Pages

Thursday, 11 October 2012

SEBUAH SURAT UNTUK KAMU


Aku percaya bahwa jodoh tidak akan kemana. Namun, sering dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukannya saat ini? Apakah ia sudah memiliki pacar? Apakah ia seseorang yang baik? Apa hobinya? Apa makanan kesukaannya?
Telah banyak ribuan hari kulewati dengan menerka-nerka dia yang menjadi jodohku. Tapi, banyak kecewa yang kudapat. Maka, malam ini kuraih selembar kertas putih dan sebuah pulpen bertinta hitam.
Kuremangkan lampu kamarku dan kubereskan meja belajarku yang mirip zona perang. Kutiup beberapa debu yang menutupi warna coklat meja belajar yang selama ini jarang sekali kugunakan. Setelah semua kuanggap rapi, mulailah aku beraksi.
'Hai kamu... mungkin saat ini kita tidak saling mengenal. Atau, kita saling mengenal tapi menjalani hidup ini dengan keputusan masing-masing. Well, apapun yang kamu lakukan aku tidak keberatan.
Berjalanlah, berlarilah, terbanglah sesukamu. Raihlah mimpimu, citamu, asamu yang masih tergantung dilangit harapmu. Tak perlu risau, karena hal itulah yang akan kulakukan juga. Jangan khawatir, biarpun aku banyak bertemu berbagai macam jenis orang, aku bisa jaga diri. Takkan kubiarkan hati ini terambil selain olehmu nanti.
Maafkan aku sayang, bila terkadang sikapku menyebalkan. Sering sekali, hati dan pikiranku jadi tidak sejalan. Bila kau tahu, rinduku setiap hari sudah tertanam hingga kadang memberontak agar dapat bertemu denganmu. Aku tahu, belum saatnya kita bersama. Tidak, bila ego masih mendominasi.
Sayang, tolong sempatkan waktumu untuk bicara pada Tuhan mengenai kita. Katakan padaNya, harapmu terhadapku agar Tuhan membisikannya padaku dikala aku terlelap. Agar alam bawah sadarku berlalu sesuai dengan inginmu dan ridha Tuhan kita. Kau tahu, salah satu citaku adalah menjadi wanitamu. Tidak hanya didunia, namun juga di surga firdausnya.
Sayang, dalam benak marilah kita bergenggam tangan. Saling menguatkan dan mengisi rongga-rongga di tiap jemari agar tidak mudah gontai. Pikiranku tentangmu merupakan salah satu alasan bagiku untuk terus berjalan dan memperbaiki diri. Bila saatnya nanti tiba waktu kita berjumpa, kuharap aku telah pantas bersanding disampingmu. Menemani perjuanganmu dan menjadi sandaranmu saat lelah.’
Kulipat sehelai kertas itu dengan hati-hati agar tidak ada permukaannya yang kotor atau lecak. Kumasukkan dalam sebuah amplop berwarna pink. Disudut kanannya kutuliskan sebuah kalimat ‘Surat untukmu’. Kemudian, aku tidak berjalan menuju kantor pos. Melainkan meraih sebuah kotak merah di sudut kamar. Sebuah kotak yang kupenuhi dengan surat-suratku untukmu yang tak pernah kukirim dan kuperlihatkan pada siapapun. Nanti, saat kita bertemu akan kuberi surat-surat itu sebagai bukti bila kamu sudah hidup lama dalam pikiranku.

2 comments:

Ahmad Fauzan said...

Jika tadi malam tidurmu sedikit terganggu dan mimpimu terputus, kemudian kamu bangun hanya sekedar memastikan di sampingmu benar tidak ada siapa-siapa,maka maafkan aku sayang! Mungkin terlalu cepat aku bicara denganNya.

Karena terlalu lama aku menunggu. Sedang surat-suratmu pelan-pelan bergeser dari tempatnya semula.

Sudah sarapan? :p

Sang Cerpenis bercerita said...

hmm..bener sih. jodoh takkan lari kemana2. kelak bila memang jodoh pasti kalian akan ketemu juga