Pages

Wednesday, 15 August 2012

The Moment

Memakai hijab adalah hal yang sangat dianjurkan dalam islam. Konsep menutup diri dan hanya dilihat secara keseluruhan oleh mahramnya, merupakan bentuk proteksi diri dari kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Dulu, banyak orang memandang sebelah hijab. Gak keren, kuno, katro dan terlalu relijius merupakan label-label yang sering di kasih ke mereka yang pakai hijab. Ya... gue pernah menjadi salah satunya, hehehe. 

Dulu, rasanya gue gak kepikiran buat pakai hijab. Gue hobi pakai jins, kaos berkerah V, macem-macemin rambut, dan say no to hijab. Tapi, seiring berjalannya waktu gue jadi berfikir kalau tubuh kita adalah aset. Aset untuk dipandang, aset untuk dinilai, aset untuk dibayangkan, dan aset untuk banyak hal lainnya. Kalau aset itu tidak terjaga, tentunya akan tercela. Nah, itu yang bikin gue mulai berpikir untuk berhijab. Awalnya gak serius-serius banget sih. Cuma wacana dikepala aja. Tapi lama kelamaan wacana berhijab jadi sering terpikirkan oleh gue. Salah satunya karena jengah di nilai macam-macam oleh lawan jenis. Well, walau pun gak niat memperlihatkan teteup aja terlihat kan... Wacana itu masih tetap jadi wacana hingga gue cerita ke teman baik gue di kampus, Dilla dan Agy.

Awalnya, cerita kemereka gak bikin otak gue lempeng. Justru malah makin ruwet, karena bukan dapet pencerahan mereka malah nakutin gue. Sebenarnya mereka menyambut baik niat gue itu. Hanya aja caranya itu loh, agak aneh. Bergantian selama dua hari mereka gak bosen-bosen neror gue. Omongannya macem-macem dan ganti tiap hari. Kalo hari ini Dilla bilang, "Nu, buruan lu pake jilbab, umur kita kan gak ada yang tau. Emang lo mau meninggal sebelum keburu pake jilbab?" GLEK banget denger kalimat ini. Besoknya, gantian Agy yang ngomong "Pelan-pelan Nu, belajar pake jilbab. Mumpung masih muda", entahlah maksudnya apa, ehehehe.

Akhirnya, setelah hampir gosong mikirin itu, gue pun mulai ngerasa yakin bahwa itu yang gue pengenin. Maka, saat gue janjian sama Agy dan Dilla buat ngerjain tugas di ITC BSD Serpong, gue pakai hijab untuk pertama kalinya. 

Sambutan mereka? Agy enteng banget nanya, "Kesambet lo, Nu?" 
Dilla? Gak jauh beda.

Ini foto-foto pertama kali gue pake jilbab. Sangat cupu sekali... hehehehe















Ini semua posenya mahasiswi linglung, heheheh. Gak kerasa hampir 2 tahun gue berhijab. Satu hal yang kurang, kadang masih suka goyah yang kepikiran pengen lepas. Semoga aja gue pernah melakukan itu.... Amien...

Tuesday, 14 August 2012

Galau Untuk Episode Selanjutnya

Lulus kuliah adalah salah satu dari sekian harapan gue di tahun ini. Gara-gara keinginan itu, tiap gue denger teman gue udah sidang skripsi rasanya gue cemburu abis. Kepengen segera menyusul mereka dan selesai kuliah. Gue pikir ketika kuliah udah beres dan tinggal tunggu wisuda aja, semua jadi bikin tenang. Ternyata... ENGGA. Biar gue ulang, TERNYATA ENGGA!

Loh, kok bisa? Gue juga awalnya bingung. Setelah gue tanya ke salah satu teman baik gue waktu ikutan organisasi, dia jawab gini:

"Iya neng, selesai sidang skripsi bukannya ilang tuh galau tapi malah pindah. Soalnya kan kita selanjutnya harus kerja. Dan, aku sekarang belum kerja neng..."

GLEK!

Gue hampir lupa sama satu hal itu. Karena itu, tiba-tiba, mendadak, gitu aja, gue ngerasa GALAU. Mudah-mudahan selanjutnya tidak seburuk yang gue duga, amien...

Monday, 13 August 2012

PUASA

Sedang menjalankan ibadah puasakah teman-teman? Semoga puasa kalian lancar dan diberi keberkahan oleh Allah SWT, amien...

