Pages

Tuesday, 16 October 2012

Review Hari Ini

Bangun pagi dengan perasaan kok-pagi-cepet-banget. Mata sepet, otak keset, jantung merepet, untung kulit gak kelipet-lipet. Lantunan dzikir gak lepas di hati. Berenti kalo cape dan nonton tivi doang. Solat shubuh setelah itu ngobrol sama Ibu. Kemudian meluk bantal gede sambil tidur-tiduran di ruang tivi berharap hari malam kembali. Setengah bagian diri berteriak agar bergegas rapi-rapi supaya tidak terlambat di hari penting ini. Hari eksekusi atas penelitian yang saya lakukan. Tapi, sebelum tubuh berani di hujani air pagi nan dingin semriwing, saya bergelung lagi. Kali ini, menyelip diantara pangkuan Ibu yang telah rapi dengan jilbab dan seragam kantornya. Tak peduli ledekan adik yang bilang saya seperti anak kecil. Untuk apa peduli, toh nantinya kesempatan ini akan langka lagi. Kesempatan memeluk Ibu dan merasakan kehangatan tubuhnya. Ibu bertanya tentang hapalan Ayat Kursiku yang harus kuakui buruk, sering tertukar antara ayat yang satu dan lainnya. Maka, agar saya tenang, lantunan murotal di hape saya nyalakan. Rasanya tenang. Tidak 100 % tenang. Ibu pamit berangkat bersama adik pertama saya. Kembali gundah terasa. Perut mulas luar biasa. Pikiran dan hati jadi sering tidak singkron. Untunglah kaki masih mampu melangkah secara pasti ke kampus untuk hari yang lama saya nanti.

Makanan, bangku-bangku dan AC telah saya bereskan. Meski awalnya sempat salah masuk ruangan. Tapi fine, saya pinda keruang seharusnya. Sial, LCD di kelas sedikit manja. Gak sedikit sih, tapi banyak. Hingga acara sidang molor setengah jam. Saat sidang pun, si layar bermain mata dengan kami di ruangan. Kedip-kedip lalu mati. Beruntung laptop pinjaman dari Ibu dapat di pakai. Jadi, saya terus beraksi memaparkan presentasi yang rasanya tidak pernah berhenti.

Kemudian waktu melompat lagi. Sesi tanya jawab pun di mulai. Entah karena penguji saya sudah sepuh atau apa, sidang berjalan dengan santai. Ada tawanya juga lagi. Perlahan kebekuan di hati mencair lagi. Pembimbing materi tahu-tahu sudah menyuruh saya keluar. Saya tidak diusir. Hanya saja mereka butuh privacy untuk diskusi mengenai saya. Pantas lulus atau tidak.

Wajah teman-teman saya temui. Mereka duduk di selasar depan pintu. Tersenyum ketika melihat saya keluar dan melempar tanya, "Gimana, Nu?" Saya baru bisa tersenyum tanpa memberi jawaban. Sahabat saya pun cengar cengir melihat kedatangan saya. Dia berkata, "Gak lebih dari satu jam, kok. Di bantai ga?" Saya tertawa. Gak di bantai, cuma di obrak-abrik secara halus saja kok.

Dan, waktu yang mendebarkan pun tiba. Seperti dalam acara kontes-kontesan dimana MC mempermainkan perasaan peserta dengan kalimat-kalimat menyayat hati. Pembimbing materi merangkap moderator saat itu pun membantai perasaan saya dengan kata-katanya. Tapi... ya ujung-ujungnya di kasih tahu juga kalau saya LULUS! Itu berarti akan ada gelar SKM di belakang nama saya. Nice :)

Nb: SKM adalah SARJANA KECE dan MANIS :D

"saya menulis skripsi saya dengan tinta keringat dan darah. dukungan dari orang-orang terdekat adl bahan bakar kekuatan untuk terus melawan halangan-halangan yg ada. maka, kelulusan ini saya persembahkan bagi mereka semua. salam sayang dan cinta dari saya untuk orang tua, kerabat, saudara, sahabat, teman, musuh dan semua untuk segala hal yang telah kalian beri kepada saya." - ugahari.

1 comment:

anotherorion said...

SKM itu sarjana kesehatan masyarakat kah?