Pages

Tuesday, 1 May 2012

Dua Sahabat


Pantai di malam hari dengan angin berhembus tidak terlalu kencang telah menciptakan sebuah suasana syahdu bagi dua sahabat yang sedang duduk di bibir pantai. Riak-riak kecil yang genit menyapa kaki mereka. Membuatnya basah hingga pasir mengotori kedua kaki kurus yang tidak mengenakan alas kaki apapun. Tidak ada pembicaraan. Maksudku, belum ada pembicaraan dari bibir mereka berdua. Masing-masing dari mereka sedang menikmati suasana pantai dengan cara berbeda.
Chilla, gadis manis nan lembut namun tegas merasa takjub dengan suasana tenang yang di berikan pantai ini untuknya. ketenangan yang sulit ia dapatkan di beberapa bulan terakhir kehidupannya. Matanya mengembara kepada barisan laut yang berwarna hitam hingga hampir menyentuh kaki langit diujungnya. Seketika, Chilla merasa kecil. Nyiur-nyiur bergoyang tertiup angin. Bagi Chilla, itu adalah seni drama sesungguhnya yang alam tampilkan ke kornea matanya yang haus akan kesungguhan. Musik pengiring drama-drama itu datang dari deburan ombak yang dengan lantang dan tiada keraguan menghantam karam. Menciptakan harmonisasi musik nan indah, lembut namun penuh semangat tanpa kegalauan serta kesedihan.
Echy, sosok gadis tomboy yang memiliki intuisi untuk melindungi yang tinggi. Aura semangat berkombinasi dengan keceriaan tercampur begitu sempurna dalam dirinya. Membuat ia hampir tidak pernah lelah dalam menghadapi setiap liku kehidupan yang ia miliki. Walau terkadang, ia merasa tidak sekuat itu tetapi Echy bukan sosok yang mudah mengibarkan benda putih pada lawan. Dari matanya, suasana pantai malam hari terasa begitu kelam. Sekelam hati dan pikirannya. Air laut seakan ingin menelannya dan membawanya hingga kedasar. Echy butuh seseorang yang selalu berhasil membuatnya kembali percaya bahwa ia tidak selemah itu. Dan, itu ia temukan di dalam diri sahabat terbaiknya, Chilla.
“Chil, andaikan gue adalah seorang penjahat, apa lo masih mau bersahabat dengan gue?” tanyanya memecah kesunyian yang telah tercipta begitu lama.
“Emang lo pikir gue orang baik-baik? Gue juga sama ‘jahat’nya kok sama lo. Jadi, gue gak bisa memakai alasan itu untuk tidak lagi bersahabat dengan lo.” jawabnya dengan mata yang tertuju lurus pada lautan.
“Kadang gue takut…” kata Echy perlahan.
Chilla menoleh. Ia mendapati wajah sahabatnya begitu sendu, “Takut apa?”
Echy membuang nafasnya keras-keras. “Takut semua orang gak bisa nerima gue lagi kalau mereka tau siapa diri gue.”
Chilla tersenyum, “Kita tidak perlu menjadi sesosok malaikat untuk diterima oleh orang lain dan dalam pergaulan. Lo cukup jadi diri lo dan secara tulus menerima mereka sepenuh hati lo.”
“Udah. Tapi mereka belum.”
“Hidup tidak selalu di isi oleh orang-orang yang ada untuk mendukung lo. Tetapi, ada juga orang-orang yang ingin lo jatuh atau terkucilkan.”
“Lalu gue harus gimana?”
“Cukup jadikan mereka penyeimbang hidup dan diri lo. Tempatkan mereka sebagai alarm dan tolak ukur sudah sejauh apakah jalan yang lo tempuh. Seberapa benar dan salahkah keputusan-keputusan lo. 10 orang yang membenci lo jangan membuat lo jadi ragu untuk terus mencintai 100 orang yang dengan tulus selalu mendoakan elo.”
“Lo ada di pihak mana?”
“Gue ada di salah satu 100 orang yang gue sebut tadi. Dan, adakalanya lo akan membenci gue dan menempatkan diri gue sebagai 10 orang yang membenci lo ketika gue mengkritik habis-habisan diri lo.”
“Semoga gue gak seperti itu…”
“Gue sih gak masalah. Dengan catatan, lo harus selalu ingat bahwa kata-kata menyakitkan yang bersumber dari mulut gue dikeluarkan karena gue sayang sama lo. As my truly best friend.”
“I will…”
Mereka lalu kembali diam. Kali ini mereka tidak sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun, mereka sibuk berharap dan berdoa agar mereka terus di izinkan bersama sebagai sahabat yang akan terus saling mendukung meski berjauhan.

No comments: