Pages

Sunday, 14 October 2012

Saat Senja di Stasiun Kereta

Kamis sore berada di kampus bukanlah suatu kewajiban tapi keharusan untuk mengurus kelengkapan sidang. Semangat gue datang dari bayangan bahwa rumah akan terjamah sebelum malam menyentuh langit terlalu jauh. Ketika semua yang harus diselesaikan telah tertuntaskan, melengganglah gue menuju sebuah tempat. Bukan tempat favorit tapi merupakan akses tercepat untuk menjamah tempat tinggal gue yang berada di hutan rimba. Saat langkah-langkah masih tercipta, gue teringat sahabat gue yang tadi juga pergi kekampusnya menggunakan kereta yang sama. Maka dengan harapan akan memiliki teman seperjalanan, gue pun menghubunginya. Sayang, hanya nada monoton dari suara telpon yang penuh terdengar ditelinga tanpa ada jawaban dari dia. Malas menunggu lama, gue pun membeli tiket kereta. Selembar karcis untuk menikmati sensasi sebagai ikan di dalam steamer raksasa, telah gue genggam. Saat sedang duduk di bangku besi yang keras, sahabat gue menelpon. Dia dengan baik hatinya memberi informasi kalo kaleng rombeng yang akan segera lewat dan itu berarti yang ingin gue naiki, sudah penuh. Sangat penuh malah. Well, sejak kapan si kaleng rombeng itu bisa kosong melompong? Gue akan bikin selametan kalo hal itu terjadi. Singkatnya, sahabat gue akhirnya hijrah dari stasiun Kebayoran ke Rawa Buntu untuk bersama-sama naik kereta ke kediaman kami di hutan rimba.

Kereta demi kerata lewat, dari sejenis kaleng rombeng hingga kaleng eksklusif. Atas nama irit, sahabat gue gak mau naik kereta AC yang lebih sejahtera dan bersahabat suasananya meski tidak untuk harga. Karena gue setia kawan, gue pun menuruti permintaannya. Sambil menunggu kereta, di stasiun yang makin ramai kita bertukar cerita. Dari masa lalu hingga masa kini, dan kami pun tertawa tanpa mempedulikan mungkin tetangga kami terganggu. Dan dengan tangan menggenggam sebungkus somay seharga 5000. Tanpa malu melahapnya dengan sikap liar seolah belum pernah merasakan makanan sejak berbentuk fetus. Sedang asyik-asyik tertawa, kami lantas dikejutkan oleh suara dari speaker yang memekakan telinga. Well, suara sih biasa aja. Saking biasanya, sampai gak perlu di bilang WOW. Tapi, pengumuman yang diucapkan baru bisa dan harus banget di kasih kata WOW.

Kesimpulan dari panjangnya penjelasan sang petugas adalah KERETA MENGALAMI GANGGUAN HINGGA TERJADI KETERLAMBATAN. What the HELL!

Andai saat itu gue sendirian, gak akan gue biarkan pantat gue duduk lebih lama lagi di bangku besi keras itu. Pasti gue akan kabur dan mencari angkot. Tapi, karena gue bareng sahabat gue yang lagi ngirit, penantian pun di lanjutkan. 

Waktu beranjak seperti bayi yang baru belajar merangkak, lambat. Banyak cerita yang udah keluar dari mulut gue dan Mayank, sahabat gue yang lagi ngirit itu. Kalo sempet gue ketik mungkin udah jadi berlembar-lembar dan terjejer di gramedia sebagai best seller. Tapi, karena gak mungkin semua cerita itu nguap begitu saja keudara mungkin sampai ke angkasa dan tentunya sampai ke telinga Tuhan. Gara-gara cerita itu pula, gue dan Mayank jadi sama melongo bego ketika ada kereta AC dengan kepenuhan luar biasa memasuki peron satu. Tempat gue dan mayank menunggu. Kita ribut sendiri, karena tidak ada pengumuman dari petugas mengenai tujuan dari kereta tersebut. Keributan antara gue dan Mayank membawa kami pada kesepakatan untuk membeli tiket. Tanpa sengaja dan rencana sebelumnya, gue kehilangan kontrol dan bicara sedikit sewot ke petugas loket.

Gue: Kereta tadi sampe mana, Pak?
Petugas Loket (PL): Parungpanjang, Neng.
Gue: KENAPA GAK DIUMUMIN SIH?! KETINGGALAN KAN JADINYA! GIMANA SIH! *penuhemosi*
Mayank: Tau nih... gimana sih Bapak. Tadikan kita bisa pulang tuh... *manyun*
Petugas loket jadi garuk-garuk kepala menghadapi dua cewek manis yang mukanya seperti singa lapar. Bernada sedikit fals dan memelas, dia menjawab: Dari stasiun Sudimara juga gak ada telepon. Jadwal kereta kacau nih. Saya juga pusing."

Gue dan Mayank pergi dari hadapan Bapak Petugas Loket itu. Kesel, dongkol, sebel, pengen nabok, pengen timpukin stasiun dan pengen melakukan tindakan anarkis lainnya. Andai dengan begitu kereta tiba-tiba datang, pasti akan kami lakukan. Tapi karena engga, kita akhirnya duduk lagi di tangga dan menunggu lebih lama sambil berdoa semoga kereta segera lewat. Sayangnya, kami masih dongkol banget sama kejadian itu. Sebel sesebel sebelnya. 

Kita sedang sama-sama sibuk up date status penuh emosi di akun twitter dan fb masing-masing saat Mayank mendadak diam. Dia menyenggol gue. Ketika gue menoleh, gue mendapatkan Mayank dalam posisi seperti menerawang kelangit. Gue pun bertanya, "Kenapa?"

"Gue sebel nunggu." jawabnya.
Gue senyum, kami adalah orang-orang yang benci banget nunggu apalagi diantara ketidakpastian seperti ini.
"Kayak lagi nunggu sesuatu yang gak pasti ya..." ujarku.
"Bener. Seperti saat kita ngerepin sesuatu dan sesuatu itu udah di depan mata dan kita nanya ke orang apakah itu sesuatu yang kita harapkan atau bukan. Jawaban orang itu adalah bukan. Dan, kita baru sadar bahwa hal itu memang sesuatu yang kita harapkan ketika hal itu udah lewat dan gak ada di hadapan kita lagi."
"Persis kejadian kereta tadi ya... udah ngarep itu ke Parung jadi kita bisa naik, eh petugas bilangnya cuma sampe Serpong. Pas di pastiin lagi ternyata emang sampe Parung dan keretanya udah lewat. Sial banget."
"Tapi ada hikmahnya loh kejadian hari ini." 
"Apa?"
"Kita jadi ketemu dan cerita-cerita. Dari kemarin kan janjian mulu tapi gak terlaksana."

Gue ketawa sendiri dengar omongan Mayank. Bener sih, kalo gak ada keterlambatan kereta sore ini pasti seluruh cerita yang tadi kita bagi gak akan pernah tersampaikan.

At least, kita baru dapat kereta saat jam menunjukkan pukul depalan malam sejak menunggu dari jam 4 sore. Keretanya pun gelap dan sepi. Gue dan Mayank pun bisa koprol sambil bilang WOW sepuasnya.

Sekian.

1 comment:

Sang Cerpenis bercerita said...

ya setiap kejadian pasti ada hikmahnya...meskipun itu cuma karena kereta yg telat