Pages

Saturday, 3 November 2012

Roman Picisan



Simi keheranan mendapati Bastian berlari-lari padanya. Nafasnya naik turun.
“Lo kenapa, Bas?” Tanya Simi ketika dilihatnya nafas Bastian lebih teratur.
“Keluar sebentar bisa gak, Sim? Kelas kamu pengap.” Pintanya.
Meski heran, Simi menuruti permintaan Bastian. Cowok itu menyodorkan sebuah map merah padanya, “Apa ini?”
“Jadi… sebenarnya, aku buat satu cerita. Bisa dibilang novel gitu. Tapi…” Bastian menggantungkan kata-katanya.
“Tapi…?”
“Tapi… aku mentok, Sim. Makanya aku kesini mau ngajak kamu nulis bareng. Kali aja, bisa lebih lancar nih ide.” Dalam hati Bastian berharap Simi mau menerima ajakannya. Sayang, Bastian tidak tahu bahwa Simi sebenarnya enggan memiliki urusan apapun dengannya. Bukan karena Simi membenci Bastian, tapi justru karena Simi menyukainya. Sangat menyukainya.
“Jadi… gimana nih, Sim?” Tanya Bastian lagi melihat Simi yang masih belum memberi keputusan.
“Oke.” Jawab Simi singkat
***
Vino menyambut kedatangan Bastian yang tertawa-tawa senang.
“Gimana, sob?”
“Simi mau! Yes!” teriak Bastian girang.
“Seneng amat lo. Inget, ada Sheila.” Vino memperingati Bastian.
“Tenang aja, Vin. Gue gak mungkin bisa sama Simi. Keliatan datar banget dia ke gue.”
“Tapi cerita itu bisa buat kalian deket lagi, Bas.”
“Sekedar dekat aja kok, Vin. Susah buat jauh dari dia…”
***
“Bastian ngajak lo nulis bareng, Sim?” Tanya Lugy setelah Simi kembali kekelas.
Simi hanya mengangguk.
“Terus, lo mau?”
Simi mengangguk lagi.
“Bego, lo!” maki Lugy. “Lo bisa deket lagi sama Bastian, Sim. Mikir gak sih elo? Nanti kalo lo tiba-tiba suka lagi sama dia gimana?!”
“Bastian udah punya Sheila. Jadi, kita gak mungkin ada hubungan lebih.”
Lugy menatap Simi lekat. “Jujur sama gue, apa motive lo nerima tawaran Bastian? Gue udah baca singkat novel buatan Bastian, elo gak mungkin tertarik sama roman klasik kayak gitu. Ada alasan lain, kan, Simi?”
“Gue pengen tetep deket sama Bastian.” Simi memberanikan diri menatap Lugy, “Ini cara satu-satunya yang gue punya.” Lirihnya.
***
Sudah dua minggu proyek menulis bersama antara Bastian dan Simi berlangsung. Proyek itu benar-benar menenggelamkan Simi pada keasyikannya merangkai kata-kata sehingga hampir melupakan urusan kuliahnya. Maka, hari ini Simi menemui Bastian untuk meminta cuti sementara.
“Bas, gue off nulis dulu ya selama UAS. Gak konsen guenya.” Kata Simi tanpa basa-basi ketika matanya menemukan Bastian yang sedang ngobrol dengan Vino.
Bastian hanya menjawab singkat, “Oh, oke. Abis UAS kita mulai lagi ya.”
Simi mengangkat jempolnya tanda setuju kemudian berlalu menuju kelasnya di lantai dua.
***
Mata Sheila menatap Bastian tajam. “Pantesan lebih sibuk sekarang. Lama kalo bales sms, telpon jarang diangkat, itu alasannya.” Katanya sinis.
Bastian memandang Sheila, bingung, “Apaan sih maksud kamu?”
“Kamu dan Simi, Bas! Berani-beraninya kamu dekat lagi sama dia, setelah kamu sama aku!”
 “Aku cuma minta bantuan Simi tentang novel yang pengen aku buat. Gak lebih…” bela Bastian.
“Kenapa harus Simi?!”
“Karena dia teman aku satu-satunya yang bisa nulis novel.”
“Bukan karena dia cinta pertama kamu?!”
“Bukan.” Jawab Bastian dengan bibir bergetar. Sungguh, ia ragu pada jawabannya sendiri.
***
Hujan. Simi memandangi jatuhnya titik-titik air tersebut ketanah. Ada perasaan marah dihatinya pada hujan yang datang disiang ini. Marah, karena suasana mendungnya semakin membuat buruk perasaannya. Semakin ia jatuh kedalam suatu ruang hampa yang kosong, sepi dan menyakitkan. Hujan siang itu tidak hanya datang di langit siang, tapi juga menetes dari kedua bola mata Simi.
Berurai air mata, Simi kembali membaca pesan itu, pesan terakhir dari Bastian.
‘Minggu depan, kita lanjut lagi ya proyeknya…’
Ini sudah minggu ketiga sejak pesan itu dikirim Bastian. Tapi, tidak ada lagi kelanjutan dari bab-bab roman picisan yang dipercayakan Bastian untuk dibagi bersamanya. Justru Simi menemukan pesan lain di emailnya. Dan pesan itulah yang menyakiti perasaan Simi sekarang. Membuatnya seakan terbuang.
‘Gak usah ganggu Bastian lagi, Simi. Pergi jauh-jauh dari hidupnya.
Sheila.’

No comments: