Pages

Sunday, 17 June 2012

Dear Dion

Indonesian Idol berjalan semakin seru, apalagi semalam. Yakin deh, yang jadi pendukung Dion pasti sedih karena ternyata si ganteng ini terELIMINASi. iya, TERELIMINASI. Gue sendiri pun begitu. Sedih... Sesedih...sedihnya waktu Daniel mengumumkan bahwa Dion mendapat voting sms paling sedikit sehingga dia harus pulang.

Ada perasaan dilematis kalau sebuah kompetisi dinilai berdasarkan voting sms. Ya, salah satu akibatnya adalah seperti ini. Kontestan yang gak punya modal banyak untuk menciptakan banyak vote sms padahal kualitas suaranya oke abis meski tersingkir. Salah nentuin juara? Jelas.

Sampai hari ini gue bingung, kenapa kompetisi seperti itu harus ditentukan oleh VOTE SMS? Kenapa gak menggunakan POIN dari JURI ditambah VOTE SMS, jadi penghitungan nilainya bisa imbang dan gak timpang di kontestan bermodal banyak.

Well, gue bilang begitu bukannya menuding jika salah satu kontestan II ada yang kaya atau apalah. Gue hanya ingin menyuarakan, bahwa memilih seorang juara itu harus dilihat dari kemampuannya jangan asal pilih atau karena ada money politic dibelakangnya. Jadinya, kontestan yang terpilih jadi gak representatif lagi karena qualifikasinya kurang.

Sebenarnya, percuma juga sih gue nulis-nulis beginian. Toh, Dionnya juga udah pulang, hehehe. Nah, daripada BT sendiri karena Dion udah gak ada di II, gue mau mengenang sepak terjang Dion diajang kompetisi ini. Seperti video yang gue temukan di youtube tentang lagu 'Tanjung Perak' yang jadi andalan Dion waktu audisi. Cekidot!


Penampilan Dion harus terhenti di Idol tadi malam, 
merinding denger suara dion yang ngblend dengan suara milik Rossa. biarpun ini jadi penampilan terakhir Dion sebagai kontestan Idol, tapi gue berharap banget supaya terus memiliki kesempatan untuk melihat Dion bernyanyi dengan gayanya yang begitu khas. :) Selamat Melangkah Lebih Maju Lagi, Dion :) #DearDion

Friday, 15 June 2012

Try And Error

Did you try to do something and it's failed?

Yes, I did. Those happened to me several days ago when I decided a new beginning for my blog. I want to make my blog have more advantages for my visitors and also for my self. An idea came to me and suddenly my life became had a light. Yeah, kinda a little light. I was really excited to gave a new things in my blog. A thousand cheerleaders on my mind gave me many supports. They never stopped suggested me to trust if the way which I chose was right. Then, I did it all out. Gave the best of it.
But, time gave me a different answered. I failed. I was shocked at the time I knew it. Some voices in my brain whispered to me if I am nothing, if I'm a looser, if I won't do the right things in whole my life caused I don't have any special skills. The point is, I felt give up.
I thought if I can't told anyone bout this. I was too ashamed if I told someone about my failed. I just silence and drown myself to a sorrow. 
In my silence, I seems like heard a voice from my head who said if no need for me to felt sad and give up. Because, to be success need to know how the feeling of failed for making us could appreciated all the process who we passed. By those failed, we could created our power from the ashes of our process before and made us stronger. We need  willpower and always try, try, try eventhough you will got some error.


PS:
If you find a lots eror phrase, I am so sorry b'coz I ain't using english for a couple month. don't hasitate to give the correction. Regard :D

Monday, 11 June 2012

Posis Favorite Bangku Sekolah

1. Sewaktu SD dulu, saat pertama kali mau masuk sekolah, balap-balapan dateng paling pagi. Pintu kelas pun masih digembok. Ibu-ibu repot, cari tempat duduk PALING DEPAN buat anaknya.

2. SMP. Hari pertama masuk sekolah masih semangat. Bangga udah lepas dari seragam putih merah dan ganti putih biru. Cari bangku posisi TENGAH biar gak jadi sorotan guru karena duduk di depan sekaligus gak mau ketinggalan pelajaran kalo duduknya di barisan paling belakang. 

3. SMA. Hari pertama masuk sekolah dateng petantang-petenteng, nguap-nguap, udah jadi agak songong karena ngerasa udah lebih dewasa dari anak SD dan SMP. Bangku yang paling di cari adalah bangku paling BELAKANG alasannya, biar bisa konsen belajar *eh.

4. Kuliah. Hari pertama masuk sekolah udah nanya-nanya kapan hari liburnya. Gak ada posisi bangku favorit karena sebagian besar waktunya habis di bangku KANTIN.

*Siklus posisi bangku para pelajar. Hasil analisis oleh Prof. Ugahari Nurul Utami, SKM, MARS, VENUS, SAGITARIUS.*

Friday, 8 June 2012

Bukan Blog Biasa (BBB)

Kalo diinget-inget biarpun gue males nginget, udah hampir 3 tahunan gue ngeblog. Awalnya banget gue buat akun bukan di blogpsot tapi di akun lain yang juga untuk ngeblog tapi gue lupa namanya. Dulu, gue berpikir BLOG adalah sarana gue buat mempublish cerpen dan puisi buatan gue. Maklum aja, karya-karya gue belum ada yang nampang di majalah satu pun padahal udah sering ngirim, hehhe. Nah, daripada numpuk aja di file komputer mending gue terbitin sendiri, hohoho. Tapi, lama kelamaan gue ngerasa kurang asyik kalo cuma ngejadiin blog ini sebagai tempat mejengin cerita-cerita gue. Ada keinginan lain dari sekedar mejengin cerita. Nah, kebetulan waktu itu gue baca sebuah artikel yang ngulas tentang suatu Band, dimana fans Band itu dengan fans Band lain saling menyela dan mengejek. Saat itu diotak gue tiba-tiba aja udah tersusun rapi kata-kata untuk mengomentarin fenomena yang menurut gue konyol itu. Waktu itu gue pikir, Blog ini akan lebih bagus kalo gue isi juga dengan pendapat gue atau sedikit curhatan gue. Yang terakhir ini mungkin sebuah pernyataan kenarsisan gue juga kali ya. Secara, gue bukan artis tapi sok mengartiskan diri, hahahah.

Semakin hari gue semakin dikitttttt-dikitttt ngerti gimana caranya biar punya followers yaitu dengan rajin BW (Blogwalking) ke blog punya orang. Tiap ada waktu blogging lama, gue pasti BW ke tempat orang, ninggalin jejak sambil baca mantra: "Nambahlah temanku" terus ngecupin layar komputer gue <--- yang ini HOAX ya :D.  Ketika gue berkunjung ke Blog-blog tersebut, pulangnya selalu ada rasa 'minder' di hati. Minder karena blog mereka bagus-bagus, gak berantakan seperti rumah gue. Seperti Blognya Mbak Fanny yang isinya pasti bervariasi tiap hari. Kadang bikin jokes, ulasan novel yang habis dia baca, bahkan cerita sehari-harinya dia. Mbak Fanny juga rajin up date setiap hari, gak kayak gue yang udah seperti Neng Toyib yang jarang-jarang ngebelai blognya sendiri. Alibinya sih sibuk, tapi... sibuk apa ya gue? hahhahahah.

Ada juga blognya Mas Afip yang sekarang menjadikan blognya sebagai tempat penghasil recehan. Jujur, itu sangat menyenangkan sekali. Ya, hanya dengan mempublish sebuah artikel, kemudian mendapat kencringan yang lumayan buat beli cilok sebiji. Daripada ngeNet gak ada juntrungannya. 

Dari dua orang ini gue jadi makin cinta ngeblog karena ternyata kegiatan blogging BENAR-BENAR ADA MANFAATNYA! 

Mbak Fanny bikin kegiatan Blognya lebih punya arti karena ngejadiin media ini sebagai tempat mempromosikan buku-bukunya yang baru sekaligus tentunya nambah recehan di dompetnya. Mas Afip juga sama, membuat kegiatan blog lebih menyenangkan sekarang dan gak buang-buang waktu dengan percuma. 

Nah, buat blogger yang lain (TERMASUK GUE), yuk berdayakan blognya jadi lebih memiliki manfaat bagi kehidupan pribadi kita. Lumayankan, dari hobi ngeblog, gak sadar pundi-pundinya jadi nambah, hehehe.

 

Wednesday, 6 June 2012

HIDUP GAK CUMA NGALIR AJA


Suatu hari gue chattingan sama temen gue. Ketika itu, gue iseng (iya iseng loh ;p) tanya-tanya tentang hubungannya sama pacarnya. Menurut pengendusan (baca: penciuman) gue, kayaknya sih lagi agak gak beres. Kesimpulan gue dapet dari hasil investigasi gue terhadap status-status galaunya, hehehe. Saat gue tanya gimana kelanjutan dia sama pacarnya, dia jawab sedikit lama. Lalu, waktu gue mau off, jawaban dia pun datang. Katanya, “Let it flow aja.” Gue lumayan terdiam baca jawabannya. Gue pun menjawab singkat, “oke”, karena saat itu gue terburu-buru harus siap-siap pergi ke kampus.
Jawaban “let it flow” terhadap suatu pertanyaan memang udah gak aneh lagi. Banyak orang samaan jawab begitu kalo di tanya tentang keadaan hidupnya. Sayang, gue gak ngerti maksud mereka menjawab itu.
Well, gue memang mengerti bahwa arti secara bahasa Indonesia dari kata “let it flow” adalah (kira-kira) “Ikuti arus”. Maksud dari ketidak mengertian gue adalah bukan tidak mengerti yang seperti itu. Tapi, gue gak mengerti karena justru gue tau artinya. Lo bingung ya?
Gini deh gue jelasin. Flow adalah arus. Di dunia ini kata ‘arus’ lazim digunakan untuk sesuatu yang bergerak dan dalam hal ini kata ‘arus’ merujuk pada ‘air’. Kalimat “arus air cukup deras” pasti sering kita dengar. Apakah kaliah pernah mendengar “arus kereta”? kalau pun ada, yang dimaksud adalah arus perjalanan kereta api itu sendiri.
Nah, karena arus itu identik dengan air, dia pasti akan mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Benarkan? Pernah dengar kalo ada air yang mengalir ke hulu bukan ke hilir? Enggak kan? Lalu, apa hubungannya sama kalimat ‘let it flow?’
Seperti yang tadi gue jelasin diatas, bahwa arti dari ‘let it flow’ adalah ikuti arus dan kebanyakan kata arus ditujukan pada air. Arus yang dimiliki oleh air selalu mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Belum pernah gue dengar ada arus air mengalir ke hulu bukan ke hilir. Karena arah aliran arus itu ke bawah atau ketempat yang lebih rendah, gue rasa gak cocok kalo di jadiin prinsip hidup seorang manusia. Apakah kalian rela jika hidup kalian terombang-ambing mengikuti arus yang belum bahkan tidak jelas arahnya?
