Pages

Friday, 21 September 2012

Korupsi Apa Bukan?

Hari kamis, sekitar jam 4 sore gue berangkat ke kampus untuk nemuin dospem tercinta. Tentu masih dalam rangka konsul. Gue tau, kalo baca ini lo pasti bilang "Gak beres-beres skripsinya", "panjang amat konsul mulu, kayak telenovela" dan kalimat-kalimat bernada sinis lainnya. Tapi, gue gak mau bahas itu, untuk sekarang ini. Karena, tiba-tiba gue teringat dengan seorang ibu yang memanggil gue ketika gue hendak menuju peron 3 untuk nunggu kereta sore. Ibu-ibu itu membawa 1 kardus yang udah agak gepeng, 2 plastik gede berisi toples-toples kosong untuk donat. Dengan nafas ngos-ngosan dia meminta tolong pada gue untuk menjaga barang-barangnya sebentar sementara dia membeli tiket di loket yang agak jauh letaknya. 

Saat kereta hampir tiba, Ibu itu pun datang. Dia mengucapkan terima kasih kepada gue yang mau nungguin barang-barang bawaannya. Ibu itu kemudian bercerita bahwa kemarin ia harus bermain petak umpet dengan petugas penarik karcis di kereta karena tidak membeli karcis. Lalu gue bilang, "Kebanyakan yang gak beli karcis, mereka bayar diatas, Bu."

"Aduh... kalo saya bayar diatas, uangnya pasti di kantongin sama dia dan saya gak dapet tiket. Kecuali kalo dapet tiket gak apa-apa. Ini kan gak dapet, dan kalo saya kasih sama aja kayak saya dukung mereka ngelakuin hal itu."

Jawaban ibu itu bijak sekali dan langsung membuat gue terkicep atau terdiam. Pikiran gue lantas melayang-layang inget kelakuin petugas PJKA yang sering banget ngantongin uang dari penumpang kereta yang gak beli tiket. Seribu-dua ribu akan masuk kekantong mereka. Sepintas, nilai itu terlihat kecil. Tapi, kalau di kalikan seratus penunpang bahkan lebih dan tidak hanya sekali perjalanan, bisa dapet berapa mereka? Mungkin, lebih gede dari gaji sebulan yang mereka dapeting. Kalo di pikir-pikir juga, ketika kita membayar seribu atau dua ribu ke mereka, kita gak akan dapet untung apapun. Malah ngesupport secara tidak langsung tindakan tidak jujur mereka. Gue bertanya-tanya, itu koruspsi bukan ya?

Secara gamblang, penuh semangat, dan lantang, hampir seluruh rakyat Indonesia berteriak-teriak "ANTI KORUPSI". Tapi, dalam kehidupan sehari-hari sadar gak sadar, kita juga sering ngelakuin korupsi. Seperti, nembak SIM, STNK, KTP, nyogok dosen/guru biar dapet nilai gede, sok baik sama temen dengan ngetraktir dia makan, minum bahkan belanja biar di buatin PR. Hm... hal-hal kecil ini menurut gue sama dengan tindakan korupsi secara terselubung dan kecil-kecilan. Padahal gak suka ya di korupsiin, tapi gak sadar kita juga korup. Haduh... kok jadi kayak lingkaran setan begini ya?

Gimana menurut kalian?

1 comment:

Muhammad A Vip said...

ya, korupsi sudah mentradisi dalam banyak bentuk, menyadarinya penting tapi memang tidak cukup