Pages

Friday, 2 November 2012

MATAHARI, MATAHARI



“Namaku, Mata.” Ujarku enggan didepan puluhan pasang mata asing di kelas X.8. Seperti yang sudah sering terjadi, bibir-bibir itu tidak tersenyum melainkan menahan tawa.
“Mata hati apa mata-mata nih?” celetuk seseorang yang kemudian menghadirkan tawa di seisi kelas.
Aku diam, malas untuk menjawab. Ingin sekali kuakhiri hari ini. Perkenalan di sekolah baru selalu seperti waktu yang menakutkan, apalagi ketika menyatakan nama.
“Nama lengkapmu siapa, Mata?” Pak guru bertanya.
Ah, kenapa harus ditanya nama lengkap sih?! Gumamku gusar. Dalam hati tentu, aku tak ingin menciptakan masalah di sekolah baru dengan berkata tak sopan pada guruku.
“Perkenalkan nama lengkapmu, Mata.” Ulang Pak guru.
Aku mendelik kearahnya. Sebal.
“Nama lengkapku, Matahari.”
Kemudian Tawa makin membahana.

***
Istirahat siang.
Aku mengasingkan diri dari mulut-mulut sinis yang belum berhenti membicarakan aku, si anak baru bernama aneh. Di bawah pohon mangga yang rindang, aku duduk bersama novel baruku. Belum lama aku menekuni bukuku, satu makhluk datang mengacaukan konsentrasiku.
“Jadi, kamu anak baru bernama Matahari yang dibicarakan teman-teman?” katanya membuka percakapan.
“Kalo benar, emang kenapa? Bermasalah?” kataku ketus.
Dia, cowok dengan rambut jigrak dan gigi tidak rata tersenyum singkat, menghasilkan cuatan khas orang sombong di ujung bibir kanannya. “Buat aku sih, engga. Tapi buat mereka mungkin.”
“Oh…” tanggapku singkat.
“Aku Iksan. Teman-teman sering manggil aku Ican.” Tangannya terulur kedepanku. Menghalangi mataku dari tulisan-tulisan romantis di novelku. Well, tangannya bagus sih. Warna kulitnya kuning dan lengannya berbentuk. Aku sempat tertegun sebentar, mengagumi apa yang tertangkap oleh mataku. Kemudian, sebelum dia punya waktu untuk berpikir macam-macam mengenaiku, kubalas jabat tangannya.
“Matahari.”
“Aku tau, kok.” Jawabnya sambil tertawa. “Nama kamu bagus.”
Mendengar kalimat itu aku langsung benar-benar kehilangan konsentrasi atas bacaanku. “Kamu bercanda?! Mereka dan banyak orang lain ngetawain nama aku. Mungkin termasuk kamu!”
Dia sedikit terkejut saat desibel suaraku naik, “Aku gak pernah ngetawain nama aku, atau kamu. Sumpah.” Wajahnya berubah menjadi polos seperti anak umur lima tahun. “Tadi yang ngeledek kamu bukan aku, tapi Jodi. Dia emang iseng tapi baik kok.”
“Aku sering diledek karena namaku, jadi agak sensitif deh…” kataku menyesal.
Ican tersenyum, “Gak masalah. Aku punya hadiah buat kamu.”
“Apa?” aku tertarik.
Ican memainkan alisnya, “Liat deh, hari ini gak terikkan mataharinya?”
Aku mengangguk. “Iya, kenapa?” heran dengan pertanyaannya.
“Karena… waktu kamu memperkenalkan nama kamu tadi, aku jadi kepikiran buat ngambil matahari dan masukin kedalam gelas ini untuk kamu.” Ican menyodorkan sebuah gelas yang ia letakkan di belakang tubuhnya.
Aku menerimanya dengan alis bertaut di dahiku, bingung. “Jus jeruk?”
“Kamu liat deh, dari permukaan gelas, warna jus jeruk yang kuning ini akan terlihat seperti matahari. Iya kan?”
Kami sama-sama melihat permukaan gelas. Ican benar, jus jeruk berwarna kuning segar itu memang terlihat seperti matahari.
“Matahari itu cantik, kamu gak perlu malu dengan nama kamu. Kamu secantik matahari, percaya deh…”
Bel berbunyi, istirahat usai. Ican mendahuluiku pergi menuju kelas. Ican tidak pernah tahu, matahari dalam gelas yang ia berikan mampu mengukir senyum di hari-hariku selanjutnya.


1 comment:

siroel said...

bersambung gk nih?

ceritanya lumayan bagus...