Sayang banget hidup kalian yang berharga ini. Kenapa? Tuhan ngasih kita hidup didunia ini Cuma sekali. Inget, Cuma sekali. Lalu, kenapa harus kita habiskan untuk sesuatu hal yang gak ada juntrungannya? Lo akan merasa sebagai manusia secara utuh jika lo bisa mengarahkan hidup lo pada arah yang lo inginkan. Ciptakan tujuan lo ada di dunia. Tanya sama Tuhan, kenapa Dia menciptakan elo di bumi ini dan masih mengijinkan lo hidup hingga sekarang. Jangan salah, Tuhan pasti punya alasan untuk masih membiarkan lo hidup. Tugas kita sebagai manusia adalah mencari apa alasannya. Lo mesti percaya, bahwa alasan Tuhan merupakan suatu keinginan yang positif terhadap diri lo. Makanya, sayang banget kalo lo Cuma ikutin arus tanpa punya pakem rem secara jelas. Sebebas-bebasnya hidup ini, selalu di ingat bahwa kita bukan binatang. Kita tetap manusia yang punya batasan berupa norma-norma dan sangat baik untuk tidak merobohkannya.
Untuk kehidupan area pinky alias dunia percintaan, pernyataan ini juga gak bisa dibenarkan. Lo mau kehidupan lo sama pacar menukik ke bawah dan gak ada hasil? Ya, minimal hasilnya lo pacaran sama pacar lo adalah lo semakin menjadi pribadi yang baik. Lo sama pacar lo bisa saling memberikan energy positif untuk masa depan masing-masing. Kalian saling dukung dan saling memberi saran. Jadi, pacarannya kalian gak membuang waktu, tetap bisa sambil meraih cita-cita, saling menghargai satu sama lain dan gak menjatuhkan. Ketika lo di suatu pagi bangun dan menyadari bahwa ada sesuatu hal yang salah atas hubungan kalian, jangan diam aja. Coba telusuri apa yang salah. Jangan buru-buru, gunakan intuisi lo. Ketika masalah udah ketemu, jangan langsung bingung. Gue yakin kalo lo sangat pintar untuk mengelompokkan masalah tersebut dalam rate masih bisa di perbaiki atau udah parah, sehingga lo bisa menentukan penyelesaian terhadap masalah itu. Kalo memang masih bisa di perbaiki, pertahankan hubungan kalian. Ceritakan hal yang menurut kalian salah pada pacar, lalu sama-sama cari jalan keluar. Inget lho, sama-sama cari jalan keluar bukan malah saling menyalahkan. Nah, kalau memang udah parah banget daripada lama-lama menjadi penyakit kronis yang mampu ‘mematikan’ diri lo, it’s better for you to end the relationship. Kalo hubungan lo masih tetap nekat dipertahankan, percaya sama gue, hubungan itu gak akan sehat. Setiap hari yang ada lo berantem, BT sama dia, apapun yang dia lakuin akan lo anggap salah.
Banyak orang merasa sulit untuk mengambil langkah ini. Entah karena terlalu nyaman atau terlalu cinta. Coba pikirkan lagi, akan berapa lama waktu yang kalian habiskan dengan masa-masa tidak menyenangkan seperti itu? sementara jika kalian berani melepaskan, kalian akan mendapat door prize yang tidak pernah terpikirkan. Ya, mungkin dalam bentuk sosok baru yang lebih baik.
Teman, gue berbicara seperti ini bukan untuk menggurui. Gue hanya merasa prihatin terhadap kalian yang masih mempertahankan prinsip ini. Karena, gue gak tahan melihat kalian mengarahkan hidup ini untuk mengikuti arus dengan aliran yang belum jelas. 

