Pages

Monday, 14 May 2012

DEWASA (?)

Minggu siang, sahabat gue menjemput kerumah untuk menculik gue keluar. Hahahaha, iya menculik. Bahasa itu adalah istilah yang gue gunakan untuk menggantikan kalimat 'ngajak main'. Kita berdua ngabisin waktu di sebuah rumah makan lesehan yang ada di deket rumah gue. Banyak hal yang kita obrolin. Masalah kuliah, cowok (yeah... topik wajib para cewek, hohoho), kelanjutan setelah kuliah ntar gimana, sampai masalah nikah. Hal terakhir ini kadang bikin gue heran. Umur berapa sih gue, kok udah pada mikir nikah-nikah aja? huhuhu

Seperti yang teman gue ceritakan. Teman kami sudah ada yang ingin sekali menikah. Karena kuatnya keinginan itu, tak jarang ia meminta sang pacar untuk segera menikahinya. Sayangnya, si pacar belum siap karena belum memiliki penghasilan tetap. Pacarnya berpikir bahwa nikah itu tidak mudah dan memiliki banyak hal yang harus dipikirkan secara matang. Tapi, tidak dengan teman gue. Dia tidak terlalu berpikir kearah sana, yang penting menikah dan bisa keluar dari rumah.

Gue memang pernah berpikir seperti teman gue. Bahwa nikah ya tinggal nikah. Tapi, seiring dengan waktu yang membawa gue bergaul dengan kalangan 'ibu-ibu', pikiran itu perlahan-lahan mulai hilang. Yap, married is not that simple. Nikah itu nggak gampang. Apalagi kalo di lakoni oleh dua anak muda yang masih berusia di bawah 25 tahun. Dengan emosi yang belum stabil, agak sulit rasanya jika harus berbagi tanggung jawab sedemikian rupa terhadap kehidupan dua orang yang berbeda. Banyak yang mesti dipikirkan, mulai dari rumah, biaya satu bulan, belum lagi kalau sudah punya anak. Seorang perawat bahkan pernah berkata pada gue:
 "Jangan keburu-buru nikah. Teman gue yang nikahnya gak buru-buru, sekarang jauh lebih mapan. Rumah punya, mobil ada, tinggal anak doang."
Gue dan sahabat gue membahas masalah ini. Untungnya aja, sahabat gue itu punya pemikiran yang nggak jauh beda sama gue. Lalu sahabat gue berkata, "Gue ngerti sih... gue nggak sedewasa dia yang udah berpikir menikah di usia segini..."

Mendengar kalimatnya, buat gue terdiam. Ada sesuatu yang kurang tepat bagi gue. Terlebih ketika dia berpendapat jika ia belum dewasa karena belum berpikir menikah. Hey, we are still 21 guys!

Gue langsung motong kalimatnya dan berkata, "Berarti orang-orang kayak Anya Dwinov, Luna Maya, dan cewek-cewek lain yang belum menikah sampai sekarang adalah orang-orang yang belum dewasa?"
Sahabat gue diam dan senyum, gue tau dia ngerti maksud gue.

Bagi gue, kita nggak bisa menilai orang itu dewasa atau tidak dengan keinginannya menikah. Justru, orang tersebut bisa dibilang dewasa ketika dia tau dan memiliki rencana dalam tiap langkah-langkahnya serta tidak terburu-buru. Dan, menikah atau sudah memikirkan pernikahan, bukan ukuran kedewasaan seseorang. Kalau, semua orang yang telah menikah dan sudah memikirkan pernikahan adalah orang-orang yang sudah dewasa, angka perceraian pasti sedikit.

"We just have only one chance to life, so make it worthy...."

4 comments:

al kahfi said...

hmm,, jadi perenungan juga nih buat saya...terkadang seseorang y gsdh mapan dan dari umur jg sdh memadai,,dari pemikiran bahkan sdh seperti org tua,bukan dewasa lagi,, tapi masih kawatir utk menikah,,,kawatir kehidupannya yg nyaman single ini di ganggu oleh hal2 yg ribet...<--mencaplok pemikiran2 org2 yg tinggal di metropolitan +luar negri.

Sri Efriyanti Harahap said...

Nice post :)

Sri Efriyanti Harahap said...

Tersenyum membacanya :)

Nice post ^_^

Sang Cerpenis bercerita said...

menikah itu bukan ukuran dewasanya seseorang. bagaimana dg orang2 di pedesaan yg sudah menikah saat masih usia 12 tahun, apakah itu disebut dewasa? hehehe..tapi setiap org memang beda2 sih pendapatnya.