jadi anak kos. RESMI JADI ANAK KOS *daramatisasiefek*. Ya, buat kalian yang udah terbiasa menjadi anak kos mungkin udah gak heran lagi. Tapi bagi gue, yang notabene anak rumahan dari jaman baheula, bisa keluar kandang dan (sedikit) jauh dari orang merupakan hal yang sesuatu banget. Biasa di rumah cuma ongkang-ongkang kaki tanpa banyak kontribusi dalam pekerjaan rumah seperti nyuci baju, masak serta beres-beres, selama ngekos itu semua harus gue lakuin sendiri. Oia, gue pun juga harus memikirkan tentang 'akan makan apa gue pagi ini, siang ini, malam ini?' setiap hari. Belum lagi suasana kamar kos yang polos tanpa adanya TIVI dan RADIO. Beruntung, gue gak sendirian. Satu kamar gue barengan sama dua sobat gue dan ada dua orang lainnya di kamar yang berbeda. Ini juga merupakan salah satu tantangan bagi gue dan mereka untuk belajar tidak mementingkan diri sendiri, TAU DIRI terhadap barang-barang yang telah di gunakan, serta bersikap toleran terhadap sesuatunya. Itu sulit sekaligus bisa di lakukan. Itung-itung sekarang adalah jam tambahan untuk mempelajari kedewasaan sesungguhnya.

Oke, kita stop dulu serius-seriusnya. Secara sekarang gue lagi ada di kandang tercinta gue, jadi gue mau bercerita tentang kejadian-kejadian yang udah gue alami selama di 'rantauan'. 

Gue bisa ngekos bukan tanpa alasan. Alasannya pun bukan karena gue bisa bebas-bebasan dan menjadi semakin liar. Tapi, alasan gue ngekos adalah karena gue magang. Yap, magang di rumah sakit dengan lokasi yang jika di tempuh dari tempat tinggal gue akan makan waktu kira-kira 2 jam. Itu berarti, badan gue akan menjelma hanya tinggal tulang belulang kalau gue nekat bolak-balik. Makanya, berbekal tampang melas yang udah gue punya sejak lahir, gue pun menghadap orang tua gue untuk minta restu supaya boleh kos. Dan, alhamdulillah banget, mereka paham dan ngerti kalau kali ini gue emang butuh banget ngekos.

Karena alasan gue magang inilah, menjadi anak kos tidak menjadikan gue dan teman-teman jadi anak yang gila maen sampai larut malam. Sebaliknya, karena jam magang yang padet (fyi, gue magang dari senin sampai sabtu dari jam 8-4. jangan kuatir, gue masih dapet jam istirahat kok yang biasa gue manfaatin dengan balik ke kosan, hehehe) gue dan teman-teman jadi jarang maen. Nah, berhubung kemarin sore kita semua ngerasa BETE banget, secara lingkungan kosan emang sepi banget. Akhirnya, kita berencana untuk jalan-jalan. Tempat yang kena sial karena akan kita datangi adalah restoran cepat saji MC. DONALD (baca: MEK DONAL). Oke, tolong singkirkan jauh-jauh pikiran kalian jika kalian berpikir gue dan teman-teman gue adalah kos yang kebanyakan duit karena berencana nongkrong di tempat begitu. KENYATAANNYA, kita cuma berencana untuk beli es krim...doang. Oia, gue belum ngenalin teman-teman sekamar gue, haahhaah. Mangap, eh...maaf, gue keasyikan cerita! Gue sekamar sama Agy dan Mami (nama aslinya Hida tapi tuh cewek bakal ngamuk kalo di panggil begitu). Sore itu, gue akan berjalan-jalan ke MC. Donald bersama mereka plus satu orang tamu kita, Ardilla.

Judulnya adalah jalan-jalan, jadi kita berempat berJALAN kaki menuju MC. D yang emang gak terlalu jauh jaraknya tapi mampu banget bikin betis kita jadi seseksi Jennfer Lupis. Suasana adem di jam lima sore membuat perjalanan ini tidak terasa menyakitkan tapi sedikit menyebalkan. Ya, bikin sebel karena jalanan rada becek gara-gara sebelumnya hujan. Becekannya itu muncrat-muncrat ke kaki dan sedikit mengotori celana pendek pinky yang gue kenakan sore itu. Kalo ada yang nebak penampakan kaki gue seperti bebek ke sawah, gue jawab itu bener banget! Sedihnya lagi, di warung kaki lima yang gue datengin gak di jual tissu. Alhasil, kaki gue di lap pake daun. Sedih banget rasanya, hohoho.

Mata kita jadi berbinar saat dari jauh lampu MC.D sudah terlihat. Sedikit berlarian karena kita harus nyebrang, sampailah kita di sana. Sebelum akhirnya masuk, Agy terlihat berhenti berjalan. Gue mendekati Agy lalu bertanya, "Kenapa Gy?"
Dia menatap kedalam resto, "Nu, tiba-tiba gue malu deh." katanya.
"Ah, tadi lo yang ngajakin." 
"Hehe, ayok siapa yang mau mesen?" tanya Agy.
"Kita aja Gy." sahut Dilla.
"Gue mc.flurry ya." pesen gue.
"Gue es krim cone." Mami gak ketinggalan ikut mesen juga.

Sementara Dilla dan Agy memesan pesanan kita, gue dan Mami mencari tempat duduk yang pas untuk berempat. Dan, di sisi sayap sebelah kiri restoran gue mendapatkan tempat duduk. Menunggu dan menunggu, kemudian Agy dan Dilla pun datang membawa nampan berisi dua Mc. Flurry sementara Agy menggenggam dua es krim cone miliknya dan Mami.

Ketika duduk Agy dengan tampang kesal yang konyol berkata, "Nu, emang gue aneh banget ya? Di liatin mulu daritadi...."
Gue merhatiin penampilan Agy sore itu yang cuma pake celana pendek garis-garis, kaos biru dan rambut di kuncir cepol. "Gak ah, biasa aja." sahut gue yang dandan gak kalah ancur dari Agy.
"Itu sampe managernya aja ngeliatin gue dari pas awal dateng." tambah Agy.
"Ibu-ibu ngeliatin kaki gue aja... emang kotor sih...." Ardilla ikutan curcol.
Kita akhirnya ketawa-ketawa aja.
"Eh. untung gue gak pake celana yang tadi itu. Bisa-bisa malu gue. Kalo udah begitu, gue mau pura-pura gila aja ah." Agy kemudia meragain gaya orang gila dengan goyang-goyangin dua tangannya di depan dada dan ngerut-ngerutin mukanya persis lagi nahan pup. "Abis gitu, gue mau bilang 'jangan perkosa saya...jangan perkosa saya...' trus lari keluar. Gue mau langsung nabrakin diri gue ke mobil. Malluuu....."

Kita berempat ketawa ngakak, gak peduli sama anak-anak gaul yang sesekali ngelirik kearah kita. Hm, menurut analisis gue mereka ngelirikin kita karena dandanan gue dan teman-teman gue SANGAT KEREN jadi mereka takut kesaing, heheheh. Well, betul ato tidaknya biarlah jadi urusan Tuhan Yang Maha Esa.

Terima kasih, gue mau makan dulu nih.... :D

Nb: di kamar kosan gue sekarang ada kipas angin! bye bye gerah.... hihiy.