Pages

Wednesday, 30 May 2012

Curhatan Pagi

Pagi ini gue bangun karena haus. Iya, cuma karena gue haus dan kepengen banget minum teh anget. Niat awalnya, setelah minum gue bakalan tidur lagi beberapa menit baru kemudian mulai aktivitas. Tapi, apa yang gue dapatkan?

Saat gue keluar kamar, adek gue yang pertama lagi tiduran di ruang TV sambil nonton film kartun. Oke, ini emang hal biasa. Kejadian nggak biasa gue dapatkan saat gue lagi berjalan menuju meja dimana teh gue berada. Disana, gue menemukan Bibi (Pembantu rumah tangga nyokap gue) lagi duduk. Bukan duduk biasa. Wanita yang udah kerja hampir 10 tahun di rumah gue ini, duduk sambil menutupi wajahnya dengan kerudung. Gue pikir dia lagi tidur. Tapi... tiba-tiba bahunya bergetar dan... dia pun MENANGIS!

Sambil nangis, dia mencoba cerita. Namun, karena saking hebohnya dia nangis, gue jadi nggak paham sama kata-katanya. Gue jadi merasa dilematis. Nggak sopan banget kayaknya kalo gue langsung balik lagi ke kamar dan nerusin tidur tapi disamping itu, gue ngantuk. Akhirnya, gue ambil keputusan untuk duduk dulu bareng sama pembantu paling sabar di komplek rumah gue.

Disitu, gue tanya ada masalah apa sampe dia nangis sesengukan gitu. Lalu, dia pun cerita....

'Bibi gue ini punya 3 anak. Mereka lelaki semua. Dua anaknya yang pertama dan kedua udah nggak sekolah. Mereka udah kerja. Bahkan anak keduanya udah nikah dan punya 1 anak. Otomatis si bungsu inilah menjadi harapan satu-satunya. Harapan untuk tidak meneruskan kemiskinan struktural (istilah bokap) dikeluarga mereka.
Bibi gue sangat mendukung anaknya sekolah. Terbukti dengan dia kerja keras dirumah gue. Nggak jarang, Bibi harus nahan rasa malu ke kedua orang tua gue untuk minjam uang demi melunasi bayaran anaknya.
Bibi juga secara tidak tertulis menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya sakit-sakitan dan kerja serabutan. Kadang jadi tukang ojek, kadang jadi kuli pembuat batako. Tapi sayang... anak laki-laki yang tinggal satu-satunya, mengkhianati kepercayaannya. Tetangga kanan kiri bilang, bahwa si anak udah nggak sekolah. PADAHAL, setahu Bibi gue, anaknya masih aktif disekolah. Dan... tiap hari berangkat.
Kebayangkan dibenak kalian gimana sakitnya Bibi gue terhadap tingkah anaknya?
Dia nangis-nangis di depan gue sambil bilang, "Bibi malu kak sama Bapak-Ibu, anak Bibi kayak gitu. Orang tua capek-capek kerja dari pagi sampe malam buat anak, tapi anaknya malah kayak gitu. Hati bibi sakit kak... disepanjang jalan Bibi nangis aja. Dibohongin sama anak. Bukannya sekolah, dia malah main PS."
Gue coba buat nenangin si Bibi. Gue bilang aja, mungkin anaknya takut kesekolah karena punya masalah sama teman-temannya bukan karena nggak mau sekolah."

Si Bibi mulai tercerahkan dan memutuskan untuk kesekolah siang nanti. Saat itu, gue juga cukup sibuk sama pikiran gue. Gue ngebayangin, segitu sakitnya orang tua kalau anaknya bolos, bikin ulah dan lain-lainnya. Dulu, gue suka nganggap sepele hal-hal kayak gitu. Karena gue pikir orang tua nggak sedih, soalnya di hadapan kita mereka cuma marah-marah. Tapi ternyata... sakit hatinya mereka akan sangat mendalam bila kita melakukan hal-hal itu.

"Jangan terusin miskin struktural dikeluarga kita"- Bokap.

Sunday, 20 May 2012

P U N C A K

17 Mei 2012 dinyatakan sebagai hari libur bersama sampai tanggal 19 Mei 2012. Itu artinya, we get freedom from our hectic activity for a while! Yippie....

Karena hari libur itulah, teman2 gue sudah heboh merencakan sebuah liburan untuk sejenak melepaskan penat. Karena hari kamis gue nggak bisa ikut, mereka pun berbaik hati menundanya ke hari jumat. Awalnya kita ngerencanain pergi ke pantai tapi karena kabarnya jalanan super macet + salah satu dari kami ada yang sedang punya luka di kaki dan ga bisa kena air pantai, maka rencana itu dibatalkan. Pilihan yang tersisa adalah puncak dan bogor. Di liputan berita, jalan ke puncak juga macet parah, maka kemungkinan kita berlibur ke bogor (entah kemananya, hahahah).

Akhirnya, kita sepakat untuk kumpul dulu di rumah salah satu teman dan dari situ kita tentukan tujuanya daripada gak jelas. Maka, dengan menggunakan honda city milik Icha, kita berenam pun pergi liburan. Ternyata.... kita terabas jalanan menuju puncak! Yippie.... how nice is it!














Nah... ini dia foto2 liburan kami, dimana gue lebih banyak menjadi fotografernya, hhuhuhu.
Meski di sana cuma minum kopi dan makan, but... we still enjoyed the time. Yeah... we need to enjoy the time, because it is a bit hard to bring all the gengs! hahahahha.

Monday, 14 May 2012

DEWASA (?)

Minggu siang, sahabat gue menjemput kerumah untuk menculik gue keluar. Hahahaha, iya menculik. Bahasa itu adalah istilah yang gue gunakan untuk menggantikan kalimat 'ngajak main'. Kita berdua ngabisin waktu di sebuah rumah makan lesehan yang ada di deket rumah gue. Banyak hal yang kita obrolin. Masalah kuliah, cowok (yeah... topik wajib para cewek, hohoho), kelanjutan setelah kuliah ntar gimana, sampai masalah nikah. Hal terakhir ini kadang bikin gue heran. Umur berapa sih gue, kok udah pada mikir nikah-nikah aja? huhuhu

Seperti yang teman gue ceritakan. Teman kami sudah ada yang ingin sekali menikah. Karena kuatnya keinginan itu, tak jarang ia meminta sang pacar untuk segera menikahinya. Sayangnya, si pacar belum siap karena belum memiliki penghasilan tetap. Pacarnya berpikir bahwa nikah itu tidak mudah dan memiliki banyak hal yang harus dipikirkan secara matang. Tapi, tidak dengan teman gue. Dia tidak terlalu berpikir kearah sana, yang penting menikah dan bisa keluar dari rumah.

Gue memang pernah berpikir seperti teman gue. Bahwa nikah ya tinggal nikah. Tapi, seiring dengan waktu yang membawa gue bergaul dengan kalangan 'ibu-ibu', pikiran itu perlahan-lahan mulai hilang. Yap, married is not that simple. Nikah itu nggak gampang. Apalagi kalo di lakoni oleh dua anak muda yang masih berusia di bawah 25 tahun. Dengan emosi yang belum stabil, agak sulit rasanya jika harus berbagi tanggung jawab sedemikian rupa terhadap kehidupan dua orang yang berbeda. Banyak yang mesti dipikirkan, mulai dari rumah, biaya satu bulan, belum lagi kalau sudah punya anak. Seorang perawat bahkan pernah berkata pada gue:
 "Jangan keburu-buru nikah. Teman gue yang nikahnya gak buru-buru, sekarang jauh lebih mapan. Rumah punya, mobil ada, tinggal anak doang."
Gue dan sahabat gue membahas masalah ini. Untungnya aja, sahabat gue itu punya pemikiran yang nggak jauh beda sama gue. Lalu sahabat gue berkata, "Gue ngerti sih... gue nggak sedewasa dia yang udah berpikir menikah di usia segini..."

Mendengar kalimatnya, buat gue terdiam. Ada sesuatu yang kurang tepat bagi gue. Terlebih ketika dia berpendapat jika ia belum dewasa karena belum berpikir menikah. Hey, we are still 21 guys!

Gue langsung motong kalimatnya dan berkata, "Berarti orang-orang kayak Anya Dwinov, Luna Maya, dan cewek-cewek lain yang belum menikah sampai sekarang adalah orang-orang yang belum dewasa?"
Sahabat gue diam dan senyum, gue tau dia ngerti maksud gue.

Bagi gue, kita nggak bisa menilai orang itu dewasa atau tidak dengan keinginannya menikah. Justru, orang tersebut bisa dibilang dewasa ketika dia tau dan memiliki rencana dalam tiap langkah-langkahnya serta tidak terburu-buru. Dan, menikah atau sudah memikirkan pernikahan, bukan ukuran kedewasaan seseorang. Kalau, semua orang yang telah menikah dan sudah memikirkan pernikahan adalah orang-orang yang sudah dewasa, angka perceraian pasti sedikit.

"We just have only one chance to life, so make it worthy...."

Tuesday, 1 May 2012

Dua Sahabat


Pantai di malam hari dengan angin berhembus tidak terlalu kencang telah menciptakan sebuah suasana syahdu bagi dua sahabat yang sedang duduk di bibir pantai. Riak-riak kecil yang genit menyapa kaki mereka. Membuatnya basah hingga pasir mengotori kedua kaki kurus yang tidak mengenakan alas kaki apapun. Tidak ada pembicaraan. Maksudku, belum ada pembicaraan dari bibir mereka berdua. Masing-masing dari mereka sedang menikmati suasana pantai dengan cara berbeda.
Chilla, gadis manis nan lembut namun tegas merasa takjub dengan suasana tenang yang di berikan pantai ini untuknya. ketenangan yang sulit ia dapatkan di beberapa bulan terakhir kehidupannya. Matanya mengembara kepada barisan laut yang berwarna hitam hingga hampir menyentuh kaki langit diujungnya. Seketika, Chilla merasa kecil. Nyiur-nyiur bergoyang tertiup angin. Bagi Chilla, itu adalah seni drama sesungguhnya yang alam tampilkan ke kornea matanya yang haus akan kesungguhan. Musik pengiring drama-drama itu datang dari deburan ombak yang dengan lantang dan tiada keraguan menghantam karam. Menciptakan harmonisasi musik nan indah, lembut namun penuh semangat tanpa kegalauan serta kesedihan.
Echy, sosok gadis tomboy yang memiliki intuisi untuk melindungi yang tinggi. Aura semangat berkombinasi dengan keceriaan tercampur begitu sempurna dalam dirinya. Membuat ia hampir tidak pernah lelah dalam menghadapi setiap liku kehidupan yang ia miliki. Walau terkadang, ia merasa tidak sekuat itu tetapi Echy bukan sosok yang mudah mengibarkan benda putih pada lawan. Dari matanya, suasana pantai malam hari terasa begitu kelam. Sekelam hati dan pikirannya. Air laut seakan ingin menelannya dan membawanya hingga kedasar. Echy butuh seseorang yang selalu berhasil membuatnya kembali percaya bahwa ia tidak selemah itu. Dan, itu ia temukan di dalam diri sahabat terbaiknya, Chilla.
“Chil, andaikan gue adalah seorang penjahat, apa lo masih mau bersahabat dengan gue?” tanyanya memecah kesunyian yang telah tercipta begitu lama.
“Emang lo pikir gue orang baik-baik? Gue juga sama ‘jahat’nya kok sama lo. Jadi, gue gak bisa memakai alasan itu untuk tidak lagi bersahabat dengan lo.” jawabnya dengan mata yang tertuju lurus pada lautan.
“Kadang gue takut…” kata Echy perlahan.
Chilla menoleh. Ia mendapati wajah sahabatnya begitu sendu, “Takut apa?”
Echy membuang nafasnya keras-keras. “Takut semua orang gak bisa nerima gue lagi kalau mereka tau siapa diri gue.”
Chilla tersenyum, “Kita tidak perlu menjadi sesosok malaikat untuk diterima oleh orang lain dan dalam pergaulan. Lo cukup jadi diri lo dan secara tulus menerima mereka sepenuh hati lo.”
“Udah. Tapi mereka belum.”
“Hidup tidak selalu di isi oleh orang-orang yang ada untuk mendukung lo. Tetapi, ada juga orang-orang yang ingin lo jatuh atau terkucilkan.”
“Lalu gue harus gimana?”
“Cukup jadikan mereka penyeimbang hidup dan diri lo. Tempatkan mereka sebagai alarm dan tolak ukur sudah sejauh apakah jalan yang lo tempuh. Seberapa benar dan salahkah keputusan-keputusan lo. 10 orang yang membenci lo jangan membuat lo jadi ragu untuk terus mencintai 100 orang yang dengan tulus selalu mendoakan elo.”
“Lo ada di pihak mana?”
“Gue ada di salah satu 100 orang yang gue sebut tadi. Dan, adakalanya lo akan membenci gue dan menempatkan diri gue sebagai 10 orang yang membenci lo ketika gue mengkritik habis-habisan diri lo.”
“Semoga gue gak seperti itu…”
“Gue sih gak masalah. Dengan catatan, lo harus selalu ingat bahwa kata-kata menyakitkan yang bersumber dari mulut gue dikeluarkan karena gue sayang sama lo. As my truly best friend.”
“I will…”
Mereka lalu kembali diam. Kali ini mereka tidak sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun, mereka sibuk berharap dan berdoa agar mereka terus di izinkan bersama sebagai sahabat yang akan terus saling mendukung meski berjauhan.