Pages

Saturday, 29 December 2012

Yang Di Butuhkan

Kalimat: Berdoa dan Berusaha, sudah pasti sering kita dengar. Mungkin klasik, tapi seringnya hal-hal klasik merupakan sesuatu yang lebih sering benar. 

Misalnya, ketika kita menginginkan sesuatu, dengan hanya berdoa saja tidaklah cukup. Tuhan tidak serta merta menjatuhkan 'harapan' kita dari langit tanpa kita berusaha untuk menggapainya. Dibutuhkan peluh dari tiap inci usaha yang kita lakukan.

Dia juga ingin melihat sejauh mana kesungguhan kita karena tidak ingin apa yang IA beri, kita sia-siakan begitu saja.

Dan, bila langkah kita telah banyak tercipta, telah banyak luka yang tergores, telah menghasil berbutir-butir peluh, maka yang dibutuhkan adalah PERCAYA.

Percaya, kalau Tuhan merupakan Dzat yang Maha Mengetahui tempat terbaik untuk kita berkarya, menghasilkan serta menjadi manfaat bagi orang di sekitar. Tidak hanya sekedar 'menghasilkan' namun juga memberi kebaikan dan berguna untuk orang-orang disekitar. 
Percaya, bahwa Tuhan sedang menyiapkan kado terindah untuk manusia sabar seperti kita.
Percaya, bahwa Tuhan tidak sedang tertidur lelap melainkan mendengarkan tiap hela nafas berisi doa terindah yang kita ucapkan disetiap jengkal langkah.
Percaya, bahwa rasa YAKIN yang terus kita tanamkan padaNya akan menghantarkan kita pada sebuah keindahan tersendiri yang selama ini kita tunggu.

Maka, jika kita telah berusaha, telah berdoa, yang dibutuhkan selanjutnya adalah hati yang lebih lapang untuk bersabar menanti 'hadiah' terindah dari Tuhan.

Selamat siang blogger!

Monday, 17 December 2012

LUPA



 “Lo pulang sama siapa?” tanya Denis atau lebih tepat disebut menodong.
Ulin mengatur nafasnya yang tersengal tiap berhadap dengan makhluk songong namun diam-diam ia sukai itu.
“Sendiri.” Jawabnya berusaha sebiasa mungkin.
“Gue anter ya.”
“Hm… makasih, tapi gak perlu.” Tolak Ulin halus tapi makhluk ganteng didepannya ini bukan tipe mudah menyerah, cukup ngeyel malah. Jadi, ia telah bersiap membuka mulut untuk mencoba mengajak Ulin pulang bersamanya lagi. Namun, sebelum niat itu terlaksana, satu tangan kekar berwarna kecoklatan dengan dihiasi sedikit bulu-bulu halus telah memegang lengan Ulin. Bukan hanya memegang tapi juga mencengkram.
“Sori, Den, Ulin pulang sama gue, Pras dan Ava. Tadi kita udah janjian mau nonton, tapi si Ulin malah lupa makanya gue susulin kesini.” Cerocos Leno, sahabat Ulin sejak TK yang tak mempedulikan kekecewaan tergambar jelas di wajah Denis.
“Gue boleh ikut kalian nonton? Gue yang traktir deh.” Pinta Denis. “Hari ini anniversarrynya LUPA, jadi khusus anggota LUPA aja.”
Kemudian, setelah menyentak pelan lengan Ulin, mereka berlalu meninggalkan Denis yang terpaku memandangi punggung Ulin. Hatinya perih sekali…
JJJ
“Lo jahat!” cetus Ulin ketika mereka telah sampai tempat parkir dan jauh dari Denis. Ava sudah pergi duluan ke XXI di Supermall Lippo Karawaci bersama Pras untuk memesan tiket bagi mereka berempat.
“Lin, gue bukan jahat, tapi ini demi elo juga.” Ujarnya kalem sambil membuka pintu mobil Starlet putih miliknya. “Kalo terlalu dekat sama Denis, nanti lo bisa jatuh cinta sama dia. Itu bahaya, Lin… setidaknya untuk sekarang.”
‘Udah jatuh cinta duluan gue!’ umpat Ulin dalam hati.
JJJ
Denis berdiri dengan wajah garang didepan kelas 2IPS2 menghadang laju Leno, Ava dan Pras.
“Apa-apaan nih?” tanya Leno tak senang.
“Gue mau bicara sama lo bertiga sekarang juga.”
“Tentang apa?” sahut Ava lembut.
“Ngomong tinggal ngomong. Susah bener.” Sungut Leno.
“Sabar dong, Len.” Kata Pras. “Kita ngobrol di kantin kalo lo mau. Mumpung jam masuk juga masih lama.” Tawar Pras bijak yang langsung di iyakan oleh mereka.
 Denis menatap mata para sahabat terdekat Ulin itu lekat-lekat. “Ada apa sama Ulin?”
Tiga sahabat itu saling pandang, “Emang Ulin kenapa?” tanya Ava khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Ulin.
“Ulin baik-baik aja, dia lagi on the way ke sekolah kok sekarang.” Pras menjawab dengan tenang.
Denis terlihat frustasi, kemudian ia menghitung sampai tiga dan akhirnya berkata, “Gue kemarin nembak Ulin.” Mulainya. “Tapi, Ulin nolak dengan alasan yang sama sekali gak jelas. Dia bilang kalo dia gak mau ngekhianatin elo bertiga. Gue mohon, jelasin duduk perkaranya sama gue. Sekarang.”
Ava dan Pras menatap tajam pada Leno yang mendengus pada Denis, “Ulin emang gak suka kali sama lo.” Ujarnya ketus.
Dengan raut penuh rasa bersalah, Ava bersuara, “Gini Den… kita punya perjanjian KONYOL gagasan Leno.” Ava sengaja menekan bagian kata Konyol. “Sebelum selesai UAN, kita gak pacaran. Itu perjanjian LUPA namanya. Leno, Ulin, Pras, Ava.
.“Sebenarnya, Ulin suka sama lo, Den. dia pernah cerita. Tapi lo tau sifat Ulin gimana kan? Sama janji yang udah dia buat, gak gampang bagi dia untuk dibatalin gitu aja.” Tambah Pras.
Denis tersenyum.
“Oke, semua jadi lebih jelas buat gue sekarang. Thanks ya.” Ujar Denis tulus lalu bangun dari duduknya.
“Kalo emang lo beneran suka Ulin, lo pasti gak keberatan buat nunggu Ulin. UAN sebentar lagi, kok.” Kata Leno tanpa menatap Denis.
Denis Cuma tersenyum mendengar kalimat Leno. Cowok itu sudah tau apa yang harus ia lakukan. Setelah berterima kasih pada Leno, Ava dan Pras, Denis bergegas kembali kekelas.
JJJ
Aku udah tau masalahnya, aku juga udah tau kamu suka juga sama aku. Jadi, aku rasa gak ada masalah lagi. Aku akan nunggu kamu hingga batas perjanjian itu berakhir. Aku sayang banget sama kamu, Lin… -Denis.’

Sunday, 16 December 2012

Melajulah


Teruslah melaju dijalur hidupmu. Kendarai kendaraanmu dengan bijak ketika memilih jalur. Tak berputar arah meski temui masalah. Hadapi dan selesaikan, lalu teruskan perjalanan. Tentu akan mendapat pilihan-pilihan. Gunakan percampuran antara logika dan rasa untuk menemukan jalan terbaik. Lalu, gunakan spion masalalu sebagai tolak ukur perjalanan, bahan evaluasi agar tak ulangi salah yang sama, bukan jadi cermin yang menjatuhkan kita dalam lubang keterpurukan.

Ayo kita melaju, sayang...

Saturday, 15 December 2012

Bila

... Bunga yang mekar akan layu perlahan
Bila tanpa siraman
Bila tanpa pupuk
Bila tanpa sinar matahari

...Kumbang yang gemuk besar akan jatuh terlelah
Jika terbang tanpa tujuan
Jika terbang tanpa angin yang membelainya
Jika terbang tanpa ada tempat istirahat

...Macan yang paling ganas pun akan jemu dan mati kebosanan
Apabila di abaikan
di acuhkan
di kucilkan

Begitu pun aku...

