Pages

Thursday, 1 November 2012

Delusi Maura



“Ra… buka deh facebook lo. Ada sesuatu disana.”
“Apa?”
“Buka aja dulu, nanti gue jelasin. Oke!”
“Jona, gue udah buka dan gue nemuin lo ngeTag satu gambar ke gue. Itu… sketsa muka gue?”
Jona cengengesan diujung telpon. “Iya, Ra… lo suka gak?”
Pelan, Maura menyusut titik bening diujung matanya. “Engga…”
Jona diam. Gambar itu ia buat susah payah untuk Maura, dan sekarang? Dia merasa gagal. “Gue gak Cuma suka, Jo… tapi suka banget…” lanjut Maura. Jona segera tertawa ngakak mengetahui maksud Maura.
“Sialan lo, Ra! Gue udah deg-degan kalo lo gak suka. Padahal…”
“Padahal…”
“Padahal…”
“Padahal lo gak bisa gambar dan bisanya Cuma maen bekel sama segerombolan cewek-cewek?”
“Brengsek…”
“Ha..ha..ha…”
Maura terbangun dari tidur siangnya dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya. Nafasnya terengah-engah. Kedua tangannya mencengkram erat kepalanya yang mendadak terasa berat.
“Sialan!!!” makinya kesal.
Dengan perasaan frustasi, Maura memukul-mukul bantal besarnya. “Kenapa gue harus mimpiin lo lagi!!!” jeritnya, kemudian tenggelam dalam tangisan hebat akibat rindu yang begitu memuncak.
***
‘Kini bukan hanya gelap yang kutakuti, tapi juga ketika memejamkan mata. Kamu masih disana, berkata hal yang sama seperti saat kita dalam satu langkah. Membuatkan gambar-gambar diriku atau ilustrasi dari cerita-ceritaku. Jari-jarimu menorehkan lagi semangat yang saat ini ciut. Aku berterima kasih buat yang satu itu. Tapi sungguh, aku tidak akan bisa bertahan bila halusinasi tentangmu masih menghantuiku.
-Maura.’
Maura meletakkan suratnya disebuah kotak besar yang ia kubur dibawah pohon. Sikapnya sangat berhati-hati, takut bila kotaknya rusak maka rahasianya tidak akan terjaga lagi.
***
“Ra… lo tau gak, kenapa gue mau gambar lagi?” Tanya Jona suatu hari.
“Engga. Lo belum pernah cerita.”
“Mau denger cerita gue gak?”
Maura mengangguk, lalu Jona melanjutkan. “Soalnya gue ketemu putri cantik yang jago nulis cerita kocak. Omongannya juga kadang ngeselin tapi selalu buat berpikir untuk jadi lebih baik..baik dan baik…lagi.” Jona tersenyum sambil meraih jemari Maura, “Putri itu elo, Ra… elo udah membangkitkan semangat menggambar didiri gue Terima kasih ya…”
Maura ketika itu hanya tercenung dan merapatkan diri lebih dalam lagi pada Jona.
Siang itu Maura sedang duduk dibangku kantin kampusnya. Segera ia menutup wajahnya saat suara Jona hadir lagi ditelinganya. Ia berlari dari kantin mencari tempat sembunyi yang aman lalu menyobek satu kertas dan mulai menulis.
‘Jo… aku udah gak sanggup. Aku seperti terjebak dalam delusi suatu cerita. Berkhayal bahwa aku Kugy dan kamu adalah Keenan. Jo, kamu udah bahagia sama pacar kamu. Jangan ganggu aku meski itu dialam khayalku, tolong…”
Maura lalu kembali terisak…
***
Maura sudah bertekad untuk menghentikan kegilaan dan rasa frustasinya tentang Perahu Kertas, Kugy dan Keenan. Siang ini ia cepat melangkah menuju tempat kotak rahasianya terkubur.
Setengah memaksa Maura mengambil kotaknya. Tanpa ragu, Maura menyiram minyak tanah diseluruh tubuh kotak tersebut. Tak lama, api besar membumbung tinggi. Melahap kayu-kayu kotak itu menjadi abu. Hingga tak ada lagi yang tersisa.
“Maaf Jo…kegilaan ini harus aku hentikan…” lirih Maura.

1 comment:

scendry said...

Perahu kertas itu menginspirasi banyak orang...
Kk suka ceritanya... *****