Pages

Friday, 9 November 2012

LUTUT



Sepuluh menit lalu Dea datang. Ia berjalan santai mencari tempat duduk favoritnya yang berada dideretan belakang. Baru tiga langkah ia melewati tempat Alita, gadis berkulit putih itu terhenti. Ditatapnya Alita dengan sedikit heran.
“Lit, emang kamu kenal Kak Rio?”
Alita menoleh pada Dea, ikutan heran, “Kak Rio?”
“Mario, mahasiswa kedokteran semester 4.”
 “Oh…Kak Mario… iya kenal, kenapa emang?”
“Dia titip salam buat kamu.”
“Emang kamu kenal Kak Mario juga, De?”
Dea memutar bola matanya. Mendramatisir suasana, “Jelaslah kenal. Mereka satu kampung halaman. Sama-sama dari Bangka.” Suara Dita menyela dari belakang Alita.
“Oya, lupa saya. Makasih ya De, salam balik.” Ujar Alita centil.
Dari situlah, hingga sekarang Alita senyum-senyum senang. Gadis berkulit sawo matang itu tidak menyangka sama sekali bahwa cowok seperti Mario mengenalinya. Sebab, dua bulan mereka saling kenal, hanya terlewati di room chatting YM saja. Mereka belum pernah ngobrol secara langsung padahal mereka ada di kampus yang sama, gedung yang sama meski beda jurusan. Semua itu membuat Alita yang telah naksir Mario dari pertama melihatnya di warnet, merasa putus asa. Ia beranggapan, Mario tidak mengenalinya. Padahal, supaya dikenali Mario, Alita memasang foto profil tanpa editan di YM-nya. Tapi, anggapan-anggapan itu sirna dengan satu kalimat penyejuk yang asalnya dari bibir Dea. Sebuah salam singkat yang melekat erat dibenak dan perasaan Alita.
“Cuma salam doang, Lit… bilangin ke Dea, supaya Mario juga kirimin lo laos, daun jeruk, jahe, kunyit sekalian. Lumayan buat masak.” Celetuk Dita asal. Alita memelototi gadis subur itu hingga ia diam.

***
Jam mata kuliah telah usai. Para penghuni kelas 303 berhamburan keluar. Begitu juga dengan Alita dan Dita.
“Ke kantin dulu, yuk. Laper nih.” Ajak Dita sambil menepuk-nepuk perut buncitnya.
Alita memicingkan matanya pada Dita, “Apa sih yang ada diotak lo selain makanan?”
“Kak Mario, hehehehe.” Jawab Dita sembari menggoda Alita.
“Apa sih elo!” omel gadis itu.
Dita dan Alita sudah akan keluar dari pintu utama untuk menuju kantin. Namun, mendadak langkah Alita terhenti dan ia terpaku ditempatnya berdiri. Dita yang sudah berjalan beberapa meter didepan Alita, serta merta berhenti saat menyadari ia telah berbicara sendiri. Segera Dita menoleh kekanan kiri mencari Alita. Sosok yang ia cari ketika itu sedang berdiri dengan pandangan lurus kedepan. Wajahnya semi pucat, terdapat semburat merah jambu dipipi kiri dan kananya. Dita hampir saja terbahak-bahak melihat ekspresi Alita bila ia tidak sadar banyak mahasiswa berseliweran disampingnya. Cepat, Dita berlari mendekati Alita.
“Lita, lo kenapa?!” tegurnya. Dita sedikit menggoyangkan bahu Alita agar gadis itu tersadar.
“Eh?” Alita memandang Dita bingung. “Apaan, Dit?”
Dita gusar, “Elo yang apaan. Katanya mau kekantin, ini malah berdiri bengong disini. Ada apa sih?”
“Itu…” cicit Alita. Gadis berhidung bangir memajukan bibirnya, berusaha memberi isyarat agar Dita melihat kearah yang ia lihat. Dan, Dita pun tercekat begitu menyadari penyebabnya.
“Mario?!”
Alita mengangguk malu.
“Ta… jarak dia sama kita 500 meter loh jauhnya.”
“Iya tau. Tapi gue gak bisa jalan!”
“Kenapa?”
“Lu… lutut gue gemeter Dita, gara-gara liat dia…”
Dita memandang Alita tak percaya.

No comments: