Pages

Sunday, 11 December 2011

Colek-Colek

Udah seminggu lebih gue jadi anak kos. Rasanya nano-nano banget! Banyak hal yang gak biasa gue lakuin di rumah, justru gue lakuin selama di kosan.Contoh, ketika di rumah ngerasa laper bisa tinggal ambil makanan yang udah disiapin. Sementara kalo di kosan, gue dan teman-teman harus masak dulu. Dan, gue gak bisa minta tolong seseorang untuk melakukan suatu hal ketika gue sedang malas. Ya, seperti urusan cuci mencuci baju. Biasanya, gue hanya tinggal memasukan baju-baju kotor ke mesin cuci kemudian mendapatkan kembali baju-baju itu di lemari. Proses cuci, jemur hingga setrika bukan jadi urusan gue karena udah ada yang mengerjakan. Kalo di kosan??? Bisa sih bayar orang untuk melakukannya tapi rasanya kalau gue begitu hal-hal yang ingin gue rubah dalam hidup gue gak akan terlaksana dengan baik, hehehe. Alhasil, gue pun memaksa diri untuk mencuci, hohoho.

Di luar hal remeh temeh itu, jadi anak kosan lumayan menegangkan juga. Secara kita memasuki satu lingkup yang bukan lingkungan kita. Tempat baru, begitu istilahnya. Seperti anak-anak kucing yang keluar kandang dan masuk ke hutan. Di tempat baru inilah kita menjalani hari-hari serta waktu dengan berkegiatan serta berinteraksi bersama penghuni-penghuni yang sudah menghuni tempat itu lebih dulu. Well, menurut gue jenis penghuni dapat dibagi menjadi dua, yaitu penghuni visible dan penghuni INVISIBLE (ugahari nurul, mahasiswi). Pasti kalian terheran-heran dengan jenis penghuni INSIBLE yang gue ketik. Secara sekarang kita berada dipenghujung tahun 2011 dan hanya tinggal hitungan minggu kita menapaki tahun 2012, lalu hingga detik ini kita masih membicarakan masalah begituan???? Gak modern banget. 

Pemikiran seperti inilah yang membuat kita tidak awas dan tidak peka terhadap kemungkinan-kemungkinan itu. Padahal jenis makhluk invisible memiliki kemampuan mengisi ruang serta waktu yang tak mampu diisi oleh kita, manusia. Artinya, dia ada dimana-dimana. DIA ADA DIMANA-DIMANA *jengjengjeng*. Jarang memang ada orang yang percaya hal-hal berbau jauh dari logika seperti ini, salah satunya gue. Bukan gue gak percaya, tapi lebih tepatnya tidak menyangkut pautkan kejadian dihidup gue dengan hal-hal seperti itu. Termasuk tentang 'penghuni' di kamar kosan yang gue tempatin bersama dua orang teman gue.

Orang pertama yang 'disapa' oleh si dia yang tidak terlihat adalah teman sekamar gue, Mami. Di suatu pagi yang cerah saat mata kami masih penuh oleh belek-belek nan indah dengan pose gak banget khas bangun tidur. Mami dengan tampang cengo celingak-celinguk. Gue ngeliatin tapi cuek aja karena nyawa gue sendiri saat itu masih belum juga kumpul. Setelah si Mami mandi, dia pun bertanya pada Agy. Katanya, "Gy, lo tadi iseng naro bantal tepat di depan muka gue ya?"
Agy ngeliatin Mami heran. Ekspresi mukanya ketara banget gak ngerti maksud omongan mami. Cewek ini memperlakukan Mami seperti dia baru saja menenggak 1000 heroin, mabok. "Maksud lo gimana sih Mami?" Agy balik bertanya.
"Tadi pas kita masih tidur-tiduran, dimuka gue tuh rasanya kayak ada angin yang dingin gitu. Rasanya kayak ada orang yang naro bantal di depan muka gue." Mami menjelaskan.
"Lho, kan tadi lo liat sendiri gue ngebelakangin lo sambil BBM-an." Jawab Agy polos.
Mendengar jawaban Agy, Mami lebih milih diam dan menyeduh Energen daripada melanjutkan pembahasan ini. "Perasaan gue aja kali, Gy." kata Mami sembari menghibur diri sendiri.

Kejadian itu cepat-cepat kami lupakan dengan rajin menanamkan kalimat, "itu cuma perasaan aja," di kepala kami masing-masing. Gue yang rada parnoan gak ketinggalan ngulang-ngulang kalimat itu sambil juga berdoa. Simple sih, biar gak takut aja masuk kamar sendiri, hehehe. Tapi di hari jumat kemarin, si dia yang tidak terlihat ternyata mulai tertarik untuk berinteraksi sama gue. Buktinya, pagi-pagi banget ketika kesadaran gue masih di bawah nilai ambang batas normal, si dia yang tidak terlihat mencolek kaki kanan gue. Wah, dia centil banget ya! Sebelum menuduh si dia yang tidak terlihat, gue terlebih dulu menjadikan Mami sebagai tersangka. Secara, malam itu gue cuma tidur berdua bersama Mami karena Agy harus bedrest akibat gejala typus yang dia derita. Seperti sebelumnya, Mami pun tidak mengakui kalau dia mencolek kaki gue karena saat kejadian dia sedang membelakangi gue sambil sms-an sama pacarnya. Gue pun memang melihat punggung Mami di samping gue. Sambil tersenyum, Mami menatap gue dan dengan santainya berkata, "Udah Nu, biarin aja. Anggep aja lo di suruh bangun sama dia."

Gue ngelirik Mami, ngerasa sedikit takut dan juga kesal jadi satu. Gue pikir, apa yang dibilang Mami ada benarnya juga. Maka, dengan tampang kusut khas gue bangun tidur, sambil liat langit-langit kamar gue pun berkata, " Makasih ya udah bangunin." Kemudian lompat dari tempat tidur dan mandi.

Dalam hati gue berdoa semoga setelah ini si dia yang tidak terlihat gak tertarik untuk minta nomer hape gue atau akun jejarin sosial gue karena bisa repot ntar gue smsan atau bahkan telponan sama dia. Nelpon ke lain daerah aja ada roaming interlokalnya, kalau ke lain alam gimana? Gue belum pernah dengar ada roaming interalam sih, hehehe.

4 comments:

Ra-kun lari-laRIAN said...

selamat menikmati hidup baru sebagai anak kos.. :D

Sang Cerpenis bercerita said...

wah dia suka iseng ya...jitakin aja. colek lagi. hehehe

Mood said...

Keknya 'Si Dia' nya cowok tuh, habis suka colek colek gitu :P

Salam.. .

Renungan berbagi said...

gaul