Pages

Sunday, 25 March 2012

Curhatan Penulis Yang Jarang Nulis

Gue kembali lagi terjebak dalam kegiatan akademis kampus yang gue rasa nggak ada habis-habisnya, MAGANG. Beberapa teman gue yang tau gue magang (lagi) kebanyakan berkomentar:"Lo magang lagi? Nggak abis-abis deh tuh magang", adalagi yang bilang "Pusing banget deh magang mulu." Mendengar itu gue hanya bisa senyum dan berkata dalam hati, "Lo aja pusing yang denger gimana gue yang ngejalanin?" well, tapi nggak seburuk itu kok magang kali ini. Gue magang di ruang OK di sebuah rumah sakit swasta daerah tangerang. Suasananya menyenangkan meski awalnya menegangkan. Gue suka setiap pengalaman baru yang gue dapat dan gue lihat dari sana. Bagaimana proses awal sebuah operasi dimulai, melihat kelahiran seorang bayi, merasa dan melihat ketegangan para perawat dan dokter jika banyak pasien operasi di hari itu. Rasanya seperti melihat sebuah 'behind the scene' dari sebuah film yang meraup banyak penonton dimana-mana. Gue senang sekali.

Kesenangan gue memang sengaja gue kedepankan, agar tidak terasa jenuh dan lelah karena selain magang gue juga harus konsulin skripsi dan laporan manajerial. Duit banyak kehambur dan otak pun jadi melompat-lompat memikirkan hari esok dan kedepannya. Dan, yang cukup menyedihkan bagi gue adalah minimalisnya waktu bagi gue untuk menulis. Ya, menulis seperti dulu waktu gue masih rajin ngisi blog gue dengan bermacam-macam tulisan sesuai dengan apa yang ada dalam benak gue. Menuh-menuhin FB gue dengan notes yang mungkin agak jayus dan nggak guna bagi orang lain. Ikut buat FF di lomba-lomba atau sekedar iseng nulis. Oh ya, ada yang ketinggalan. Gue waktu itu pernah buat akun di kompasiana, baru terisi tiga tulisan gue, dan setelah itu gue nggak taruh apalagi di akun itu. Rasanya, semua hal yang gue ketik sebelum kalimat ini, sudah menjadi hal yang mewah bagi gue. Keinginan untuk blogging atau sekedar ngenotes meski gue tekan kuat-kuat untuk lebih mentingin revisian skripsi dan ngetik laporan manajerial meski baru beberapa saja yang selesai. Jujur, ini buat gue sedih karena gue udah cinta sama dunia nulis sejak gue kecil. Entah diumur berapa. Tapi gue selalu ingat sosok anak kecil yang nakal, pecicilan dan menjadi tersangka utama dalam pencoretan tembok rumah hingga merusak estetika yang sudah susah payah di buat kedua orang tua gue. Anak kecil itu adalah GUE. Seseorang pernah bilang, bahwa profesi menjadi penulis cukup sulit untuk seorang ekstrovert seperti gue. Apakah itu benar? Entahlah... Yang gue tahu hanyalah, dari menulis gue seakan bertemu dengan dunia gue yang sesungguhnya, menemui kekuatan gue, menemui eksistensi gue, menemui alasan kenapa gue lahir dan masih bertahan di dunia ini. Dan, melalui menulis jugalah gue membuang semua pikiran-pikiran yang bisa menumpuk dan menyebabkan stress. Menjadi pelarian ketika gue ngerasa hidup gue melaju dengan tidak benar. Writing is everything for me.

Mungkin kesulitan menemukan waktu dengan otak santai untuk menulis akan membuat gue semakin tersadar bahwa gue terlalu mencintai dunia ini, dunia tulis menulis.... :')

1 comment:

Di Jual Rumah said...

kunjungan ya
smoga sukses selalu
di tunggu kunjungan baliknya