Selama puasa ini selain sibuk menjalani hari sebagai 'fakir kuesioner' disebuah rumah sakit pemerintah, gue juga mengisi waktu luang dengan membaca artikel menarik tentang puasa. Gue paling suka kalau baca tentang kegiatan puasa di negara luar selain Indonesia, Malaysia dan negara-negara muslim lainnya. Karena puasa di tengah umat muslim yang menjadi mayoritas dalam suatu negara seperti sesuatu hal yang biasa. Godaan pasti tetap ada, namun tantangannya tentu tidak seberat mereka yang berpuasa di negara dimana muslim menjadi minoritas. Seperti di Jepang misalnya, di negara itu keberadaan mesjid memang sudah ada. Sayangnya, suara adzan tidak bisa leluasa berkumandang hingga keluar area mesjid. Coba bandingkan dengan suasana puasa disini. Sangat meriah.

Pada dini hari, sekitar jam 3, kita pasti udah susah tidur karena 'kehidupan' di mesjid telah mulai. Mereka akan membangunkan tiap keluarga melalui speaker dari mesjid. Kadang, tidak hanya berteriak "sahur...sahur.." tapi juga diselingi dengan pembacaan ayat suci al-quran. Saat siang, akan sulit kita temukan orang yang makan disembarang tempat. Kalaupun ada resto yang tetap buka, mereka pasti akan menutup kaca-kaca resto mereka sebagai bentuk usaha menghargai kaum yang sedang berpuasa. Dan, soal makanan, entah kenapa di bulan ramadhan seakan menjadi momen tumpah ruahnya jenis makanan. Tentu aja, karena ketika sedang berpuasa apapun yang terlihat mata akan menjadi begitu menggiurkan. Makanya, makanan dan minuman tersebut akan terhidang di meja sebagai menu buka puasa atau sahur. 

Waktu berpuasa di Indonesia juga gue bilang enak. Siang dan malam yang relatif seimbang lamanya membuat ibadah kita jadi gak terlalu lama juga terasa seimbang. Coba bandingkan di negara seperti Amerika yang kalau Ramadhan jatuh di musim panas maka puasa akan lebih panjang hingga jam 8 malam. Rasanya, gue gak bisa ngebayanginnya deh, hehehehe. Belum lagi, suasananya yang jauh dari kata islami. Gak ada tuh yang namanya hidangan takjil kayak disini, acara-acara TV spesial ramadhan, hingga ceramah keagamaan kalau bukan di lingkungan muslim sendiri.

Gue juga kemarin sempet baca artikel tentang pemain sepak bola internasional yang tetap menjalani puasa meski harus berlatih keras dan berhadapan dengan orang-orang yang makan-minum dihadapan mereka. Membaca artikel itu membuat gue malu, sedih, sekaligus salut kepada mereka. Malu, karena di tengah kenikmatan puasa di Indonesia kita masih saja mengeluh dan bersikap menyebalkan pada Tuhan. Sedih, soalnya gue ngebayangin apa rasanya jadi mereka. Mungkin, mereka udah biasa dan gue sebagai pihak yang gak terbiasa jadi lebay sendiri, hohoho. Salut, ketika banyak umat muslim yang tinggal di negara yang bukan muslim memilih anonimitas untuk menutupi jati dirinya namun mereka justru bangga memperlihatkan kemusliman mereka.

Sungguh, apa yang kita alami disini, gue rasa belum ada apa-apanya. Jadi, kalau sampai puasanya batal karena gak kuat lihat godaan orang-orang lagi makan, wajib deh malu dengan saudara-saudara muslim di luar sana yang tetap beribadah meski dalam kondisi sulit. :)


Friday, 10 August 2012

corat-coretan: Bisnis Mudah? Cekidot!

corat-coretan: Bisnis Mudah? Cekidot!

Bisnis Mudah? Cekidot!

Gak punya duit adalah hal yang bikin gue galau belakangan ini. Kayaknya, manusiawi banget ya kalo kita/gue pengen sesuatu yang mudah tapi menghasilkan. Nah, beberapa waktu lalu gue lihat artikel tentang idsurvei.com yang oke punya. Web itu merupakan web bisnis online termudah yang pernah gue baca dan berbayar pula. Gak ribet, simple abis pokonya. Cara kerjanya bukan seperti bisnis online kebanyakan yang ada. Bukan cari member dapat member. Bukan sesuatu yang bikin kita mengernyit dan bilang, "masa sih?"

Disini cara kerjanya, cuma perlu isi survei yang ada dan nantinya kita akan mendapat Rp. 2.000 setiap ada satu orang yang isi. Semakin banyak survei yang terisi, akan semakin besar pendapatan yang kita punya. Asyik bangetkan kerjanya? Makanya, segera deh klik

http://idsurvei.com/link.php?p=http://www.idsurvei.com/survei/ugaharinrl

Dan... temukan keberuntungan anda!