You are too worth if just let the flow. Because, you able to make decision and get some precious things in your life….

Monday, 4 June 2012

Rumah Impian


Gue adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang tengah menyelesaikan skripsi. Gue sangat tidak sabar untuk segera menorehkan gelar S1 dibelakang nama panjang gue. Ya, dengan gelar itu nama gue yang panjang akan semakin panjang, hehehe.
Sungguh, masalah gelar sebenarnya tidak terlalu penting untuk gue. Keinginan untuk segera menyelesaikan studi S1 ini dikarenakan gue sudah tidak sabar memulai kehidupan sesungguhnya. Gue sangat mendambakan bisa menjalani kehidupan diluar title mahasiswa. Gue ingin memiliki dunia gue sendiri dengan berbagai rencana yang telah tersusun rapi dibenak gue. Rencana-rencana masa depan tersebut sudah tidak sabar untuk segera diwujudkan. Salah satunya adalah memiliki rumah sendiri. Kenapa?
Sampai hari ini, gue masih tinggal bareng orang tua gue di sebuah daerah yang cukup jauh dari pusat kota. Susah mendeskripsikannya, karena sulit dibilang desa dan tidak bisa dibilang kota. Mungkin setengah desa dan setengah kota. Untuk bisa beraktivitas, gue membutuhkan waktu lebih lama ke tempat beraktivitas. Sebut saja untuk kekampus, gue harus menempuh jarak sekitar satu jam setengah menggunakan angkot dan sekitar empat puluh menit bila menggunakan kereta api. Jarak segitu sih sebenarnya masih biasa saja, menurut gue. Yang luar biasa adalah jika tujuan gue tidak hanya kekampus saja.
Seperti sekarang ini, aktivitas gue mulai bertambah tidak hanya rumah-kampus, atau kampus-rumah tetapi juga tempat magang dan rumah sakit dimana pembimbing skripsi gue bekerja. Ya, untuk melakukan bimbingan skripsi gue harus menjumpai beliau ditempat kerjanya. Dalam setiap perjalanan gue menghitung dalam hati berapa rupiah yang gue keluarkan. Well, kalau untuk ditabung, jumlahnya pasti sudah fantastis sekarang.
Maka, gue pun berpikir akan jauh lebih mudah bila gue stay ditempat yang cukup dekat ketempat gue beraktivitas. Tidak hanya menghemat uang, namun juga menghemat waktu perjalanan. Jadi, waktu gue yang banyak habis diperjalanan dapat digunakan untuk kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat.
Selain itu, keinginan memiliki rumah pribadi adalah karena gue mendengar banyak curhatan dari orang-orang disekitar gue tentang tidak enaknya jika tak punya rumah pribadi. Apalagi, jika telah menikah.
Saat sedang magang dulu,  gue sering mendengar secara tidak sengaja bagaimana curhatan para karyawan yang ingin sekali memiliki rumah sendiri. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki cukup uang untuk membayar uang muka dan cicilannya.
Bagi gue, tinggal bersama orang tua masih sedikit wajar bila kita masih lajang. Tapi, tinggal bersama orang tua akan terasa menyeramkan jika kita telah menikah. Bayangkan, hal-hal pribadi yang seharusnya hanya diketahui oleh kita dan suami, akan diketahui juga oleh orang tua dan keluarga lainnya. Bohong kalau mereka tidak campur tangan. Mungkin tidak banyak, tapi sedikit pasti ada.
Pikiran-pikiran itu mendorong gue untuk memikirkan cara mendapatkan rumah sejak dini. Well, menabung untuk membeli rumah lebih tepatnya. Dengan kemampuan financial gue yang belum mapan sepenuhnya, rencana ini gue masukkan dalam daftar rencana masa depan yang akan segera gue jalankan bila memiliki pendapatan tetap nantinya.
Mata gue sudah mulai melirik dan memelototi iklan-iklan tiap produk perbankan yang seliweran di televisi maupun dari selembaran-selembaran yang ditempelkan dijalan-jalan, misalnya bank terkenal ini. Tujuannya adalah untuk membuka dan menambah informasi bagi gue untuk memilih produk perbankan yang cocok dengan rencana gue nanti serta dapat membantu gue mewujudkannya.
Dari kebanyakan iklan-iklan itu, gue menemukan bahwa penawaran tabungan berencana yang diberikan kurang fleksibel (menurut gue). Kenapa? Karena range angsurannya telah ditentukan lebih dulu oleh bank. Padahal, jika seperti itu, kesempatan memiliki tabungan berencana tidak dapat dinikmati oleh semua orang padahal semua orang berhak mendapatkannya.
Akan sangat menyenangkan rasanya apabila kita sebagai calon nasabah memiliki hak penuh untuk menentukan angsuran tabungan perbulan yang disesuaikan dengan kemampuan financial yang dimiliki. Kebebasan financial ini gue rasa akan sangat membantu bagi mereka yang tidak memiliki penghasilan besar, namun ingin menabung demi mewujudkan impian mereka untuk memiliki hunian pribadi.
Sayangnya, pencarian gue belum menemukan titik temu. Karena sulit menemukan bank yang bersahabat dan sesuai dengan rencana gue. Harapan gue kedepannya nanti adalah, gue bisa bertemu dengan bank yang produk perbankannya cocok dengan kriteria gue. Sehingga impian gue mengenai sebuah rumah dapat terwujud. Amin.