Pages

Friday, 16 November 2012

Monolog



Aku baru saja terbangun dari tidurku. Kusibakkan tirai yang mengalangi pandanganku keluar jendela. Aku mendapati langit pagi berwarna abu-abu, mendung, pikirku. Dari bibirku lantas terucap tanya, “Langit di bumiku berwarna gelap, bagaimana dengan langit di bumi kamu?” tidak ada jawab. Aku bertanya pada angin.
óóó
“Mbak, tehnya udah bibi siapkan di meja makan.” Sambut pembantuku yang telah setia menemani keluargaku sejak sepuluh tahun silam. Aku menoleh padanya, tersenyum untuk mengucapkan terima kasih.
Kugelung rambutku yang terurai tak karuan. Kemudian aku duduk dan menikmati secangkir teh serta bubur sumsum kesukaanku. Tak sengaja mataku menangkap bayang-bayang jarum jam yang sedang melakukan putaran. Pukul 08.00.
“Biasanya kita lagi nguap-nguap di meja kantin, setelah hadir di kuliahnya dr. Irma yang mulai super pagi. Kamu dengan segelas kopi susu panas dan aku setia pada tehku. Pasti deh, kamu bakalan ngeledekin aku kayak nenek-nenek, karena kegemaranku minum teh. Dan, aku akan membalas kalo kamu juga gak beda sama kakek-kakek yang sering kita temuin di tukang fotokopi dengan kopi hitamnya yang seakan tak pernah habis. Abah Ical. Kamu pasti marah kalo aku samain dengan dia…” bibirku tersenyum. Kaku.
óóó
Mataku menatap sengit pada matahari siang ini yang menyambutku dengan terik sinarnya. Aku ingat, kamu pernah membuat status di akun facebookmu tentang panasnya matahari di suatu siang. Kamu bilang, ‘Neraka bocor!!!’
Lalu, banyak komentar bermunculan. Ada yang ngomel ke kamu dan nganggap kamu gak relijius, juga gak sedikit yang membalas banyolan kamu. Ketika itu, aku memperhatikan facebook kamu, menatap tiap kata yang kamu tuliskan sebagai balasan atas komentar orang-orang. Jariku sudah siap mengetik, tapi aku urungkan.
Ah, kenapa aku ingat kamu lagi?
óóó
 “Milla!”
“Kenapa, Sya?” tanyaku pada Rasya yang berlari mengejarku.
“Gue gak masuk kelas, ya. Titip absen. Heheh.” Cowok hitam itu mengedipkan sebelah matanya padaku sambil berlalu.
“Aku kira itu kamu… biasanya kamu yang minta aku absenin kalo lagi males masuk kelas…ternyata bukan ya.” Aku menghela nafas meninggalkan lobi dimana aku sempat melihat ada ‘kita’ di deretan bangku biru.
óóó
Aku melintasi waktu demi menemukanmu, memutar secuil detik melintasi terangmu, menutup gelap kabut yang menggenggamku…
Bila kita diciptakan dari rindu yang sama, mengapa hanya aku yang merasa???
Caramu yang begitu sempurna mengikatku dalam perih, bagaimana caramu hadir dimemori-memori yang hampir terisi penuh diotakku, tak bisa kau biarkan ada sedikit celah…
Demi kamu yang kumaksud, demi semua kenangan, demi semua cinta dan luka yang pernah kau beri, kumohon jangan pernah ada demi sebuah rindu….
Edelweiss lambangku kini, lambang keabadian, keabadian merindumu peri rindu…
Hari ini, seperti kemarin, aku mengunjungi twittermu. Satu-satunya media yang bisa membuatku tahu bagaimana keadaanmu, setelah semua sms dan telponku tak ada yang kamu respon. Tapi, lagi-lagi kecewa yang menghampiriku. Tak ada satu pun tulisanmu kutemukan disana selain sajak-sajakmu yang kemarin telah tamat kubaca.
Ris, sampai kapan kita atau aku terjebak dalam suatu ruang bicara bersamamu? Ruang bicara semu karena sepertinya hanya monolog yang kulakukan. Dimana kamu? Bicaralah, meski hanya sekali saja…