Pages

Thursday, 29 November 2012

Tweetku Tentang Orang Tua

Semalam entah kenapa, mungkin karena gue menyadari belum jadi anak yang baik bagi orang, tiba-tiba aja ada hasrat mendesak untuk membuat tweet tentang ornag tua. Tujuan awalnya sih, ditujukan bagi diri gue sendiri. Tapi, karena gue mempostingnya di area publik, jadilah banyak banget orang yang baca dan nge-re-tweet. Nah, liat RT-an yang cukup banyak bahkan ada sahabat gue yg ngRT seluruh tweet tersebut, gue berpikir untuk menaruhnya disini. Setidaknya, kalo gue atau siapapun yang mau baca, akan lebih enak. Soalnya posisinya gak mencar. So, here we go!
  • orang tua mendidik anaknya dengan cara yang mereka tau, kadang ada kalanya itu bertentangan dengan khdupan kita sekarang. ga perlu di buat beban, jadikan motivasi aja.
  • Orang tua gw sering bilang, semua yang mereka suruh untuk gue lakukan, ujung-ujungnya akan dirasakan oleh gue juga, mereka Cuma kecipratan senangnya aja
  • Setelah banting tulang kerja, nahan hasrat sendiri untuk beli ini itu DEMI anak, yang bisa ngehapus peluh mereka cuma... PRESTASI
  • apa yang orang tua kita lakuin sekarang, biarpun nyebelin, itu adalah cara mereka untuk memastikan kita bisa mandiri dan baik2 aja bila suatu hari mereka ga ada :')
  • Setiap Orang tua pasti akan nyesel udah ngebentak dan bicara kasar ke anaknya, tapi itu kadang terpaksa untuk buat anak sadar mereka salah (kata bokap gw)
  • bagi orang tua, lihat anaknya GAGAL adalah kesedihan mereka yang sesungguhnya. setidaknya itu pesan bokap gw :)
  • coba deh perhatiin muka orang tuanya masing2. mereka makin tua loh sekarang, tega buat nyakitin?
  • silahkan lakukan yang lo suka, asal bisa jaga nama baik KELUARGA :)
  • sikap orang tua yang tegas& keras itu bukan karena mereka JAHAT, tapi justru karena terlalu sayang & peduli sama kita. mereka ga mau kita manja karena tau HIDUP ITU KERAS
  • pernah ga sih ngerasa berdosa saat kita tiap saat ingetin pacar untuk makan, sementara ke orang tua sendiri ga? gw pernah :')
  • Kalo anaknya kenapa2, dipikiran orang tua yang terlintas adalah: APA SAYA GAGAL JD ORTU? tega buat mereka gitu?
  • orang tua itu selalu care sama anak, meski terlihat biasa, waktu lihat anaknya susah sebenarnya mereka sedih :')
  • Sebego-begonya orang tua, mereka ga ingin anaknya lebih bego atau sama begonya dengan mereka.maka mereka akan berbuat apa aja supaya anaknya pinter
  • bersyukurlah kalo punya orang tua yg ga selalu nurutin KEMAUAN KITA, mereka ngelakuin itu cuma supaya kita ga manja. Karena dunia akan menggilas anak MANJA
  • untuk anak perempuan, bersyukurlah klo bokap lo kelihatan marah waktu lo jalan sama cowo, tandanya bokap cemburu & ga mau anak kesayangannya kenapa-kenapa :')
  • pada dasarnya, orang tua pengen anaknya jadi orang baik, cuma caranya aja yg beda-beda :)
  • Ayah itu sosok yg sok serem tapi sebenarnya dibalik semua sikapnya dia pengen kita tangguh ngadepin dunia :)
  • Nih ya, bokap gw itu orang yg paling nyebelin sejagat raya buat gw, tapi dia paling duluan MARAHIN orang yang nyakitin gw. how sweet is he?
  • kenapa orang tua itu mesti ada dua? karena orang tua laki-laki (bokap) akan ngajarin anaknya ketangguhan sementara yang wanita (ibu) ngajarin kelembutan
  • kenapa orang tua takut anaknya salah jalan? Bukan karena takut nama keluarga bakal jelek, tapi mereka takut akan kehidupan si anak selanjutnya
  • orang tua bukan ga suka liat anaknya nangis, mereka cuma ga mau anaknya cengeng krn untuk jalanin hidup kita perlu jadi orang yang tangguh
  • orang tua seneng anaknya nurunin sifat baik mereka tapi mereka ga seneng kalo kita niru sikap buruknya karena mereka udah tau akibatt buruknya apa...
  • kalo putus sama pacar pasti sms "maaf aku ga bisa jadi yang terbaik u/ kamu.", udah bilang hal yang serupa ke ortu? :)
  • sebenarnya sih ga usah terlalu bangga klo orang tua nurutin seluruh kemauan kita, soalnya ntar kita jd manja :)
  • jangan pernah nyamain atau bandingin orang tuamu dengan orang tua temanmu. Mereka punya gaya masing-masing untuk besarin anak. Kamu juga ga mau dibanding-bandinginkan?
  • sadarlah, semakin dewasa usia kita, semakin tua umur ortu kita, semakin dikit waktu kita bersama mereka :)
  • orang tua selalu ngajarin kita untuk berdoa sama Tuhan, tau gak, diem2 mereka berharap bisa kumpul lagi loh sama kita disurga sana :')
  • ga ada istilah anak emas karena orang tua memperlakukan anaknya sesuai dengan karakter si anak. istilah itu lahir dari pikiran kita sendiri

mungkin bagi beberapa orang atau kebanyakan orang, tweet tersebut terkesan menggurui. Apalagi lahirnya dari orang yang masih berstatus anak seperti gue. Sebenarnya, kesimpulan-kesimpulan itu gue ambil dari orang tua gue. Nasihat-nasihatnya atau dari renungan yang gue lakukan ketika mereka ngomelin gue. Semoga, membaca itu kita bisa jadi anak yang lebih baik dan menghargai orang tua. Amien :)

*sumber dari tweet diatas: @ununinu :)

Wednesday, 28 November 2012

Bagianmu

Pernah gak punya mimpi, punya keinginan, punya minat, punya hobi yang dipandang sebelah oleh orang lain? Parahnya, bukan sekedar dipandang sebelah mata tapi juga ditertawakan (meski tidak terang-terangan) saat kamu ingin menghabiskan dirimu berkarier dalam bidang tersebut? Singkatnya, setelah itu kamu harus menjalani sesuatu yang tidak kamu sukai. Contohnya seperti Kugy dan Keenan dalam novel Perahu Kertas karangan Dee. Tapi tentu, kehidupan didalam sebuah cerita tidak selalu manis seperti dalam kehidupan nyata. Kehidupan yang kita temukan dalam novel seperti keajaiban dan kemudahan, tidak akan semudah itu kita temukan dalam kehidupan nyata. Tentunya, hal ini seperti menohok para pembaca yang memang benar-benar menggunakan alam 'khayal'nya untuk kemudian menciptakan/mengkreasikan cerita tersebut sesuai seperti keadaan dirinya.

Mendapat kenyataan yang seperti itu. Dorongan untuk melakukan sesuatu yang lebih 'bermanfaat' dibanding hanya sekedar bermain-main dengan hobi, perlahan membuat kita kemudian berpikir untuk 'membahagiakan' mereka. Terutama, Orang Tua. Dengan dalih itu, kita 'membelok' dari sesuatu yang sangat kita sukai menuju jalur yang harus kita sukai, suka tidak suka. Well, diluar sana banyak orang berkata, jika itu hidupmu maka perjuangkanlah. Mereka (Orang Tua) tidak akan merasakan apa yang kita rasakan. Perjuangan mempelajari sesuatu yang tidak disukai, menghadapi hal-hal menjemukan dan lain sebagainya. Sayangnya, teori tersebut tidak mudah dilakukan oleh setiap orang sehingga membuat kebanyakan orang melalui jalan itu. Jalan yang sebenarnya gak disukai...

Tapi, saya rasa, kita gak perlu terlalu larut dalam keterpurukan dalam menjalani bidang atau hal yang sebenarnya gak kita suka. Jangan pernah berpikir untuk berhenti melakukan hobi, dan menanam impian dibenak kita. Semua itu dilakukan semata-mata sebagai 'terapi; agar kita tetap memiliki semangat dalam menjalani hidup dengan semua keadaan yang ada. Dan, ingat, tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Setiap serpihan kecil yang tertinggal akan menjelma sebagai bongkahan besar yang suatu saat akan indah. Minimal, untuk diri sendiri.

Setiap orang yang telah menghabiskan waktunya untuk membahagiakan orang lain, memiliki hak untuk membahagiakan dirinya sendiri. Sebagai penyeimbang atas kehidupan yang dirasa timpang. Jadi, jangan berhenti mengejar mimpi, menanam asa dan percaya bila tidak ada yang sia-sia dari semua perbuatan kita.

Terus Semangat meraih impian, meski pahit, tetapi, harus diraih untuk kebahagiaan diri sendiri.


Salam,

Saturday, 24 November 2012

Malam Minggu


~ Dinna
‘Nanti malam aku ke rumah kamu, ya.’ Begitu isi sms dari Abdee, pacarnya. Ini malam minggu dan Abdee yang harus menempuh waktu perjalanan selama 2 jam untuk kerumahnya akan datang. Tidak ada yang lebih sempurna dari itu!

~ Bian
Sementara sahabatnya sedang mengobrak abrik isi lemarinya demi menemukan pakaian pantas yang keren untuk ia pakai malam mingguan bersama pacarnya, Bian Wijaya, justru tidak terlalu bersemangat.
“Semoga nanti malam hujan deras.” Gumamnya sembari menatap langit pukul delapan pagi yang cerah ceria. Bian terus mengulang-mengulang doanya.
Hampir tiap malam minggu tak pernah Bian lewati bersama Chiko –pacarnya-  seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Hari ini pun Bian menerima pesan yang serupa seperti minggu sebelumnya dari Chiko, ‘Malam ini aku main futsal sama teman-teman aku ya sayang.’. Bian yang sudah terlalu kebal untuk sekedar merasa marah hanya melempar handphonenya ke sudut ranjang.

~~ Malam, 20.00
~Dinna
“KAMU DIMANA?!” semprotnya ketika Abdee akhirnya menjawab telepon setelah sepuluh kali ia tak menanggapinya. “JADI GAK KERUMAH AKU?!!” tanyanya setengah berteriak.
Dinna pantas merasa emosi setengah mati hingga meledak-ledak seperti ini setelah ia menolak ajakan Bian untuk belanja besar-besaran. Cewek berambut pirang alami dengan potongan layer sepundak ini, hanya ingin berada di rumah supaya bisa bersiap-siap untuk bertemu Abdee. Jadilah Dinna berkutat dengan lulur, menyiapkan masakan yang ia pelajari dari buku resep milik Mama dan menghabiskan waktu dua jam meluruskan rambut ikalnya. Setelah semua hal itu ia lakukan demi malam minggu spektakuler dalam imajinasinya, Dinna harus mendapati kenyataan bila cowok itu justru berkata, “Aku gak jadi kerumah kamu ya, sayang… hari ini aku harus anter teman aku ke rumah Tantenya di daerah Kota Tua.”
Saking emosinya, Dinna sampai tidak tahu harus berkata apa. Gadis itu hanya mematikan telponnya sambil memaki-maki Abdee. Ia beranjak menuju cermin setinggi badan, berdiri disana, menatap bayangan seorang gadis manis bertubuh langsing dengan nafas naik turun menahan emosi.
“BEGO!” Kemudian, Dinna mulai menangis…

~~ Bian
Bila sudah Ibu yang membuat rencana, tidak ada satu orang pun di rumah mereka mampu mencegah. Terutama untuk Bian. Tidak bisa ia berkata ‘tidak’ atas ajakan Ibu untuk sesi kelas Pilatesnya malam nanti. Padahal berada ditengah kumpulan Ibu-Ibu adalah ‘BIG NO’ terbesar di kamus hidupnya, terlebih di malam minggu yang seharusnya ia habiskan bersama Chiko.
“Gak harus kamu habiskan tiap waktu untuk pacarmu, Nak. Bersosialisasilah dengan orang lain.” Ujar Ibu sambil merajang wortel untuk makan malam mereka.
“Kumpulan Ibu-Ibu itu bukan ‘orang lain’, Bu. Tapi orang tua.” Sahut Bian kesal sambil menatap geram tabloid ditangannya yang membahas tentang putusnya hubungan Selena Gomez dan Justin Bieber. Disebelahnya duduk Abang tertuanya, Bino yang hanya tersenyumm geli menonton perdebatan itu.
“Jangan pilih-pilih dalam bergaul.” Ibu mengingatkan.
“Aku gak pilih-pilih.” Sergah Bian.
Ibu tersenyum penuh kemenangan. “Itu artinya kamu setuju untuk pergi sama Ibu. Lekas mandi, kita jalan setengah jam lagi.” Tanpa perlu konfimasi, Ibu menghilang kekamarnya, segera.
~~
Bian dan Dinna
“Jadi malam minggu lo gimana?” tanya Dinna. Tangannya meraih tissue dan membersihkan hidungnya.
Bian menguap lebar tak peduli tatapan Mba-mba recepsionis yang bergidik jijik. “Suram.” Jelasnya singkat. “Malam minggu, gak sama pacar, justru terjebak di studio senan penuh Ibu-ibu usia kepala empat yang mimpi punya tubuh seperti gadis dua puluh tahunan. Perfect!” lanjut Bian mendramatisasi keadaan.
Dinna menyeringai lebar. “Asyik banget.”
“Banget.” Cibir Bian. “Lo sendiri gimana?”
“Buruk. Abdee gak jadi datang.”
“Kenapa?!”
“Dia lebih peduli temannya daripada sama pacarnya yang udah mati-matian masak demi dia.”
“Hah?!” Bian tercekat mendengar Dinna Saputri memasak. Megang sapu aja hampir gak pernah, pikir Bian.
“So?”
“Malam minggu gue kayak biasanya deh.”
“Sama lo!” ujar mereka berbarengan lalu tertawa seru tentang ketololan mereka sepanjang malam.
~~~

Monday, 19 November 2012

Sepasang Lilin

Hujan turun lebat malam ini
Kilat dan petir berlomba ciptakan kilau serta gemuruh
PLN tak berani ambil resiko
Pemadaman listri dilakukannya

Gelap

Mataku tak kuasa menembus kedalam gelap
Lantas kamu datang, sodorkan aku sepasang lilin dengan api menyala-nyala
Gemetar,
Ku terima lilin itu dari sikapmu yang tenang
Aku terkesima...

Kegelapan masih melanda
PLN merasa tak punya daya bersaing dengan kilat dan petirnya
Kini angin ikut beraksi juga
Memberi hembusannya yang paling kencang
Jumawa ketika mampu membawa genting dari tempatnya
Merobohkan pohon-pohon tua dipinggir jalan
Kemudian tertawa keras padaku saat lilin yang kau beri dipadamkannya

Lagi, aku terkesima

Kamu hanya berdiri saja, tidak beranjak mencari api tuk nyalakan lilinku lagi
Ingin kutuangkan tanya
Hanya saja kerongkonganku tercekat
Dan aku seakan tak punya kata-kata
Aku bisu

Kemudian, lilin menyala
Lampu menerangimu
Aku lantas melihat seringai licikmu
Kamu melempar lilin digenggamanmu
Lalu pergi bersama tanya yang kamu lukis di anganku

Friday, 16 November 2012

Monolog



Aku baru saja terbangun dari tidurku. Kusibakkan tirai yang mengalangi pandanganku keluar jendela. Aku mendapati langit pagi berwarna abu-abu, mendung, pikirku. Dari bibirku lantas terucap tanya, “Langit di bumiku berwarna gelap, bagaimana dengan langit di bumi kamu?” tidak ada jawab. Aku bertanya pada angin.
óóó
“Mbak, tehnya udah bibi siapkan di meja makan.” Sambut pembantuku yang telah setia menemani keluargaku sejak sepuluh tahun silam. Aku menoleh padanya, tersenyum untuk mengucapkan terima kasih.
Kugelung rambutku yang terurai tak karuan. Kemudian aku duduk dan menikmati secangkir teh serta bubur sumsum kesukaanku. Tak sengaja mataku menangkap bayang-bayang jarum jam yang sedang melakukan putaran. Pukul 08.00.
“Biasanya kita lagi nguap-nguap di meja kantin, setelah hadir di kuliahnya dr. Irma yang mulai super pagi. Kamu dengan segelas kopi susu panas dan aku setia pada tehku. Pasti deh, kamu bakalan ngeledekin aku kayak nenek-nenek, karena kegemaranku minum teh. Dan, aku akan membalas kalo kamu juga gak beda sama kakek-kakek yang sering kita temuin di tukang fotokopi dengan kopi hitamnya yang seakan tak pernah habis. Abah Ical. Kamu pasti marah kalo aku samain dengan dia…” bibirku tersenyum. Kaku.
óóó
Mataku menatap sengit pada matahari siang ini yang menyambutku dengan terik sinarnya. Aku ingat, kamu pernah membuat status di akun facebookmu tentang panasnya matahari di suatu siang. Kamu bilang, ‘Neraka bocor!!!’
Lalu, banyak komentar bermunculan. Ada yang ngomel ke kamu dan nganggap kamu gak relijius, juga gak sedikit yang membalas banyolan kamu. Ketika itu, aku memperhatikan facebook kamu, menatap tiap kata yang kamu tuliskan sebagai balasan atas komentar orang-orang. Jariku sudah siap mengetik, tapi aku urungkan.
Ah, kenapa aku ingat kamu lagi?
óóó
 “Milla!”
“Kenapa, Sya?” tanyaku pada Rasya yang berlari mengejarku.
“Gue gak masuk kelas, ya. Titip absen. Heheh.” Cowok hitam itu mengedipkan sebelah matanya padaku sambil berlalu.
“Aku kira itu kamu… biasanya kamu yang minta aku absenin kalo lagi males masuk kelas…ternyata bukan ya.” Aku menghela nafas meninggalkan lobi dimana aku sempat melihat ada ‘kita’ di deretan bangku biru.
óóó
Aku melintasi waktu demi menemukanmu, memutar secuil detik melintasi terangmu, menutup gelap kabut yang menggenggamku…
Bila kita diciptakan dari rindu yang sama, mengapa hanya aku yang merasa???
Caramu yang begitu sempurna mengikatku dalam perih, bagaimana caramu hadir dimemori-memori yang hampir terisi penuh diotakku, tak bisa kau biarkan ada sedikit celah…
Demi kamu yang kumaksud, demi semua kenangan, demi semua cinta dan luka yang pernah kau beri, kumohon jangan pernah ada demi sebuah rindu….
Edelweiss lambangku kini, lambang keabadian, keabadian merindumu peri rindu…
Hari ini, seperti kemarin, aku mengunjungi twittermu. Satu-satunya media yang bisa membuatku tahu bagaimana keadaanmu, setelah semua sms dan telponku tak ada yang kamu respon. Tapi, lagi-lagi kecewa yang menghampiriku. Tak ada satu pun tulisanmu kutemukan disana selain sajak-sajakmu yang kemarin telah tamat kubaca.
Ris, sampai kapan kita atau aku terjebak dalam suatu ruang bicara bersamamu? Ruang bicara semu karena sepertinya hanya monolog yang kulakukan. Dimana kamu? Bicaralah, meski hanya sekali saja…

Sunday, 11 November 2012

Kedua



“Sori, gue telat.” Ujarnya terengah.
“Lo gak telat.”
“Ha?” dia mendongak tidak mengerti.
“Tapi, telat banget.” Gue memberi tekanan lebih di kata Banget.
 “Sori, Rin… tadi Mia ke kampus gue.”
Gue terkesiap mendengar satu nama itu disebut. Seperti tersengat listrik, gue memandangi dia terang-terangan.
Dia pun menyadari tatapan gue yang begitu intens. “Ma… maaf… Gu…”
“Dua hari lalu, lo janji mau mutusin Mia. Kenapa dia masih nyambangin elo kekampus?!” Bentak gue.
“Gue udah mutusin, Mia, Rin… sumpah!”
“Dan, dia masih nyamperin lo kekampus?!” gue narik nafas susah payah, dada gue sesak. “Emang lo kira gue TOLOL?! Belum putus kan elo sama dia?! Hah! Ngaku deh!”
gue udah putusin Mia. Tiba-tiba aja dia nongol di kampus dan teriak kalo.. kalo…”
“Kalo APA?!”
“Kalo dia masih sayang gue, minta balik, terus…”
“Terus lo berdua balikan dan lo nyamperin gue kesini buat ngedepak gue, mutusin gue, GITU KAN? BAJINGAN lo emang!”
“Rin.. Maafin gue…”
“Basi lo. Tai!” gue keluar dari kafe itu. Tempat dimana gue terlihat tolol.
Tiba-tiba aja gue ada disini. Gue sendiri kaget, kenapa bisa berdiri didepan sebuah Resto. Gue gak laper padahal. Tapi kaki gue serasa kepantek, gak bisa pergi.
Sosok yang gue kenal dan selalu gue cari mendadak muncul dengan kostum kebanggaannya. Baju dan celana serba putih serta tulisan kecil tapi cukup jelas di dada kirinya ‘Chef Teguh’. Dia berdiri diujung tangga pintu masuk. Tertegun melihat kehadiran gue yang tiba-tiba.
“Arin?” Teguh menuruni tangganya satu per satu dengan sikap hati-hati. “Elo… elo ngapain ada disini? Malam ini lo ada acara sama Robi, kan?”
Gue nunggu sampai Teguh tepat ada dihadapan gue, lalu, “Robi balikan sama Mia dan dia… mendepak gue gitu aja, Guh.” Tangis gue kemudian merebak didalam pelukan Teguh yang hangat.
Bibirnya lembut berkata, “Gue udah bilang sama lo supaya lo gak gitu aja percaya sama omongannya Robi, tapi lo malah gak dengerin gue dan setuju jadi cewek keduanya dia.”
“Waktu itu gue berpikir kalo di dunia ini gak ada orang yang sayang kegue setulus Robi makanya gue mau sama dia, Guh…”
Helaan nafas Teguh yang berat terasa hangat ketika mampir dibelakang tengkuk gue. “Banyak yang sayang sama lo, Rin. Hanya aja lo gak pernah sadar, lo Cuma buka mata lo tapi hati lo ditutup. Lo Cuma lihat manis ucapan tanpa ngerasain itu tulus atau gak. Akhirnya, lo gagal nemuin orang yang tepat seperti idaman lo…”
Gue bebasin badan gue dari pelukannya. Pertanyaan itu kemudian meluncur, “Coba sebutin satu orang yang sayang sama gue, Guh.”
 “Gue, Rin… Gue selalu sayang sama lo gimana pun elo…”
 “Tapi kenapa lo gak pernah bilang, Guh?”
Teguh tertawa, “Gue bukan tipe, lo, Rin… lo selalu terpukau sama cowok yang megang bola basket, gitar, drum atau apapun yang sebut keren. Lo gak mungkin tertarik sama gue yang tiap hari berhadapan sama panci, minyak, bahan makanan, numis, goreng, nyajiin makanan.”
Hening. Teguh melanjutkan lagi, “Gue gak mau jadi seseorang yang bukan gue Cuma untuk buat lo jatuh cinta sama gue, Rin…”
“Chef itu cita-cita lo dari kecil kan?”
“Iya. Mungkin gue egois tapi gue gak bisa ngubur impian gue, harta terbesar gue hanya untuk seseorang. Gue gak pernah bisa begitu…”
“Guh, gue gak keberatan atas impian elo. Apapun itu.”
Teguh memandang gue, matanya menatap gue dalam, “Lo gak perlu memaksakan apapun, Rin. Saat ini hati lo lagi terluka, sembuhin luka itu baru buka lembaran baru. Gue bakal bantu untuk nyembuhin itu dengan masakan gue, gratis, buat lo.”
Gue tersenyum, lalu perlahan gue ngakak mendapati mata gue dan Teguh berpandangan sedemikian rupa. Tawa gue baru berhenti saat menyadari keteduhan dimata Teguh, keteduhan yang membuat gue ingin lebih lama lagi berada disana…

Saturday, 10 November 2012

Pelukis Hujan



Art Gallery, 14.00
“Mas Arya, kenapa lukisan anda selalu tentang hujan?”
Arya tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan seorang wartawan dari majalah seni terkemuka. dengan tenang Arya menjawab, “Perempuan itu adalah sosok yang saya kenal ketika SMA. Dia suka sekali hujan dan selalu membawa saya turut serta untuk menikmati hujannya. Lukisan ini saya buat sebagai tanda, kenangan itu masih saya simpan rapi di sini dan di sini.” Tangan Arya menunjuk pada hati dan otaknya. Keheningan lantas melanda ruangan sebelum akhirnya dipecahkan lagi oleh MC acara. Kini, para tamu undangan dan pengunjung berjalanan mengelilingi galeri untuk menikmati hasil lukisan Arya.
Dari balik kacamatanya, Arya memandangi orang-orang itu yang tampak antusias dengan lukisannya. Lelaki itu merasa puas, ia menyandarkan diri ke jendela dan tersenyum dari sana. Lalu, telinganya seperti menangkap suara. Sebuah suara yang menentramkan, membuat damai, musik alam paling indah meski dihasilkan dari kesenduan langit, suara itu berasal dari hujan. Seketika, hati Arya berdenyut kembali saat ingatannya membawa ia kembali mengingat dia, si gadis hujan…
***
“Arya!” Manik matanya menangkap sosok Felly, sahabatnya, dengan senyum lebar berlari kearahnya. “Nanti kita kebukit hujan, ya.” Buka Felly saat ia telah sampai dihadapan Arya.
“Ngapain?”
 “Ya lihat hujan dong, Arya…”
Arya melirik langit yang cerah, “Gak mendung, Fel.”
“Nanti pasti mendung.”
“Sok tau.”
“Dewa hujan udah sms aku.”
“Terserah kamu aja deh…”
 Baru beberapa langkah ia menjauh dari Felly, di langit terdengar suara bergemuruh. Arya mendongak dan mendapati langit yang semula cerah berganti menjadi mendung nan pekat. Tak lama, titik-titik air yang seperti jarum mulai berjatuhan. Berawal dari rintik gerimis lalu menjelma sebagai hujan deras. Arya terpana, kepalanya menoleh kebelakang untuk mencari Felly. Gadis itu sedang menatapnya penuh arti.
***
“Hari ini aku mau ngajarin kamu sesuatu.” Kata Felly. Matanya melirik pada Arya yang tiduran disampingnya.
“Mau ngajarin aku apa?” cowok bergigi gingsul itu terlihat heran.
“Nari.”
Arya terduduk mendengar ucapan Felly. “Nari?!” ulangnya. Felly ikut bangun dari posisi tidurnya. Segera, ia mengambil ruang kosong disamping Arya.
“Tarian memanggil hujan.”
Tanpa perlu meminta izin lebih lanjut dari Arya, Felly pun berdiri. Ia merentangkan lengan kurusnya dan berputar-putar, kemudian menarikan tarian yang ia sebut tarian hujan. Ajaibnya, bersamaan dengan tarian Felly yang kacau dimata Arya, langit di bukit hujan berubah gelap dan menurunkan tetesan air sesuai dengan kecepatan tarian Felly. Kali ini, Arya sangat terpana menatap gadis itu. Terpana pada bagaimana hujan seakan turun menuruti kemauan Felly dan keindahan wajah Felly saat menerima curahan hujan menjatuhi sekujur tubuhnya.
“Sekarang di mata kamu, aku memang terlihat bodoh. Tapi, hal inilah yang akan kamu rindukan beberapa tahun mendatang.” Kalimat itu yang Felly ucapkan saat ia mendapati Arya tertawa melihat tariannya. Mendengar itu, Arya tersenyum sambil mengelap tetesan hujan yang masih tersisa di dahi Felly, “Gak perlu nunggu beberapa tahun mendatang, saat ini pun aku rindu kamu dan tarian kamu.” Felly terdiam membeku.
***
‘Aku minta maaf tidak bisa pamitan secara langsung kekamu. Sungguh, ini diluar dugaanku. Mami membawaku kembali ke Wonosobo, ia ingin menenangkan diri akibat perceraiannya dengan Papi. Aku gak bisa temui kamu lagi, Arya…’
Arya menemukan kertas itu dilaci mejanya saat ia datang ke sekolah. Ia terdiam, dadanya bergemuruh. Ini perpisahan yang begitu tiba-tiba untuknya. Terlalu menyakitkan perasaannya mengingat masih ada banyak hal yang belum ia sampaikan pada Felly. Terutama, mengenai perasaan sayangnya pada gadis itu…
***
Bertahun-tahun sudah Felly pergi. Tidak ada satu surat pun Arya terima dari Felly. Untuk itulah Arya berjuang keras menjadi pelukis ternama yang selalu menggambar hujan dan seorang gadis. Tujuannya hanya satu, meninggalkan jejak-jejaknya untuk Felly agar gadis itu, dimana pun ia berada, bila melihat lukisan-lukisannya mampu menyadari jika Arya masih menantinya…