Pages

Monday, 4 June 2012

Rumah Impian


Gue adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang tengah menyelesaikan skripsi. Gue sangat tidak sabar untuk segera menorehkan gelar S1 dibelakang nama panjang gue. Ya, dengan gelar itu nama gue yang panjang akan semakin panjang, hehehe.
Sungguh, masalah gelar sebenarnya tidak terlalu penting untuk gue. Keinginan untuk segera menyelesaikan studi S1 ini dikarenakan gue sudah tidak sabar memulai kehidupan sesungguhnya. Gue sangat mendambakan bisa menjalani kehidupan diluar title mahasiswa. Gue ingin memiliki dunia gue sendiri dengan berbagai rencana yang telah tersusun rapi dibenak gue. Rencana-rencana masa depan tersebut sudah tidak sabar untuk segera diwujudkan. Salah satunya adalah memiliki rumah sendiri. Kenapa?
Sampai hari ini, gue masih tinggal bareng orang tua gue di sebuah daerah yang cukup jauh dari pusat kota. Susah mendeskripsikannya, karena sulit dibilang desa dan tidak bisa dibilang kota. Mungkin setengah desa dan setengah kota. Untuk bisa beraktivitas, gue membutuhkan waktu lebih lama ke tempat beraktivitas. Sebut saja untuk kekampus, gue harus menempuh jarak sekitar satu jam setengah menggunakan angkot dan sekitar empat puluh menit bila menggunakan kereta api. Jarak segitu sih sebenarnya masih biasa saja, menurut gue. Yang luar biasa adalah jika tujuan gue tidak hanya kekampus saja.
Seperti sekarang ini, aktivitas gue mulai bertambah tidak hanya rumah-kampus, atau kampus-rumah tetapi juga tempat magang dan rumah sakit dimana pembimbing skripsi gue bekerja. Ya, untuk melakukan bimbingan skripsi gue harus menjumpai beliau ditempat kerjanya. Dalam setiap perjalanan gue menghitung dalam hati berapa rupiah yang gue keluarkan. Well, kalau untuk ditabung, jumlahnya pasti sudah fantastis sekarang.
Maka, gue pun berpikir akan jauh lebih mudah bila gue stay ditempat yang cukup dekat ketempat gue beraktivitas. Tidak hanya menghemat uang, namun juga menghemat waktu perjalanan. Jadi, waktu gue yang banyak habis diperjalanan dapat digunakan untuk kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat.
Selain itu, keinginan memiliki rumah pribadi adalah karena gue mendengar banyak curhatan dari orang-orang disekitar gue tentang tidak enaknya jika tak punya rumah pribadi. Apalagi, jika telah menikah.
Saat sedang magang dulu,  gue sering mendengar secara tidak sengaja bagaimana curhatan para karyawan yang ingin sekali memiliki rumah sendiri. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki cukup uang untuk membayar uang muka dan cicilannya.
Bagi gue, tinggal bersama orang tua masih sedikit wajar bila kita masih lajang. Tapi, tinggal bersama orang tua akan terasa menyeramkan jika kita telah menikah. Bayangkan, hal-hal pribadi yang seharusnya hanya diketahui oleh kita dan suami, akan diketahui juga oleh orang tua dan keluarga lainnya. Bohong kalau mereka tidak campur tangan. Mungkin tidak banyak, tapi sedikit pasti ada.
Pikiran-pikiran itu mendorong gue untuk memikirkan cara mendapatkan rumah sejak dini. Well, menabung untuk membeli rumah lebih tepatnya. Dengan kemampuan financial gue yang belum mapan sepenuhnya, rencana ini gue masukkan dalam daftar rencana masa depan yang akan segera gue jalankan bila memiliki pendapatan tetap nantinya.
Mata gue sudah mulai melirik dan memelototi iklan-iklan tiap produk perbankan yang seliweran di televisi maupun dari selembaran-selembaran yang ditempelkan dijalan-jalan, misalnya bank terkenal ini. Tujuannya adalah untuk membuka dan menambah informasi bagi gue untuk memilih produk perbankan yang cocok dengan rencana gue nanti serta dapat membantu gue mewujudkannya.
Dari kebanyakan iklan-iklan itu, gue menemukan bahwa penawaran tabungan berencana yang diberikan kurang fleksibel (menurut gue). Kenapa? Karena range angsurannya telah ditentukan lebih dulu oleh bank. Padahal, jika seperti itu, kesempatan memiliki tabungan berencana tidak dapat dinikmati oleh semua orang padahal semua orang berhak mendapatkannya.
Akan sangat menyenangkan rasanya apabila kita sebagai calon nasabah memiliki hak penuh untuk menentukan angsuran tabungan perbulan yang disesuaikan dengan kemampuan financial yang dimiliki. Kebebasan financial ini gue rasa akan sangat membantu bagi mereka yang tidak memiliki penghasilan besar, namun ingin menabung demi mewujudkan impian mereka untuk memiliki hunian pribadi.
Sayangnya, pencarian gue belum menemukan titik temu. Karena sulit menemukan bank yang bersahabat dan sesuai dengan rencana gue. Harapan gue kedepannya nanti adalah, gue bisa bertemu dengan bank yang produk perbankannya cocok dengan kriteria gue. Sehingga impian gue mengenai sebuah rumah dapat terwujud. Amin. 

No comments: