Pages

Saturday, 10 November 2012

Pelukis Hujan



Art Gallery, 14.00
“Mas Arya, kenapa lukisan anda selalu tentang hujan?”
Arya tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan seorang wartawan dari majalah seni terkemuka. dengan tenang Arya menjawab, “Perempuan itu adalah sosok yang saya kenal ketika SMA. Dia suka sekali hujan dan selalu membawa saya turut serta untuk menikmati hujannya. Lukisan ini saya buat sebagai tanda, kenangan itu masih saya simpan rapi di sini dan di sini.” Tangan Arya menunjuk pada hati dan otaknya. Keheningan lantas melanda ruangan sebelum akhirnya dipecahkan lagi oleh MC acara. Kini, para tamu undangan dan pengunjung berjalanan mengelilingi galeri untuk menikmati hasil lukisan Arya.
Dari balik kacamatanya, Arya memandangi orang-orang itu yang tampak antusias dengan lukisannya. Lelaki itu merasa puas, ia menyandarkan diri ke jendela dan tersenyum dari sana. Lalu, telinganya seperti menangkap suara. Sebuah suara yang menentramkan, membuat damai, musik alam paling indah meski dihasilkan dari kesenduan langit, suara itu berasal dari hujan. Seketika, hati Arya berdenyut kembali saat ingatannya membawa ia kembali mengingat dia, si gadis hujan…
***
“Arya!” Manik matanya menangkap sosok Felly, sahabatnya, dengan senyum lebar berlari kearahnya. “Nanti kita kebukit hujan, ya.” Buka Felly saat ia telah sampai dihadapan Arya.
“Ngapain?”
 “Ya lihat hujan dong, Arya…”
Arya melirik langit yang cerah, “Gak mendung, Fel.”
“Nanti pasti mendung.”
“Sok tau.”
“Dewa hujan udah sms aku.”
“Terserah kamu aja deh…”
 Baru beberapa langkah ia menjauh dari Felly, di langit terdengar suara bergemuruh. Arya mendongak dan mendapati langit yang semula cerah berganti menjadi mendung nan pekat. Tak lama, titik-titik air yang seperti jarum mulai berjatuhan. Berawal dari rintik gerimis lalu menjelma sebagai hujan deras. Arya terpana, kepalanya menoleh kebelakang untuk mencari Felly. Gadis itu sedang menatapnya penuh arti.
***
“Hari ini aku mau ngajarin kamu sesuatu.” Kata Felly. Matanya melirik pada Arya yang tiduran disampingnya.
“Mau ngajarin aku apa?” cowok bergigi gingsul itu terlihat heran.
“Nari.”
Arya terduduk mendengar ucapan Felly. “Nari?!” ulangnya. Felly ikut bangun dari posisi tidurnya. Segera, ia mengambil ruang kosong disamping Arya.
“Tarian memanggil hujan.”
Tanpa perlu meminta izin lebih lanjut dari Arya, Felly pun berdiri. Ia merentangkan lengan kurusnya dan berputar-putar, kemudian menarikan tarian yang ia sebut tarian hujan. Ajaibnya, bersamaan dengan tarian Felly yang kacau dimata Arya, langit di bukit hujan berubah gelap dan menurunkan tetesan air sesuai dengan kecepatan tarian Felly. Kali ini, Arya sangat terpana menatap gadis itu. Terpana pada bagaimana hujan seakan turun menuruti kemauan Felly dan keindahan wajah Felly saat menerima curahan hujan menjatuhi sekujur tubuhnya.
“Sekarang di mata kamu, aku memang terlihat bodoh. Tapi, hal inilah yang akan kamu rindukan beberapa tahun mendatang.” Kalimat itu yang Felly ucapkan saat ia mendapati Arya tertawa melihat tariannya. Mendengar itu, Arya tersenyum sambil mengelap tetesan hujan yang masih tersisa di dahi Felly, “Gak perlu nunggu beberapa tahun mendatang, saat ini pun aku rindu kamu dan tarian kamu.” Felly terdiam membeku.
***
‘Aku minta maaf tidak bisa pamitan secara langsung kekamu. Sungguh, ini diluar dugaanku. Mami membawaku kembali ke Wonosobo, ia ingin menenangkan diri akibat perceraiannya dengan Papi. Aku gak bisa temui kamu lagi, Arya…’
Arya menemukan kertas itu dilaci mejanya saat ia datang ke sekolah. Ia terdiam, dadanya bergemuruh. Ini perpisahan yang begitu tiba-tiba untuknya. Terlalu menyakitkan perasaannya mengingat masih ada banyak hal yang belum ia sampaikan pada Felly. Terutama, mengenai perasaan sayangnya pada gadis itu…
***
Bertahun-tahun sudah Felly pergi. Tidak ada satu surat pun Arya terima dari Felly. Untuk itulah Arya berjuang keras menjadi pelukis ternama yang selalu menggambar hujan dan seorang gadis. Tujuannya hanya satu, meninggalkan jejak-jejaknya untuk Felly agar gadis itu, dimana pun ia berada, bila melihat lukisan-lukisannya mampu menyadari jika Arya masih menantinya…

No comments: