Pages

Sunday, 5 February 2012

Awas Ada Otong Eh POCONG!

Villa Asean, Pondok Cabe 20 January, 16.30

Suasana hening. Bukan karena horor tapi karena dua penghuninya- Gue dan Agy- serta satu orang tamu-Ardilla- sedang berkonsentrasi penuh pada drama korea berjudul 49 days yang sedang memasuki episode terakhir. Apapun yang sedang menjadi masalah kami mulai dari magang, laporan hingga skripshit-skripsi, maksud gue- kami lempar jauh-jauh demi menyaksikan bagaimana Ji Hyoon berjuang untuk kembali hidup dan Kang Min Hoo terbongkar kedoknya. Itu sangat seru sekali permirsa. Bahkan, mata kami pelit sekali untuk berkedip kecuali kalau sudah terasa perih. Pikiran kami sepenuhnya tertuju pada episode terakhir drama korea tersebut.

17.30

Detik-detik film tersebut berakhir semakin mendekat. Agy yang gemas karena tiba-tiba film itu terasa kurang greget mulai ngomel sendirian. Katanya, "Ah...jadi gak seru nih filmnya. Masa Yi Soo nyuruh Yi Kyung buang cincinnya." Waktu ngomong begitu, mukanya Agy bertekuk-tekuk cemberut tanda dia kesel. Gue yang duduk disebelahnya jadi geli sendiri. "Mau komentar gimana juga, kaga bakal di denger Gie," kata gue sedikit sinis. Dilla yang baru akhir-akhir ini menyukai drama korea 49 Days (itupun setelah gue sandra di kosan untuk nonton film itu sebelum gue dan dia kerumahnya) hanya diam saja sambil ngotak-ngatik laptop gue. Dilla lalu nyenggol gue untuk minta izin pinjem modem. Karena lagi konsen sama adegan Ji Hyoon yang inget sama Yi Kyung sementara gak inget Han Kan, gue pun ngasih modem ke Dilla dengan gerakan seperti robot. Gak pake liat dimana posisi cewek itu yang penting tangan gue terulur bersama modem dalam genggaman. Setelah menerima modem itu, Dilla pun anteng memainkan laptop gue... sampai tau-tau dia cekikikan sendirian.

Iklan ngebuat pikiran gue dan Agy kembali ke alam nyata. Agy adalah orang pertama yang sadar kalau ada sesuatu hal aneh sama Dilla. Cewek yang jago berlogat betawi itu lagi cekikikan sendirian.
"Kenapa lu, Dil?" tanya Agy sambil ngintipin laptop.
Dilla cengar-cengir, noleh kearah Agy. "Gue lagi liat wall-wallan gue dulu sama temen gue. Sumpah, alay banget!"
Gue ikutan ambil posisi supaya bisa baca postingan expired yang alay itu. Dan, gak perlu waktu lama bagi kita bertiga untuk ngetawain semua postingan expired yang ada di home milik Dilla. Banyak yang kita ketawain, mulai dari panjangnya status yang Dilla up date, dengan isi hampir 99,99% curhatan hingga cara ketikan yang  masih menggunakan 'ci' untuk 'sih', 'aQ' untuk 'aku', 'Qm' untuk 'Kamu' dan lain sebagainya. Entah ada makhluk apa di otak kami saat itu, yang pasti penggunaan model bahasa seperti itu sangat terlihat keren kalau kami gunakan.
Gak adil rasanya kalau kami cuma mengobrak-abrik akun FB milik Dilla. Kami emang rese dan hobi nyela tapi bukan berarti gak adil dalam cela-celaan, bukan? Berani nyela pasti berani juga untuk di cela. Maka, kami pun mulai ngundi giliran akun siapa diantara gue dan Agy yang akan dicela berikutnya.
Dewi fortuna ada dipihak Agy, maka cewek yang berwajah rada mirip cina tanpa kerudungnya berhak mendapat giliran berikutnya. Gue dan Dilla asyik buka-bukain status lamanya Agy. Dengan tampilan FB yang seperti sekarang, melihat status-status lama yang pernah di up date adalah hal yang mudah. Kita bertiga sama-sama ketawa baca postingan Agy. Yeah, apa aja emang kita ketawain sih sebenernya, hahaha. Kemudian, datanglah giliran gue. Agy dan Dilla tertawa puas melihat 'kealayan' gue dulu (terima kasih untung udah engga sekarang, hahahahaha). Banyak yang mereka ketawain. Mulai status gue, cara ngetik gue, hingga status-status gue saat lagi galau. Iya, kita kurang kerjaan banget ya baca2 gituan. hahahaha.

19.00

Waktu emang selalu begitu. Selalu berjalan cepat ketika kita sedang asyik main cela-celaan. Pipi dan perut udah kram semua saat kami sadar hari semakin malam. Dilla yang bukan anak kos jadi ingat kalau dia harus pulang. Dengan pandangan mata penuh tuntutan, Dilla melihat gue dan Agy.
"Tadi lo berdua janji mau anter gue pulang. Ayo, sekarang...." rujuknya.
Gue dan Agy nyengir. Sama-sama malas untuk keluar kosan di malam hari kayak gini. Tapi, tidak mengantar Dilla sampai depan gang juga akan menjadi masalah, karena pasti cewek itu akan mengamuk.
Gue kasih tau ya, biarpun kosan gue terdiri dari dua lantai dan beberapa kamar tapi lingkungan disini sangat sepi. Rumah-rumah besar yang kebanyakan kosong, jalanan yang minim penerangan -kata Agy, penduduknya terlalu kaya sampe gak mampu untuk ngadain lampu barang sebiji pun, gue rasa dia bener-, bikin serem kalo keluar.
Akhirnya, mau gak mau gue dan Agy tetep nganter Dilla. Setelah kamar gue kunci, gue kemudian nyusul Dilla dan Agy yang udah duluan jalan. Dan... jalanan di gang kosan gue beneran sepi. Lebih sepi dan lebih gelap dari hari biasa. Gak ada penampakan orang, gak ada lampu yang nyala juga. Kalo bukan karena Dilla, demi apapun, gue males banget buat keluar.
Sampai di belokan, Dilla dan Agy berhenti berjalan. Sebabnya karena ada dua ekor anjing ukuran jumbo yang keluar dari gang lain. jaraknya emang beberapa ratus meter dari kami, tapi Agy dan Dilla yang fobia anjing gak bisa ngatasin rasa takutnya. Agy emang masih bisa untuk terus jalan waktu kami liat tuh anjing ilang di gang yang akan kami lewati. Tapi tidak dengan Dilla. Cewek itu berhenti di depan sebuah rumah yang gelap. Gue dan Agy sama-sama nengok ke Dilla. Mukanya agak pucat. Dia makin mundur dan mundur. Gue memutuskan untuk memperhatikan posisi anjing-anjing itu. Terutama yang ada di jalanan yang akan kami lewati nanti. Agy terus memperhatikan Dilla dan ngebujuk cewek itu untuk mendekat pada kami. Tapi Dilla tetap menolak. Dia semakin mundur. 
Di tengah gelapnya malam itu, tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing yang cukup panjang. Gue nyengir sebel. Kalo udah begini bisa-bisa Agy juga makin takut, pikir gue. Bener aja. Cengkraman cewek yang selama sebulan ini jadi temen sekamar gue, semakin kenceng. Pandangan dia lurus kearah gang yang gelap. Suaranya bergetar waktu dia nanya, "Nu... lo liat gak?"
Gue ngelirik Agy sebentar. Gak ngerti sama yang dia omongin dan yang dia maksud. Diarah yang sama dengan arah mata Agy, gue gak liat apapun selain jalanan gelap. Dan...Agy mulai histeris. "Nu...lo gak liat Nu?" suaranya membahana di jalanan sepi.
Gue masih dalam pose 'tolol+bingung+ga tau apaan yang Agy maksud'. "Engga." jawab gue.
"Lo gak liat, Nu?!" ulang Agy lagi. Lalu, "Astagfirullah....astagfirullah..." Agy kemudian menarik gue untuk mejauh sambil tetap beristigfar. Ardilla pun mendekat. Agy kembali bertanya sama gue, "Lo gak liat, Nu?" dan gue masih jawab, "Engga." lalu buru-buru menambahkan, "Jangan ngomong apa-apa di sini. Kita balik kekosan." Sejurus kemudian, kita bertiga lari cepat-cepat kearah kosan kayak orang gila dengan kekuatan supersonik yang entah darimana, kita dapati saat itu. Rasanya, kita udah jauh berlari tapi kosan gak sampe-sampe. Herannya, gak ada satupun orang keluar sedangkan kami berteriak cukup histeris sepanjang jalan. Begitupun saat kita memasuki halaman kosan. Kami heboh tapi sekali lagi, gak ada satu pun orang yang keluar!
Gue, Agy dan Dilla duduk di bangku dengan kaki gemetar hebat. Agy menatap gue dengan mata berkaca-kaca. Sementara Dilla kalap memandangi hapenya.
"Nu.." panggil Agy.
"Jangan disebut, Gy." pinta gue. Tanpa perlu dia jelaskan panjang lebar, gue udah bisa paham tentang satu 'hal' yang bisa dia lihat Agy dan gue gak bisa lihat. Itu bukan sesuatu yang normal dan...menyenangkan. "Ke kamar, yuk." gue setengah merengek karena tiba-tiba secara brutal imaji gue membayangkan makhluk  itu mengejar kami. Agy setuju sementara Dilla masih dalam pose yang sama, megang hape dengan muka takut. Akhirnya, gue tarik Dilla dan kami buru-buru ke kamar. Gue sempet ngelirik ke jalanan, kosong, semoga aman.

Suasana Kamar


Heboh, berisik, kacau. Kita seakan-akan dikejar Belanda dan mau di cincang idup-idup. Agy nelpon orang rumahnya untuk jemput dan malah di suruh berhenti kos sama nyokapnya. Karena itulah, kita langsung beresin semua barang-barang kita dikosan. Di mulai dari yang simpel-simpel dulu. Orang-orang pada gak bisa nalar. Deg-degan. Bersikap waspada takut tau-tau ada yang nongol di kamar.
Suara Agy terdengar kaya cicak kejepit waktu bilang, "Pintu sama jendela boleh di buka ga?"
Kompak, gue dan Dilla barengan teriak, "ENGGAK!"
"Tutup Yang rapet!" tambah gue
Parno dan ketakutan yang kita rasain semakin menggila. Hingga pipis pun main tunggu-tungguan. puncaknya keparnoan gue adalah waktu mau ambil CD (Celana Dalem, bukan Compact Disk) punya Agy yang di jemur di deket jendela. Karena jendela itu ga bisa di slot dan cuma di ganjel aja pake tisu/kapas. Waktu gue ambil tuh celana, ga sengaja jendela jadi kedorong dan kebuka. Gue kaget dan secara naluriah mundur. Gue ga mau nutup lagi. Gue ga mau buka tirai dan menemukan sesuatu yang besar kemungkinan bisa gue temui, gue gak mau! Maka... gue mundur sambil ngerapetin tirai. Lalu tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh kaki gue. Otak parno gue berfikir keras bahwa yang nyentuh kaki gue adalah tangan dari makhluk yang datangnya gak gue liat. Gara-gara itu, gue langsung jerit dan lompat sejadi-jadinya. Agy yang lagi pipis dan dengar teriakan gue, reflek ikut teriak juga sambil lompat dari wc. Alhasil, celananya basah kena air. Sedangkan Dilla, pasang tampang bego liat kelakuan gue sama Agy.
"Unu, kenapa?!" tanya Agy.
"Itu...ada yang nyentuh kaki gue..." jawab gue dengan suara gemeteran.
"Unu...yang nyentuh kaki lo itu bungan mawarnya Agy." sahut Dilla.
Gue nengok dan emang bunga mawarnya Agy yang baru di kasih pacarnya ada dalam posisi jatuh serta air yang ada didalamnya tumpah. Gue cengengesan.
"Ih...lo mah ngagetin aja. Gue pikir apaan... celana gue jadi basah tuh." Agy nunjukin celananya.
"Lo pipis di celana?" gue merhatiin celana Agy.
"ENAK AJA! Kena air tau. Gara-gara lo teriak, gue pikir lo pada ninggalin gue, makanya gue buru-buru." omelnya.
Gue dan Dilla cuma cengengesan liat temen kita yang satu itu.

Setelah semua barang berimigrasi ke tas, gue, Agy dan Dilla ngumpul di ranjang nunggu ortunya Agy datang untuk menyelamatkan kita. Selama itu pula, suasana kamar cuma di ramaikan oleh suara TV. Kita bertiga masing-masing sibuk bermain-main dengan pikiran. Agy sibuk BBM-an, Dilla sibuk hubungin orang rumahnya sedangkan gue sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan di otak gue. Sebenarnya, agak gak rela juga mengakhiri masa kos dengan ending yang gak endang (I mean, gak enak). Absurb banget rasanya jika semua alasan ini karena SEIKAT POCONG, hahahaha. Tapi, meski begitu cukup enggan jika gue berada di kamar kos ini sendirian. Membayangkannya aja gue males. Bukan cuma karena POCONG sialan itu, tapi juga karena lingkungannya yang sungguh terlalu sepi. Akhirnya, semua kekisruhan malam itu hilang dengan kedatangan orang tua Agy yang membawa kami pergi.

1 comment:

Sang Cerpenis bercerita said...

kirain pocong beneran. hehee