Pages

Wednesday, 31 October 2012

Hujan

Sore ini turun hujan. Hujannya masih berupa air. Sama saja, tidak istimewa. Tapi hati merasakaan hal yang lain. Kesejukan. Kesejukan yang rasa dengan rasa berbeda. Tidak tau apa, hanya sejuk dan... satu lagi, ada kedamaian ketika memandangnya.

Saturday, 20 October 2012

Cerita Si Mantan Perokok

Rokok, kita semua tau kalo benda itu merupakan benda yang dapat mengikat pengkonsumsinya. Sekali coba, orang akan ketagihan. Susah deh keluar dari jeratan rokok. Padahal kalo dipikir sampe jungkir balik, saya tetap gak bisa nemuin apa hebatnya dia. Udah bikin tangan bau, mulut hitam dan penampilan gak enak dilihat deh tapi masih aja di cari. 

Well, kali ini saya bukan mau kupas tuntas mengenai rokok. Sudah banyaklah saya kira blogger-blogger lain atau siapapun yang menulis artikel mengenai rokok. Pembaca pun sepertinya sudah khatam :p

Sekarang, saya mau berbagi cerita pada teman-teman blogger sekalian. Kalian gak perlu juga sih pasang tampang serius. Cukup santai, duduk manis, bawa cemilan kalo perlu kirim ketempat saya *ngaco*. Back to the topic. Cerita kali ini berdasarkan kisah nyata yang dialami kakak kelas saya di kampus. Kakak kelas saya ini belum terlalu tua bila di lihat dari usia, tapi secara tampang... yaa gitu deh *ga tega lanjutinnya*.

Saya mengenal kakak kelas ini setelah saya kuliah di tempat kuliah saya. Tepatnya ketika saya semester dua atau tigaan. Dia itu perokok aktif. Kalo dia dan kereta di jejerin, mungkin gak akan terlihat bedanya mana manusia dan mana kereta karena ngebul semua.

Suatu hari, secara tidak sengaja saya melihat dia membuat status mengenai hidup sehat atau semacamnya. Ya, terkait dengan komitmen gitu. Salah satunya tentang tidak merokok. Hal ini membuat saya sedikit tergelitik karena saya tau, dia perokok. Status itu sudah lama, dan beberapa hari lalu tiba-tiba saya ingat hingga penasaran untuk bertanya secara langsung ke orangnya. 

Dengan percaya diri dia, berkata bahwa dia telah berhenti merokok. Kemudian, dia bercerita tentang prosesnya berhenti merokok.

Hal tersebut berlangsung ketika dia berulang tahun (entah untuk yang keberapa). Dalam masa peringatan hari kelahirannya itu, dia membuat janji pada Tuhan bahwa dia ingin menjadi orang yang lebih baik. Di awali dengan berhenti merokok. Menurut dia, saat kita membuat janji dengan manusia akan selalu ada 'alasan'. Namun, beda bila kita membuat janji pada Tuhan. Kita di tuntut untuk terus menepati janji tersebut. Itulah yang dialaminya hingga saat ini. Sejak membuat janji tersebut pada Tuhan, minatnya untuk merokok lantas hilang.

Mungkin cerita diatas dapat menjadi inspirasi untuk kita. Bagaimana kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik dengan menjadikan Tuhan sebagai pengingat. Sehingga hidup kita senantiasa mendapat restu dari Nya. Tidak penting apa agama yang ia anut hingga berhasil berhenti merokok. Point penting disini adalah bagaimana kita beribadah sebaik-baiknya dan mengingat Tuhan pada tiap aspek langkah hidup kita.

Salam

:)

Friday, 19 October 2012

Sedang Ingin Merenung

Kalo ditanya film horor apa yang paling serem, saya akan jawab Grave Torture. Bila ada yang jawab 'gak serem', tolong jelasin bagian mana. Karena, sepanjang nonton film itu saya seperti anak curut. Kecut. Gak berani terang-terangan menatap ke layar, sembunyi di balik bantal. Well, film itu 100% serem. Selain itu, mengandung banyak hal untuk direnungkan meski hanya beberapa menit dan tanpa dialog kecuali si anak teriak "Woy...Woy...Woy...".
Sesuai dengan judulnya Grave Torture (Silent Teror), film garapan Joko Anwar ini bener-bener meneror penonton. Meski pun nonton siang hari, kalo nyali sekuprit, tetep aja bakalan kebat-kebit. Untuk kaum beragama apapun itu, khususnya muslim, film ini lebih menohok lagi. Karena, film ini bukan film horor esek-esek seperti yang kita lihat dibioskop. Namun, film mengenai penggalan kelanjutan hidup kita dialam kubur. Umat muslim pasti udah gak asing dengan ajaran kehidupan setelah kematian untuk mempertanggung jawabkan perbuatan didunia. Film ini menggambarkan hal itu dengan baik. Dari mulai malaikat datang dengan menyapa "Man Rabbuka", kemudian si jenazah kembali terbuka matanya namun sulit menjawab. Mungkin karena semasa hidup bukan orang baik. Lantas, jenazah tersebut ditarik kebelakang. Suara-suara penyiksaan lalu terdengar. Tak lama, jenazah kembali dengan keadaan kafan penuh darah. Bagian ini seperti memukul otak saya dengan gada yang begitu besar. Hingga membuat saya sampai pada suatu tanya yaitu, "apakah warna coklat pada kafan di jenazah selama ini bukan karena lama terkubur hingga terkotori oleh tanah, melainkan karena siksa kubur yang alaminya?"


Nah, coba deh tonton filmnya. Gimana pendapat kamu?

Tuesday, 16 October 2012

Review Hari Ini

Bangun pagi dengan perasaan kok-pagi-cepet-banget. Mata sepet, otak keset, jantung merepet, untung kulit gak kelipet-lipet. Lantunan dzikir gak lepas di hati. Berenti kalo cape dan nonton tivi doang. Solat shubuh setelah itu ngobrol sama Ibu. Kemudian meluk bantal gede sambil tidur-tiduran di ruang tivi berharap hari malam kembali. Setengah bagian diri berteriak agar bergegas rapi-rapi supaya tidak terlambat di hari penting ini. Hari eksekusi atas penelitian yang saya lakukan. Tapi, sebelum tubuh berani di hujani air pagi nan dingin semriwing, saya bergelung lagi. Kali ini, menyelip diantara pangkuan Ibu yang telah rapi dengan jilbab dan seragam kantornya. Tak peduli ledekan adik yang bilang saya seperti anak kecil. Untuk apa peduli, toh nantinya kesempatan ini akan langka lagi. Kesempatan memeluk Ibu dan merasakan kehangatan tubuhnya. Ibu bertanya tentang hapalan Ayat Kursiku yang harus kuakui buruk, sering tertukar antara ayat yang satu dan lainnya. Maka, agar saya tenang, lantunan murotal di hape saya nyalakan. Rasanya tenang. Tidak 100 % tenang. Ibu pamit berangkat bersama adik pertama saya. Kembali gundah terasa. Perut mulas luar biasa. Pikiran dan hati jadi sering tidak singkron. Untunglah kaki masih mampu melangkah secara pasti ke kampus untuk hari yang lama saya nanti.

Makanan, bangku-bangku dan AC telah saya bereskan. Meski awalnya sempat salah masuk ruangan. Tapi fine, saya pinda keruang seharusnya. Sial, LCD di kelas sedikit manja. Gak sedikit sih, tapi banyak. Hingga acara sidang molor setengah jam. Saat sidang pun, si layar bermain mata dengan kami di ruangan. Kedip-kedip lalu mati. Beruntung laptop pinjaman dari Ibu dapat di pakai. Jadi, saya terus beraksi memaparkan presentasi yang rasanya tidak pernah berhenti.

Kemudian waktu melompat lagi. Sesi tanya jawab pun di mulai. Entah karena penguji saya sudah sepuh atau apa, sidang berjalan dengan santai. Ada tawanya juga lagi. Perlahan kebekuan di hati mencair lagi. Pembimbing materi tahu-tahu sudah menyuruh saya keluar. Saya tidak diusir. Hanya saja mereka butuh privacy untuk diskusi mengenai saya. Pantas lulus atau tidak.

Wajah teman-teman saya temui. Mereka duduk di selasar depan pintu. Tersenyum ketika melihat saya keluar dan melempar tanya, "Gimana, Nu?" Saya baru bisa tersenyum tanpa memberi jawaban. Sahabat saya pun cengar cengir melihat kedatangan saya. Dia berkata, "Gak lebih dari satu jam, kok. Di bantai ga?" Saya tertawa. Gak di bantai, cuma di obrak-abrik secara halus saja kok.

Dan, waktu yang mendebarkan pun tiba. Seperti dalam acara kontes-kontesan dimana MC mempermainkan perasaan peserta dengan kalimat-kalimat menyayat hati. Pembimbing materi merangkap moderator saat itu pun membantai perasaan saya dengan kata-katanya. Tapi... ya ujung-ujungnya di kasih tahu juga kalau saya LULUS! Itu berarti akan ada gelar SKM di belakang nama saya. Nice :)

Nb: SKM adalah SARJANA KECE dan MANIS :D

"saya menulis skripsi saya dengan tinta keringat dan darah. dukungan dari orang-orang terdekat adl bahan bakar kekuatan untuk terus melawan halangan-halangan yg ada. maka, kelulusan ini saya persembahkan bagi mereka semua. salam sayang dan cinta dari saya untuk orang tua, kerabat, saudara, sahabat, teman, musuh dan semua untuk segala hal yang telah kalian beri kepada saya." - ugahari.

Sunday, 14 October 2012

Saat Senja di Stasiun Kereta

Kamis sore berada di kampus bukanlah suatu kewajiban tapi keharusan untuk mengurus kelengkapan sidang. Semangat gue datang dari bayangan bahwa rumah akan terjamah sebelum malam menyentuh langit terlalu jauh. Ketika semua yang harus diselesaikan telah tertuntaskan, melengganglah gue menuju sebuah tempat. Bukan tempat favorit tapi merupakan akses tercepat untuk menjamah tempat tinggal gue yang berada di hutan rimba. Saat langkah-langkah masih tercipta, gue teringat sahabat gue yang tadi juga pergi kekampusnya menggunakan kereta yang sama. Maka dengan harapan akan memiliki teman seperjalanan, gue pun menghubunginya. Sayang, hanya nada monoton dari suara telpon yang penuh terdengar ditelinga tanpa ada jawaban dari dia. Malas menunggu lama, gue pun membeli tiket kereta. Selembar karcis untuk menikmati sensasi sebagai ikan di dalam steamer raksasa, telah gue genggam. Saat sedang duduk di bangku besi yang keras, sahabat gue menelpon. Dia dengan baik hatinya memberi informasi kalo kaleng rombeng yang akan segera lewat dan itu berarti yang ingin gue naiki, sudah penuh. Sangat penuh malah. Well, sejak kapan si kaleng rombeng itu bisa kosong melompong? Gue akan bikin selametan kalo hal itu terjadi. Singkatnya, sahabat gue akhirnya hijrah dari stasiun Kebayoran ke Rawa Buntu untuk bersama-sama naik kereta ke kediaman kami di hutan rimba.

Kereta demi kerata lewat, dari sejenis kaleng rombeng hingga kaleng eksklusif. Atas nama irit, sahabat gue gak mau naik kereta AC yang lebih sejahtera dan bersahabat suasananya meski tidak untuk harga. Karena gue setia kawan, gue pun menuruti permintaannya. Sambil menunggu kereta, di stasiun yang makin ramai kita bertukar cerita. Dari masa lalu hingga masa kini, dan kami pun tertawa tanpa mempedulikan mungkin tetangga kami terganggu. Dan dengan tangan menggenggam sebungkus somay seharga 5000. Tanpa malu melahapnya dengan sikap liar seolah belum pernah merasakan makanan sejak berbentuk fetus. Sedang asyik-asyik tertawa, kami lantas dikejutkan oleh suara dari speaker yang memekakan telinga. Well, suara sih biasa aja. Saking biasanya, sampai gak perlu di bilang WOW. Tapi, pengumuman yang diucapkan baru bisa dan harus banget di kasih kata WOW.

Kesimpulan dari panjangnya penjelasan sang petugas adalah KERETA MENGALAMI GANGGUAN HINGGA TERJADI KETERLAMBATAN. What the HELL!

Andai saat itu gue sendirian, gak akan gue biarkan pantat gue duduk lebih lama lagi di bangku besi keras itu. Pasti gue akan kabur dan mencari angkot. Tapi, karena gue bareng sahabat gue yang lagi ngirit, penantian pun di lanjutkan. 

Waktu beranjak seperti bayi yang baru belajar merangkak, lambat. Banyak cerita yang udah keluar dari mulut gue dan Mayank, sahabat gue yang lagi ngirit itu. Kalo sempet gue ketik mungkin udah jadi berlembar-lembar dan terjejer di gramedia sebagai best seller. Tapi, karena gak mungkin semua cerita itu nguap begitu saja keudara mungkin sampai ke angkasa dan tentunya sampai ke telinga Tuhan. Gara-gara cerita itu pula, gue dan Mayank jadi sama melongo bego ketika ada kereta AC dengan kepenuhan luar biasa memasuki peron satu. Tempat gue dan mayank menunggu. Kita ribut sendiri, karena tidak ada pengumuman dari petugas mengenai tujuan dari kereta tersebut. Keributan antara gue dan Mayank membawa kami pada kesepakatan untuk membeli tiket. Tanpa sengaja dan rencana sebelumnya, gue kehilangan kontrol dan bicara sedikit sewot ke petugas loket.

Gue: Kereta tadi sampe mana, Pak?
Petugas Loket (PL): Parungpanjang, Neng.
Gue: KENAPA GAK DIUMUMIN SIH?! KETINGGALAN KAN JADINYA! GIMANA SIH! *penuhemosi*
Mayank: Tau nih... gimana sih Bapak. Tadikan kita bisa pulang tuh... *manyun*
Petugas loket jadi garuk-garuk kepala menghadapi dua cewek manis yang mukanya seperti singa lapar. Bernada sedikit fals dan memelas, dia menjawab: Dari stasiun Sudimara juga gak ada telepon. Jadwal kereta kacau nih. Saya juga pusing."

Gue dan Mayank pergi dari hadapan Bapak Petugas Loket itu. Kesel, dongkol, sebel, pengen nabok, pengen timpukin stasiun dan pengen melakukan tindakan anarkis lainnya. Andai dengan begitu kereta tiba-tiba datang, pasti akan kami lakukan. Tapi karena engga, kita akhirnya duduk lagi di tangga dan menunggu lebih lama sambil berdoa semoga kereta segera lewat. Sayangnya, kami masih dongkol banget sama kejadian itu. Sebel sesebel sebelnya. 

Kita sedang sama-sama sibuk up date status penuh emosi di akun twitter dan fb masing-masing saat Mayank mendadak diam. Dia menyenggol gue. Ketika gue menoleh, gue mendapatkan Mayank dalam posisi seperti menerawang kelangit. Gue pun bertanya, "Kenapa?"

"Gue sebel nunggu." jawabnya.
Gue senyum, kami adalah orang-orang yang benci banget nunggu apalagi diantara ketidakpastian seperti ini.
"Kayak lagi nunggu sesuatu yang gak pasti ya..." ujarku.
"Bener. Seperti saat kita ngerepin sesuatu dan sesuatu itu udah di depan mata dan kita nanya ke orang apakah itu sesuatu yang kita harapkan atau bukan. Jawaban orang itu adalah bukan. Dan, kita baru sadar bahwa hal itu memang sesuatu yang kita harapkan ketika hal itu udah lewat dan gak ada di hadapan kita lagi."
"Persis kejadian kereta tadi ya... udah ngarep itu ke Parung jadi kita bisa naik, eh petugas bilangnya cuma sampe Serpong. Pas di pastiin lagi ternyata emang sampe Parung dan keretanya udah lewat. Sial banget."
"Tapi ada hikmahnya loh kejadian hari ini." 
"Apa?"
"Kita jadi ketemu dan cerita-cerita. Dari kemarin kan janjian mulu tapi gak terlaksana."

Gue ketawa sendiri dengar omongan Mayank. Bener sih, kalo gak ada keterlambatan kereta sore ini pasti seluruh cerita yang tadi kita bagi gak akan pernah tersampaikan.

At least, kita baru dapat kereta saat jam menunjukkan pukul depalan malam sejak menunggu dari jam 4 sore. Keretanya pun gelap dan sepi. Gue dan Mayank pun bisa koprol sambil bilang WOW sepuasnya.

Sekian.

Thursday, 11 October 2012

SEBUAH SURAT UNTUK KAMU


Aku percaya bahwa jodoh tidak akan kemana. Namun, sering dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukannya saat ini? Apakah ia sudah memiliki pacar? Apakah ia seseorang yang baik? Apa hobinya? Apa makanan kesukaannya?
Telah banyak ribuan hari kulewati dengan menerka-nerka dia yang menjadi jodohku. Tapi, banyak kecewa yang kudapat. Maka, malam ini kuraih selembar kertas putih dan sebuah pulpen bertinta hitam.
Kuremangkan lampu kamarku dan kubereskan meja belajarku yang mirip zona perang. Kutiup beberapa debu yang menutupi warna coklat meja belajar yang selama ini jarang sekali kugunakan. Setelah semua kuanggap rapi, mulailah aku beraksi.
'Hai kamu... mungkin saat ini kita tidak saling mengenal. Atau, kita saling mengenal tapi menjalani hidup ini dengan keputusan masing-masing. Well, apapun yang kamu lakukan aku tidak keberatan.
Berjalanlah, berlarilah, terbanglah sesukamu. Raihlah mimpimu, citamu, asamu yang masih tergantung dilangit harapmu. Tak perlu risau, karena hal itulah yang akan kulakukan juga. Jangan khawatir, biarpun aku banyak bertemu berbagai macam jenis orang, aku bisa jaga diri. Takkan kubiarkan hati ini terambil selain olehmu nanti.
Maafkan aku sayang, bila terkadang sikapku menyebalkan. Sering sekali, hati dan pikiranku jadi tidak sejalan. Bila kau tahu, rinduku setiap hari sudah tertanam hingga kadang memberontak agar dapat bertemu denganmu. Aku tahu, belum saatnya kita bersama. Tidak, bila ego masih mendominasi.
Sayang, tolong sempatkan waktumu untuk bicara pada Tuhan mengenai kita. Katakan padaNya, harapmu terhadapku agar Tuhan membisikannya padaku dikala aku terlelap. Agar alam bawah sadarku berlalu sesuai dengan inginmu dan ridha Tuhan kita. Kau tahu, salah satu citaku adalah menjadi wanitamu. Tidak hanya didunia, namun juga di surga firdausnya.
Sayang, dalam benak marilah kita bergenggam tangan. Saling menguatkan dan mengisi rongga-rongga di tiap jemari agar tidak mudah gontai. Pikiranku tentangmu merupakan salah satu alasan bagiku untuk terus berjalan dan memperbaiki diri. Bila saatnya nanti tiba waktu kita berjumpa, kuharap aku telah pantas bersanding disampingmu. Menemani perjuanganmu dan menjadi sandaranmu saat lelah.’
Kulipat sehelai kertas itu dengan hati-hati agar tidak ada permukaannya yang kotor atau lecak. Kumasukkan dalam sebuah amplop berwarna pink. Disudut kanannya kutuliskan sebuah kalimat ‘Surat untukmu’. Kemudian, aku tidak berjalan menuju kantor pos. Melainkan meraih sebuah kotak merah di sudut kamar. Sebuah kotak yang kupenuhi dengan surat-suratku untukmu yang tak pernah kukirim dan kuperlihatkan pada siapapun. Nanti, saat kita bertemu akan kuberi surat-surat itu sebagai bukti bila kamu sudah hidup lama dalam pikiranku.

Sebuah Nama

Input ulang data adalah hukuman sosial untuk orang yang lalai nyimpen berkas padahal udah muak belajar filling sistem di semester... LUPA! Gila, kadang saya mikir, selama ini kuliah tuh ngapain ya? hahahhaa.
Oke, cukup sudah hukuman sosial yang saya terima malam ini. Cukup untuk pengkhianatan SPSS jadul di komputer yang gak kalah jadul milik saya sekeluarga. Cukup untuk kenyataan bahwa besok pagi harus ke kampus lagi karena emang belum putus kontrak di kampus, dan cukup untuk sadar kalau nyimpen data mesti hati-hati.

Saya udah pusing dan ya... mau gak mau mesti nunggu besok untuk menuntaskannya. Ngebajak laptop orang wajib hukumnya. Dan, buat ngerefresh otak, mari kita bercengkrama di blog ini...

Entah kenapa saya jadi teringat pada sebuah nama panggilan sayang seorang saabat buat saya. Honey doll. Jangan bayangin ada settingan romantis saat nama itu diucapkan. Gak ada pesta perayaan sama sekali meki cuma kembang api. Nama tersebut keluar gitu aja dari mulut dia ketika kita sedang tukar cerita. Tepatnya, saya diam mendengarkan dan menyimak sementara dia ceritain semua masalahnya. Saya pun gak lantas terharu, berlinang air mata atau sebagainya ketika dia menyebut saya,"Doll." Cuma ekspresi bengong yang culun sambil ngulang kata, "Doll?" oia, plus alis mencuat tanda bingung.

Kenapa saya bingung? Karena Doll berarti boneka. Lebih bingung lagi saat dia ngelengkapin maksudnya, Honey Doll. Ngeliat tampang bloon saya, si teman langsung menjelaskan maksudnya. Boleh saya jelasin disini? Terima kasih.

Jadi, secara harfiah Honey Doll adalah boneka lucu, (sebentar saya mau ngaca.). Tapi secara filosofis, makna yang ada dalam Honey Doll merupakan sebutan untuk orang yang dekat dengan kamu. Bukan cuma dekat, tapi orang itu bisa jadi pendengar setia terhadap ceritamu. Orang seperti ini bisa buat kita lebih lega karena bisa menyalurkan emosi tanpa di potong. Banyak orang yang ingin didengar, tapi sedikit yang mau mendengar. Dan honey doll adalah pendengar yang baik. Sayangnya, seorang Honey Doll gak bisa kasih pendapat apapun mengenai masalah kamu. Sosok Honey Doll cocok untuk mendampingi seseorang yang hanya ingin didengar tanpa merasa perlu diberi nasihat. 

Selain, Honey Doll, si teman juga bilang ada Honey Bee. Yeah, lebah madu... tolong jangan lihat lebahnya tapi lihat sifat si lebah. Dia lincah, kadang bisa menusuk, rajin, dan mau membantu. Begitu juga dengan seorang Honey Bee. Cocok untuk mewakili seseorang yang lincah, rajin, 'menusuk' seseorang agar lebih semangat dan membantu memberi solusi serta saran bagi masalahnya.

Nah, kira-kira sebutan apa yang pas untuk mewakili orang terdekat kamu? Pikirin yak tapi gak perlu kirim surat segala kalo udah ketemu, hehehehe.

Saya undur diri dulu ya, terima kasih udah nemenin :D :D :D

Sunday, 7 October 2012

Kemana Aku?

Di sini, di ruangan kecil ini yang... maaf aku tidak bisa jabarkan berapa ukurannya seperti lazimnya para penulis lain sering lakukan. Apakah aku salah bila tidak menjabarkan ukuran ruangan dimana aku duduk sekarang? Apakah aku tidak layak mendapat cap "penulis" karena gagal menjelaskan detail ruangan aku berada saat ini? Well, apalah artinya ukuran sebuah ruangan jika ruangan itu bisa mengakomodir kenyamanan seseorang? Memang sih, tidak nyaman betul dengan berisiknya suara tembak-tembakan dari game counter strike yang dimainkan oleh adikku. Jangan salah sangka, aku tidak sedang berada di warnet atau tempat rental komputer. Aku sedang duduk di lantai kamar yang biasa digunakan Ayahku tidur. Kamar sempit yang langsung menghadap keluar tapi jarang aku memandang keluar.

Biarpun aku duduk di sini tapi pikiranku tidak ikut serta. Yeah, pikiran memang tidak bisa duduk. Kita semua tahu itu. Tapi maksudku, pikiranku sedang tak ada di ruangan ini bersama tubuhku. Bayangkan saja zombie bila kalian butuh visualisasi gimana kondisiku sekarang. Duduk, bergerak, makan, mengunyah, semua kulakukan. Namun, dengan gerakan seperti robot. Tidak ada semangat, tidak ada gereget, tidak ada keinginan untuk senyum kecuali dalam keadaan kepepet.

Hatiku bertanya, siapakah sebenarnya yang merasuki jasadku? Rohani yang dikenal hati selama ini tidak sepertinya. Tidak seperti robot yang berjalan bila ada suara memerintah. Tidak seperti seorang penggerutu yang selalu melontarkan kalimat sinis ketika bertatap muka dengan orang lain. Tidak seperti seorang putus asa yang hanya melanjutkan hidup agar dikatakan hidup.

Hati menjerit, memaksa otak untuk ikut duduk diam bersamanya. Ralat, bukan duduk diam bersamanya tapi duduk berpikir bersamanya. Berpikir, menerka, menyelidiki siapa roh jahat yang berdiam di jasad majikannya saat ini. Siapakah roh jahat yang membajak sang majikan kesayangan hingga hanya mengetik tanpa tahu apa yang ia ketik sampai lupa mandi, sampai tidak mendengarkan suara ibunya memanggil sampai menggerutu pada adiknya yang mengintip kegiatannya mengetik, sampai menjadi seseorang yang tidak jelas juntrungannya.

Aku jadi ikut bertanya-tanya, kemana aku?


*diketik dalam kondisi setengah sadar, tanpa paksaan dan tidak dibawah pengaruh alkohol (good day chococino bukan alkohol tentunya.)


Jagalah Asetmu

Dua minggu lalu ada kejadian tidak enak yang menimpa adik laki-laki gue. Salah satu matanya terkena bambu ketika sedang bermain dengan temannya. Gue dan nyokap sangat khawatir terhadap keadaannya saat itu. Terlebih ketika dokter berkata jika beliau tidak tahu dimana lensa mata adik gue sehingga tidak bisa menjamin penglihatan dia dapat pulih seperti sedia kala. Mendengarnya membuat gue dan nyokap lemas. FYI, adik gue itu baru berusia 13 tahun. Kami gak bisa membayangkan andai perkataan dokter itu menjadi kenyataan dan adik gue harus mengandalkan satu mata saja sepanjang sisa hidupnya. Gak adil rasanya. Ketika itu, gue membandingkan hidup gue disaat usia 13 tahun dengan kehidupannya.

Di usia 13 tahun, hidup gue baik-baik saja. Gak ada masalah seberat yang adik gue alami saat ini. Perasaan gak rela memenuhi adik gue. Nyokap berkali-kali meminta gue untuk iklas nerima cobaan ini dan kuat untuk mendukung adik gue.

Sesuai dengan rujukan dokter, gue sekeluarga membawa adik gue ke RSCM Kirana, rumah sakit khusus mata untuk memeriksa kondisi mata adik gue lebih detail lagi. Tindakan yang diberikan cukup cepat sehingga adik gue sekarang berangsur pulih. Matanya perlahan sudah bisa dipakai untuk melihat lagi.

Dari kejadian ini ada beberapa hal yang bisa gue ambil pelajarannya. Diantaranya adalah begitu nikmatnya bila kita dapat melihat. Gue tidak bermaksud meng- under estimate kepada orang-orang yang tidak dapat melihat. Maksud gue, mereka yang tidak bisa melihat sejak lahir sudah terbiasa dengan warna hitam dalam hidupnya. Dan, untuk mereka pasti itu bukan masalah besar. Karena memang seperti itulah dunianya. Lain halnya dengan seseorang yang sudah terbiasa hidup dengan banyak warna, tiba-tiba harus memandang satu warna saja. Tentu ada kekagetan yang luar biasa. Ada keanehan dan kejengahan yang sulit diterima. Belum lagi perasaan minder dari pergaulan di luar keluarga.

Makanya, gue sering menekankan pada adik gue untuk selalu berhati-hati terhadap apapun yang menempel ditubuhnya. Ya, termasuk untuk gue sendiri. Bahwa semuanya adalah aset yang dapat digunakan untuk membantu kita dalam meraih masa depan. Banyak orang bilang, mata adalah bagian vital tubuh. Itu benar, namun menurut gue tidak hanya mata saja yang vital. Alis, biarpun hanya tumpukan bulu-bulu halus juga vital. Karena tanpanya kita akan terlihat aneh dan mengurangi rasa percaya diri. Begitu juga dengan bagian tubuh lainnya. Hidung, bibir, gigi, telinga, tangan, kaki, dada, semuanya... Harus dijaga, harus berhati-hati dan harus disyukuri gimana pun bentuknya.




Saturday, 6 October 2012

Malam

Secangkir kopi hitam dalam genggaman
Kelam, tanpa ada warna membingkai di sisinya
Kusesap ia sambil diam-diam berharap
Mengharap malam ikut terhisap
Hingga pagiku bisa lekas datang
Malam
Ceritamu terlalu kelam