Thursday, 13 December 2012

Di Halte Bus



Aku sedang jalan tergesa-gesa, menghindari garang sinar matahari yang mencoba untuk membuat kulit hitamku semakin gosong. Saat itulah kudapati Juna memanggilku dari pinggir lapangan basket.
“Buru-buru amat, mau kemana lo?” tanyanya dengan kedua tangan sibuk mendribble bola basket. Dibelakangnya beberapa temannya memanggil Juna agar lekas kembali ke arena. Juna tampak tak peduli, ia hanya menoleh sekilas, “Bentar.” Sahutnya cuek.
“Pulang.” Jawabku singkat karena merasa jengah pada Juna dan teman-temannya yang terus memandangku. Seakan akulah penyebab mangkirnya Juna dari permainan mereka.
“Gak sama Ranti?”
“Baru mau samper dia di kelasnya sekarang.” Aku meraih hp disaku bajuku. Terlihat nama Ranti disana. “Cabut duluan ya, dia udah nelpon nih.” Pamitku sambil memperlihatkan layar hp pada Juna.
Sebelum aku melangkah terlalu jauh dari lapangan basket, kudengar Juna memanggilku kembali. “Bilangin Ranti, nanti gue tunggu di halte depan.” Kemudian Juna berbalik dan kembali berlari bersama genk basketnya.
JJJ
Wajah Ranti terlihat menyesal ketika melihat kedatanganku.
“Telpon dari gue kok gak diangkat, Ta?” tanyanya.
“Kenapa emang? Tadi gue lagi diajak ngobrol Juna, waktu mau diangkat udah mati duluan.” Aku bisa melihat dengan jelas kilatan kembang api dimata belo Ranti saat kusebut nama Juna.
“Gue ada tugas kelompok, mau rembukin tema pembahasannya sekarang. Gak lama sih, mau nungguin kan?” Ranti sedikit memohon.
Karena malas pulang sendiri maka aku menyetujuinya. Lantas akupun bergabung dengan teman sekelompok Ranti yang rata-rata telah kenal baik padaku. Tiba-tiba Ranti menyeretku sedikit menjauh dari teman-temannya.
“Lo ngobrol apaan sama Juna?” tanyanya penuh rasa ingin tau.
“Oh itu… Juna nitip pesan buat lo.”
“Apa?”
“Dia nunggu elo di halte depan sekolah.”
Sudah kuduga, Ranti pasti akan senang sekali mendengar berita ini. Pasalnya, sudah enam bulan ia dan Juna dekat. Meski belum ada kata jadian, tapi gossip tentang Juna dan Ranti sudah menyebar hingga ke seantero sekolah. Lucunya, semua berlomba memberi komentar tentang kedekatan mereka. Ada yang setuju, banyak juga yang tidak karena katanya beda kasta. Ranti berasal dari dunia para nerd berasal sementara Juna terlahir dikalangan ksatria popular yang dipuja cewek satu sekolah.
“Semoga diskusinya cepat.” Harap Ranti. Gadis berambut lurus itu kemudian kembali pada teman-teman sekelompoknya dan memaksa mereka segera menyelesaikan diskusi.
JJJ
Sudah satu jam lewat dari waktu bubaran sekolah seharusnya membuat keadaan halte lebih lenggang. Namun sayang, kenyataannya yang menyapa tidak demikian. Segerombolan orang ternyata masih betah menghabiskan waktunya disana. Kebanyakan sih diisi oleh pasangan yang gak punya uang untuk jalan ke Mall. Diantara para pasangan itu, Ranti menajamkan penglihatannya. Sedikit gelisah dan berkeluh kesah, matanya meneliti setiap sudut mencari sosok Juna.
“Udah pulang mungkin, Ran.” Kataku yang ikutan pegal melihat tingkahnya.
Ranti cemberut mendengar ucapanku, “Yah… masa udah pulang sih Junanya. Katanya mau nunggu gue di halte…”
Aku mendengus, “Dia bilangnya dari satu jam yang lalu, Ranti. Lagian kenapa gak sms atau telpon elo aja sih biar gak repot.” Sungutku. “Padahal nomor telpon udah tau, masih aja gunain orang lain sebagai media untuk menyampaikan pesan. Itu kan merepotkan orang lain jadinya. Dan, kalo emang mau barengan pulang, Juna bisa kan nyamperin elo kekelas, seperti gue nyamperin elo.” aku menoleh dan mendapati bapak-bapak setengah baya tengah memandangku dengan muka heran. Takut-takut, kusunggingkan senyum padanya lalu pergi mencari Ranti.
Disudut halte kutemukan Ranti sedang berdiri. Ia mematung. tatapannya tajam tertuju pada segerombolan siswa dan siswi yang merupakan kakak kelas mereka. Sungguh, gerombolan itu tidak terlalu istimewa bagi Ranti meski terdiri dari anak-anak popular. Hanya satu yang menjadi fokus penglihatan Ranti yaitu keberadaan Juna. Cowok hitam manis kapten basket di sekolah yang katanya ingin menunggu Ranti, nyatanya kini sedang duduk di jok motor, asyik bercengkrama bersama teman-temannya, dengan Diva –mantannya- duduk tepat disebelahnya sambil bergelayut manja.

Thursday, 29 November 2012

Tweetku Tentang Orang Tua

Semalam entah kenapa, mungkin karena gue menyadari belum jadi anak yang baik bagi orang, tiba-tiba aja ada hasrat mendesak untuk membuat tweet tentang ornag tua. Tujuan awalnya sih, ditujukan bagi diri gue sendiri. Tapi, karena gue mempostingnya di area publik, jadilah banyak banget orang yang baca dan nge-re-tweet. Nah, liat RT-an yang cukup banyak bahkan ada sahabat gue yg ngRT seluruh tweet tersebut, gue berpikir untuk menaruhnya disini. Setidaknya, kalo gue atau siapapun yang mau baca, akan lebih enak. Soalnya posisinya gak mencar. So, here we go!
  • orang tua mendidik anaknya dengan cara yang mereka tau, kadang ada kalanya itu bertentangan dengan khdupan kita sekarang. ga perlu di buat beban, jadikan motivasi aja.
  • Orang tua gw sering bilang, semua yang mereka suruh untuk gue lakukan, ujung-ujungnya akan dirasakan oleh gue juga, mereka Cuma kecipratan senangnya aja
  • Setelah banting tulang kerja, nahan hasrat sendiri untuk beli ini itu DEMI anak, yang bisa ngehapus peluh mereka cuma... PRESTASI
  • apa yang orang tua kita lakuin sekarang, biarpun nyebelin, itu adalah cara mereka untuk memastikan kita bisa mandiri dan baik2 aja bila suatu hari mereka ga ada :')
  • Setiap Orang tua pasti akan nyesel udah ngebentak dan bicara kasar ke anaknya, tapi itu kadang terpaksa untuk buat anak sadar mereka salah (kata bokap gw)
  • bagi orang tua, lihat anaknya GAGAL adalah kesedihan mereka yang sesungguhnya. setidaknya itu pesan bokap gw :)
  • coba deh perhatiin muka orang tuanya masing2. mereka makin tua loh sekarang, tega buat nyakitin?
  • silahkan lakukan yang lo suka, asal bisa jaga nama baik KELUARGA :)
  • sikap orang tua yang tegas& keras itu bukan karena mereka JAHAT, tapi justru karena terlalu sayang & peduli sama kita. mereka ga mau kita manja karena tau HIDUP ITU KERAS
  • pernah ga sih ngerasa berdosa saat kita tiap saat ingetin pacar untuk makan, sementara ke orang tua sendiri ga? gw pernah :')
  • Kalo anaknya kenapa2, dipikiran orang tua yang terlintas adalah: APA SAYA GAGAL JD ORTU? tega buat mereka gitu?
  • orang tua itu selalu care sama anak, meski terlihat biasa, waktu lihat anaknya susah sebenarnya mereka sedih :')
  • Sebego-begonya orang tua, mereka ga ingin anaknya lebih bego atau sama begonya dengan mereka.maka mereka akan berbuat apa aja supaya anaknya pinter
  • bersyukurlah kalo punya orang tua yg ga selalu nurutin KEMAUAN KITA, mereka ngelakuin itu cuma supaya kita ga manja. Karena dunia akan menggilas anak MANJA
  • untuk anak perempuan, bersyukurlah klo bokap lo kelihatan marah waktu lo jalan sama cowo, tandanya bokap cemburu & ga mau anak kesayangannya kenapa-kenapa :')
  • pada dasarnya, orang tua pengen anaknya jadi orang baik, cuma caranya aja yg beda-beda :)
  • Ayah itu sosok yg sok serem tapi sebenarnya dibalik semua sikapnya dia pengen kita tangguh ngadepin dunia :)
  • Nih ya, bokap gw itu orang yg paling nyebelin sejagat raya buat gw, tapi dia paling duluan MARAHIN orang yang nyakitin gw. how sweet is he?
  • kenapa orang tua itu mesti ada dua? karena orang tua laki-laki (bokap) akan ngajarin anaknya ketangguhan sementara yang wanita (ibu) ngajarin kelembutan
  • kenapa orang tua takut anaknya salah jalan? Bukan karena takut nama keluarga bakal jelek, tapi mereka takut akan kehidupan si anak selanjutnya
  • orang tua bukan ga suka liat anaknya nangis, mereka cuma ga mau anaknya cengeng krn untuk jalanin hidup kita perlu jadi orang yang tangguh
  • orang tua seneng anaknya nurunin sifat baik mereka tapi mereka ga seneng kalo kita niru sikap buruknya karena mereka udah tau akibatt buruknya apa...
  • kalo putus sama pacar pasti sms "maaf aku ga bisa jadi yang terbaik u/ kamu.", udah bilang hal yang serupa ke ortu? :)
  • sebenarnya sih ga usah terlalu bangga klo orang tua nurutin seluruh kemauan kita, soalnya ntar kita jd manja :)
  • jangan pernah nyamain atau bandingin orang tuamu dengan orang tua temanmu. Mereka punya gaya masing-masing untuk besarin anak. Kamu juga ga mau dibanding-bandinginkan?
  • sadarlah, semakin dewasa usia kita, semakin tua umur ortu kita, semakin dikit waktu kita bersama mereka :)
  • orang tua selalu ngajarin kita untuk berdoa sama Tuhan, tau gak, diem2 mereka berharap bisa kumpul lagi loh sama kita disurga sana :')
  • ga ada istilah anak emas karena orang tua memperlakukan anaknya sesuai dengan karakter si anak. istilah itu lahir dari pikiran kita sendiri

mungkin bagi beberapa orang atau kebanyakan orang, tweet tersebut terkesan menggurui. Apalagi lahirnya dari orang yang masih berstatus anak seperti gue. Sebenarnya, kesimpulan-kesimpulan itu gue ambil dari orang tua gue. Nasihat-nasihatnya atau dari renungan yang gue lakukan ketika mereka ngomelin gue. Semoga, membaca itu kita bisa jadi anak yang lebih baik dan menghargai orang tua. Amien :)

*sumber dari tweet diatas: @ununinu :)

Wednesday, 28 November 2012

Bagianmu

Pernah gak punya mimpi, punya keinginan, punya minat, punya hobi yang dipandang sebelah oleh orang lain? Parahnya, bukan sekedar dipandang sebelah mata tapi juga ditertawakan (meski tidak terang-terangan) saat kamu ingin menghabiskan dirimu berkarier dalam bidang tersebut? Singkatnya, setelah itu kamu harus menjalani sesuatu yang tidak kamu sukai. Contohnya seperti Kugy dan Keenan dalam novel Perahu Kertas karangan Dee. Tapi tentu, kehidupan didalam sebuah cerita tidak selalu manis seperti dalam kehidupan nyata. Kehidupan yang kita temukan dalam novel seperti keajaiban dan kemudahan, tidak akan semudah itu kita temukan dalam kehidupan nyata. Tentunya, hal ini seperti menohok para pembaca yang memang benar-benar menggunakan alam 'khayal'nya untuk kemudian menciptakan/mengkreasikan cerita tersebut sesuai seperti keadaan dirinya.

Mendapat kenyataan yang seperti itu. Dorongan untuk melakukan sesuatu yang lebih 'bermanfaat' dibanding hanya sekedar bermain-main dengan hobi, perlahan membuat kita kemudian berpikir untuk 'membahagiakan' mereka. Terutama, Orang Tua. Dengan dalih itu, kita 'membelok' dari sesuatu yang sangat kita sukai menuju jalur yang harus kita sukai, suka tidak suka. Well, diluar sana banyak orang berkata, jika itu hidupmu maka perjuangkanlah. Mereka (Orang Tua) tidak akan merasakan apa yang kita rasakan. Perjuangan mempelajari sesuatu yang tidak disukai, menghadapi hal-hal menjemukan dan lain sebagainya. Sayangnya, teori tersebut tidak mudah dilakukan oleh setiap orang sehingga membuat kebanyakan orang melalui jalan itu. Jalan yang sebenarnya gak disukai...

Tapi, saya rasa, kita gak perlu terlalu larut dalam keterpurukan dalam menjalani bidang atau hal yang sebenarnya gak kita suka. Jangan pernah berpikir untuk berhenti melakukan hobi, dan menanam impian dibenak kita. Semua itu dilakukan semata-mata sebagai 'terapi; agar kita tetap memiliki semangat dalam menjalani hidup dengan semua keadaan yang ada. Dan, ingat, tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Setiap serpihan kecil yang tertinggal akan menjelma sebagai bongkahan besar yang suatu saat akan indah. Minimal, untuk diri sendiri.

Setiap orang yang telah menghabiskan waktunya untuk membahagiakan orang lain, memiliki hak untuk membahagiakan dirinya sendiri. Sebagai penyeimbang atas kehidupan yang dirasa timpang. Jadi, jangan berhenti mengejar mimpi, menanam asa dan percaya bila tidak ada yang sia-sia dari semua perbuatan kita.

Terus Semangat meraih impian, meski pahit, tetapi, harus diraih untuk kebahagiaan diri sendiri.


Salam,

Saturday, 24 November 2012

Malam Minggu


~ Dinna
‘Nanti malam aku ke rumah kamu, ya.’ Begitu isi sms dari Abdee, pacarnya. Ini malam minggu dan Abdee yang harus menempuh waktu perjalanan selama 2 jam untuk kerumahnya akan datang. Tidak ada yang lebih sempurna dari itu!

~ Bian
Sementara sahabatnya sedang mengobrak abrik isi lemarinya demi menemukan pakaian pantas yang keren untuk ia pakai malam mingguan bersama pacarnya, Bian Wijaya, justru tidak terlalu bersemangat.
“Semoga nanti malam hujan deras.” Gumamnya sembari menatap langit pukul delapan pagi yang cerah ceria. Bian terus mengulang-mengulang doanya.
Hampir tiap malam minggu tak pernah Bian lewati bersama Chiko –pacarnya-  seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Hari ini pun Bian menerima pesan yang serupa seperti minggu sebelumnya dari Chiko, ‘Malam ini aku main futsal sama teman-teman aku ya sayang.’. Bian yang sudah terlalu kebal untuk sekedar merasa marah hanya melempar handphonenya ke sudut ranjang.

~~ Malam, 20.00
~Dinna
“KAMU DIMANA?!” semprotnya ketika Abdee akhirnya menjawab telepon setelah sepuluh kali ia tak menanggapinya. “JADI GAK KERUMAH AKU?!!” tanyanya setengah berteriak.
Dinna pantas merasa emosi setengah mati hingga meledak-ledak seperti ini setelah ia menolak ajakan Bian untuk belanja besar-besaran. Cewek berambut pirang alami dengan potongan layer sepundak ini, hanya ingin berada di rumah supaya bisa bersiap-siap untuk bertemu Abdee. Jadilah Dinna berkutat dengan lulur, menyiapkan masakan yang ia pelajari dari buku resep milik Mama dan menghabiskan waktu dua jam meluruskan rambut ikalnya. Setelah semua hal itu ia lakukan demi malam minggu spektakuler dalam imajinasinya, Dinna harus mendapati kenyataan bila cowok itu justru berkata, “Aku gak jadi kerumah kamu ya, sayang… hari ini aku harus anter teman aku ke rumah Tantenya di daerah Kota Tua.”
Saking emosinya, Dinna sampai tidak tahu harus berkata apa. Gadis itu hanya mematikan telponnya sambil memaki-maki Abdee. Ia beranjak menuju cermin setinggi badan, berdiri disana, menatap bayangan seorang gadis manis bertubuh langsing dengan nafas naik turun menahan emosi.
“BEGO!” Kemudian, Dinna mulai menangis…

~~ Bian
Bila sudah Ibu yang membuat rencana, tidak ada satu orang pun di rumah mereka mampu mencegah. Terutama untuk Bian. Tidak bisa ia berkata ‘tidak’ atas ajakan Ibu untuk sesi kelas Pilatesnya malam nanti. Padahal berada ditengah kumpulan Ibu-Ibu adalah ‘BIG NO’ terbesar di kamus hidupnya, terlebih di malam minggu yang seharusnya ia habiskan bersama Chiko.
“Gak harus kamu habiskan tiap waktu untuk pacarmu, Nak. Bersosialisasilah dengan orang lain.” Ujar Ibu sambil merajang wortel untuk makan malam mereka.
“Kumpulan Ibu-Ibu itu bukan ‘orang lain’, Bu. Tapi orang tua.” Sahut Bian kesal sambil menatap geram tabloid ditangannya yang membahas tentang putusnya hubungan Selena Gomez dan Justin Bieber. Disebelahnya duduk Abang tertuanya, Bino yang hanya tersenyumm geli menonton perdebatan itu.
“Jangan pilih-pilih dalam bergaul.” Ibu mengingatkan.
“Aku gak pilih-pilih.” Sergah Bian.
Ibu tersenyum penuh kemenangan. “Itu artinya kamu setuju untuk pergi sama Ibu. Lekas mandi, kita jalan setengah jam lagi.” Tanpa perlu konfimasi, Ibu menghilang kekamarnya, segera.
~~
Bian dan Dinna
“Jadi malam minggu lo gimana?” tanya Dinna. Tangannya meraih tissue dan membersihkan hidungnya.
Bian menguap lebar tak peduli tatapan Mba-mba recepsionis yang bergidik jijik. “Suram.” Jelasnya singkat. “Malam minggu, gak sama pacar, justru terjebak di studio senan penuh Ibu-ibu usia kepala empat yang mimpi punya tubuh seperti gadis dua puluh tahunan. Perfect!” lanjut Bian mendramatisasi keadaan.
Dinna menyeringai lebar. “Asyik banget.”
“Banget.” Cibir Bian. “Lo sendiri gimana?”
“Buruk. Abdee gak jadi datang.”
“Kenapa?!”
“Dia lebih peduli temannya daripada sama pacarnya yang udah mati-matian masak demi dia.”
“Hah?!” Bian tercekat mendengar Dinna Saputri memasak. Megang sapu aja hampir gak pernah, pikir Bian.
“So?”
“Malam minggu gue kayak biasanya deh.”
“Sama lo!” ujar mereka berbarengan lalu tertawa seru tentang ketololan mereka sepanjang malam.
~~~

Monday, 19 November 2012

Sepasang Lilin

Hujan turun lebat malam ini
Kilat dan petir berlomba ciptakan kilau serta gemuruh
PLN tak berani ambil resiko
Pemadaman listri dilakukannya

Gelap

Mataku tak kuasa menembus kedalam gelap
Lantas kamu datang, sodorkan aku sepasang lilin dengan api menyala-nyala
Gemetar,
Ku terima lilin itu dari sikapmu yang tenang
Aku terkesima...

Kegelapan masih melanda
PLN merasa tak punya daya bersaing dengan kilat dan petirnya
Kini angin ikut beraksi juga
Memberi hembusannya yang paling kencang
Jumawa ketika mampu membawa genting dari tempatnya
Merobohkan pohon-pohon tua dipinggir jalan
Kemudian tertawa keras padaku saat lilin yang kau beri dipadamkannya

Lagi, aku terkesima

Kamu hanya berdiri saja, tidak beranjak mencari api tuk nyalakan lilinku lagi
Ingin kutuangkan tanya
Hanya saja kerongkonganku tercekat
Dan aku seakan tak punya kata-kata
Aku bisu

Kemudian, lilin menyala
Lampu menerangimu
Aku lantas melihat seringai licikmu
Kamu melempar lilin digenggamanmu
Lalu pergi bersama tanya yang kamu lukis di anganku

Friday, 16 November 2012

Monolog



Aku baru saja terbangun dari tidurku. Kusibakkan tirai yang mengalangi pandanganku keluar jendela. Aku mendapati langit pagi berwarna abu-abu, mendung, pikirku. Dari bibirku lantas terucap tanya, “Langit di bumiku berwarna gelap, bagaimana dengan langit di bumi kamu?” tidak ada jawab. Aku bertanya pada angin.
óóó
“Mbak, tehnya udah bibi siapkan di meja makan.” Sambut pembantuku yang telah setia menemani keluargaku sejak sepuluh tahun silam. Aku menoleh padanya, tersenyum untuk mengucapkan terima kasih.
Kugelung rambutku yang terurai tak karuan. Kemudian aku duduk dan menikmati secangkir teh serta bubur sumsum kesukaanku. Tak sengaja mataku menangkap bayang-bayang jarum jam yang sedang melakukan putaran. Pukul 08.00.
“Biasanya kita lagi nguap-nguap di meja kantin, setelah hadir di kuliahnya dr. Irma yang mulai super pagi. Kamu dengan segelas kopi susu panas dan aku setia pada tehku. Pasti deh, kamu bakalan ngeledekin aku kayak nenek-nenek, karena kegemaranku minum teh. Dan, aku akan membalas kalo kamu juga gak beda sama kakek-kakek yang sering kita temuin di tukang fotokopi dengan kopi hitamnya yang seakan tak pernah habis. Abah Ical. Kamu pasti marah kalo aku samain dengan dia…” bibirku tersenyum. Kaku.
óóó
Mataku menatap sengit pada matahari siang ini yang menyambutku dengan terik sinarnya. Aku ingat, kamu pernah membuat status di akun facebookmu tentang panasnya matahari di suatu siang. Kamu bilang, ‘Neraka bocor!!!’
Lalu, banyak komentar bermunculan. Ada yang ngomel ke kamu dan nganggap kamu gak relijius, juga gak sedikit yang membalas banyolan kamu. Ketika itu, aku memperhatikan facebook kamu, menatap tiap kata yang kamu tuliskan sebagai balasan atas komentar orang-orang. Jariku sudah siap mengetik, tapi aku urungkan.
Ah, kenapa aku ingat kamu lagi?
óóó
 “Milla!”
“Kenapa, Sya?” tanyaku pada Rasya yang berlari mengejarku.
“Gue gak masuk kelas, ya. Titip absen. Heheh.” Cowok hitam itu mengedipkan sebelah matanya padaku sambil berlalu.
“Aku kira itu kamu… biasanya kamu yang minta aku absenin kalo lagi males masuk kelas…ternyata bukan ya.” Aku menghela nafas meninggalkan lobi dimana aku sempat melihat ada ‘kita’ di deretan bangku biru.
óóó
Aku melintasi waktu demi menemukanmu, memutar secuil detik melintasi terangmu, menutup gelap kabut yang menggenggamku…
Bila kita diciptakan dari rindu yang sama, mengapa hanya aku yang merasa???
Caramu yang begitu sempurna mengikatku dalam perih, bagaimana caramu hadir dimemori-memori yang hampir terisi penuh diotakku, tak bisa kau biarkan ada sedikit celah…
Demi kamu yang kumaksud, demi semua kenangan, demi semua cinta dan luka yang pernah kau beri, kumohon jangan pernah ada demi sebuah rindu….
Edelweiss lambangku kini, lambang keabadian, keabadian merindumu peri rindu…
Hari ini, seperti kemarin, aku mengunjungi twittermu. Satu-satunya media yang bisa membuatku tahu bagaimana keadaanmu, setelah semua sms dan telponku tak ada yang kamu respon. Tapi, lagi-lagi kecewa yang menghampiriku. Tak ada satu pun tulisanmu kutemukan disana selain sajak-sajakmu yang kemarin telah tamat kubaca.
Ris, sampai kapan kita atau aku terjebak dalam suatu ruang bicara bersamamu? Ruang bicara semu karena sepertinya hanya monolog yang kulakukan. Dimana kamu? Bicaralah, meski hanya sekali saja…